RSS

Ibadah Haji Perpisahan ( Hijjatul Wada’ ), Awal PERPECAHAN Umat Islam. Bag. 4 (habis)

18 Nov

Perdebatan antara Umar – Abubakar – Abu Ubaidah bin All Jarrah dengan kaum Anshar, berakhir dengan pembaiatan Abubakar sebagai Amirul Mukminin menggantikan kepemimpinan Rasulullah. Perpecahan pun dimulai !.( catatatan ini diambil dari biography Rasulullah saw oleh HMH Al Hamid Al Husaini ).


Abubakar Ashiddig r.a dibaiat sebagai Khalifah ( Amirul mukminin ).

Seperti yang telah diriwayatkan, setelah Nabi wafat, dalam duka yang mendalam, dalam situasi jasad Nabi masih dalam perawatan untuk persiapan dikebumikan, kaum Anshar dan kaum Muhajirin sudah sibuk menggalang masing-masing kaumnya untuk menentukan siapa yang akan menjadi Khalifah menggantikan kepemimpinan Nabi. Mereka lupa dengan keadaan jasad Nabi yang sedang dirawat keluarga dan para sahabatnya, diantaranya adalah Ali, Umar dan Abubakar. Mereka ( kaum Muhajirin dan Anshar ) justru sibuk memikirkan nasib kaum masing-masing. Saling mengatakan, bahwasannya kaum mereka yang paling berjasa perjuangannya bersama Nabi. Mulai menghitung-hitung jasa masing-masing. Sungguh menyedihkan ! Mendengar pendapat kaum Anshar yang mengarah pada perpecahan itu, Sa’ad bin Ubaidah merasa kecewa, dengan suara lirih ia berkata ; “ Inilah awal kelemahan kita ….”. Ia menghendaki kepemimpinan ditangan kaum Anshar.

Disaat kaum Anshar ramai berunding, seseorang bernama Ma’an bin Aidy mendatangi Umar r.a yang sedang berada dikediaman Nabi bersama sahabat lainnya. Ia memberitahu pada Umar tentang keadaan di Sakifah Bani Saidah, dan tanpa menunggu jawaban Umar, Ma’an berkata ; “Sampaikan berita ini pada semua kaum Muhajirin, sebaiknya kalian pilih sediri, siapa yang akan kalian angkat sebagai pemimpin. Kulihat pintu fitnah ( bencana ) sudah menganga. Mudah-mudahan Allah segera menutupnya …”.

Umar resah mendengar berita itu, ia menemui Abubakar yang sedang sibuk ikut merawat jenasah Rasulullah saw. Awalnya Abubakar menolak, karena sedang sibuk tersebut. Tapi Umar memaksanya untuk ikut dengannya. Mereka pergi bersama, ikut pulah Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Sambil berjalan Umar bercerita apa yang disampaikan oleh Ma’an bin Adiy. Abubakarpun cemas. Setiba di Sakifah Bani Saidah, ketiga sahabat Nabi itu melihat orang penuh sesak disana. Ditengah mereka, Saad bin Ubaidah berbaring di sebuah usungan. Umar yang berperangai keras ingin langsung berbicara, demi melihat exspresi mereka lain dari biasanya. Tapi Abubakar berhasil mencegahnya; “ Berbicaralah sesudahku. Dengarkan dulu apa yang hendak aku katakan pada mereka….”.

Dengan penampilan yang tenang, setelah memberi salam, Abubakar berucap, antara lain ; “…..kita kaum Muhajirin dan kaum Anshar adalah orang pertama yang memeluk Islam, baru kemudian orang lain yang mengikuti jejak kita. Kami orang-orang Quraisy adalah kerabat Rasulullah saw. Kalian adalah pembela kebenaran Agama Allah. Saudara kami se agama, dan selalu bersama dalam menegakan kebajikan…..”. Demikian antara lain yang disampaikan oleh Abubakar. Pada intinya mengingatkan kaum Anshar, bahwa kaum Muhajirin dan Anshar selalu bersama dalam suka maupun duka mengikuti perjuangan Nabi dalam menegakan Agama Allah.
Kaum Anshar menjawab ; “ Demi Allah ! Kami tidak iri atas kebajikan yang dilimpahkan Allah terhadap kalian. Jika sekarang kalian mengangkat seorang pemimpin dari kaum kalian, kami rela dan akan kami baiat dengan syarat, bila ia sudah tiada lagi karena meninggal dunia atau sebab lain, tiba giliran kami untuk mengangkat pemimpin dari kaum kami. Bila ia sudah tiada lagi, tiba giliran kalian untuk mengangkat pemimpin dari kaum kalian. Begitu seterusnya. Itulah cara terbaik untuk memelihara keadilan dikalangan umat Muhammad ! “.

Terjadi dialok sengit ! Sampai pada akhirnya, seorang dari kaum Anshar bernama Basyir bin Sa’ad dari kabilah Khazraj ( kaum Anshar terdiri dari berbagai kabilah/golongan/klan atau kelompok ) berkata ;” Hai kaum Anshar ! Walau kita termasuk orang-orang dini memeluk Islam, tapi perjuangan-perjuangan untuk menegakan Islam tidak bertujuan lain selain untuk memperoleh ridho Allah dan Rasul-Nya. Dan kita tidak ingin ke-ridhoan itu diganti dengan urusan ke-duniawian. Muhammad adalah orang Quraisy, dan kaumnya tentu saja lebih berhak mewarisi kepemimpinanya. Hai Kaum Anshar ! Bertagwalah pada Allah, jangan kau menentang atau meninggalkan mereka ( kaum Muhajirin ) “.

Ketika Abubakar mendengar pendapat Basyir bin sa’ad, ia berdiri lalu berkata ; “ Inilah Umar Ibnul Khathab dan Ubaidah bin Al Jarrah, baiatlag salah seorang, mana yang kalian suka ! ”. Namun mereka berdua ( Umar dan Ubaidah ) tidak bersedia menjadi pemimpin. Pada akhirnya, kaum Anshar menyetujui untuk mem-baiat Abubakar sebagai Khalifah pengganti Nabi.

Pada saat solat jenasah Nabi-pun terjadi perselisihan, siapa yang harus jadi imam solat jenasah Nabi. Begitu pula saat pemakaman, siapa yang berhak turun ke liang lahat. Tapi alhamdulillah !, saat itu semuanya dapat diselesaikan dengan baik. Walau dengan perdebatan alot.

Pada saat Abubakar dibaiat sebagai Amirul mukminin, kerabat Nabi tidak ada yang tahu, karena mereka sedang sibuk merawat jenasah Nabi. Sedang pengangkatan itu terjadi begitu saja, untuk menghindari perpecahan umat ( tapi sesudahnya, terjadi perpecahan antara para sahabat Nabi dengan kelurga Nabi ).
Putri Rasulullah, Siti Fatimah Az Zahra r.a sulit menerima kenyataan tersebut. Ia berpendirian, tidak ada yang mustahil melanjutkan kepemimpinan beliau selain suaminya sendiri, yakni Ali bin Abi Thalib r.a yang juga masih keponakan Rasulullah ( Ali bin Abi Thalib baru bisa menerima semuanya, sepeninggal Siti Fatima Az Zahra r.a, dan hubungan dengan Abubakar menjadi baik kembali ).

Sejak saat itulah umat Muslim terpecah menjadi dua, yakni golongan yang sependapat dengan keluarga Rasulullah ( disebut kaum Syiah ), dan golongan yang bisa menerima Abubakar sebagai pengganti Rasulullah memimpin umat Islam ( disebut kaum Sunni ). Sejarah membuktikan, bahwa kedua kaum itu, sampai saat ini tidak bisa menyatu. Masing-masing mempunyai tradisi sendiri.

Ada hikmah dibalik semua peristiwa itu, bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadikan sebuah perpecahan. Perpecahan tidak akan terjadi kalau masing-masing orang tidak mementingkan diri dan golongannya. Apalagi berpikir lebih pantas dan lebih berjasa dari yang lain.

Semoga umat muslim makin dekat satu sama lain, begitu juga hubungan dengan umat lain didunia. Tidak ada gunanya saling memusuhi dan saling melecehkan. Ajaran Islam sudah jelas, bagiku agamaku, bagimu agamamu. Saling menjaga kepercayaan masing-masing. Amin !

Oleh. Didik Suwitohadi.
16-05-2007

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 November 2009 in Agama

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: