RSS

Kenangan bersama Linda.

04 Jan

Oleh. Randaka.

Kami berjalan dari jl. Embong Wungu markas kami, menyeberangi jalan Basuki rahmat menuju jl. Tegal sari. Berlari lari kecil sambil tangan kiri melambai lambai, memberi tanda pada kendaraan yang lewat agar mengurangi kecepatan karena ada kami yang mau lewat, agar memberi kesempatan pada kami bertiga untuk menyeberang dengan selamat, karena kami manusia. Kami sampai didepan kantor polisi yang terletak dipertigaan  jl. Tegalsari dan jl. Basuki rahmat, tepat dipojok pertigaan.

Dikeremangan jalan, aku berjalan lima langkah dibelakang Agus dan Linda. Hubungan mereka berdua sedang dalam keadaan seremang  jalan yang kami lalui, yang menuju pada tanda tanda gelap. Pohon pohon di sekitar jl. Pregolan bagaikan raksasa hitam yang berdiri kaku disana. Sementara dibelakang raksasa raksasa hitam itu, sinar sinar berpendar dari rumah rumah orang kaya yang ada disepanjang jalan itu. Sementara kami bertiga bagaikan musafir diantara keremangan, yang tiada seorangpun menghiraukan.

Kami bertiga teman satu group dalam sebuah kelompok teater, aku yunior mereka. Mereka sudah lama bergabung dalam kelompok teater tersebut,  dan sudah banyak pentas di Surabaya ini. Marlinda Agustine, nama lengkap dari Linda, adalah termasuk aktris teater terbaik dalam lomba drama lima kota kala itu. Bahkan tak tanggung-tanggung, teater kami mampu menyabet semua gelar juara. Juara teater terbaik, aktris terbaik dan aktor terbaik. Linda menyabet gelar aktris terbaik dalam peran sebagai Bellona, tokoh istri yang sangat berpengaruh atas kehidupan Machbet sang suami. Tokoh itu mampu dia perankan dengan baik. Sebuah karya drama dari Inggris yang di tulis oleh William Shakespire. Oya, kelompok kami berkomitmen untuk memainkan karya karya yang bersifat kolosal, yang di ubah dalam bentuk drama kontemporer.

Tanggapan baik selalu kami dapatkan dari penonton usai pementasan. Tapi kritikan juga muncul dari para pesaing kami. Selesai pementasan biasanya akan muncul beritanya dalam harian Surabaya Post, media yang sangat berpengaruh kala itu ( yang saat ini sudah tidak popular lagi, kala bersaing dengan Jawa Post ), kritikan kritikan atas pementasan kelompok drama kami akan muncul disana, mengulas segala kekurangan sekecil apapun yang dapat mereka lihat.

Aku masih ingat orang yang getol menyorot pementasan kami, namanya Sam, seorang sutradra drama dari kelompok teater juga ( yang sering kali kalah bersaing dengan teater kami setiap kali lomba drama diadakan di Surabaya ). Saya sudah lupa teater apa yang dia pimpin. Sekarang Sam sudah menjadi orang yang cukup punya nama di Surabaya. Didepan namanya sudah ada gelar Doctor, bahkan kabar terakhir yang aku dengar,  gelar Professor sudah ia sandang. Dia juga seorang dosen, dan saat ini sedang meluncurkan  buku karyanya.

Namun sifat aslinya tetap saja masih melekat, tetap sama saja dengan yang dulu, bombas…!          ( istilah yang kami pakai untuk menjuluki orang yang bersikap cenderung sombong dan agak sok ). Itu bisa aku lihat ketika terjadi dialok dengan Slamet Raharjo, saat Slamet Raharjo selesai dengan drama monolognya beberapa waktu lalu dalam Festival Seni Surabaya ( Festival Seni Surabaya tahun berapa, saya lupa ). Tampak kentara sekali sifat asli dia masih melekat erat ( walau sudah menempuh pendidikan tinggi dari yang tertinggi ). Saat mengajukan komentar-komentarnya itulah masih terbaca dengan jelas karakter dia. Pertanyaan yang dilontarkan tidak berkesan sebuah pertanyaan pada layaknya, tapi cenderung mempertanyakan. Penonjolan ke-akua-annya sangat terasa dari beberapa komentar dan pertanyaannya. ( Ternyata pendidikan tinggi tidak bisa mengubah atau menghapus watak kurang baik seseorang, dibutuhkan kesadaran tinggi juga rupanya untuk bisa berubah )

Oke, membicarakan orang memang mengasikan apalagi bagi yang gemar ngrumpi nampaknya tidak akan pernah puas dan selesai. Cuman kita harus ingat, ngrumpi selain menyenangkan tapi juga bisa menambah dosa. Lebih baik aku kembali pada cerita semula. Dari jl. Tegal sari kami melintas jl. Pregolan dengan pohon pohon besarnya serta rumah rumah orang kaya, menuju ke jl. Kombes Duriyat yang terbagi menjadi dua bagian dan dua arah, dengan taman rumput diantaranya. Aku masih berada dibelakang mereka berdua dengan jarak tak kurang dari semula. Aku tidak mau mengganggu pembicaraan mereka berdua. Beberapa kali Linda menoleh kebelakang, tapi aku acuh aja. Seperti biasa dengan gaya aku.

Rambutku sebahu kala itu. Exspresiku dingin dan acuh. Teman ceweku mengatakan wajah ku kelihatan sadis. Apalagi saat sedang menatap tajam. Tapi aku tidak begitu peduli dengan segala pendapat itu.  Rulli yang berkomentar begitu, dia kalau ngomong memang suka blak blakan. Anak SMA 6 berkucir dan berkacamata minus, Bapaknya seorang pelukis,  sekolahnya di jl Pemuda ( sekarang jadi Jl. Gubernur Suryo, diganti oleh walikota Sunarto Sumoprawiro yang mengaku termasuk keturunan Sawunggaling, tokoh legenda rakyat Surabaya ) bersebelahan dengan kantor Gubernur Surabaya, yang dulunya menurut sejarah adalah bekas markas Kempetai Jepang.

Kami terbiasa dengan sikap tanpa pura-pura tapi akrab dan bersahabat. Pergaulan orang-orang seni yang bisa saling kritik dengan pedasnya, setelah itu ngopi bersama dan ber ha…ha…hi..hi lagi. Sebuah dinamika komunikasi kehidupan yang sangat jarang dimiliki komunitas lain. Oya…aku pernah suka sama Ruli, tapi dasar tidak jodoh, akhirnya dia kawin dengan teman satu geng. ( Sorry aku tidak cerita tentang kami dulu, lain kali saja )

Yok kita kembali pada Agus dan Linda, mereka memang sedang dalam kondisi berpacaran. Linda masih sekolah di SMEA Negeri di kawasan jalan SMEA daerah Wonokromo. Sedang Agus sudah kerja di sebuah projek di luar kota. Karena itulah dia jadi kurang bisa aktip lagi diteater. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi nampaknya serius sekali permasalahan yang mereka bahas. Beberapa kali aku dengar nada bicara mereka mengeras. Kadang kala berhenti sebentar , berhadapan badan dibarengi gerak-gerak exspresif dari keduanya. Kibasan tangan yang cepat dan kaku sering berkelebat diantara mereka. Adegan didepanku sudah dalam kondisi emosi cukup memanas. Mudah-mudahan tidak terjadi klimaks dijalanan. Sambil memperhatikan meraka berdua. Kucoba berlatih mengolah pola imajinasiku. Kadang terganggu juga sih konsentrasiku. Tapi berkat latihan, kondisi itu bisa aku atasi. Kecepatan berkonsentrasi itulah modal utama seorang pemain teater, untuk segera fokus dengan perannya.

Ketika sudah sampai jl Kombes Duryat, kami menyeberangi jalan itu melintasi taman rumput, dan berbelok kearah SMA IMKA. Nah di samping SMA IMKA itu ada jalan, aku lupa namanya. Kalau malam dibuat jualan oleh banyak pedagang makanan, sampai saat ini. Oya, sekarang disebelah timur jalan itu ada rumah makan mewah, rumah makan RIA. Sedang SPBU didepannya, kini sudah ditutup karena ijinnya habis dan katanya dianggap memakan jalur hijau, karena letaknya memang dilokasi taman rumput,  jl Kombes duryat yang terbagi dua bagian, dua arah, sedang ditengahnya terhampar taman rumput hijau dengan pohon-pohon kecil ditengahnya.  Tempat itu sering kami gunakan untuk latihan alam terbuka. Sekarang tempat itu kering, rumputnya menguning cenderung mati dan kelihatan tanahnya, mudah-mudahan dinas taman kota segera memperhatikan, dan membenahinya.

Linda menoleh kearahku, raut mukanya agak kelihatan mendung. Usahanya bermimik wajar tidak berhasil mengelabuhi penglihatanku. Tapi aku asik aja dengan kayalanku, imajinasiku mengembara kemana kumau. Mereka berhenti, menungguku. Saat aku  dekat…

“ Kita makan disana…! “ Telunjuk Linda mengarah warung nasi goreng dan mie. Sementara Agus sudah menuju kearah warung itu. Aku ngikut saja.

Kuambil tempat duduk agak berjarak dengan mereka, walau masih satu bangku. Bangku kayu  panjang yang muat untuk diduduki empat orang. Aku bergeser agak kearah ujung yang berlawanan.

“ Kamu makan apa ? “ Linda menanyaiku. Aku masih diam.

“ He..! “

“ Nasi goreng aja “ jawabku kemudian

“ Nggak bosan nasi goreng terus…? “ Tanya nya.

“ Itu aja…” Aku tetap pada pilihanku.

Linda memesan makanan untuk kami bertiga. Setelah itu kembali mereka asik dengan permasalahan mereka. Dan aku kembali pada putaran imajinasiku yang mengembara kealam yang tadi aku kayalkan, salah satu bentuk latihan yang  dianjurkan oleh sutradara kami, yang harus terus diasah agar gampang dalam mendalami suatu peran. Punya imajinasi luas dan penghayatan yang dalam, membuat seorang pemain teater mampu lebur dengan peran dan situasi panggung serta ceritanya.

Aku tidak tahu apa saja yang mereka berdua perbincangkan, yang jelas aku menikmati sekali makan gratis ini. Biasa orang seni-kan kantongnya paling sering kosong. Jadi kalau ada sesuatu yang gratis kuwajiban untuk mensukuri dan dinikmati, serta didoakan agar besok bisa gratis lagi.

Aku sedang melap bibirku yang penuh minyak dengan tissue, saat Agus berkata…

“ Aku tidak ikut kalian. Tolong antar Linda ya.. “ Dia menoleh kearahku

“ Okey..! Kamu mau kemana …? “  Perutku terasa kenyang.

“ Aku masih ada urusan… Okey sampai nanti ya…! “ Dia langsung balik badan dan pergi, tanpa meninggalkan sepatah kata pada Linda, sampai punggungnya tidak kelihatan ditikungan jalan sana. Sementara Linda kelihatan tidak begitu peduli. Aku meliriknya, aku tidak paham exspresi dia kala itu.  Dia meneguk sisa es tehnya, kemudian mengemasi tas kecilnya dan bangkit, dia menoleh padaku. Aku melihat isarat itu, aku mengangguk tak acuh kemudian kuangkat pantatku dari bangku kayu, kulangkahi bangku kayu itu begitu aja dan berjalan keluar warung.

Kami menuju arah selatan, lurus dari jalan itu, menuju sebuah gang sempit kira-kira selebar              1 meter yang berbatasan dengan tembok pagar pembatas bagian belakang hotel Hyat. Gang itu akan tembus ke jalan kampung Kedondong Lor. Linda berjalan disampingku. Tidak banyak yang kami bicarakan dalam perjalanan . Yang jelas aku merasa lebih enak karena perutku kenyang.

Setelah melalui gang-gang di kawasan Kedondong lor, kami sampai dirumah Ruli. Khas anak perempuan, kalau ketemu pasti ramai dan ributnya minta ampun. Orangnnya belum ketemu suaranya sudah sampai duluan bersautan. Yaaa….gitu deh perempuan !

Kuhempaskan diri duduk diteras rumah. Aku biarkan mereka berdua ngobrol di ruang tamu tepat dibelakangku. Aku dengar nama Agus disebut. Pasti mereka sedang membahas permasalahan Linda dengan Agus. Sementara aku kembali pada imajinasiku, cuma kali ini agak ngantuk karena kenyang,  kayalanku jadi tidak karuan, ber-ubah ubah dan jadi ngawur kesana kemari.

Agak malam kami berdua meninggalkan rumah Ruli. Aku mengantar Linda dari Kedondong lor ke Dinoyo Lor, berjalan kaki. Aku tidak ingat lagi apa saja yang kita bicarakan sepanjang perjalanan itu, karena aku sedang jadi keranjang sampahnya Linda yang lagi suntuk. Setelah mengantar dia sampai rumahnya aku langsung pulang, rumahku di kawasan Wonokromo. Tinggalku dibelakang kebun binatang.

Bus kota yang aku tumpangi sudah nggak berjubel lagi seperti tadi sore, sehingga aku bisa mencari tempat duduk yang aku mau dan melanjutkan acara melamunku, walau sekarang kondisiku mulai ngantuk.

Itulah sekelumit ingatanku dalam perjalanan waktu. Saat ini aku sudah tidak pernah bertemu lagi dengan Linda, sudah sekian puluh tahun. Kabar terakhir yang aku terima dari Ruli, dia ada di Belanda bersama suaminya yang bule Belanda.

Hidup rasanya cepat sekali berlalu. Aku merasa masih seperti baru saja bermain bersama mereka. Ketika aku sadar, mereka sudah pada punya keluarga dan anak. Walaupun sebagian dari mereka dalam menuju jenjang perkawinan kalau diukur dengan pendapat masarakat umum di negri kita, rata rata terlambat. Sementara aku…??? Sudah tidak bisa lagi dibilang terlambat, sudah kelewat. Tapi aku masih asik saja dengan diriku sendiri. Mengembara, mengelana mencari sesuatu yang belum aku temukan hingga saat ini. Harapan aku adalah segera aku temukan terminal itu. Aku tidak tahu dimana dan kapan. Sementara hidup harus tetap dijalani. What will be will be….!!!.

Bagiku, tidak perlu terlalu mencemaskan perjalanan hidup dan masa depan, walau nyatanya  kecemasan itu tetap ada, namanya juga manusia, manusiawikan…?. Aku percaya, segalanya akan bergulir sesuai dengan aturanNya. Sesuai dengan waktu. Sesuai dengan usaha keras kita. Sesuai dengan ketentuan NYA.

Kehidupan mengalir seperti air yang tak mungkin dapat dibendung. Kalaupun dapat, hanya tinggal tunggu waktu saja kapan bendungan itu akan jebol. Kehidupan dan hidup tidak bisa dilawan. Kita hanya mampu menjalani dan mengusahakan untuk bisa leih baik  Waktu terus berputar. Waktu tidak akan berhenti hanya karena kita menangis dan menyesali diri atas keteledoran kita di hari kemarin. Yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki kualitas dari perjalanan hidup kita. Kita tidak bisa kembali ke jalan yang kemarin. Maka lupakanlah hari kemarin. Simpan jadi kenangan dan pelajaran.

Begitupun tentang perjalanan hidup aku, Linda dan Agus. Siapa yang bisa menyangka, bahwa ternyata Linda tidak menikah dengan Agus. Bahkan siapa yang mengira bahwa Linda akan hidup di negri orang Belanda.  Tidak seorangpun dari kita bertiga saat itu membayangkan bahwa kami akan jadi seperti ini. Linda akan berdiam di Belanda. Sementara Agus entah dimana. Dan aku hanyala menjadi seorang pekerja pabrik untuk menyambung kehidupanku. Padahal aku dulu menggebu nggebu ingin menjadi seniman tulen. Menggantungkan seluruh hidupku dari seni. Kenyataannya aku hanya menjadi pekerja pabrik. Dan itu harus aku terima sebagai bagian dari sejarah kehidupanku. Aku tidak bisa menolak, sebuah garis yang sudah ditentukan dariNya. Aku tidak perlu menyesal, tapi juga tidak harus putus berusaha.

Kita bisa merencanakan arah perjalanan kita. Kita bisa memilih piranti pembantu perjalannan kita. Kita bisa menentukan kemana kita akan berjalan. Tapi siapapun tidak akan bisa tahu akhir dari sebuah perjalann itu. Bahkan satu menit kedepanpun kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi. Sampai kapanpun kita tidak akan bisa mengungkap akhir dari satu perjalanan kehidupan kita. Satu rahasia yang tak mungkin, bahkan mustahil bisa dibongkar oleh manusia, sampai pada titik akhir hayatnya.

Saat ini aku termangu, menghela nafasku, betapa panjang perjalanan yang sudah aku lalui, tapi masih juga terasa belum melakukan apa apa.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Januari 2010 in Cerita

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: