RSS

Jangan mudah terpesona dengan pandangan MAYORITAS.

31 Des

Sebagaimana diketahui, kebenaran suatu pemikiran itu tidak ditentukan oleh banyak dan sedikitnya penganut, namun oleh nilai yang dikandungnya. Maka membenarkan suatu perbuatan karena banyak orang yang melakukannya, adalah sebuah kesalahan yang luar biasa besar. Hal ini dapat dilihat pada kisah Abu Nawas berikut ini.


Karena kondisi keuangan Abu Nawas saat itu dalam kondisi yang benar benar kritis, Abu Nawas berniat menjual satu satunya keledai miliknya. Yang juga merupakan tunggangannya. Dan keadaannya saat itu benar benar mirip kondisi Negaranya yang sedang dilanda krisis. Hingga terpaksa menjual BUMN – BUMN. Meskipun kondisi BUMN sehat.

Bagaimanapun dia sudah tidak punya pilihan lain. Dia berharap Keledainya bisa laku mahal, hingga bisa meringankan beban ekonominya. Tapi Abu Nawas tidak tahu kalau ada kelompok orang yang mendengar kondisinya tersebut. Dan kelompok orang tersebut memiliki rencana jahat untuknya. Komplotan itu memiliki mata mata yang menyelidiki calon calon korbannya. Dan mereka telah menyusun skenario untuk menipu Abu Nawas.

Esok harinya, ketika Abu Nawas dalam perjalanan ke Pasar hewan, salah seorang dari mereka mendekat dan bertanya,

“ Apakah engkau akan menjual kambingmu..? “. Tentu saja Abu Nawas kaget sebab yang dia tunggangi bukan kambing. Bagaimana keledai sebesar itu dikatakn kambing.

“ Ini bukan kambing…! “ kata Abu Nawas.

“ Kalau bukan kambing lalu apa..? “ Tanya orang itu. “ Ini Keledai…! “ Kata Abu Nawas.

“ Ah jangan ngawur. Coba tanyakan pada orang orang di pasar kalau itu keledai dan bukan

kambing “.

Abu Nawas meneruskan perjalannya. Tak berapa lama anggota komplotan ke dua mendekati.

“ Hai orang aneh, mengapa kamu menunggang kambing…?”. Abu Nawas terkejut.

“ Ini keledai, bukan kambing…! “.

“ Kalau keledai, aku tidak tanya kenapa kamu tunggangi. Dasar orang aneh, kambing dikatakan keledai. “. Abu Nawas agak bingung, tapi dia tetap yakin bahwa yang dia tunggangi adalah keledai. Maka dia terus melanjutkan perjalanannya ke pasar. Dan bertemu dengan anggota kelompok lainnya.

“ Hai Abu Nawas mau kau bawa kemana kambing itu…! “

Abu Nawas semakin heran dengan kondisi saat itu. Sudah beberapa orang mengatakan keledainya adalah kambing. Dia semakin ragu. Dan orang yang menyapanya tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Ada yang memuji keledai itu sebagai kambing baik. Dan ada yang menerangkan cacat keledai itu yang dianggap kambing. Di akhir kata katanya, orang orang itu berkata. “ Harusnya kambing ini diberi makan sebanyak banyaknya agar gemuk sebelum kamu jual ke pasar. “

Tentu saja Abu Nawas semakin bingung, akhirnya dia istirahat sejenak. Melihat keadaan sudah siap tipu, sang kepala komplotan segera menghampiri Abu Nawas. Duduk disamping Abu Nawas dan mengajaknya ngobrol.

“ Ahaaa… bagus sekali kambingmu ini…! “

“ Kau juga yakin kalau ini kambing…? “ Tanya Abu Nawas. Bingung.

“ Loh.. kenapa emangnya..? Jelas sekali kalau ini kambing…! Kamu kira hewan apa..? “

Kata orang itu meyakinkan sekali. Lalu dia berkata lagi. “ Aku sebenarnya sedang butuh kambing. Kambingmu ini mau kamu jual…? “

“ Berapa kau mau membayarnya…? “ Abu Nawas tidak sadar sudah hilang kepercayaan.

“ Empat dirham.”. Setelah tawar menawar yang alot akhirnya Abu Nawas setuju.

Sampai dirumah, istrinya mencak mencak dan mengomel. Betapa tololnya suaminya ini.

“ Jadi keledai itu hanya kamu jual empat dirham…? Lantaran mereka mengatakan bahwa keledai itu adalah kambing…? “ Omel istrinya.

Abu Nawas tak bisa menjawab. Baru sadar kalau dia sudah diperdaya.

( dari kualitas berfikir Makrifat )

Itulah akibat hanya terpesona pada pandangan MAYORITAS, tidak pada nilai atau makna satu kebenaran itu sendiri. Apa akibatnya apabila itu terjadi pada sebuah organisasi…? Organisasi Perusahaan misalnya…?.

Kecenderungan manajemen secara umum adalah membenarkan sesuatu yang diyakini banyak pihak. Padahal kebenaran yang diyakini banyak pihak itu belum tentu benar, juga belum tentu demi kemaslahatan banyak pihak ( biasanya sih cuma satu pihak saja, pihak yang dapat keuntungan ). Bisa jadi itu adalah ulah seseorang atau beberapa orang yang memprovokasi situasi, menggerakan pemikiran orang lain untuk meyakini sesuatu yang dia hembuskan.  Sesuatu yang dihembuskan itu tentu saja demi kepentingan dia atau kelompoknya. Demi tujuan pribadi.

Cara – cara manajemen mengatasi permasalahan seperti tersebut diatas, seharusnya sudah tidak pantas lagi dilakukan. Karena pemikiran manajemen semacam itu hanyalah menyelesaikan sesuatu dalam skala sementara saja. Satu saat kebenaran yang sebenarnya akan muncul juga. Pada saat seperti itu, biasanya kerusakan di tubuh organisasi sudah amat parah. Sudah digerogoti oleh pelaku provokasi tersebut. Perilaku organisasi sudah melenceng jauh. Lebih rugi lagi, organisasi sudah banyak kehilangan orang orang terbaiknya, bahkan boleh jadi orang-orang terbaik tersebut telah ber mutasi menjadi orang-orang yang tidak baik. Terjadi perubahan paradigma.

Itulah sebabnya kenapa secara tiba-tiba sebuah organisasi perusahaan melakukan perombakan total. Reorganisasi. Suatu tindakan penyelamatan ( saat organisasi sadar telah terjadi distorsi di tubuh organisasi ), tapi jelas akan memakan korban yang cukup banyak dan kehilangan sumber daya yang sangat penting. Sumber daya yang sudah tercemar oleh virus-virus yang tidak benar seperti tersebut diatas. Apa boleh buat, perusahaan harus tetap hidup dan menghidupi karyawannya.

Pada suatu training, seorang pembicara mengatakan, bahwa untuk menghentikan ulah seorang pembikin kerusuhan ( trouble maker ) adalah dengan menunjuk dia untuk menerima sebuah wewenang. Dengan demikian masalah keonaran yang dia bikin akan stop dengan sendirinya. Hal itu adalah sebuah kesalahan besar, satu penyelesaian permasalahan secara gampang dan jangka pendek. Orang seperti itu akan tetap menjadi penyakit diantara karyawan lainnya. Kalau keinginannya tidak terpenuhi maka dia akan berulah lagi. Jadinya manajemen dibuat repot oleh ulahnya. Mau ditaruh dimana saja, diberikan wewenang dan jabatan apa saja, orang seperti itu tetap akan merusak. Karena satu-satunya kemampuan dia adalah ber-ulah. Untuk mencapai tujuannya, tidak dengan cara prestasi, tapi menghalalkan segala cara agar keinginannya terpenuhi. Yang penting bagi dia adalah tujuannya tercapai, apapun caranya.

Orang semacam itu sangat kelihatan baik dan perhatian, tapi dibalik kata-katanya tersembunyi provokasi yang tajam. Kalau tidak berhasil mempengaruhi orang, dia akan mendiskriditkan  orang tersebut. Kalau hal ini gagal, yang terakhir dia lakukan adalah ancaman, membuat fitnah dan isu-isu yang merugikan. Membuat pekerjaan orang lain jadi kacau, dan membuat orang sekitar tidak nyaman.

Saat isu menyebar dan lingkungan bergolak, biasanya dia akan tampil sebagai pereda suasana. Saat seperti itulah sebenarnya yang dia tunggu, agar dimata atasan atau perusahaan dia tampak sebagai penyelesai permasalahan. Padahal yang membuat onar sebenarnya adalah dia.

Hati hatilah dengan manusia semacam itu. Orang seperti itu ada disekitar anda semua. Tapi sebagai orang ber-agama, percayalah bahwa TUHAN tidak tidur.

Semoga ada maknanya buat Anda semua.

Oleh : Didik Suwitohadi.

30-12-2009.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 31 Desember 2009 in Manajemen

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: