RSS

Kekalahan dalam Perang Uhud, karena ketidak patuhan Umat Muslim

23 Nov

Perang Uhud telah merenggut Hamzah, Singa perang yang ditakuti orang Quraisy, orang yang selalu membela Nabi. Juga merenggut banyak syuhada. Peperangan yang tidak seimbang, 600 – 700 orang Muslimin melawan + 3000 orang Quraisy. Tapi ada yang lebih penting, kenapa bisa terjadi kekalahan, padahal awalnya sudah menang.


 

Menurut sejarah, pertempuran di Uhud adalah pertempuran yang luar biasa hebat dan heroic. Semangat kaum muslim sudah benar benar bulat, siap mati demi membela kebenaran, Agama dan Negara ( Medinah ). Walau mereka sadar, mereka kalah dalam jumlah angkatan perang. Mereka bertempur dengan semangat dan tidak peduli lagi akan kematian. Kematian adalah surga bagi muslimin saat itu. Dengan semangat yang mengkristal,  kaum muslimn berhasil membuat kondisi kaum Quraisy menjadi carut marut, banyak dari para pemimpinnya yang mati. Bahkan 9 orang pemegang benderanya secara berganti-ganti telah mati oleh pedang Ali bin Abu Thalib, Quzman, Sa’ad bin Abi Waqqas dan para pejuang muslim lainnya. Para muslimin terus memburu musuh sampai mereka meletakan senjata.

Dalam keadaan seperti tersebut tentu saja akan banyak rampasan perang. Hal tersebut membuat para muslimn lupa akan tujuan semula, dan lupa untuk terus mengikuti jejak musuh. Mereka terbayang kekayaan duniawi. Nafsu ! Ya nafsu telah mampu merubah akal pikiran manusia menjadi berbelok 180 derajat.

Sebelum berangkat ke medan perang, Nabi memerintahkan pada pasukan panah sebanyak 50 orang untuk berjaga di dilereng gunung untuk tetap bertahan, tidak boleh bergeser kemanapun. Guna menghindari serangan dari kaum Quraisy dari arah belakang. Tugas mereka adalah menghujani panah bila ada pasukan Quraisy datang dari arah belakang bukit dan menuju garis belakang pertahan kaum muslimin. Apapun yang terjadi, pasukan panah tidak boleh bergeser dari tempatnya. Tapi begitu mereka melihat kemenangan kaum muslimin di medan sana, dan banyak dari mereka mengambil ( berebut ) pampasan perang, mereka jadi kepingin juga untuk ikut mengambil rampasan perang itu. Mereka saling berkata, antara lain : “ Kenapa kita masih tinggal disini, dengan tidak ada apa-apa.  Mereka saudara-saudara kita sudah merebut markas musuh. Kita harus ikut kesana , ikut mengambil rampasan perang “.

Yang lain menjawab : “ Rasulullah sudah berpesan,  apapun yang terjadi, sekalipun kami diserang, janganlah kami dibantu. Kita jangan meninggalkan tempat ini, kita harus tetap berjaga “.

Perdebatanpun terjadilah.

Pada akhirnya banyak dari pasukan panah itu turun dari lereng gunung, ikut mengambil rampasan perang, takut tidak kebagian. Yang tetap di tempat, tersisa hanya sekitar 10 orang saja. Pada saat itulah, pasukan Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, komandan kavaleri Mekah, mengerahkan pasukannya dari balik gunung menuju pasukan panah. Tentu saja dengang mudahnya pasukan panah itu dapat diusir dari posisinya., demi mendengar teriakan Khalid bin Walid, kaum Quraisy mengerti, kini saatnya membalikan pasukan menggempur pasukan Muslimin. Kaum Muslimin yang tadinya sibuk mengumpulkan rampasan perang tidak sadar akan itu semua. Serangan balik itu datang tiba-tiba, mereka melemparkan rampasan perangnya dan menghadapi serbuan tersebut. Tapi kondisi barisan sudah semrawut tidak karuan.

Persatuan itu sudah pecah, hanya karaan nafsu terhadap materi keduniawian. Perjuangan sudah tidak padu lagi, tak tahu lagi harus bagaimana. Karena komando sudah tidak jelas. Sudah terpotong oleh pasukan Quraisy. Sebuah imbalan yang mahal yang harus diterima kaum Muslimin yang tidak taat pada perintah. Mereka mundur, mendaki gunung Uhud. Nabi luka oleh sebuah anak panah.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran tentang kedisiplinan terhadap perintah pimpinan. Komitment terhadap yang sudah disepakati. Jangan mudah silau oleh godaan. Akibatnya sangat fatal, persatuan dan kesatuan yang sudah terbangun kokoh, runtuh hanya karena masing-masing orang tidak berdisiplin dan berkominten dengan apa yang telah diucapkan.

Pertempuran Uhud adalah pertempuran yang menyedihkan bagi kaum muslim. Nabi terluka oleh panah, dan Hamzah gugur oleh tombak Wahsyi orang dari Abisinia, budak Hindun, istri dari Abu sofyan. Dendam Hindun terbalaskan sudah. Hindun dendam teramat sangat pada Hamzah, karena Bapaknya dan saudara-saudaranya mati oleh pedang Hamzah, dalam perang Bad’ar

Sebuah pelajaran yang sangat berharga tentang kedisiplinan dan kepercayaan. Lihatlah kaum Muslimin, orang akan hancur karena keserakahan dan lunturnya kedisiplinan.

Oleh. Didik Suwitohadi.

20-11-2009

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 November 2009 in Agama

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: