RSS

Blasé Pascal penemu Kalkulator pertama

04 Mar

Blase Pascal

Blasé Pascal, penemu kalkulator pertama kali. Dia berhasil membuat kalkulator roda numerik atau disebut juga dengan nama Pascaline. Alat tersebut adalah merupakan cikal bakal adanya kalkulator modern yang kita gunakan saat ini.

Kehidupan dan pendidikannya.

Blasé Pacal lahir di kota Clemont Feerand, Perancis 19 Juni 1623, meninggal 19 Agustus 1662 . Ia adalah anak dari Etiene Pascal ( 1588-1651 ), seorang ilmuwan dan matekatikawan, seorang penasehat kerajaan, kemudian diangkat sebagai presiden organisasi the Court of Aids, kota Clemont. Ayahnya juga adalah seorang kolektor atau penagih pajak di Rouen ( Rouen, ibu kota Normandia, utara Perancis ). Sang Ibu bernama Antoinette Begon. Saat Pascal usia 3 tahun, Ibunya wafat, meninggalkan Pascal dan dua saudara perempuannya, Gilberte dan Jacqueline. Tahun 1631, sekeluarga pindah ke Paris.

Hasil kerja awal dari Pascal adalah, ia bekerja di-alam dalam menerapkan ilmu pengetahuan, dimana dia memberikan kontribusi penting untuk pembelajaran atau studi Fluida ( cairan ). Meng-klarifikasi atau memperjelas konsep tekanan dan vacuum ( isapan ), secara umum yang pernah dikerjakan oleh Evangelista Torricelli ( orang Itali, matematikawan , fisikawan, juga sangat paham tentang Barometer, alat temuannya ).

Blasé Pascal adalah seorang penemu, penulis, filsuf katolik, matematikawan, fisikawan. Ia dalah seorang “ Child Prodigy “ dalam didikan ayahnya ( Child Prodigy; kecenderungan seorang anak yang mempunyai kemampuan pikiran, kepandaian yang setara dengan orang dewasa, bahkan bisa lebih. Seorang anak ajaib ). Karena melihat kecenderungan anak anaknya yang mempunyai kecerdasan yang luar biasa, terutama Blasé dengan kecerdasan yang luar biasa, maka Etiene Pascal berkeputusan untuk mendidik anak anaknya sendiri, dibantu guru pribadi. Blasé Pascal tak pernah menginjak bangku sekolah formal. Pascal sangat berminat pada sain alam dan matematika. Walau tanpa menginjak bangku sekolah formal, Pascal mampu menguasai ilmu ilmu tersebut.

Usia 11 tahun Pascal menyusun sebuah risalah tentang suara getar tubuh, tapi Etiene melarang Pascal untuk terlalu mengejar ilmu matematika sampai pada umur 15 tahun, agar dia lebih bisa konsentrasi pada pelajarannya dibidang bahasa Latin dan Yunani, yang saat itu sedang diajarkan Ayahnya.

Karya-karya Blasé Pascal.

  1. Essai pour les coniques (1639)
  2. Experiences nouvelles touchant le vide (1647)
  3. Traité du triangle arithmétique (1653)
  4. Lettres provinciales (1656–57)
  5. De l’Esprit géométrique (1657 or 1658)
  6. Écrit sur la signature du formulaire (1661)
  7. Pensées (incomplete at death)

Blasé Pascal biasa diajak ayahnya ke-acara diskusi matematika sejak umur 12 tahun. Pascal terbiasa ber-eksperimen dengan bentuk bentuk geometri, dari sana ia menemukan rumus-rumus geometri standar, ia memberikan nama pada rumus rumus temuannya itu dengan namanya sendiri.

Usia 13 tahun di tahun 1642, dia menemukan rumus segitiga Pascal. Sebuah bukti bahwa “ jumlah sudut dari sebuah segitiga sama dengan dua sudut siku-siku “. Pembuktian itu ia tuliskan didinding dengan menggunakan arang batu bara. Tulisan itu ditemukan oleh sang ayah. Karena itu, oleh sang ayah dia diikutkan dalam kelompok diskusi matematikawan Perancis, bersama dengan para ilmuwan besar lainnya, seperti Descartes, Fermat, Desargues, Mydorge, Gassendi, dan Robeval. Tokoh tokoh ahli matematika itu biasa berkumpul di sebuah sel dibiara Pere Mersenne. ( Pere Mersenne, seorang Teolog, philosophy, matematikawan serta seorang ahli teori musik ).

 

Hexagram Ajaib - Teori Segitiga Pascal

Pascal sangat tertarik dengan teori Desargues tentang “ Conic Section “ ( kerucut ). Mengikuti pola pikir Desargues, pada usia 16 tahun dia melahirkan sebuah teori matematika. Sebuah risalah singkat tentang pembuktian karya Desargues, risalah itu dia sebut “ Hexagram ajaib “ atau dalam bahasa Perancis Essai pour les coniques (“Essay on Conics“). Sebuah karya serius matematika Pascal yang pertama, ia kirimkan risalah itu pada Pere Mersenne di Paris. Sampai hari ini terori tersebut lebih dikenal dengan nama “ Teori Pascal “. Teori tersebut menyatakah : bahwa bila segi 6 berada didalam lingkaran atau kerucut, maka titik potong 3 sisi yang berlawanan akan terletak pada satu garis, garis itu disebut garis Pascal.

Ketika diasampaikan di forum pertemuan antar ahli matematika, Descartes tidak percaya kalau teori tersebut ditulis oleh Pascal yang masih umur 16 tahun. Pere Mersenne meyakinkannya, bahwa karya itu memang karya Pascal muda ( Blasé ) bukan Pascal tua ( Etiene ). Descartes mengatakan : “ I do not find it strange that he has offered demonstrations about conics more appropriate than those of the ancients, but other matters related to this subject can be proposed that would scarcely occur to a sixteen-year-old child ( Saya tidak melihat hal ini adalah sesuatu yang aneh, bahwa dia mendemontrasikan tentang kerucut lebih baik dari orang orang jaman dulu, tapi hal-hal lain yang berhubungan dengan subjek ini diusulkan oleh anak umur 16 tahun, adalah sesuatu yang hampir tidak masuk akal )“

Pada masa itu diperancis, jabatan atau posisi di jawatan perkantoran pemerintahan dapat diperjual belikan. Ayah Blasé Pascal menjual jabatannya sebagai presiden ke dua dari Cour des Aides dengan harga 65.665 livre ( mata uang Perancis ). Dari hasil penjualan posisi jabatan itu, uang tersebut di investasikan dalam obligasi pemerintahan. Dari pendapatan obligasi itu, keluarga Pascal bisa pindah ke Paris dan mengenyam hidup enak. Tapi 1631 Kardinal Richelieu membutuhkan uang untuk biaya perang ( perang 30 tahun ), obligasi pemerintah mengalami kegagalan, uang Etiene yang semula mendekati 66.000 livre nilainya jatuh menjadi 7.300 livre. Oposisi terhadap kebijakan itu merebah di Perancis. Seperti juga orang lainnya, Ayah Pascal akhirnya lari dari Paris karena sikap oposisinya terhadap kebijakan fiskal Kardinal Richelieu. Etiene meninggalkan 3 anaknya dalam perawatan tetangganya, Madame Sainctot. Perempuan cantik yang mempunyai salon elite, pelanggannya orang orang terpelajar dan kaya. Etiene dikemudian hari dapat pengampunan dari Kardinal Richelieu, setelah anaknya Jaqueline bekerja pada Richelieu pada sebuah yayasan permainan anak anak. Berkah Etiene bertambah, 1639 dia diangkat sebagai komisaris raja, dan diberi tugas menarik pajak di wilayah Rouen ( saat itu di wilayah Rouen sedang bergolak, dalam kekacauan pemberontakan ).

Tahun 1640, ia dan keluarganya pindah ke kota Rouen. Sampai saat itu, Blasé Pascal masih diajari oleh ayahnya, dan ia belajar sangat giat, sampai menguras stamina kesehatannya sendiri. Jerih payahnya tak sia sia, akhirnya dia menemukan teori geometri yang menakjubkan tersebut di umur 16 tahun. Ia menulis risalah teori itu, risalah teori yang siknifikan hubungannya dengan subyek teori geometri projective ( seperti yang sudah dijelaskan di atas, hexagram ajaib – teori pascal ). Kemudian dia menulis pada Pierre de Fermat ( Orang Perancis, seorang pengacara, matematikawan amatir ), tentang rumus teori probabilitas. Kolaborasi mereka berdua melahirkan teori tersebut. Teori ini muncul karena Pascal diminta oleh seorang teman yang tertarik dan suka judi. Teman itu adalah Chevalier de Mere, meminta bagaimana pemain judi mempunyai kesempatan menang dal

Kalkulator roda numerik Pascal

Kalkulator roda numerik Pascal

am satu permainan judi. Teori ini nantinya sangat berpengaruh sekali terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sosial dan ekonomi. Teori ini ia dapatkan dari kebiasaan melemparkan dua dadu, ketika berjudi dan berpesta

Tahun 1642, demi membantu ayahnya yang sangat report menghitung pajak, Pascal membuat sebuah alat yang mampu melakukan penjumlahan – pengurangan dan pembagian secara sangat cepat. Alat itu disebut Pascaline atau Pascal Kalkulator ( kalkulator roda numerik ). Dua dari kalkulator asli buatan Pascal masih tersimpan di musium Zwinger, Dresden dan musium di Paris “ Musee des Arts et Metiers “ ( konservatorium Nasional Seni dan Indutri ).

Penemuan Pascal menarik perhatian masarakat luas. Dengan penuh semangat dia menerangkan cara kerja alat temuannya dihadapan para ilmuwan Perancis. Tapi sayangnya pemerintah Perancis kurang tertarik untuk memproduksi alat temuannya itu, karena ukurannya yang besar serta biaya produksinya yang tinggi. Pascal tak berputus asa. Dia dengan segera mematenkan karyanya tersebut, sebelum ditiru oleh orang lain, tepatnya sebelum ditiru oleh tukang jam. Pascal juga pernah menjual alat hitung cepat itu kepada Ratu Swedia, Christina, namun ditolak.

Selama 3 tahun dia berusaha keras membuat prototype alat temuannya sebanyak 50 buah. Dalam sepuluh tahun berikutnya dia membuat lagi sebanyak 20 buah Pascaline. Pada akhirnya nanti, Pascaline akan disempurnakan oleh matematikawan Jerman, Gottfred Wilhem von Leibniz (1646-1716), dia menambahkan proses perkalian pada alat ciptaan Pascal tersebut.

Teologi Pascal.

Ayah Pascal mengalami kecelakaan di tahun 1646, tetangga dan kerabat menjenguk ayahnya, diantara mereka ada yang menganut Jansenist, aliran teologi yang didirikan oleh seorang professor kelahiran Belanda yang mengajar teologi di Universitas Louvain, sebuah kepercayaan yang bertentangan dengan ajaran Jesuit ( katolik ), dia bernama Cornelis Jansen. Pascal terpengaruh dan menjadi pengikutnya, ia menjadi Jansenist. Dia pada akhirnya menjadi amat menentang ajaran Jesuit. Adiknya, Jacqueline juga berniat masuk dalam biara Jansenist di Port Royal. Ayahnya tak menyukai hal ini, maka dari itu ia kemudian mengajak keluarganya pindah ke Paris. Tapi, setelah sang ayah meninggal di tahun 1651, Jacqueline bergabung dengan biara Jansenist di Port Royal.

Sementara Pascal sibuk menikmati dunianya di kalangan para bangsawan teman temannya, menghabiskan warisan dari sang ayah. Pada tahun 1654, ia sepenuhnya menjadi penganut Jansenisme, dia memulai kehidupan asketiknya di biara Port Royal. Asketisme, paham kehidupan yang menjahui atau berpantang pada kesenangan duniawi. Hidup lebih banyak digunakan untuk kepentingan spiritual – agama. Pascal menjalani hidup seperti seorang pertapa.

Tahun 1655, seorang penulis kondang bernama Antoine Arnauld, mengulas tentang ajaran Jansenisme, yang secara resmi dilarang di Sorbone, ajaran itu dianggap sebagai ajaran bid’ah. Pascal menanggapi tulisan tersebut, dan tulisan tersebut kemudian menjadi sebuah susunan risalah kondang “the Provincial Letters”. Saat berpolemik tersebut dia menggunakan nama samarana Louis de Montalte, dia bertujuan untuk mempertahankan dan membela ajaran Jansenisme. Mereka berdua se-akan-akan berpolemik antar dua sahabat. Polemik mereka berlanjut antara 13 Januari 1656 sampai 24 Maret 1657. The Provincial Letters kemudian dicetak dan diedarkan, ber-oplag ribuan serta beredar di seluruh Paris. Para penganut Jesuit penasaran dengan si penulis the Provincial Letters. Untuk mengetahui siapa sebenarnya si penulis tersebut, para penganut Jesuit memancing dengan meng-olok-olok, berusaha mengungkap jati diri si penulis.

Mulai 1658, penderitaan sakit kepalanya semakin memuncak. Sampai akhirnya dia meninggal, 19 Agustus 1662. Sebelumnya memang kondisi kesehatan Blasé Pascal sangat buruk.

Saat wafat, Blasé Pascal meninggalkan sebuah karya yang belum selesai, sebuah karya tulis tentang Teologi “ the Pensees ( pikiran ) “, sebuah apologi ke-kristenan. Karya itu baru diterbitkan 8 tahun kemudian oleh pihak biara Port Royal, dalam bentuk yang tak lengkap dan tidak jelas. Versi terbitan yang lebih otentik, yang pertama kali diterbitkan di tahun 1844, mengupas problem besar tentang pemikiran Kristen, tentang kepercayaan yang bertentangan dengan “sebab”, “kehendak-bebas” dan “pengetahuan-awal”. Pascal menjelaskan kontradiksi dan problem moral kehidupan, doktrin tentang “kejatuhan” ( keter-usiran dari surga ), yang menjadi landasan kepercayaan dan menjadi dasar pembenaran dari doktrin penebusan.

The Provincial Letters, telah menempatkan Pascal ke dalam sejarah literature bersama-sama dengan penulis besar Perancis lainnya. Pada the Pensees, terasa ditulis oleh orang lain, yang seolah tak terlalu mementingkan soal agama. Meski berbeda antar kedua tulisan tersebut ( the Pensees dan polemiknya yang disusun menjadi the Provincial Letters ), masing masing merupakan bukupenting dalam sejarah pemikiran keagamaan Blasé Pascal.

Karya-karya Pascal lainnya.

Pascal juga menulis tentang hidrostatik, menjelaskan eksperimen menggunakan barometer untuk menjelaskan teorinya tentang persamaan benda cair ( Equilibriumof Fluids ), yang tak sempat dipublikasikan sampai satu tahun setelah kematiannya. Makalahnya ini mendorong Simion Stevin melakukan analisis tentang paradoks hidrostatik dan meluruskan apa yang disebut sebagai hukum terakhir hidrostatik : bahwa benda cair menyalurkan daya tekan sama rata kesemua arah ( yang kemudian dikenal sebagai hukum Pascal ).

Hukum Pascal dianggap penting, karena ada keterkaitan antara “Teori Benda Cair dan Teori Benda Gas”, dan “tentang perubahan bentuk”. Keduanya kemudian dikenal dengan teori Hidrodinamik.

Teori Pascal memberikan pengaruhnya, mengatasi problem perhitungan terhadap teori matematika pada saat Pascal hidup di Port Royal, yang ia gunakan mengatasi problem perhitungan yang berhubungan dengan “kurva” dan “lingkaran”. Hal itu harus dikuasai oleh seorang matematikawan modern.

Ia juga menerbitkan teori-teori yang berupa tantangan terhadap para matematikawan lain untuk mereka pecahkan ( 1654 ). Tapi tak satupun mampu memecahkannya. Jawaban yang kemudian dia terima dari John Wallis, Chritopher Wren, Christian Huygens dan kawan-kawan, tidak bisa memuaskan Pascal. Akhirnya dia menerbitkan jawabannya sendiri dengan menggunakan nama samaran “ Amos Dettonvile “ ( yang kemudian dikenal dengan anagram Louis de Montalte ).

Ia juga menulis buku “ Seni Persuasi / membujuk “. Dalam buku tersebut, De l’Art de persuader (“On the Art of Persuasion”), Pascal sangat mendalam dalam melihat teori geometri mitode aksiomatik, kususnya timbulnya pertanyaan tentang bagaimana orang menjadikan axiom ( aksioma ) sebagai dasar kesimpulan kemudian. Pascal setuju dengan pendapat Montaigne ( penulis yang sangat berpengaruh di jama Renaissance Perancis ), bahwa mencapai keyakinan dalam axioma dan kesimpulan melalui mitode manusia adalah tidak mungkin (achieving certainty in these axioms and conclusions through human methods is impossible ). Dia menegaskan bahwa prinsip itu hanya dapat dipahami melalui intuisi manusia, dan fakta fakta ini menekankan bahwa semuanya harus diserahkan kembali pada Tuhan untuk hasil akhirnya. Rupanya disamping sebagai seorang ilmuwan, Blasé Pascal juga seorang spiritual yang sangat percaya adanya campur tangan Tuhan, dalam segala kejadian.

Kontribusinya terhadap ilmu fisika.

Seperti telah disampaikan diatas, bahwa Pascal juga melakukan studi hidrodinamik dan hidrostatik, prinsip-prinsip cairan hidraulik ( hydraulic Fluida ). Penemuannya meliputi hidraulik tekan ( press Hydraulic ) dan tentang jarum suntik ( syringe ). 1646 ia belajar pada Evangelis Torriceli yang bereksperimen dengan barometer. Ia memiliki sebuah replika percobaan yang berupa tabung yang diisi air raksa yang diposisikan terbalik dalam sebuah mangkok mercuri. Pascal ingin mengetahui kekuatan apa yang menjaga mercuri dalam tabung, dan apa yang mengisi ruang kosong dibagian atas dalam tabung mercuri tersebut. Pada waktu itu, kebanyakan ilmuwan berpendapat bahwa ruang kosong ditabung atas mercuri tersebut adalah tak lebih daripada vacuum ( kosong ), dan beberapa kejadian yang dianggap tak mungkin oleh ilmuwan sebelumnya, telah terlihat saat percobaan itu dilakukan. Hal ini berdasarkan pemikiran Ariestoteles, bahwa “ penciptaan “ sesuatu yang bersifat “ subtansi “, apakah terlihat atau tidak terlihat, dan “zat / subtansi “ selamanya bergerak. Hukum Ariestoteles adalah sebagai berikut : “ Segala sesuatu yang bergerak, harus digerakan oleh sesuatu ( Everything that is in motion must be moved by something ) “. Oleh karena itu para ilmuwan penganut Ariestoteles menyatakan, bahwa vacuum ( tenaga isap ) itu adalah hal yang mustahil. Bagaimana bisa begitu ? Maka bukti itu ditunjukan :

  • Cahaya yang melewati itu di sebut “ vacuum ( kosong ) ” dalam tabung kaca.
  • Ariestoteles menulis, segala sesuatu bergerak, harus digerakan oleh sesuatu yang lain
  • Oleh karenanya, disana harus ada “sesuatu” yang tak terlihat untuk memindahkan cahaya melalui tabung kaca, maka dari itu tidak ada vacuum ( tenaga isap atau tekan ) di tabung itu. Tidak di tabung kaca maupun, dimanapun. Vacuum itu tidak ada dan sesuatu yang mustahil.

Setelah melakukan percobaan mendalam di vena ini, di tahun 1647 Pascal mengeluarkan risalah Experiences nouvelles touchant le vide (“New Experiments with the Vacuum – Percobaan baru dengan Vacuum”), dia menjelaskan dengan rinci aturan dasar, bahwa derajat variasi cairan ( liquid ) bisa didukung oleh tekanan udara. Hal ini memberikan alasan atau bukti, bakwa memang ada vacuum pada kolom diatas cairan tabung barometer. Dan, pernyataan Ariestoteles dipatahkan oleh Pascal. Vacuum itu ada ! Bukan sesuatu yang mustahil. Pembuktian – pembuktian ini membuat Pascal konflik dengan para ilmuwan lainnya, terutama para ilmuwan terkemuka sebelum dia, apalagi para penganut Arietoteles, termasuk berkonflik dengan Descartes.

Kehidupan spiritual Blasé Pascal.

Diawal umurnya yang ke 18 tahun, Pascal menderita penyakit saraf yang membuatnya hampir di setiap hari ia merasakan penderitaan itu. Di tahun 1647, ia diserang penyakit lumpuh, sehingga membuatnya menjadi seorang yang cacat, dan tidak dapat berjalan tanpa menggunakan alat bantu penyangga, tongkat kruk. Kepala selalu terasa sakit, isi perutnya serasa terbakar, kaki dan telapak kakinya terasa dingin terus menerus, dan diperluhkan bantuan untuk melancarkan peredaran darahnya. Ia mengenakan stocking dan menggunakan brandy untuk menghangatkan kakinya.

Untuk mendapatkan perawatan dokter yang terbaik, dia bersama saudaranya Jacqueleine pindah ke Paris. Disana perkembangan kesehatannya semakin membaik, tapi sarafnya ( yang berhubungan dengan kegelisahan ) rusak secara permanen. Sejak saat itu mengalami hypochondria, hal itu mempengaruhi karakter dan pandnagan filsafatnya ( pilosophi ). Hypochondria satu pobia atau sindrom, satu kekawatiran di keadaan sakit yang serius. Sejak saat itu Pascal menjadi sangat sensitif, mudah marah, sombong, angkuh dan jarang tersenyum.

Musim dingin di ahun 1646, Ayah Pascal yang saat itu berumur 58 tahu, jatuh terpeleset dijalanan es di Rouen, pinggulnya patah. Mengingat usia Ayahnya dan kondisi kedokteran di abad 17, cedera tersebut bisa menjadikan sesuatu yang serius. Didatangkan kerumah mereka di Rouen, dua dokter terbaik dari Perancis ; dokter Deslandes dan Dokter de La Bouteillerie. Perawatan itu di lakukan sampai 3 bulan di rumah. Pascal tua tidak boleh keluar atau bergerak dulu keluar rumah supaya tidak terjadi cidera yang tidak diinginkan, agar sakitnya cepat sembuh dan bisa berjalan lagi.

Ke dua dokter tersebut ternyata adalah pengikut Jean Guillebert, pengajar aliran teologi jansenis, satu kelompok sempalan dari ajaran kristen Katolik. Sekte ini masih kecil pada saat itu, tapi sudah membuat terobosan yang mengejutkan bagi komunitas Katolik Perancis. Ajaran ini sangat dianut Augustis, seorang Teolog dan philosophy yang tinggal di wilayah provensi Roma-Afrika. Tulisannya sangat berpengaruh terhadap perkembangan kaum kristen barat.

Blasé sering berbincang bincang dengan ke dua dokter yang merawat ayahnya itu. Blasé meminjam buku karya orang Jansenis dari mereka. Pada masa ini, Pascal mengalami semacam konversi agama yang pertama ( perbandingan satu ajaran agama ), dia mulai menulis tentang teologi, dan dia mengikuti mata pelajaran teologi pada perjalanan tahun berikutnya ( semacam kursus pelajaran agama ). Pascal terlibat semakin dalam di dunia religius. Para penulis biographi menamakan periode ini adalah “periode duniawi”-nya Pascal ( wordly period 1648-1654 ). Dimana di tahun tahun itu ia mendalami ajaran agama.

Saat ayahnya meninggal di tahun 1651, Blasé Pascal bersama saudaranya Jacqueline mewarisi kekayaan ayahnya, dan Pascal bertindak sebagai konservator adiknya. Satu hari sang adik mengumumkan bahwa dia akan segera menjadi Postulant ( kandidat – calon ) di biara Jansenist di Port Royal yang terletak di Magny les Hameaux, di Valle de Chesreuse, barat daya Paris. Hal ini baru dia lakukan setelah sang ayah meninggal, karena saat mendiang ayahnya masih hidup, beliau tidak menyetujui kedua anaknya ini menjadi pengikut Jansenist. Dengan keputusan adiknya tersebut, membuat Pascal sangat sedih, bukan karena pilihan adiknya untuk masuk biara, tetapi dikarenakan kesehatannya yang memburuk, jadi dia masih sangat membutuhkan adiknya.

Timbul perselisihan, Pascal memohon adiknya untuk tidak pergi, tapi sang adik sudah bulat tekatnya untuk tetap pergi ke biara jansenist Port Royal. Ancaman Blase Pascal, kalau dia meninggalkan dirinya, maka dia tidak dapat bagian warisan. Ancaman itu tidak mempan, sang adik tetap pada pendiriannya. Dalam hati Blase Pascal, ia sangat takut di tinggalkan adiknya. Pada akhirnya, di akhir Oktober 1651, Jacqueline menandatangani pernyataannya, bahwa untuk kesehatan kakaknya dia memberikan biaya tahunan kepada kakaknya. Sedang Gilberte, adiknya yang satu lagi, sudah diberikan warisan dalam bentuk mas kawin. Di awal januari Jacqueline meninggalkan rumah, menuju ke Port Royal. Saat keberangkatan Jacqueline itu, Pascal sangat sedih, menurut Gilberte “ He retired very sadly to his rooms without seeing Jacqueline, who was waiting in the little parlor… ( ia sangat sedih. Ia masuk kekamarnya tanpa melihat Jacqueline yang menunggu di ruang tamu kecil… ) “. Rupanya Pascal betul betul sangat mencintai keluarganya. Dalam hatinya yang paling dalam, dia tidak rela adiknya masuk biara, walaupun secara teologi mereka berpandangan sama tentang ajaran Jansenist. Betapa kepedihan Pascal tidak dapat disembuhkan begitu saja , dia akan hidup sendirian, sementara Gilberte jelas akan mengikuti suaminya.

Untuk sementara waktu, di usianya yang sudah 29 tahun, Pascal tetap hidup membujang, tapi kekayaannya sudah tidak seperti dulu lagi, karena 2/3 dari kekayaan ayahnya sudah dilimpahkan pada saudara perempuannya. Surat pelimpahan itu secara resmi baru ditandatangani oleh Pascal di bulan Juni 1653.

Saat dia berkunjung ke Auvergne ia melihat seorang wanita dan ia tertarik pada wanita itu, yang menurut Pascal mirip dengan seorang penyair yunani kuno yang hidup diantara 630 dan 612 SM, seorang penyair yang lahir di P. Lebos bernama Sappho ( Safo ). Selama waktu itu, Pascal menulis sebuah buku Discours sur les passions de l’amour (“Conversation about the Passions of Love”- Percakapan tentang gejolak cinta), rupanya ia mulai merenungkan tentang perkawinan. Dimana pada akhirnya dia mendiskripsikan, bahwa perkawinan adalah kondisi terendah yang dihalalkan bagi umat kristen. Jacqueline mencela atas sikap dangkalnya itu, dan berharap dia bisa memperbaiki diri. Selama kunjungannya terhadap adiknya di Port Royal di tahun 1654, dia ditunjukan bagaimana hinanya urusan dunia tanpa ketertarikan manusia terhadap keberadaan Tuhan. Pascal belajar banyak tentang ke-agamaan. Kehidupan di dunia tanpa memperhatikan keberadaan Tuhan akan membuatnya menjadi manusia hina, karena perbuatannya akan bisa melampau batas sebuah kebenaran. Menjadi orang yang sombong karena kepandaiannya. Merasa hebat karena keberhasilan dan kekuasaannya. Jauh dari rasa bersukur dan rendah hati serta empati terhadap sesama.

Peristiwa kecelakaan kuda di jembatan Neuilly, terjadi di bulan Oktober 1654, untungnya kecelakaan itu tidak membuat dia dan teman temannya cedera, tapi karena kepekaannya terhadap filosofi kehidupan, kecelakaan itu membuat dirinya ketakutan, karena ia merasa kecelakaan itu bisa membuatnya dekat dengan kematian, ia pingsan untuk beberapa waktu. Sejak kecelakaan itu, ia semakin religius. Mulai Januari 1655 Pascal mengunjungi kebaktian minggu di Port Royal. Pada empat tahun berikutnya ia secara teratur melakukan perjalanan secara teratur antara Port Royal dan Paris. Disinilah untuk pertamakalinya dia mulai menulis literatur tentang keagamaan, the Provicial Letters. Kumpulan surat polemiknya dengan Antoine Arnauld. Sebanyak 18 suratnya diterbitkan antara tahun 1656 dan 1657 dengan nama samaran Louis de Montalte. Penggunaan namaLouis membuat raja Louis XIV marah. Raja memerintahkan untuk merobek dan membakar buku Pascal, di tahun 1660. Tahun 1661 sekolah Jansenist di Port Royal dikutuk dan ditutup. Mereka yang terlibat di sekolah itu harus menandatangani sebuah surat kepausan yang disebut Papa Bull ( semacam surat pengakuan – paten yang dikeluarkan kepausan ), menyatakan bahwa ajaran Jansenist adalah sesat dan terkutuk. Surat terakhir dari Pascal tahun 1657, isinya menentang Paus, dan memprovokasi Paus Alexander VII, mengutuk surat – surat tersebut ( the Provincial Letters ). Tapi hal itu tidak menghentikan semua orang di Perancis untuk membaca the Provincial Letters. Selain berpengaruh dalam segi agama, the Provincial Letters juga populer sebagai karya sastra.

Pascal menggunakan kata-kata humor sindiran-satire dalam argumennya untuk konsumsi publik. Gaya ini mempengaruhi prosa dari penulis penulis perancis seperti Voltaire dan Jean Jacques Rousseau. Banyak pujian diberikan terhadap the Provincial Letters. Voltaire menyebut karya tersebut “ sebuah buku terbaik yang belum pernah muncul di Perancis ( the best-written book that has yet appeared in France ) “. Saat Bossuet ditanya, buku apa yang ingin dia tulis yang belum dia tulis sendiri ?. Jawabannya, the Provincial Letters. Jacques Benigno Bossuet, pendeta Perancis juga seorang Teolog.

Saat ia kembali ke Paris setelah melihat publikasi terakhir dari the Provincial Letters. Iman spiritualnya semakin diperkuat dengan adanya sebuah keajaiban di kapel biara Port Royal. Keponakannya yang berumur 10 tahun, Marguerite Périer, telah lama menderita sakit fistula lacrymalis. Dari mata dan hidungnya mengeluarkan nanah yang berbahu busuk, anak itu sangat menderita sekali. Dokter mengatakan, bahwa sudah tidak ada harapan lagi. Kemudian pada tanggal 24 Maret 1657, Pascal membawa keponakannya ke Port Royal. Dengan keyakinannya bersama orang orang lainnya. Mereka melakukan doa upacara khidmat, para biarawati menyanyikan lagu lagu pujian. Keponakannya di letakan diantara mereka. Pada sorenya, Marguerite merasa terkejut karena matanya tidak lagi terasa sakit. Ibunya takjub, melihat tanda tanda penyakit fistula tidak ada lagi, dipanggilnya dokter. Dokter mengatakan bahwa nanah dan pembengkakan telah menghilang. Ia menyebarluaskan hal tersbut sebagai satu penyembuhan yang ajaib. Tujuh dokter yang mengetahui benar tentang penyakit fistula memberikan pernyataan tertulis, bahwa menurut penilaian mereka, mukjizat penyembuhan itu telah terjadi. Kejadian tersebut didokumentasikan kaum Jansenist, sebagai pembuktian akan keajaiban di gerejanya, dan untuk mempertahankan diri dari hujatan orang-orang yang tak sepaham.

Tahun 1728, Paus Benedict XIII mengumumkan bahwa kejadian tersebut tidak diakui sebagai satu keajaiban. Kepausan katolik mengingkari akan kejadian di Port Royal di masa abad itu. Pascal membuat lambang atas kejadian yang terjadi pada keponakannya tersebut, berupa mata yang dikelilingi oleh mahkota duri ( saat upacara penyembuhan menggunakan mahkota duri yang disentukan ke tubuh keponakannya ), dengan tulisan Scio Cui Credidi = “ Aku tahu siapa yang aku percaya “. Kemudian ia memutuskan untuk menulis, untuk yang terakhir kali, tapi tulisan tersebut ( merupaka testamen ) tidak selesai, yakni the Pensees ( pikiran )

The Pensses adalah karya teologi Pascal yang paling berpengaruh, karya yang belum selesai hingga saat kematiannya. Tulisan itu dibuat untuk membela diri dari kaum kristen yang tak sepaham dengan jansenist. Judul aslinya adalah Apologie de la religion Chrétienne (“Defense of the Christian Religion”).Tulisan itu ditemukan saat memilah milah barang pribadi Pascal sesudah kematiannya. Berupa lembaran lembaran kertas yang terkelompok sendiri. Pada bagian luar kumpulan kertas itu ada tulisan “ pesanan “.

Cetakan pertama dalam bentuk buku tersebut muncul ditahun 1670 dengan judul Pensées de M. Pascal sur la religion, et sur quelques autres sujets (“Thoughts of M. Pascal on religion, and on some other subjects”- Pikiran Pascal tentang agama dan beberapa subjek lain ). Tak lama kemudian buku itu menjadi sesuatu yang klasik. Teman teman Pascal yang sepaham dengannya, menyembunyikan beberapa lembar dari tulisan tersebut, karena isinya dianggap dapat menyinggung Gereja dan Raja. Untuk menghindari hal tersebut maka sisa naskah tersebut di edit. Karena pada saat itu serangan terhadap Port Royal mulai berhenti. Tapi tidak sampai di abad 19, the Pensees diterbitklan secara penuh dan asli ( sesuai teks yang Pascal tulis. ). Secara luas Pensees dianggap sebuah karya masterpiece prosa Perancis, sebuah karya besar. Pada the Pensees, Pascal telah meneliti beberapa sifat paradok filsafat ( sesuatu yang saling bertolak belakang ), antara lain ; sesuatu yang tak terhingga (infinity ) dan yang tak ada ( nothing ), iman ( faith ) dan akal ( reason ), Jiwa ( soul ) dan materi ( matter ), kematian ( death ) dan kehidupan ( life ), Makna ( meaning ) dan dan kesombongan ( vanity ). Pada teh Pensees, kelihatannya tidak tiba pada definisi kesimpulan yang pasti, selain menggambarkan sebuah kerendahan hati, kebodohan dan keanggunan. Karya Pascal tersebut banyak mendapat pujian, diantaranya adalah Will Durant ( Penulis Amerika, sejarahwan, philosopher ) mengatakan “ buku yang paling fasih dalam prosa Perancis “, dalam bukunya berjudul The Story od Civilization, volume 11. Saint Beuve menyatakan “ sebagai halaman ( buku ) yang terbaik dalam bahasa Perancis “.

TS Eliot ( penyair, kritikus, penulis naskah drama Amerika. ) menggambarkan seorang Blase Pascal sebagai “ orang yang hidup diantara dunia pertapa, dan seorang pertapa yang hidup diantara dunia manusia “. Pascal meyakini kehidupan gaya pertapanya, menurut dia itulah hal yang alami yang diperluhkan bagi manusia untuk mengetahui sebuah penderitaan. Tahun 1659 Pascal jatuh sakit parah. Selama tahun tahun terkahir ini, ia selalu menolak apa saja yang dikatakan oleh dokter atas sakitnya, ia selalu berkata “ Penyakit ( sakit ) adalah sesuatu yang alami bagi umat Kristiani “.

Tahun 1661,Louis XIV menekan gerakan Jansenist di Port Royal. Pascal merespon apa yang dilakukan Louis XIV, dengan menulis sebuah karya Écrit sur la signature du formulaire (“Write on the Signing of the Form”), mendesak para jansenis untuk tidak menyerah. Pada tahun itu juga, Jacqualine sang adik meninggal dunia. Hal itu membuat tekat Pascal untuk menyudahi polemik tentang jansenisme. Pascal kembali tenggelam dalam dunia ilmu pengetahuan.

Hari terakhir Pascal.

Tahun 1662 sejak kematian adiknya, Jacqueline, penyakit Pascal semakin parah. Menyadari akan kesehatannya yang semakin memburuk, maka ia berinisiatip untuk dirawat di rumah sakit. Tapi dokter mengatakan, untuk dibawah pindah ke rumah sakit, keadaan Pascal sudah tidak dalam kondisi stabil, sangat berbahaya kalau dipaksa harus diangkat dan dibawah kerumah sakit dalam kondisi kesehatan yang tidak stabil. 18 Agustus 1662 kondisi tubuh Pascal mengalami kejang kejang, dan saat itu juga diadakan pemberian minyak suci pada Pascal. Esok paginya Pascal meninggal dunia, 19 Agustus 1662. Perkataan terakhir sebelum dia meninggal adalah ; “May God never abandon me ( semoga Tuhan tidak pernah meninggakan aku )”. Dan ia dimakamnkan di pemakaman Saint-Etienne-du-Mont.

Penghormatan terhadap Pascal.

Untuk menghargai kontribusinya dalam dunia ilmiah, nama Pascal dipakai sebagai satu satuan tekanan SI. Dalam dunia komputer namanya diabadikan dalam bahasa pemograman PASCAL. Dalam dunia matematika ada SEGITIGA PASCAL. Hukum Pascal – Pascal Law, yang berhubungan dengan teori bend cair ( hidrostatis-hidrodinamik ). Temuannya tentang teori Probabilitas, sangat berpengaruh kontribusinya terhadap dunia matematika dan ekonomi, juga ilmu aktuari ( actuarial science ), yang awalnya diterapkan dalam perjudian. Teori probabilitas telah mengubah manusia untuk mengetahui ketidakpastian, resiko dalam pengambilan keputusan. Teori probabilitas tidak dituliskan secara detail dan lengkap oleh Pascal dimasa itu, tapi teori itu sudah mampu untuk digunakan. Pascal merencanakan menulis makalah tentang Probabilitas, hasil kolaborasi bersama Pere de Fermat, namun lagi-lagi cuma cuplikan-cuplikan yang ditinggalkannya, dan diterbitkan setelah kematiannya. Ia tak pernah menulis teori matematika yang panjang lebar berbelit-belit, melainkan tulisan-tulisan pendek yang singkat, jelas, dan abadi.

Dalam literatur Perancis, Pascal dianggap seabagai salah satu penulis paling penting dari Periode Klasik Perancis, dan dibaca sampai saat ini sebagai sebuah karya masterpiece prosa terbesar Eropah. Dalam berpolemik dia selalu menggunakan kata-kata satire ( sindiran ), yang berpengaruh sampai saat ini. Isi letraturnya merupakan perlawanan yang kuat terhadap rasionalisme Rene Descartes ( rationalism of Rene Descartes ), dan penegasan secara simultan bahwa filosofi countervailing utama, empirisme, yang juga tidak cukup untuk menentukan kebenaran yang hakiki.

Oleh. Didik Suwitohadi.
04-03-2011.
Ref. http://www.gudangmateri.com
Wikipedia
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Maret 2011 in Penemu dan Temuannya

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 654 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: