RSS

Hirarki Kebutuhan Manusia menurut MASLOW

29 Nov

Sudah banyak orang yang tahu dan pernah membaca teori yang diutarakan MASLOW ini. Tapi tidak ada salahnya jika saya ingin memaparkan lagi tentang teori ini. Sekedar untuk mengingatkan kita kembali ( refresh ). Yang tentu saja dengan gaya dan versi saya.
MASLOW membagi unsur kebutuhan hidup manusia dalam lima tingkat. Kebutuhan – kebutuhan itu adalah sebagai berikut :

· Tahap I : Kebutuhan untuk bertahan hidup.
Adalah termasuk kebutuhan dasar manusia yang bersifat mutlak, yaitu makan minum, rasa hangat, ada tempat berteduh. Semua itu harus terpenuhi untuk menunjang kelangsungan hidup manusia ( kebutuhan biologis manusia ). Kebutuhan – kebutuhan inilah yang ada dalam pikiran manusia yang utama.. Sebab ini adalah dasar kelanjutan dari kebutuhan berikutnya.

Tanpa kebutuhan dasar tersebut, bisa diyakini bahwa manusia tidak akan dapat menjalani perjalanan kehidupannya dengan se – baik – baiknya. Bagaimana mungkin orang hidup tanpa makan dan tanpa pakaian. Bagaimana mungkin pikiran orang akan beranjak kearah yang lebih maju kalau kebutuhan dasar tersebut belum tercukupi. Tidak akan pernah meningkat kejenjang yang lebih tinggi. Sebab dalam hidupnya masih dipenuhi dengan keinginan – keinginan biologis, sebagai dasar kebutuhan manusia.
Orang yang lapar tentu saja tidak akan mungkin bisa bekerja dan berpikir dengan baik. Orang yang tanpa pakaian apalagi ? nggak mungkin dia bisa bergerak bebas. Tempat berteduh dibutuhkan untuk mengistirahatkan diri sejenak dari kepenatan. Selama kebutuhan pokok tersebut belum bisa terpenuhi, maka yang ada dalam pikiran manusia tidak akan beranjak pada hal yang lebih tinggi. Karena pada tingkat ini orang butuh untuk bisa hidup.

· Tahap II : Kebutuhan akan rasa aman.
Jika kebutuhan untuk bertahan hidup terpenuhi, maka tidak akan memakan waktu lama, akan segera melangkah dan berfikir pada kebutuhan tingkat berikutnya. Yaitu rasa aman !. Rasa bebas. Bebas dari ancaman fisik maupun psikologi. Bebas bergerak dengan enak dan nyaman. Bebas mengexpresikan diri. Tanpa takut dengan hal – hal yang bersifat mengancam gerakan yang dilakukan, hukum misalnya. Tidak takut ejekan. Merasa benar – benar aman dalam tindak tanduk yang dijalani. Yang tentu saja semua itu dalam konotasi yang bersifat positip. Mau pergi kemanapun tidak kawatir, sebab sudah mengantongi ATM dengan saldo di Bank lebih dari cukup. Mau makan dimanapun dengan harga berapapun oke saja, karena dompet terisi penuh dengan lembaran seratus ribuan. Pokoknya hidup bisa dijalani dengan bebas dan aman. ( Kapan yaaaa… kita bisa seperti itu…??! ).

· Tahap III : Kebutuhan bersosialisasi – ikut melibatkan diri.
Manusia butuh bergaul. Butuh relasi. Butuh teman untuk saling bertukar pikiran. Membagi suka dan duka. Butuh pertolongan atau saling menolong. Merasa menjadi bagian dari satu komunitas. Yaitu masyarakat itu sendiri. Tidak bisa manusia hidup hanya dengan dirinya sendiri. Walau punya duit segudang, logistik makanan dan pakaian terpenuhi, tempat berteduh okey punya, tapi kalau hidup sendirian di satu pulau, apa enaknya ? Butuh rasa akrab. Merasa diterima, dimengerti. Merasa mempunyai kemampuan untuk memberi dan menerima cinta. ( assyyiiikk….!!!.).

Kalau tahap ini tidak bisa terpenuhi, kita akan merasa sendiri. Terkucilkan ! ( Kartu ATM yang berlapis berlian, jadi tidak ada gunanya sama sekali. Cuma bisa untuk mengenyangkan perut ) . Merasa bosan dan kehilangan gairah dan kegembiraan. Kehilangan kebahagiaan, jenuh – gersang-resah. Wis pokoknya nggak enak blas ! ( Hati – hati loooh…! Bisa-bisa pacaran sama SABU-SABU loooh…!! Dan cs – csnya).

· Tahap IV : Kebutuhan akan sukses dan prestasi.
Pada tahap ini, kebutuhan lainnya yang akan muncul adalah, kebutuhan untuk menjadi orang yang produktif, kreatif dan mempunyai prestasi. Kebutuhan ini penting ! Untuk mendukung perasaan akan harga diri. Sebagai individu manusia yang mempunyai harga dan gengsi. Kebutuhan ini akan terpenuhi manakala kita mempunyai satu tujuan dan melaksanakannya dengan sukses dan berhasil. Yang tentu saja dengan perjuangan dan usaha yang benar benar keras – ulet, bukan hasil KKN. ( Ingat lagu ndut – ndangnya Oma Irama, Perjuangan dan Doa…. Ha…ha…ha…!! ).

Bila kebutuhan pada tahap ini tidak terpenuhi, kita merasa kehilangan harga diri. Dan dalam diri kita muncul perasaan tidak yakin akan kemampuan diri. Tidak optimis. Merasa gagal. Jadi apatis. Pokoknya nggak merasa punya gengsi. Mau bergaya juga mati kutu, karena nggak ada prestasi yang bisa diceritakan. ( Makanya, bekerja itu untuk berprestasi bukan untuk jabatan….. Kalau sudah prestasi, uang dan jabatan pasti ngintil. Kalau nggak mau gnintil, minggat saja dari sana…!!!! Perjuangan dan Doa, Oma Irama…ditempat lain,..Okey…?!! ).

· Tahap V : Kebutuhan akan aktualisasi diri.
Bila seseorang telah berhasil dalam tahap I s/d IV, dia akan termotivasi untuk meng-aktualisasikan dirinya. Pemenuhan diri. Orang yang sudah mampu mencapai tahap ini, adalah orang yang “KAYA”. Kaya pengalaman, baik pengalaman batin maupun lahir. Kesadaran akan makna hidup. Tenang dan tidak terbawa arus dan emosi. Merasakan dirinya lengkap, utuh dan mampu menikmati hidup. Tidak ada ruang kosong dalam jiwanya. Bersikap penuh pengertian. Mampu mendengar dengan baik. Bersosialisasi tinggi. MASLOW menamakan semua itu sebagai Peak Experience ( pengalaman puncak ). Itulah hierarki kebutuhan manusia menurut MASLOW.

Yang perlu diingat adalah, orang yang matang, berpengalaman, dewasa, bukanlah identik dengan banyaknya umur dia hidup didunia ini. Kematangan adalah karena daya pikir seseorang yang selalu menuju dan ditunjang oleh hal-hal yang positip. Selalu mau berfikir. Selalu mencari dan ingin tahu. Selalu belajar. Tidak menjamin bahwa orang yang telah berumur 50 tahun bisa disebut “matang”.

Banyak orang yang berumur cukup lama didunia ini, tingkah laku dan cara berpikirnya justru tidak bertambah matang. Cenderung menjurus kehal-hal yang negatip. Apalagi yang sudah mampu mempunyai kredit card berlapis emas 7 mm, belum tentu mau dan bisa mencapai tingkat ke IV atau V. Mungkin saja dia akan hanya sampai pada tahap atau tingkat yang ke III.

Untuk masuk ketingkat ke III pun bukan sesuatu yang mudah. Butuh perilaku yang bisa diterima komunitas. Kalau semata-mata hanya mengandalkan dengan apa yang kita punya pada tingkat ke I dan II, maka yang akan kita terima adalah sesuatu yang semu. Sesuatu yang penuh ke pura-pura-an.

Banyak orang yang berhasil di tingkat I dan ke II, tapi biasanya sulit masuk ke tingkat III. Mungkin dia sudah merasa terbiasa dengan kehidupan berkecukupan, segalanya dia punya, hingga ia merasa aman dalam kehidupannya. Tidak peka akan lingkungan dimana dia tinggal, atau merasa tidak butuh orang lain atau lingkungan, karena semua kebutuhannya sudah bisa dipenuhi dengan uangnya. Orang semacam ini tidak akan bisa sampai pada tingkat ke III dan selanjutnya. Karena baginya segala urusan bisa dia selesaikan dengan uang, dan … “ tolong jangan ganggu kehidupan saya !. Saya ingin menikmati hidup saya sendiri tanpa diganggu dengan urusan tetek bengek kerukunan warga segala. Apalagi kerja bakti, no way !.”. Begitu kira-kira isi hati nya.

Dimasyarakat modern saat ini, saya kira sudah menjamur orang-orang semacam tersebut diatas. Pergi nggak tahu wujudnya pulang juga nggak tahu wujudnya. Yang keluar masuk rumah bukan orang, tapi mobil. Rumahnya tertutup rapat dan berpagar tinggi. Tahu-tahu sudah muncul berita di koran dan tv, kalau rumah mewah nomor sekian semalam dirampok, penghuninya disekap. Nah lu !

Kita sendiri sebenarnya juga tidak tahu, kita saat ini sedang diposisi ke berapa ? Dibilang sudah di posisi ke III, tapi kok nama tetangga depan rumah, samping rumah, apalagi belakang dan blok sebelah, kok nggak tahu ? Ketemu muka aja belum. Paling paling yang tahu namanya hanya Pak RT setempat, itupun cuma ketemu satu kali saat pindahan rumah. Tetangga juga cuma melihat sebentar kemudian masuk ke kandang masing-masing. Aneh kan ? Sebenarnya kita yang salah atau tetangga yang super cuek ? Pinjam istilahnya orang jakarte, “ lu ya lu, gue ya gue, titik ! nggak pakai koma dan nggak usah nanya ! Bajigur lu !”. Repot !. Akhirnya kita jadi ikut istilah jakarte lagi, “ emang gue pikirin ! Kalau lu mati, ya jalan sendiri sana kekuburan “.

Tapi ada juga loh, orang yang bisa mencapai tingkat ke III ( bersosialisasi ) dengan cara yang kurang lazim, yaitu menggunakan apa yang dia punya di tingkat I dan ke II ( harta dan rasa aman, rasa aman ini bisa jadi juga kekuasaan ). Mungkin orang yang mau bergaul dengannya, bisa jadi karena rasa takut padanya dan juga bisa jadi karena royalnya dia. Karena dia kepingin dianggap, maka dia pakai jalan uangnya atau kekuasaannya, bukan perilaku ( attitude ). Kalau gini caranya, apa iya orang macam ini sudah bisa dikatakan masuk katagori mencapai tingkat ke III. Lah kalau dianggap sudah bisa masuk katagori mencapai tingkat III, apa iya dia bisa berprestasi alias masuk ke tingkat IV. Jangan jangan bisa juga naik ke tingkat IV, lantaran menggunakan uangnya juga. Nah kalau dengan uangnya dia juga bisa mencapai ketingkat yang ke V, waduh apa nggak jadi diktator itu namanya. Contohnyakan sudah nyata, di Negara kita, siapa sih yang nggak kenal dengan mbah SOEHARTO ? PEAK EXPERIENCEnya Okey, FA’ALInya juga super ngebut. Nah akhir hidupnya seperti apa ? Nggaak perlu dibahas deh ! Sudah basi banget !

Waduh kalau saya teruskan pemikiran saya ini, bisa panjang urusannya dan bisa mblakrak kemana-mana. Soalnya jiwa memberontak saya akan tertuang – tumpah ruah disini nih ! Makanya cukup deh saya tumpahkan pemikiran saya sampai disini saja. Kalau saya teruskan daya imaginasi saya ini, dan dibaca oleh MASLOW, akan jadi puyeng juga dia. Dia akan berpikir ; “ ini orang kok ngacoin teori saya ? Kurang ajar amat ?! “. ( Jujur saja, kalau saya ketemu dia, saya akan tertawa terbahak bahak, biar dia tambah heran. Soalnya teori dia kalau dipakai di Indonesia, banyak nggak cocoknya ).

Teori MASLOW memang secara mendasar benar, tapi jadi bisa terbalik-balik saat berada didunia nyata. Bill Gates mungkin adalah salah satu orang yang sudah mencapai titik puncak teori Maslow. Kenapa saya berpendapat begitu, tanda-tandanya adalah, saat dia sudah pada titik puncak kepemimpinan dalam aktualisasi diri, dia turun. Dia sudah tidak butuh segala hiruk pikuk duniawi, dia mundur dan memberi kesempatan generasi berikut. Dia sendiri mulai mendirikan yayasan-yayasan yang berkepentingan untuk masyarakat banyak. Adakah orang Indonesia seperti dia ? Yang ada adalah, saat sudah duduk dipuncak, nggak mau turun kalau nggak diturunkan. Naaah…. Mbah harto lagi contoh nyatanya.

Yang nggak setuju dengan pemikiran saya, nggak papa kok. Tapi saya jangan dilempar sandal ya ?. Namanya juga kupasan ala saya, orangkan bebas menterjemahkan apa yang diketahui, iya nggak ?. Tapi sekali lagi, semua itu tergantung dari sudut pandang masing-masing individu. Bagaimana dengan anda – kita – saya….??? Hanya masing – masing individulah yang tahu dan merasakan. Sebenarnya kita sudah berada pada posisi tingkat yang keberapa dalam teori MASLOW..? Silahkan merenung sendiri. ( merenunglah sampek elek, he…he..he….)

Oleh: Didik Suwitohadi

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 29 November 2009 in Wawasan

 

Tag: , ,

One response to “Hirarki Kebutuhan Manusia menurut MASLOW

  1. Nofi

    5 Februari 2010 at 15:44

    makasihh…teori yg anda buat membantu saya…..he he gak bakal dilempar senadal…he he…kalaul fy dah sampai tingkat 5 tapi kadang turun ke tingkat 3 ato 2 hehe

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: