RSS

Saya Bukan Topeng Monyet atau Badut Sirkus.

19 Des

Karen Elizabeth Sekararum, Sinden Jawa asal Amerika Serikat. Kini termasuk pesinden laris yang sering dikersake     ( diinginkan )para dalang untuk meramaikan tanggapan wayang.


Cengkok suaranya yang meliuk liuk, dandanannya yang gandhes luwes, dan dedeg piyadege ( perawakannya ) yang mriyayeni ( tampak seperti wanita kelas priyayi ) hampir tak berbeda dengan pesinden Jawa tulen. Bagaimana wanita Amerika Serikat itu bisa mendalami roh budaya Jawa ?

Berikut wawancaranya ( Jawa Pos 23 September 2007 ).

Kapan anda memutuskan menekuni budaya Jawa ?

Waktu masih berumur 5-7tahun, saya tinggal di Indonesia dua tahun. Ketika itu saya sempat diikutkan les tari oleh orang tua saya di Jogjakarta. Kalau tidak salah, saya diajar Romo Sas di dalem Pujokusuman. Entah apa yang terjadi. Tetapi, saya tiba tiba merasa ada sesuatu yang melekatkan diri saya dengan seni tari Jawa. Mungkin itu yang dinamakan panggilan hati. Saya pernah mendengarkan suara sinden di radio. Saya merasa begitu terlena. Tiba tiba saya mengatakan dalam hati bahwa suatu saat nanti harus bisa Nyinden. Lantas, cling, inilah saya sekarang. Seorang Sinden betulan. ha..ha..ha…

Kapan anda memutuskan menekuni budaya Jawa ?

Panggilan hati itu tiba tiba saja kembali muncul saat saya menginjakan kaki di bumi Jawa lagi pada 1990. Se-akan saya sudah memiliki jiwa orang Jawa dalam diri. Saya suka dengan keunikan karakter seni Jawa. diantaranya, tari remo Malang, tayuban dan nembang. Saya suka ciri khasnya, yang merupakan gabungan antara keindahan gerak tari dan seni olah vokal tingkat tinggi. Gabungan dua karakter itu tidak dimiliki jenis seni-seni lainnya di dunia.

Bagaimana proses anda bisa begitu dalam menekuni budaya Jawa.?

Tahun 1990, saya datang ke Malang untuk memperdalam referensi tentang penelitian pendidikan S-2 saya. Waktu itulah saya bertemu Mas ( panggilan Ki Sholeh Adi Pramono, dalang Malang yang kini jadi suaminya ). Sedikit banyak dia murupakan salah satu alasan saya menceburkan diri dalam dunia kesenian Jawa ini. Sebab, saat itu, selain menjadi guru saya, dia juga akhirnya berhasil menjadi Bapak dari anak anak saya.

Kendala tersulit dalam proses transformasi Anda menjadi “orang Jawa” ?

Saya ingin menekankan bahwa saya bukan orang Jawa. Juga, tidak akan pernah berhasil menjadi orang Jawa. Sebab pada kenyataannya, saya lahir dan dibesarkan dengan budaya dan latar belakang kehidupan yang sangat jauh berbeda dengan yang terus saya pelajari saat ini (budaya Jawa). Tapi, saya ingin membuktikan bahwa saya bisa menjadi seniman Jawa.

Bagaimana penilaian keluarga ketika Anda memutuskan menjadi Sinden dan penari jawa ?

Mereka menyambut baik dan menghormati pilihan hidup saya. Setiap setahun sekali, mereka selalu berkunjung kesini (Malang) untuk kangen kangenan

Bagaimana cara orang tua Anda mendidik anak anaknya ?

Saya dibesarkan dilingkungan pendidikan. Kedua orang tua saya adalah Dosen. Seperti orang Amerika umumnya, mereka adalah orang yang sangat demokratis dan memberikan kebebasan kepada saya untuk menentukan jalur hidup. itu sangat berpengaruh pada pilihan hidup ini.

Bagaimana reaksi penonton ketika melihat penampilan anda dalam sebuah pertunjukan ?

Reaksi mereka macam macam. Tapi sebenarnya ada sesuatu yang masih sering ngganjel dalam hati. Saya sadar sepenuhnya bahwa saya mengawali proses berkesenian saya sebagai “orang asing“. maka sayapun menetapkan standar tinggi dalam hidup saya. Maksudnya, maaf lho ya, bukannya apa, tapi kadang saya tidak ingin orang tertarik dan memandang saya karena keunikan atau keanehan saya. kalau ada orang berkata, ” Eh ternyata ada bule pinter nyinden,” itu justru lebih sering menyakitkan hati saya. Artinya, saya bukan topeng monyet atau badut sirkus yang ditonton orang karena aneh dan unik. Tapi, saya bisa ditanggap orang karena kualitas seni saya. Saya ditanggap karena orang tahu bahwa hanya saya yang bisa menampilkan seni itu. Saya berharap bahwa suatu saat nanti orang akan menilai saya bukan karena saya unik atau aneh. tapi karena kemampuan saya dalam berkesenian Jawa.

Sebagai “orang asing” yang pinter bahasa dan budaya Jawa, apakah ada kejadian-kejadian lucu dalam keseharian Anda, misalnya orang ngrasani Anda dalam bahasa Jawa ?

Sering terjadi begitu. Mereka sering merasa malu setelah tahu bahwa saya paham rasan-rasannya ( bicara dibelakang orang / ngegosip kata orang jakarta ). tapi menurut saya, itu tidak lucu dan tidak layak diceritakan. Kadang, kalau hal tersebut sudah terjadi, orang Jawa jadi kelihatan seperti ke-kanak-kanakan.

Ke depan, pencapaian apa yang ingin Anda dapatkan dalam berkesenian Jawa ?

Saya ingin menjadi seniman sejati dibidang kesenian Jawa. Saya berharap, saya tidak dinilai sebagai orang asing. tetapi, sebagai seorang seniman yang dihargai karena kemampuan saya menampilkan seni.

Menurut Anda, apakah orang Jawa sudah melupakan budayanya sendiri ?

YA ! Saya sering berpesan, memang tidak ada yang melarang untuk menikmati dangdut dan rock. tapi saya harap, kita tidak melupakan seni tradisional sendiri. Sebab, bagaimanapun, seni itu bisa hilang kalau tidak terus dipraktekan dan dikembangkan. Kalau generasi muda Jawa sudah tidak lagi bisa menjaga seni, lambat laun nilai tersebut akan hilang dengan sendirinya. Itu sangat disayangkan.

Bagaimana Anda mendidik anak anak Anda ? Dengan cara Jawa atau budaya negara Anda ?

Koyoke ( sepertinya ), anak-anak mengikuti jejak Bapak Ibunya. Mereka juga sangat menyenangi bidang seni. Dia pintar karawitan, hebat ngendang ( memainkan gendang ), pokoknya tidak akan jauh dari kehidupan seni yang dilakoni Bapaknya. Bagaimanapun, jiwa anak saya merupakan pengejawantahan darah seni Bapaknya. Mungkin masa depan anak anak saya tak jauh berbeda dengan yang dilakukan orang tuanya saat ini, menjadi seniman

Demikianlah wawancara yang dilakukan Jawa Pos dengan Elizabet. Dari wawancara itu saya jadi malu pada diri sendiri, sebagai orang jawa tapi tidak bisa memainkan peralatan musik atau gamelan jawa. Saya tidak bisa nembang  ( menyanyikan lagu jawa ). Dan ternyata orang kita juga terlalu banyak yang lupa akan adat dan budaya bangsanya. Seakan malu untuk memainkan atau menampilkan budaya atau seni sendiri. Lebih bangga kalau bisa mengerti dan tahu seni orang barat. Sungguh menggiriskan nasib budaya Indonesia ( jawa ). Orang jepang yang begitu modern itu, adat dan budayanya selalu dijunjung tinggi. Sikap bushido begitu kental. Rasa malunya begitu dalam. Budayanya dikenal di hampir seluruh dunia. Bahkan di Surabaya , di taman Bungkul, satu hari ada festival budaya Jepang ( Yosikhai, mudah-mudahan saya tidak salah sebut istilahnya ) yang diikuti dari tingkat anak SD sampai Mahasiswa sampai orang dewasa umum. Dan yang ikut festival sampai ada yang dating dari bali. Dan saya salut dengan kontingen Bali, mereka tetap mengenakan tanda-tanda dan pakaian ala Bali. Gerak tarinya juga sudah dimodifikasi khas Bali.

Coba saja adakan festival seni tradisional jaran kepang ( kuda lumping ) atau jatilan, festival wayang orang, rasanya kok nggak akan ada mahasiswa yang ikut. Alasannya bisa ditebak, malu dan tidak tahu kesenian tersebut. Tapi lomba barongsai kok ya banyak yang ikut. Sesuatu yang mengherankan saya. Apa karena kesenian dari tiongkok ini lagi rami-ramainya diselenggarakan karena dulu di jaman ordebaru, barong sai atau leang leong ini sangat dilarang untuk ditampilkan. Jadi ada semacam euporia gitu.

Dari sini saya bisa mengambil kesimpulan, bahwa kita tidak yakin dan percaya diri, plus bangga dengan budaya sendiri. Hanya segelintir orang saja yang bisa bersikap begitu. Sungguh sangat mengenaskan. Kita betul betul kala mental dengan bangsa lain. Kita jadi makluh yang amat kecil ketika harus bersanding dengan bangsa lain. Padahal bangsa lain begitu amat berhasrat belajar dan mempelajari budaya dan kesenian Indonesia. Yakinlah teman !, bahwa kita mempunyai sesuatu yang hebat. Ingat setiap bangsa mempunyai adat – budaya dan keseniannya sendiri. Tinggal bagaimana kita meramunya. Lihatlah Senisono ansambel, kwa etnika. Mereka memainkan musik tradisionil dengan sentuhan-sentuhan masa kini. Dan mereka sangat disambut antusias pada setiap pagelarannya diluar negri. Belajar seni budaya tradisional tidak harus menjadi wong ndeso ! Dalam kehidupan, kita tetap bisa mengikuti irama hidup masa kini, tapi jangan tinggalkan adat dan budaya asli kita.

Tulisan ini saya buat dengan penuh prihatin akan nilai mental orang kita. Semoga semua pihak bisa sadar akan keadaan ini. Tolong…! Banggalah dengan apa yang kita punya…! Perkenalkanlah dan kembangkanlah.

Tentang Karen Elizabeth.

Nama : Karen Elizabeth Sekar Arum
Panggilan : Elizabeth
Tempat tgl. lahir : USA, 19 Desember 1964
Alamat : Padepokan Seni Mangun Dharma, Tumpang- Malang
Suami : Ki Sholeh Adi Pramono
Anak : 1. Sonya Condro Lukitosari, 13 th.

2. Kyan Andaru Kartikaningsih, 8 th

Pendidikan : 1. Universitas Wisconsin, Amerika Serikat.

2. Universitas Virginia, Amerika Serikat

Ayah : David Schrieber
Ibu : Janet Schrieber
Hobi : Menari, menyanyi
Makanan favorit : Masakan Padang

Oleh : Didik Suwitohadi

14-12-2009

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Desember 2009 in Wawasan

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: