RSS

Jangan pernah Turunkan Standart Prinsip.

15 Des

Dewasa ini menikah bukan lagi merupakan tujuan utama dalam hidup. Tapi, bagaimana orang bisa survive dalam sebuah kehidupan. Bukan saatnya lagi hidup harus bergantung pada orang lain. Masing-masing orang harus bisa bertanggungjawab terhadap kehidupannya sendiri.

Ada beberapa penyebab yang melatarbelakangi perempuan tak segera menikah. Yang pertama, itu memang pilihan hidupnya. Dengan beragam alasan, mereka memutuskan untuk tidak menerima ajakan membina biduk rumah tangga.
Kalau kondisi itu yang terjadi, menurut dr. Nalini Muhdi Agung SpKJ, tidak ada masalah yang akan muncul. Sebab mereka sudah tahu resiko dan bagaimana cara menghadapinya, kata psikiater dari RSU dr Soetomo tersebut
Penyebab ke dua adalah kemapanan sosial yang dimiliki perempuan itu. Sebetulnya, ada keinginan untuk menikah. Tapi karena kesibukan kerja dan keasikan bersosialisasi bersama teman, mereka lupa membuka hubungan dengan lawan jenis. Kemandirian dan segala hal yang telah dimiliki membuat perempuan tersebut menerapkan standart tinggi
Awalnya mungkin tidak menjadi masalah. Namun, menurut Nalini, akan muncul satu titik krusial. Mereka mulai merasa kesepian dan dorongan punya anak begitu besar. Jika mereka tidak bisa melewati titik itu, dikawatirkan muncul perasaan frustrasi. Masalah lain bisa terjadi jika perempuan itu asal saja dalam memilih suami. Yang penting bisa ada temen atau punya anak. Itu yang tidak sehat, tambah Nalini. Kalau ngebet pingin punya anak, gampang, bisa adopsi. Banyak anak miskin yang butuh Ibu angkat, imbuhnya
Menurut Nalini, tidak ada batasan usia untuk menikah. Semua tergantung pada tujuan. Jika memang ingin punya anak, sebaiknya mencari suami disaat usia dibawah 40 tahun. Tapi jika tidak punya alasan itu, pernikahan bisa dilakukan pada usia dewasa berapapun.
Jangan pernah menikah karena ingin status sosial atau pengaruh exsternal. Menikahlah karena anda merasa nyaman, aman dan yakin bisa selamanya bersama pria tersebut.

Standart mencari pendamping itu ada dua. Pertama standart aksesoris dan satu lagi berupa prinsip. Meski usia terus bertambah dan pilihan pria makin terbatas, Nalini menyarankan agar perempuan tidak perlu menurunkan standart prinsip dalam mencari suami. Tapi kalau standart aksesoris seperti fisik, boleh saja diturunkan, ujarnya.
Kekawatiran siapa yang akan menjaga dihari tua nanti, sebaiknya di buang jauh-jauh. Menurut Nalini, sudah bukan saatnya bergantung kepada orang lain, meski itu anak atau suami. Setiap perempuan harus bisa bertanggungjawab pada diri sendiri secara sosial, emosional dan finansial. Meski tidak menikah, mereka kan juga punya keponakan, saudara, atau mungkin anak angkat. tutur Nalini. Begitulah apa yang dikatakan Nalini pada Jawa Pos ( 11 Mei 2008 ).

Kehidupan modern memang akan merubah paradigma sebuah kehidupan. Sudah bukan saatnya lagi merenung-renung dan berfikir bahwa dihari tua nanti kita akan dimanjakan dan dirawat oleh anak kita.
Kehidupan semakin sulit dan keras. Pemikiran-pemikiran seperti diatas harus segera dihilangkan, kalau tidak jadi nelangsa nantinya, karena ternyata pada akhirnya hari tua kita tidak seperti dalam bayangan kita.

Manusia semakin dituntut untuk mampu melindungi dan memelihara dirinya sendiri. Betapa menderitanya seseorang yang tidak mempersiapkan kehidupannya sejak awal.
Kewajiban orang tua adalah mendidik anaknya, mengantarkannya ke sebuah kehidupan di dunia ini. Bukan dibebani harus memikirkan dan merawat hari tua orang tua. Biarkan mereka merekah dan berkembang tanpa tuntutan dari kita. Maka akan terjadi proses pembelajaran kehidupan yang sehat. Yang penting adalah ada arahan yang jelas dan baik.

Berbahagialah orang tua yang mempunyai anak dan kerabat yang bisa saling mengisi. Sehingga kehidupan di hari tuanya mempunyai banyak warna. Hal itu adalah tidak lepas dari kasih sayang orang tua jua. Sesuatu yang baik akan kembali kepada kita dengan kebaikan pula. Percayalah !

Pelangi itu indah. Kehidupan diharapkan juga seperti itu.

Oleh : Didik Suwitohadi.

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 15 Desember 2009 in Wawasan

 

Tag:

One response to “Jangan pernah Turunkan Standart Prinsip.

  1. dwi aryadi purnomo

    19 Desember 2009 at 05:32

    Menurut saya, ke egoisan aja yang terlalu besar hingga membuat orang itu jadi serba HIGH

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: