RSS

Departement GOSSIP

06 Jan

Oleh. Randaka.

Tinggi perempuan itu sekitar 160-an dengan bentuk tubuh melebar kesamping menggelembung kedepan. Lengannya padat dihuni lemak. Begitupun di bagian pahanya, begitu kaya dengan lemak menyelimutinya. Sehingga kalau jalan, kedua paha itu seakan saling merapat. Lengannya berayun bergesekan dengan tubuh bagian samping, tidak ada ruang diantara lengan dan bagian samping tubuhnya. Wajahnya, pipinya tembem dengan dagu yang berlipat. Kasihan leher itu menahan beban yang berat.

Namanya Parwanti, bagian accounting. Saat melintas di lobby, kedua reception yang duduk dibalik meja lobby memperhatikan tubuh tambun itu berjalan dengan bagian kepala cenderung berat kebelakang. Sementara bagian tubuh depannya tegak bagaikan batu gunung yang sedang bergeser. Bagian tubuh yang banyak lemak bergerak-gerak setiap kakinya melangkah.

Kedua reception itu tersenyum saat Parwanti menoleh padanya. Entah karena senyuman kedua reception itu yang membuat Parwanti menghentikan langkahnya dan berbelok menuju arah kedua reception itu berada.

“ Sudah baca tabloid hari ini ? .”

Kedua reception itu menggeleng, sedetik kemudian suara dering telepon masuk, salah satu dari mereka  segera mengangkatnya.

“ Tahu nggak tuh bintang sinetron si anu ada main dengan pejabat pemkot loooo…..” Reception itu melongo tidak tahu apa maksudnya.

“ Masak tidak tahu sih ?  Itu pemain sinetron setan, yang tayang jam sembilan malam !.”

“ Yang mana sih ?,” reception itu masih tak mengerti.

“ Kabarnya dia selingkuh dengan seorang pejabat pemkot, sore kemarin dia dilabrak oleh istri pejabat itu saat dia lagi di rumah kontrakannya. Ternyata rumah kontrakan itu yang membayar juga pejabat pemkot tersebut. Tadi pagi masuk infotaintmen looo…, nonton nggak tadi pagi jam setengah tujuh…?.” Tanpa memperdulikan ketidak tahuan orang dihadapannya dia terus saja nyerocos. Begitu lancar dan lemas lidah dan bibirnya bersilat. Sementara reception yang satu lagi sudah selesai menyambungkan telepon yang masuk, dari bawah meja, tangannya mencolek tubuh temannya. Kemudian diapun pura-pura serius mendengarkan Parwanti bercerita dengann exspresifnya tentang gossip selebrity yang lagi rame saat ini. Temannya yang dicolek tadi makfum apa maksud colekan itu. Diapun memasang wajah antusias, sambil melayani sambungan telepon yang masuk maupun yang minta disambungkan keluar.  Mereka berdua membiarkan si tambun itu terus berceloteh, lebih tepatnya tidak bisa mencegah siaran infotainment tak resmi itu.

“ Maaf ya saya sambil melayani telepon, soalnya bisa berabe kalau para boss tidak segera dilayani…”, ucap salah seorang reception. Parwanti hanya mengibaskan tangannya, sementara dari mulutnya terus meluncur bertaburan segala kata dan berita-berita gossip artis-artis tanpa ada kata jedah.

Sebenarnya kedua reception itu sudah bosan dengan segala ceritanya, konsentrasi pada pekerjaanya jadi terganggu. Tapi orang dihadapannya ini, kalau tidak dilayani bisa-bisa mereka jadi dimusuhi. Bisa diisukan yang tidak-tidak. Bisa terjadi penghancuran karakter, atau apalah namanya, yang pada prinsipnya membuat nama mereka jadi jelek dan jadi bahan omongan dilingkungan kerja. Mereka tidak mau punya urusan dengan orang seperti Parwanti. Manajemen hati benar-benar dibutuhkan dalam hal menghadapi orang seperti ini. Modal kesabaran itu pasti harus ada, tentunya dibutuhkan waktu yang tepat untuk membuat dia berhenti ngoceh dan berlalu dari sana. Sudah hampir setengah jam dia bercerita kesana-kemari di depan reception. Tapi Parwanti sepertinya tidak peduli dengan segala itu. Mulut itu seperti mata air yang mengalirkan air tak henti-hentinya.  Cuma sayang air yang mengalir cenderung keruh dan berbau.

“ Eh aku kembali dulu keruang ku, nanti istirahat tak ceritai lagi yang lebih hot !, “ katanya sambil berlalu begitu saja dari sana. Kedua reception itu saling pandang, mengangkat bahu serta menarik nafas lega.

Saat Parwanti baru saja meletakan pantat supernya di kursi kerjanya…

“Parwanti …! katanya Pak Adi kemarin jalan di TP sama anak QC yang baru itu…,” Patty  berseru menyambutnya dengan berita heboh baru yang masih gresss……

“ Anak baru di QC, baru lima bulan itu…!?,” ucapnya seakan tidak percaya.

“ iyaa…!” Patty menekankan.

“ Terus-terus….?,” raut mukanya penuh kepenasaran.

“ Ya cuma itu saja yang saya tahu…,” jawab Patty melemah.

“ Ah kamu ini selalu saja kalau memberi berita tidak pernah komplit,” wajahnya merengut kecewa.

Ukuran tubuh Patty sama gemuknya dengan Parwanti, tapi dibanding Parwanti, Patty masih lebih gemuk sedikit. Kulitnya lebih putih. Kalau bicara exspresinya menunjukan mimik seperti orang tidak enak hati, bibirnya lebih banyak mencibir. Patty punya kecenderungan selalu memperdebatkan perkara orang lain.

Hari kamis ini suasana ruang accounting senyap. Dalam ruang itu ada empat orang pegawai accounting, semuanya perempuan. Semuanya sudah menyandang status ibu rumah tangga. Ada yang anaknya tiga, ada juga yang belum punya anak. Makanya tidak heran kalau rata-rata dari mereka bertubuh subur. Dikalangan Perusahaan, departement ini yang paling solid untuk hal yang berbau gossip atau mendiskreditkan orang. Secara diam-diam departement ini popular dengan julukan departement gossip. Perilaku mereka yang cenderung suka mengumbar omongan yang tidak jelas juntrungnya dan bersikap seenaknya. Sikap mereka berlawanan dengan pekerjaan mereka yang membutuhkan konsentrasi serta ketelitian. Pekerjaan accounting lebih banyak berkaitan dengan angka-angka dan dokumen pendukung dari setiap uang yang keluar dari perusahaan. Dibutuhkan kerahasiaan dan ketelitian tinggi. Membutuhkan orang yang tidak terlalu banyak bicara, tapi bisa memberikan pelayanan dan informasi yang baik bila dibutuhkan departement lain.

Tapi dilingkungan para pekerja di kantor tersebut, departement ini yang harus diwaspadai. Sikap mereka yang cenderung tidak tahu diri dan bicara seenaknya, banyak menjadi perbincangan diantara rekan-rekan departemen lainnya. Bahkan harus ekstra hati-hati kalau mengajak bicara atau sekedar mengeluarkan pendapat kalau ada orang-orang accounting. Pembicaraan yang bersifat kelakar saja bisa menjadi bahan gossip serius kalau sudah ada orang accounting. Isi percakapan bisa berputar balik tidak karuan. Makanya tidak terlalu heran kalau mereka dapat nama kehormatan, gelar  departement gossip.

Ruang Supervisor accounting menjadi satu didalam area ruang kerja accounting, sebuah ruang berukuran sekitar 3 X 3 meter berdinding kaca bening, berada diujung pojok kanan pintu masuk. Posisi meja kerjanya persis menghadap kearah ruang kerja anak buahnya. Jadi dengan leluasa supervisor accounting bisa melihat dengan jelas segala aktivitas anak buahnya. Kebetulan supervisornya seorang laki-laki.Tapi sayang, melihat anak buahnya dengan enaknya membaca tabloid pada saat waktu kerjapun tidak ada tanggapan apa-apa, bahkan menegur atau memberikan peringatan saja sepertinya dia ragu-ragu. Rekan kerja dari bagian lain yang kebetulan masuk keruang accounting dan melihat situasi itu, merasa heran dengan perilaku orang-orang accounting yang begitu tidak disiplin dan terkesan seenaknya serta tidak punya rasa takut, apalagi segan. Sementara didalam ruang kantornya sang supervisor begitu konsentrasi memeriksa segala laporan dan nota-nota keuangan yang harus segera diberesi. Tidak memperhatikan apa yang terjadi diluar ruangnya, yang kalau dia hanya mendongakan kepalanya dari berkas, dia bisa melihat segala perilaku anak buahnya disana yang dengan santainya sambil ngemil membaca tabloid, ada yang membaca majalah. Sementara pekerjaan dibiarkan begitu saja. Dimeja kerja masing-masing berserahkan makanan kecil. Kadang lebih gila lagi, ada mangkok bakso beserta isinya.

Yang lebih aneh lagi, dengan seenaknya mengambil koran sang supervisor untuk dibaca beramai-ramai. Dalam hal ini seakan supevisor sudah tidak punya legitimasi lagi sebagai pemimpin disana. Supervisornya kalau baca cuma mengambil satu bagian saja dari koran itu. Yang lainnya dibaca anak buahnya. Sungguh suatu pemandangan yang aneh, kalau dilihat dari segi kepatutan antara anak buah dan pemimpin, serta kedisiplinan kerja.

Suasana ruang yang senyap tiba tiba di kejutkan suara intan, perempuan dengan rambut agak keriting berkulit coklat gelap. Saat itu dia lagi memegang tabloid…

“ ehh ternyata si penyanyi dangdut itu selingkuh ya dengan pengusaha show room mobil. Kasihan yaaa suaminya. Betul betul perempuan tidak tahu diri….,” dengan mimik geram dia menuding foto penyanyi yang terpampang dalam tabloid itu, mata mendelik dan mulut manyun judes, seakan ingin sekali dia meremas remas foto penyanyi itu.

“ Looo….ya jangan gitu, mungkin saja suaminya selingkuh juga, dan dia balas selingkuh,” tiba-tiba saja Patty yang sejak tadi sudah asyik dengan pekerjaaan, menimpali. Intan tidak terima alasan Patty, dia meluapkan alasannya.

“ Selingkuh gimana ? Wong suaminya sudah tua. Selingkuh gundulmu.”

Perang argumen gossip dimulai. Ruang yang tadinya senyap berubah seperti pasar tradisional.

“ Ya jelas dong kalau aku punya suami seperti itu sih mungkin akan cari brondong muda . Kalau dia tidak bisa membuat aku puas, bolehkan ?,” kata-kata vulgar itu meluncur begitu ringan dari bibirnya, dengan mimik mencemoh.

Selanjutnya, ruang accounting itu sudah berubah ramai dengan segala debat gossip infotainment. Pekerjaan berhenti untuk kepentingan diskusi gossip, mereka sibuk berdebat seru masalah gossip di tabloid yang membahas permasalahan keluarga penyanyi dangdut tersebut. Mereka saling adu argumentasi membenarkan pendapatnya masing-masing. Sementara sang supervisor dari ruangnya hanya melihat sebentar kemudian kembali menundukan kepalanya pada lembaran-lembaran kerja. Tidak ada reaksi apa-apa dari sang supervisor.

Perempuan itu terisak diruang istirahat. Sementara satu temannya mengelus rambutnya memberikan support agar bisa tabah.

“ Begitu tega orang yang menyebar berita saya selingkuh dengan atasan saya. Saya sama sekali tidak pernah melakukan hal itu, kalian tahukan……???,” dia mengangkat kepalanya memandangi satu persatu temannya. Teman yang mengerubunginya hanya bisa menganggukkan kepala, diam tanpa sepatah kata. Perempuan itu berkulit putih bersih berambut panjang sepinggang, berhidung mbangir pipi kemerah-merahan dengan bibir terbelah pada bagian bibir atas, bibir bawa membulat serasi dengan bibir atas. Dibalut dengan pakaian sederhana seorang buruh harian, kecantikan itu memang agak tertutupi. Tapi bagi mata yang awas, akan melihat kecantikan yang tersembunyi itu.

“ Tapi kenapa semua orang mencela aku berselingkuh dengan manager produksi itu ?.” suaranya gemas bercampur isak tangisnya. Dia meremas ujung bajunya. “ Mereka mengatakan aku yang menggodanya…..” isaknya bertambah.

“ Sabar dulu, nanti kita cari tahu siapa biang penyebar berita fitnah ini. Nanti kita bikin perhitungan kalau sudah ketemu orangnya,” ujar seorang temannya, dia mengepalkan jari-jarinya kuat-kuat.

“ Yaaa…betuull…. Kita laporkan saja. Ini masalah serius, masalah fitnah tidak bisa didiamkan begitu saja,” jawab teman yang lainnya. Teman-teman yang lainnya meng-amini pendapat itu.

Bagian HRD benar-benar direpotkan dengan berita perselingkuhan seorang Manager dengan buruh hariannya tersebut. Sebuah aib hubungan antar karyawan. Sebenarnya hubungan manusia itu tidak dibedakan statusnya. Tapi ini dikalangan Perusahaan, yang otomatis mengundang anggapan yang aneh dan tidak sehat bagi nama baik Peruasahaan, apalagi bagi management Perusahaan. Wibawa Perusahaan dilecehkan oleh anggota management itu sendiri, kalau hal tersebut benar-benar terjadi. Permasalahan ini sensitip sekali. HRD menghubungi SPSI untuk ikut ambil bagian menyelidiki berita tersebut.

Berita yang beredar, keluarga pihak perempuan yang diberitakan ada selingkuh dengan manager nya, terjadi pertengkaran hebat dan mereka melakukan pisah ranjang. Si perempuan pulang ke rumah orang tuanya. Sang suami kalau saja tidak dihalangi oleh keluarga dan teman temannya, akan datang ke Perusahaan dan melabrak si Manager yang diberitakan ada main dengan istrinya. Tapi untung semua masih bisa dicegah. Bukti-bukti harus dicari dulu.

“ Gila ya…manager produksi itu kok ya mau maunya sama buruh hariannya,” ujar Parwanti  pada petugas kasir. Sambil memghitung uang yang akan diserahkan pada Parwanti, dia menjawab…..

“ Kalau memang sudah suka yang tidak melihat status. Apalagi anaknya cantik. Aku dengar dia memang cantik dan sering digoda staff laki-laki….”

“ Kalau aku sih nggak akan mau selingkuh sama buruh harian. Kalau mau selingkuh cari yang lebih tinggi dan keren dong…minimal yang selevel dong”. Petugas kasir melirik Parwanti sambil tersenyum. Dalam hati dia berkata, “ apa iya ada yang mau selingkuh dengan manusia tambun segede gini hi…hi..hi”.

“ Eh kenapa kamu senyum senyum ? Nggak percaya kalau aku bisa cari selingkuhan yang lebih tinggi statusnya dan lebih keren…?,” Parwanti merasa dilecehkan.

“ ooohhh…tidak, aku yakin kamu bisa deh. Siapa sih tidak kenal dengan group accounting yang hebar-hebat itu,” ucapnya sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Jangan main main dengan accounting yaa…?, ancam Parwanti dalam hati.

“ Anehnya mereka semua pada tidak ngaku kalau ada main diantara semuanya. Padahal semua orang di perusahaan ini sudah pada tahu dan membicarakannya. “ Kembali dia dengan sengit membahas berita perselingkuhan manager produksi dengan buruh hariannya.

“ Kalau memang mereka benar-benar tidak melakukan, dan itu benar-benar hanya penyebar luasan berita oleh orang-orang nggak bener bagaimana…?”.

“ Alaaa… nggak mungkinlaaaah wong semua sudah pada tahu kok. Eh ini sudah benar jumlahnya ? ,” tanyanya sambil menunjuk uang didepannya, mengabaikan pendapat si kasir.

“ Ya kalau tidak yakin hitung lagi aja mumpung masih disini ,” jawab kasir tersebut.

“ Tidak usah, kamukan kasir yang dipercaya.” Kemudian dia meraup tumpukan uang itu dan dimasukan amplop coklat.

“ Sudah ya, terimakasih. He atasan kamu kan masih lajang, kalian cuma berdua dirung ini. Hati-hati loo ada setan selingkuh lewat bisa berabe,” ujarnya sambil bangkit dari kursi dan berlalu keluar ruang kasir. Wajah sikasir memerah. Untung dia masih sadar utnuk tidak melayani pembicaraan konyol itu. Kalau sampai salah bicara, bisa kebawa kemana-mana. Mulutnya benar benar berbisa. Kok masih ada ya manusia semacam itu, sudah gemuk jelek tambun suka membicarakan orang lagi. Dia tak habis pikir kok bisa orang mempunyai sifat semacam Parwanti, begitu komplit jeleknya luar dan dalam. Yaaa….mungkin juga itu adalah bagian dari skenario yang Mahakuasa, dia tunjukan hal yang tidak patut kita tiru, tapi kadang kita tidak menyadari akan contoh-contoh yang diberikan Tuhan dihadapan kita. Kadang lebih celaka lagi, yang tidak patut itu justru kita tiru.

Sementara HRD melakukan pengusutan, sementara itu pula gossip perselingkuhan itu berkembang tambah seru. Ada yang bilang pernah memergoki mereka berdua di Mall lagi jalan jalan. Ada lagi yang bilang melihat mereka berdua keluar dari hotel anu.

“ Ternyata manager produksi itu pernah membawa buruh selingkuhannya itu ke Hotel looo !,” ujar Patty dengan mimik mencibir.

“ Ya tentu mau aja buruh harian itu diajak ke hotel. Diakan juga kepingin tahu rasanya tidur dikamar yang mewah, iyaa…kan ?,” timpal Parwanti tidak kalah sinisnya dengan Patty.

Sang supervisor keluar dari ruangannya,

“ Kalian masih membicarakan masalah yang belum jelas itu ya ? Bisa tidak kalian tidak membicarakan berita perselingkuhan yang tidak jelas benarnya ? “ Dengan mimik agak geram dia menegur para anak buahnya.

“ Bapak jangan sembarangan menuduh kita omong sembarangan, semua orang pada tahu !,” protes Parwanti tegang.

“ Iya, kitakan sesama perempuan, kita juga tidak suka kalau ada perselingkuhan antara atasan dan bawahan !, “ tambah Patty tidak kalah judesnya.

“ Kalau selingkuh ya selingkuh, jangan ditutup-tutupi oleh management, pakai diselidiki segala. Memang kita semua buta apa !, “ seru Intan lebih sengit lagi. Mereka seakan bicara bukan kepada atasaannya. Sang supervisor jadi salah kata, dia mati kutu dikeroyok para perempuan anak buahnya. Mimpi apa aku punya anak buah macam ini semua ?, keluhnya dalam hati.

“ Sudah ! kalian kerjakan saja pekerjaan kalian ! “ Sang supervisor kembali keruangannya dengan bersungut-sungut. Sementara dibelakang punggungnya para perempuan anak buahnya saling mencibir. Mereka benar benar tidak terima ditegur seperti tadi. Mereka tidak terima dituduh bicara sembarangan. Ruangan itu jadi sunyi penuh ketegangan. Wajah-wajah mengerikan saling diam.

Kurang lebih hampir tiga bulan kemudian, Reception melihat Intan turun dari lantai dua sambil menyeka kedua matanya, tanpa menoleh kearah reception, dia langsung menuju ruang accounting. Dibelakangnya berjalan seorang staff personalia, dia mampir ke reception.

“ Tolong sambungnkan ke kantor depnaker ?,” pintanya pada reception. Reception satunya bertanya pada staff tersebut.

“ Kenapa Intan kok nangis Bu ?”.

“ Dia dikeluarkan, hari ini hari terakhir dia bekerja disini,” ujarnya singkat sambil mengangkat gagang telepon yang sudah tersambung ke depnaker. Kedua reception itu saling pandang, ada,  keterkejutan disana, sekaligus tanda tanya besar. Ada masalah apa dengan anak accounting itu, biasanya tidak ada yang berani sama mereka, apalagi sampai membuatnya menangis. Dan dikeluarkan! Aneh ?.

Lima menit setelah Intan turun dari lantai dua, terjadi perdebatan seru di ruang accounting supervisor, antara dia dengan ketiga anak buahnya. Rupanya mereka bertiga tidak terima Intan dikeluarkan dari Perusahaan.  Sementara disana, sambil menyeka airmatanya Intan mengemasi barang-barangnya. Diruang supervisor masih terjadi kegaduhan perdebatan sengit. Akhirnya sipervisor tersebut keluar dari ruangannya dengan bersungut-sungut, dibelakangnya wajah-wajah penasaran dan tidak puas dari ketiga perempuan anak buahnya, memandanginya dengan mata yang membara. Tubuh-tubuh tambun mereka bergetar dengan wajah-wajah memerah. Bagi mereka ini benar benar pelecehan.

Permasalahan gossip itu benar-benar menguras energi management perusahaan. Tapi hasilnya memang tidak mengecewakan. Awalnya memang sudah ada kecurigaan kearah orang-orang accounting. Tapi tanpa bukti yang jelas hal tersebut akan jadi bumerang. HRD sudah tahu bagaimana track record empat orang accounting tersebut. Lidah mereka tidak bisa dianggap main-main.

Intan tidak bisa mengelak lagi kalau semua berita perselingkuhan itu benar-benar bersumber dari mulutnya. Ditelusuri dari sudut manapun muaranya selalu berakhir pada nama dia. Mulanya memang alot, dengan segala kepandaiannya bicara dia mengelak habis-habisan. Bahkan sempat mengeluarkan ancaman kalau dia bakal menuntut tuduhan yang mengarah padanya. Tapi untungnya setiap orang yang diinterogasi selalu ujungnya berakhir pada dia. Memang  awalnya harus memanggil orang saling berkait. Si anu bilang dari si anu dan si anu juga katanya dari si anu, terus begitu sampai pada ujung permasalahan berakhir pada nama Intan. Setelah tidak bisa mengelak lagi dia dengan terpaksa mengakui segala apa yang telah dia sebarkan selama ini. Penyebaran itu tidak dari kelompoknya sesama accounting. Semua cerita itu dia sampaikan pada anak-anak produksi. Darisanalah berita perselingkuhan itu menyebar.

Pokok permasalahannya adalah berawal pada pesta ulang tahun perusahaan beberapa bulan yang lalu. Dimana perusahaan melibatkan seluruh jajaran karyawan, mulai dari level manajer sampai level terbawa untuk ambil bagian dalam kepanitiaan. Kebetulan sebagai pembimbing kepanitiaan diserahkan pada manager produksi. Darisanalah permasalahan dimulai.  Manager produksi secara terbuka diantara para panitia sempat memuji kerja buruh harian yang diberitakan selingkuh dengannya itu. Perempuan tersebut ditunjuk sebagai humas merangkap pembawa acara. Dia memang cocok untuk jabatan itu. selain orangnya cantik dia luwes dalam pembawaan dan gaya bicaranya juga jelas, suaranya enak didengar. Untuk seorang MC memang dibutuhkan seorang yang piwai bicara, bisa membawa suasana, tapi juga tidak kalah penting untuk enak dilihat penampilannya.  Sementara Intan hanya diminta sebagai anggota pembantu umum..

Peran sebagai humas dan MC, membuatnya sering dekat dengan pembimbing kepanitiaan berbincang masalah acara. Tentu saja pembimbing memberikan pengarahan-pengarahan agar nanti tidak salah bicara. Darisanalah  Intan meng-asosiasikan kedekatan dalam kepanitiaan itu sebagai bentuk mengarah ke sebuah selingkuh. Harap maklum orang kalau sudah kebiasaan gossip, melihat segala sesuatu selalu  ujungnya pada hal-hal yang negatip. Pada dasarnya dia merasa iri, kenapa bukan dia sebagai staff yang diberikan tugas sebagai humas maupun MC, kenapa diberikan pada buruh harian. Statusnyakan lebih tinggi dia daripada buruh harian. Unsur-unsur inilah yang membuatnya berbuat tidak semestinya. Padahal perusahaan menginginkan semua bisa ikut ambil bagian, tidak peduli level atas maupun bawa, yang dilihat adalah kredibelitas dan unsur keperluan dan kesesuaiannya. Dan ini adalah gawe bersama.

Cerita itu dia sebarkan setelah acara ulang tahun perusahaan selesai dan kepanitiaan dibubarkan. Intan masih melihat hubungan sang manager produksi dengan buruh hariannya masih berlanjut beberapa hari setelah pembubaran kepanitiaan. Sebenarnya hubungan mereka sebatas penyelesaian tanggung jawab sebagai anggota panitia. Masalah peralatan dan costum yang disewa, kebetulan semuanya adalah milik famili manager produksi.

Masalah yang katanya jalan bersama di Mall, memang benar, tapi dalam rangkah mencari segala pernik untuk pesta ulang tahun. Tidak hanya berdua, tapi satu team acara bersama di Mall tersebut, mereka menyebar mencari kebutuhan masing-masing.

Dan yang katanya di hotel, memang benar mereka berdua ke hotel, itu juga untuk kebutuhan acara pesta ulang tahun perusahaan, mencari tempat acara. Itupun mereka diantar sopir. Kebetulan team acara tidak ikut, tapi kebutuhan gedung yang representatif sudah dibicarakan bersama. Pesta memang tidak diadakan di perusahaan. Tapi mencari hall yang bisa menampung semua karyawan perusahaan.

Peristiwa itu berdampak peringatan keras kepada supevisor accounting agar bisa menjaga dan mengendalikan anak buahnya. Manager accounting memanggilnya berkaitan atas tingkah pola anak buahnya selama ini yang telah membuat resah lingkungan kerja perusahaan, dan dia juga merasa tidak enak dengan manager produksi. Dia diminta bisa bersikap tegas dalam mengendalikan jajaran yang dipimpinnya, agar kejadian serupa tidak muncul. Dia diminta untuk bisa mendisiplinkan keja anak buahnya. Tidak ada lagi makanan kecil di meja kerja. Apalagi saat waktu kerja dipakai membaca tabloid.

Keluar dari ruang manager supervisor accounting pusing tujuh keliling. Memang dia bersukur satu orang raksasa lepas dari accounting, tinggal cari gantinya. Tapi yang tiga orang ? Raksasa-raksasa itu telah menghimpitnya, memprotes atas tindakan perusahaan terhadap Intan. Mereka menganggap dirinya tidak membelanya. Dia tidak berkutik dikerubuti tiga orang raksasa perempuan. Tapi PR itu  harus diselesaikan. Tidak muda menangani tiga raksasa itu, yang tabiatnya sudah mendarah daging. Sudah merupakan kebiasaan. Tapi itulah resiko sebagai pimpinan. Ini adalah amanah warisan dari supervisor terdahulu. Dia baru akan satu tahun bekerja di perusahaan ini.

Untuk beberapa saat memang anggota departement gossip itu tiarap, puasa jualan cerita. Tapi apakah hal semacam itu akan bisa sembuh ? Tugas supervisor accounting untuk mengawasi tingkah group gossip tersebut. Tugas berat, tapi harus dilaksanakan kalau dia memang tetap ingin bekerja disana. Kadang jabatan juga harus terpaksa memakan hati.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Januari 2010 in Cerita

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: