RSS

Ibadah Haji Perpisahan ( Hijjatul Wada’ ), Awal PERPECAHAN Umat Islam. Bag. 2

16 Nov

Setelah pulang dari haji, Rasulullah harus memikirkan hal lain tentang umatnya, terutama dalam hal menghadapi tentara Romawi di perbatasan Syam. Saat itu Rasulullah mulai didera sakit. ( catatatan ini diambil dari biography Rasulullah saw oleh HMH Al Hamid Al Husaini ).


Rasulullah saw WAFAT.

Setelah menegaskan keberangkatan pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid, untuk menghadapi tentara Romawi diperbatasan Syam ( pada saat itu Rasulullah sudah dalam keadaan sakit ), beliau berdiam sejenak, kemudian melanjutkan kata-katanya ; “ Ada seorang hamba Allah, oleh Tuhannya disuruh memilih   ( mana yang lebih disukainya ) dunia dan akhirat, atau semua yang ada pada Allah. Ternyata ia memilih semua yang ada pada Allah……”. Beliau diam lagi, hadirinpun terpaku beku. Namun Abubakar Ashiddiq r.a ( sahabat dekat, serta mertua Nabi ) paham, siapa yang dimaksud hamba Allah , adalah Nabi sendiri. Ia terisak, tidak dapat menahan cucuran air matanya, tubuhnya bergetar, hatinya sudah terasa hanyut. Kata-kata itu adalah tanda-tanda yang nyata. Untuk mencegah agar tangis Abubakar r.a tidak diikuti oleh orang lain, beliau memberi isyarat serta berkata ; “ Ia ( Abubakar ) orang yang amat bermurah hati dalam bersahabat denganku. Kalau ada dari kalangan hamba Allah yang hendak kuambil sebagai Khalil ( mitra tersayang ), maka Abubakarlah Khalilku. Persahabatan dan persaudaraan yang paling utama adalah persahabatan dan persaudaraan dalam iman hingga saat Allah mempertemukan kita “.

Sebelum beliau beranjak meninggalkan masjid, beliau menuju ke – kediaman Siti Aisyah r.a. Beliau berhenti dan menoleh pada semua hadirin, lalu berkata ; “ Hai kaum Muhajirin ! Kuwasiatkan kepada kalian, supaya menjaga baik-baik persaudaraan dengan kaum Anshar, karena mereka itu telah membelah dan memberi perlindungan kepadaku. Mereka telah melaksanakan apa yang menjadi kuwajiban mereka dan akan tetap sedemikian itu. Hendaklah kalian selalu menghargai kebaikan budi mereka, dan melupakan kekurangan mereka “.

Perlu diketahui, kaum Muhajirin adalah pengikut Nabi dari Mekkah, yang ikut hijrah ke Medinah. Kaum Anshar adalah penduduk Medinah yang masuk Islam dan membela Nabi dari serangan kaum lain. Bahkan dalam peperangan, kaum Anshar selalu mengikuti kemana Nabi berperang. Tapi pada akhirnya kedua kaum ini bertikai pada saat Nabi wafat. Karena masing – masing dari mereka merasa, bahwa kaumnyalah yang lebih layak menggantikan kepemimpinan Nabi, karena jasa-jasanya dalam membela Nabi, melindungi Nabi. Begitu pula yang dikatakan oleh kaum Muhajirin. Sebuah pelajaran riya’ yang harus kita renungkan, ternyata kesetiaan itu tidak selalu sama dengan kebaikan dan kerelaan selamanya, ada pamrih, mengharapkan pahala ( baca: balasan ). Kesetiaan yang sebenarnya adalah pengorbanan. Saat itu nyata, bahwa kaum Muslim tidak memikirkan keutuhan Islam, selain menonjolkan ego golongannya.

Selama beberapa hari saat beliau menderita sakit, beliau masih banyak memikirkan masalah-masalah besar yang dihadapi kaum Muslimin, antara lain seperti sudah kami sebutkan diatas, adalah Romawi. Negara besar didunia saat itu. Beliau memikirkan nasib kaum Anshar dikemudian hari, serta masalah kesatuan dan persatuan umatnya yang wajib beliau pertahankan kelestariannya ( sayangnya hal itu tidak begitu terpikirkan oleh sebagian besar umatnya kala itu ). Hal itu menambah keparahan sakit beliau. Rupanya beliau sudah melihat tanda-tanda akan terjadinya perpecahan itu.

Esok pagi dini hari saat beliau menuju masjid untuk meng-imammi solat berjamaah, ternyata kondisi beliau sedemikian lemah. Oleh sebab itu beliau menyuruh Siti Aisyah r.a untuk memberitahu ayahnya ( Abubakar ), agar meng-imammi solat berjamaah. Tapi Siti Aisyah r.a menduga beliau masih sanggup meng-imammi solat, karena itu Aisyah menjawab ; “ Ya Rasulullah, Ayahku seorang yang berhati lembut, suaranya lemah dan mudah menangis saat membaca Al Qur’an “. Rasullullah mengulang perintahnya pada Aisyah, tapi istri beliau itu mengulang lagi jawabannya. Dengan nada agak gusar, beliau berkata ; “ engkau ini sama dengan perempuan-perempuan Yusuf ! Suruh dia meng-imammi solat berjamaah “. Siti Aisyah kemudian memberitahu Ayahnya, tak lama kemudian, Abubakar r.a meng-imammi solat berjamaah.

Pada suatu hari saat Bilal selesai mengumandangkan adzan, Abubakar belum tampak hadir di masjid. Rupanya beliau berhalangan. Sebagai penggantinya, orang minta supaya Umar r.a meng-imammi solat berjamaah. Suara Umar yang demikian keras saat  mengucapkan takbir, terdengarkan oleh Rasulullah saw dari tempat kediamannya yang terletak disebelah masjid. Beliau bertanya pada Siti Aisyah r.a ; “ Mana Abubakar ? Allah dan kaum Muslimin tidak menghendaki itu….!”.

Pernyataan beliau itu dipandang kaum Muslimin sebagai isyarat, bahwa beliau menghendaki Abubakar r.a sebagai penerus kepemimpinannya dikemudian hari. Sebab tugas memimpin solat berjamaah pada masa itu, merupakan tugas mulia yang sebelumnya tidak pernah diberikan Rasulullah saw kepada siapapun, selagi beliau sendiri berada ditempat.

Bersambung.

Oleh. Didik Suwitohadi.

16-05-2007

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 November 2009 in Agama

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: