RSS

Manajemen makan BAKSO

26 Okt

Tempat warung bakso itu cukup luas tapi sederhana. Saat itu tidak terlalu banyak pengunjung yang datang. Dua orang sahabat sedang duduk disana, Arun dan Bongan. Bongan kelihatan suntuk sekali

“ Kamu kok malah merasa gak enak kerja di Perusahaan Bonafide itu “ Ujar Arun membuka percakapan, sambil menunggu pesanan.
Bongan menghela nafas,
“ Orang kan Cuma melihat bonfidenya aja. Tapi tidak tahu bagaimana beban pekerjaan yang saya pikul…? Luar biasa besar dan beratnya. Rasanya sulit untuk bisa diselesaikan. Dan celakanya pekerjaan itu memang harus aku selesaikan tanpa peduli alasanku. Bah…! Memangnya aku manusia Super apa…?! “

Arun hanya tersenyum melihat sobatnya melampiaskan kekesalanya dengan ber api api khas gaya bataknya.

Pesanan sudah terhidang dimeja masing masing. Satu mangkok bakso dengan ukuran pentol bakso sebesar bola tenes, bahkan mungkin lebih besar. Bongan langsung saja menyambar dan memakannya. Tapi dia kesal, dia hanya berhasil menggigit sedikit bari pentol bakso itu. Selebar apapun mulutnya terbuka, dia tak berhasil menggigit dengan gigitan besar. Karena pentol bakso itu memang besar.

“ Ini orang kenapa nggak sekalian saja bikin pentol bakso sebesar bola basket ! Supaya Orang jadi tidak bisa makan. Bakso sebesar gini mana mungkin bisa masuk mulutku Bah…! Sejak dulu kalau aku makan bakso disini pasti sulit makan permulaannya. Harus di gigit sedikit sedikit seperti tikus,  sampai mulutku capek..! “
Arun tertawa kecil
“ He sejak tadi kau mentertawai aku saja hah..!” Sergah Bongan kesal.
“ Kamu tidak sabaran ! Kamu lihat orang yang disana itu, yang lagi makan bakso juga..!“. Arun menunjuk arah belakang Bongan.
“ Memangnya kenapa ? Dia lagi makan bakso seperti kita kan ?” Ujar Bongan kesal dan kembali ke posisi duduknya.
“ Perhatikan baik baik cara makan nya !” Ujar Arun lagi
Bongan tak menggubris
“ Makan ya makan masuk mulut terus ke perut selesai bah…! Ada ada saja kamu orang makan diperhatikan nggak ada kerjaan ya…! “.
“ Jangan ngeyel dulu, lihat dulu …!“ kata Arun, gemes juga dia.
Dengan masih merasa kesal Bongan melihat pada orang yang ditunjuk Arun.
Orang tersebut makan bakso dengan nikmatnya tidak tergesa, begitu menikmatinya. Bongkahan pentol bakso yang besar tadi tidak langsung dia gigit, seperti yang dilakukan Bongan. Tapi dia potong potong pakai sendok dan garpu menjadi potongan atau cuwilan cuwilan kecil. Agak susah memang memotong dengan sendok dan garpu. Tapi orang itu melakukannya dengan baik. Rupanya dia sudah biasa melakukannya. Kemudian dia tusuk potongan pentol bakso itu dengan garpu dan dioleskan pada saus dan sambal kemudian dia makan. Dan dengan nikmat pula dia sendok kuwa bakso mengiringi potonngan bakso yang masuk ke mulutnya. Begitu ber ulang dan seterusnya. Dia begitu menikmati dan tidak kelihatan kerepotan seperti Bongan tadi.

“ Kalau cara makan seperti itu apa susahnya ? aku juga bisa “ kata Bongan sambil kembali menghadapi mangkok baksonya. Dan melakukan seperti yang dilakukan orang tadi. Tapi karena belum biasa, maka sering pentol bakso itu meleset ketika dipotong pakai sendok. Bongan menggerutu. Sulit memang untuk melakukan potongan pertama. Tapi dia terus berusaha untuk memotong sebesar yang dia inginkan. Toh pada akhirnya dia berhasil. Bakso yang sebesar bola tennes tadi kini tinggal kecil yang tidak sukar untuk dikunyak. Arun memperhatikannya. Satu persatu potongasn baksoitu Bongan makan dengan lahap. Bahkan terkesan sangat lahap. Rupanya tanpa sadar Bongan asik sendiri dengan acara makan baksonya. Sementara Arun memperhatikan dengan tersenyum.
“ Enak ya..? “ Tanya Arun beberapa saat kemudian.
Bongan terdongak, tanpa sadar dia nyengir.
“ Iya enak juga ya, kenapa nggak aku lakukan dari dulu ya ? kan dengan cara makan seperti ini geraham dan mulutku nggak terasa capek, terlalu lebar membuka mulutku alias mangab kayak buaya he…he..he !”. Bongan melahap tandas baksonya.
“ Tahukah kamu, bahwa pekerjaan yang kau anggap besar banyak dan berat yang kamu keluhkan itu sebenarnya bisa kamu kerjakan seperti kamu makan bakso saat ini “
Bongan berhenti makan dan bengong sejenak.
“ Maksud kamu ? “
“ Kamu bisa memisah misahkan , memotong motong pekerjaan kamu menjadi bagian bagian lebih kecil sesuai yang kamu inginkan. Kemudian menyusun prioritasnya. Membuat rencana mana saja yang harus kamu selesaikan terlebih dahulu. Sehingga kamu tidak merasa berat dan capek. Ya seperti kamu makan bakso saat ini kan ? Aku lihat kamu begitu menikmatinya..!“
“ Benar juga kamu ! Ternyata kamu masih saja seperti dulu cerdas dalam memecahkan masalah ! Baru aku sadari selama ini aku hanya ,melihat besarnya pekerjaan tanpa aku pikirkan bagaimana cara mengerjakannya. Sehingga aku bingung sendiri. Tapi dengan cara kamu tadi, aku yakin aku bisa menanggulangi pekerjaaku. Kamu benar benar teman yang brilian…! Tak rugi aku traktir makan bakso kamu disini. He…he…he. Tunggu saja aku akan bikin kejutan nanti di pekerjaan aku…! Akan aku bereskan pekerjaan yang setumpuk itu.“

Tidak ada satu pekerjaan yang berat bila kita mau sedikit saja berfikir dan jeli dalam melihat celah celah pekerjaan itu. Orang cenderung melihat besarnya beban yang dia terima tanpa terlebih dulu melihat beban itu dikerjakan dengan cara bagaimana. Sebesar apapun pekerjaan akan jadi cepat selesai tanpa beban kalau kita bisa membagi pekerjaan tersebut menjadi bagian bagian kecil. Dan kita selesaiakn bertahap. Yang penting adalah kemauan untuk sedikit berfikir dan jeli melihat sesuatu. Tidak ada yang mustahil kalau sudah seperti itu.

Sepulang makan bakso Bongan kelihatan ceria daripada saat berangkat sebelumnya. Dalam pikirannya, dia akan coba terapkan apa yang dikatakan Arun. Ternyata segala sesuatu pasti akan ada jalannya apabila seseorang mau menggunakan akal pikirannya, bukan emosinya. Tidak perlu merasa takut melihat sesuatu. Sedangkan kita belum tahu dan belum berusaha mempelajari apa dibalik sesuatu yang kita takuti. Sebab yang diperluhkan dalam menyelesaiak pekerjaan adalah bukan teori yang canggih. Tapi bagaimana melihat pekerjaan itu dan bagaimana meng-aplikasikan satu pengetahuan. Sesederhana apapun pengetahuan itu, akan jadi sesuatu yang hebat ditangan orang yang hebat.

Akibat sarannya itu, hampir setiap bulan Arun ditraktir makan bakso ditempat tersebut. Sampai suatu saat melihat besarnya pentol bakso saja Arun jadi merasa kenyang. Tapi demi teman, dengan senang hati dia menemaninya makan disana, sambil tukar pikiran

Oleh : Didik Suwitohadi

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Oktober 2009 in Manajemen

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: