RSS

Manajer NDESO

07 Jan

Oleh. Randaka

Hampir bersamaan, kedua mesin sepeda motor itu dimatikan. Kedatangan kedua karyawan itu kebetulan memang bersamaan. Mereka memarkir sepeda motornya berdampingan. Satu orang berambut lurus dan berdahi lebar, potongan rambutnya dipangkas sebatas atas telinga, dari pangkal rambut sampai keujungnya dipangkas panjang, tidak dipangkas pendek-pendek, jadinya mirip model rambut perempuan yang dipotong sebatas bahu, cuma ini dipotong sampai sebatas telinga dan leher. Jadi walau model potongan pendek tapi rambutnya sendiri berpotongan panjang, sehingga bagian depan terjuntai menutup dahinya yang lebar. Yang satunya, gaya rambutnya setengah gondrong tapi disisir teratur. Keduanya membawa tas punggung. Berjalan ber-iringan.


Sekitar dua langkah setelah keluar dari area parkir, sebuah mobil sedan kecil melintas,  menuju tempat parkir mobil yang arealnya bersebelahan dengan parkir sepeda motor. Seorang laki-laki dengan kacamata hitam cukup lebar, tinggi seratus enampuluh limaan, keluar dari Toyota Yaris warna kuning metallic.

Kedua karyawan itu saling memandang dan tersenyum geli rada satire, saat melihat gaya pengemudi mobil itu keluar….

“ Lihat penampilannya seperti jaran kepang”. Ujarnya sambil tertawa. Jaran kepang adalah  penari kuda lumping di jawa timur yang biasanya pakai kaca mata hitam.

“ Semakin lama semakin kelihatan ndesonya….ya…”. timpal yang satu tak tahan menahan geli. Untungnya jarak ke parkir mobil sekitar 40 meter, sehingga ucapan mereka tidak terdengar subyek yang mereka bicarakan, yang gayanya memang kelihatan seperti orang baru punya kacamata. Kepalanya menoleh noleh keatas, kekanan kekiri dengan mimik serius yang terkesan bergaya dan pamer. Yang lebih parah lagi,  kacamata yang dia pakai memang bagus, tapi tidak cocok sama sekali menempel diwajahnya. Bayangkan wajahnya cenderung segi empat, lensa kacamatanya lebarnya lewat dari wajahnya, bagian hidung seakan ketutup dengan lensa kacamata itu, karena lensa  kacamata itu berbentuk agak cembung dan cembungnya melebihi tinggi ujung hidungnya. Akibatnya ya seperti orang korban mode. Pengin gaya tapi tidak pas, kelihatan seperti orang desa yang baru masuk kota. Keluar dari mobilpun terkesan seperti orang yang baru punya mobil. Sebelum menutup pintu, dia mundur dulu tiga langkah melihat bagian mobilnya dengan seksama, mulai dari bagian bawa mobil, terus ke bodi bagian belakang berlanjut ke bodi bagian depan. Masih belum puas, dia kelilingi mobil itu dengan jarak satu meter, diamati dengan seksama segala bagian sudut mobil. Kemudian sampai dibelakang mobil dia mundur tiga langkah mengamatinya selama setengah menit, kemudian kepalanya manggut-manggut sambil bibirnya monyong, kemudian ganti tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala berdecak dengan senyum bangga. Setelah puas dengan apa yang sudah dilakukannya, dia meraih pintu mobil dan menutupnya dengan hati-hati. Kemudian dia aktipkan kunci otomatis, sambil melangkah pergi dari sana dia lemparkan kunci mobil itu keudara kemudian dia tangkap, dia masukan dalam saku calananya. Kedua karyawan didepan areal parkir staff tadi memperhatikan dengan diam-diam sambil menutup mulutnya, tubuhnya berguncang menahan tawa, kemudian bergegas pergi dari sana.

Area parkir mobil itu memang hanya diperuntukan bagi para manajer keatas. Sementara disebelahnya, area parkir untuk para staff biasa sampai tingkat Supervisor. Kedua orang tadi menjabat Supervisor bagian masing masing. Satu di bagian IT yang berdahi lebar, yang satunya di Engineering, yang lebih kelihatan tegap dan wajahnya terkesan kaku.

Sudah menjadi rahasia umum Pak Tanto Martowo manajer produksi, memang terkesan ndeso. Tapi untuk menutup ndesonya tadi dia piawai menggunakan kekuasaannya. Bahkan untuk mencapai ambisi jabatannya dia tidak segan-segan melakukan kiat manajemen adu domba. Setelah timbul perselisihan, dia yang akan maju sebagai penyelesai persoalan. Bagaimana nggak selesai wong awal persoalan sebenarnya dari dia sendiri. Luar biasa licik dan lihai. Tujuannya ?, agar dia bisa menjadi pengendali dan menjadi orang utama dimata umum, dan mendapat poin tersendiri dimata atasannya maupun orang lain

Kalau keinginannya tidak tercapai, dia akan berusaha keras agar bisa tercapai, tidak perduli dengan cara-cara apapun, misal membuat issue, membentuk opini buruk rekan kerjanya yang dia anggap sebagai pesaingnya. Memprovokasi orang lain untuk tidak menyukai orang yang tidak dia sukai. Menjebak, kalau perlu dengan ancaman, mengacau pekerjaan rekan kerjanya. Atau membuka aib teman kerjanya.

Ada satu adegan menggelikan yang dilakukan olehnya. Satu sore, ketika dia baru saja menjabat sebagai manajer tingkat yunior, dengan bercelana pendek dia keluar dari ruang kantornya menenteng tas besar, ujung gagang raket tennes muncul dari sela resleting tas, selembar handuk warna hijau terjuntai disana. Dengan mimik serius dan langkah terburu, dia mondar mandir dari lobby kantor kemudian masuk lagi keruangannya, seperti orang lagi sibuk, tergesa dan lupa sesuatu. Orang yang kebetulan melewatinya tersenyum tersenbunyi. Semua pada ngerti apa maksudnya mondar-mandir tadi, kalau bukan untuk unjuk diri, ingin menyatakan bahwa dirinya sudah bergaul dengan para pembesar Perusahaan yang nota bene adalah pemilik juga para pemegang saham, yang memang setiap seminggu dua kali berkumpul berlatih tennes bersama. Tapi tak satupun manajer Pabrik ikut bermain tennes dengan para pembesar kantor pusat itu. Kecuali dia, yang begitu bersemangatnya.

Esok paginya, operator telepon yang berada dilobby pada cekikikan.

“ Lucu deh kemarin itu, dia mondar-mandir dari ruangannya kesini, sampai dipintu keluar dia balik lagi. Itu dilakukannya berulang sampai empat kali. Sambil sebentar sebentar membuka tas besarnya, raket tennesnya dilihatin diperiksa. Dia pamerkan didepan kita.  Ketahuan kalau orang ndeso…” cerita gadis operator yang satu.

“ Maklum dia kan datang dari daerah pelosok, lulus menyandang gelar Sarjana tapi mentalnya kok mental inlander gitu ya……” Timpal yang satunya.

“ Apa itu mental inlander….?.”.

“ Itu mental pribumi yang baru bisa makan roti waktu jaman belanda dulu, banyak-kan orang jawa yang jadi gitu ? Petentang petenteng dihadapan bangsanya ketika dia sudah berdiri disamping tuan Belandanya…”.

“ Ih kamu sadis banget…hi…hi..hii. Bangsa feodal yaaa…..hi…hi…hi…!   ”

Tapi dengan sangat cepat cekikikan itu lenyap begitu bau Pak Tanto Martowo tercium angina baunya, beberapa detik kemudian orangnya lewat, dengan hormatnya mereka berdua menganggukan kepala, disambut dengan lirikan mata tanpa menggerakan kepala. Seperti biasa, gaya jalannya mengesankan orang tergesa karena suatu kesibukan. Gelar si sok sibukpun dia sandang.

Satu saat dengan tiba-tiba saja dia berhenti ditengah lobby, seperti memikirkan sesuatu dengan seriusnya, dahinya berkerut. Kemudian melangkah berbelok menuju pintu keluar lobby, ke arah taman depan kantor, memanggil tukang kebun yang sedang membenahi tanaman disana. Tangan kiri berada dipinggang, tangan satunya lagi melambai dengan gerakan keras dan cepat. Dengan tergopoh-gopoh tukang kebun itu mendekat, masih dalam posisi tangan kiri berkacak pinggang, dia bicara pada tukang kebun sambil tangan kanannya menuding-nuding kesegala arah areal taman kantor, tanpa melihat ke tukang kebun. Tukang kebun itu hanya bengong menatap dan mendengar. Padahal yang ditanyakan tidak ada hubungannya sama sekali dengan tanggung jawabnya. Selesai bicara, tanpa bilang apa-apa dia pergi begitu aja. Tukang kebun menggaruk-nggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal. Kemudian geleng-geleng kepala dengan tersenyum kecut. Sementara dua gadis operator telepon di lobby yang melihat adegan itu dari tempatnya,  sibuk membekap mulut, agar cekikikan itu tidak terdengar. Mereka berdua bisa dengan leluasa melihat adegan tadi, karena pintu masuk lobby serta dindingnya sepanjang kanan kiri pintu terbuat dari kaca tebal. Jadi dengan leluasa pula dia melihat ketaman bagian luar.

Salah satu gadis operator itu melambai pada tukang kebun yang masih berdiri didepan pintu.

“ Ada apa tadi Pak……?”

“ Saya tidak tahu, tiba-tiba saya dipanggil dan ditanya pipa ledeng disebelah sana itu siapa yang pasang ? Itu tembok sebelah sana kok belum selesai kenapa. Pot bunga itu kenapa ditaruh distu…? Lah saya sendiri tidak tahu menahu tentang yang ditanyakan tadi. “ Jawabnya dengan keluguan pegawai rendahan.

“ Teruuus…? “ gadis operator itu menahan senyum.

“ Ya ndak tahu. Habis ngomong begitu terus pergi begitu saja “. Gadis operator telepon satunya tak bisa menahan tawanya, tubuhnya terguncang tangannya mendekap mulutnya.

“ Ya sudah deh Pak, Bapak kembali saja kerja, nggak usah bingung gitu “.

Tukang kebun itu mengangguk dan berlalu. Sementara kedua gadis itu tak bisa menahan lagi ledakan tawanya.

Didalam meeting Pak Tanto Martowo dikenal sangat lihai bersilat lidah dengan bermodalkan data-data diatas kertas dia bisa menjatuhkan lawannya. Padahal antara data dan kenyataan dilapangan sering kali berbeda. Nah kalau ketahuan perbedaan itu, dia juga sangat mampu berkila, dengan mengatakan ;

“  Kalau begitu data tersebut harus diulang, si pengumpul data ternyata tidak tahu maksud saya. Saya kan bicara berdasarkan data. Jadi kalau ada kesalahan itu bukan kesalahan saya. Ini salah datanya. Sedang data ini saya minta dari departemen anu. Jadi departemen anu itu yang tidak benar cara kerjanya….!.Kenapa data bisa salah seperti ini…!”.

Masih banyak lagi kelit dan dalih  teori  yang dia beberkan, sampai semua orang bengong geleng-geleng kepala dan malas menanggapinya. Teori yang dia sampaikan sering kali sebenarnya melenceng dari perihal pembicaraan, kedengarannya benar, tapi kalau disimak sungguh sungguh, apa yang dia katakan sama sekali melenceng dari pokok permasalahan yang ada. Dengan kelihaianya, dia bisa membeberkan seakan perkataannya benar semua. Untung saja sang Direktur seorang yang sangat berpengalaman dalam menangani hal seperti itu. Jadi suasana bisa dinetralisir. Tidak terjadi perdebatan yang berlarut dan menyebar kemana-mana menyimpang dari arah pembicaraan. Hanya akan  membuang waktu meeting dengan percuma.

Dalam pemikiran orang semacam Pak Tanto Martowo, hidup adalah perjuangan, dan perjuangan adalah apa saja yang dapat membuat dirinya bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan cara apapun. Pokoknya menang. Bagi dia sah sah saja menjegal orang lain demi jabatan yang di inginkan. Menjatuhkan lawan kerja yang dianggap punya potensi sebagai pesaingn. Dunia penuh kompetisi, dan kompetisi harus dia menangkan, apapun caranya.

Pemikiran diatas telah menyelimuti dunia kerja di kota kota besar, kota kota industri. Sekian tahun bergelut dikampus untuk mendapatkan gelar, setelah lulus dan gelar ditangan, kalau tidak dapat jabatan adalah rugi besar. Mereka tidak berpikir bahwa ilmu yang mereka dapatkan selama diperguruan tinggi sebenarnya hanyalah awal dari apa yang mereka ketahui. Selanjutnya perlu diaplikasikan dan dikembangkan. Bukan untuk mencari jabatan kemudian menindas dan membodohi orang lain.

Kemampuan yang hanya ter-asah secara teory, saat menghadapi dunia nyata, menghadapi orang orang yang sudah berpengalaman dilapangan, orang orang yang mempunyai kemampuan praktek yang matang dengan segala problematikanya, akan tidak bisa berbuat apa apa dengan teori seabrek yang digotong dari almamater. Yang bisa ditampilkan justru hanya susunan susunan laporan data, dan itu adalah merupakan foto copy dari kegiatan nyata yang telah dilakukan oleh pekerja pekerja dilapangan, yang rata rata ahli dibidangnya. Artinya orang lain yang bekerja dan mengerjakan –menghasilkan, dia hanya sebagai pencatat dan pelapor. Uniknya justru disitu letaknya sebuah alasan menginginkan jabatan tinggi, karena merasa tanpa orang semacam dia, maka data dan laporan laporan itu tidak akan terjadi. Tanpa pemikiran pemikiran dan ide dia, semua itu tidak berarti apa apa bagi perusahaan. Jadinya, banyak lulusan perguruan tinggi yang hanya bisa menulis mendata membuat presentasi membuat kesimpulan tanpa tahu proses yang sebenarnya. Dan itu semua adalah makanan empuk bagi pemasok dan para penjual.

Seperti halnya Pak Tanto Martowo, sebagai manajer produksi dia tidak mengerti tentang mesin mesin produksi. Dia hanya mengandalkan para bawahannya. Akibatnya, kalau terjadi masalah dia hanya pasrah kepada anak buahnya. Yang lebih susah lagi kalau dalam mengambil keputusan salah, maka semuanya akan amburadul. Dan biasanya Pak Tanto Martowo menyalahkan para anak buahnya. Padahal dia sendiri yang tidak mengerti dan susah untuk berkomunikasi permasalahan mesin mesin produksi. Apa yang dia bicarakan diforum, baik di forum meeting maupun forum lainnya hanyalah informasi yang dia dapat dari bawahannya tanpa diolah lagi. Permasalahannya, tidak diolah karena dia tidak paham akan apa yang ada di produksi.

Minggu ini ada gossip gress yang lagi membuat suasana pabrik penuh bisik bisik. Dihalaman, dipojok kantor, lobby kantor, di ruang produksi bahkan di bengkel yang letaknya dibagian belakang pabrikpun penuh dengan suara gemerisik bisik gossip. Issuenya akan ada pejabat manajer yang akan di pindah ke kantor cabang lain. Herannya, issu itu tidak terdengar di kantor pusat, karyawan disana  belum ada yang tahu. Ini yang membuat heran orang orang kantor pusat. Sekretaris direktur pabrik ketika ditanya oleh rekan rekan staff saat makan siang sangat terkejut akan berita itu.

“ Kabar darimana itu ?, saya sendiri  belum tahu……!.”

“ Katanya sih berita itu didapat dari orang orang pusat….”

“ Yang kesana itu cuma Direktur, saya yang selama ini menemani Bapak rapat kesana, tidak pernah saya dengar berita itu. Keputusan yang belum diputuskan secara nyata biasanya menjadi rahasia para jajaran eksekutip atas. “. Mimik sekretaris sungguh sungguh. Dia mengepalkan tinjunya yang mungil, sambil menggigit bibir, gemas.

“ Siapa yang berani berani menyebar gossip itu disini, sudah menjadi komitmen para eksekutip atas, sesuatu yang belum diputuskan tidak mungkin disampaikan ke para jajaran dibawah. “ Ujarnya sengit.

Berita itu tidak makin mereda tapi semakin menjadi. Disetiap sudut perusahaan terdengar bisik bisik itu. Tidak ada sesuatu yang menyenangkan untuk dibicarakan saat ini kecuali issue pemindahan tersebut. Usut punya usut, ternyata datangnya gosip adalah dari orang produksi. Tapi siapa yang menyebarkan gossip itu awalnya, ini yang orang pada bingung. Katanya dari Pak ini, setelah ditanya, jawabnya adalah katanya dari Pak itu. Tidak ada yang jelas. Semua orang ketika ditanya, jawabannya selalu katanya dan katanya.

Sampai suatu saat, Pak Sugianto salah seorang supervisor produksi keluar dari ruang manajer HRD dengan muka kusut. Ketika lewat didepan  meja operator telepon, dua gadis itu menganggukan kepala sambil berucap ;

“ Selamat pagi Pak…!!!”.

Tapi kedua gadis itu kemudian saling pandang satu sama lain dengan exspresi tanda tanya. Yang satu mengangkat bahunya, karena sapaan mereka sama sekali tak membuat Pak Sugianto meresponnya. Laki laki umur lima puluhan itu, terus aja ngeloyor pergi tanpa menoleh.

Satu minggu kemudian ada gossip baru, tentang orang yang menyebarkan gossip. Siapa orang produksi yang menyebarkannya ?. Ternyata adalah Pak Sugianto, dan dia dapat teguran keras dari  Perusahaan, bahkan dapat surat peringatan. Tapi yang jadi gossip baru sekarang adalah, darimana Pak Sugianto dapat informasi tentang kabar issue pemindahan manajer. Sedangkan dia adalah Supervisor produksi yang tidak pernah berhubungan dengan orang pusat. Bahkan manajer pabrik boleh dikata  sangat jarang berhubungan dengan orang pusat. Lagi pula orang pusat rata-rata tertutup, mereka menganggap statusnya lebih tinggi daripada orang di pabrik. Kok bisa bisanya Pak Sugianto menyebarkan kabar seperti itu, sedang karyawan pusat sendiri belum ada yang tahu.

Gossip yang dilontarkan Pak Sugianto adalah sesuatu yang mustahil karena bukan dalam jangkauan dia. Cuma masalahnya, semua orang pabrik kenal siapa dia, tukang provokasi. Biasanya kalau ada staff baru dia akan cerita semua kondisi perusahaan, tapi celakanya yang dia ceritakan bukan hal hal baik. Yang dia ceritakan pada staff baru adalah hal hal yang membuat staff baru akan ketakutan, bahkan berfikir untuk tidak melanjutkan bergabung dengan Perusahaan ini. Lebih banyak menakuti daripada memberi dukungan pada orang orang baru. Ternyata dia sendiri adalah seorang paranoid.

Ketika ada staff baru direkrut oleh perusahaan, apalagi kalau staff baru tersebut ditempatkan di bagian produksi, dia akan berusaha dengan segala cara untuk membuat orang itu tidak kerasan kerja ditempat dimana dia ditempatkan. Karena setiap staff baru yang masuk dia anggap pesaing yang akan bisa menggeser posisinya, dia tak mau kehilangan itu semua, karena dia sudah merasa nyaman dengan posisinya. Yang lebih aneh lagi, dia mengaku mempunyai kemampuan layaknya paranormal. Herannya kok ya ada saja orang yang percaya begitu saja. Sedang sikapnya sendiri bukan tipe orang yang yakin pada diri sendiri, malah cenderung selalu curiga pada orang lain, dan tidak senang kalau ada rekan dapat pujian atau promosi dari perusahaan. Apalagi dengan orang-orang yang berprestasi, cenderung menjelekannya. Menunggu kesalahaan yang akan dibuat oleh orang tersebut, kemudian membeberkan dan membesar-membesarkan kesalahan itu.

Sebulan setelah peristiwa pemanggilan Pak Sugianto oleh HRD manajer, para manajer dan Direktur mengadakan pesta perpisahan untuk Pak Dudy seorang manajer tehnik. Dia akan diberikan kepercayaan baru untuk memimpin kantor cabang baru di Jakarta. Pak Dudy adalah seorang manajer tehnik yang dikenal tidak banyak bicara, tapi tugas-tugas yang diberikan padanya selalu membuat puas atasannya. Satu satunya kelemahan yang ada adalah dia tidak begitu suka ngumpul-ngumpul bergerombol layaknya orang lain, yang ujung ujungnya membicarakan orang lain. Terkesan menyendiri. Orangya keras hati, kalau bicara terus terang. Kalau ada hal yang dianggap tidak benar, dia akan mengatakan tidak benar, dan dia tidak akan pernah mendukung. Hal itulah yang tidak disukai oleh sebagian besar orang orang pabrik. Tapi bagi dia, dalam hidup orang harus memilih, dia memutuskan memilih untuk tidak seperti itu. Yang penting bagi dia adalah menyelesaikan semua tugas yang menjadi bebannya, orang mau apa, terserah pada pilihan masing-masing, asal tidak saling mengganggu, apalagi mengobral kejelekan orang lain. Kalau memang ada orang yang perlu ditolong dia akan menolong semampunya. Dia sangat loyal pada pekerjaannya.

Karier dia sebagai Karyawan dia telusuri dari bawah. Sebagai operator mesin produksi, sebagai mekanik, sebagai Supervisor sampai dipercaya sebagai Manajer tehnik di Perusahaan ini. Awalnya dia hanyalah lulusan STM mesin, tapi dia dengan tekun berjuang memperbaiki dirinya ditambah pengalamannya bekerja di beberapa perusahaan sebelum dia bergabung di Perusahaan ini, menunjukan kualitas dia sebagai sosok pekerja professional.

Dialah satu satunya orang yang tidak mempan dengan segala provokasi dan intimidasi. Oleh sebab itu, pak Tanto Martowo tidak menyukainya. Tapi dia sembunyikan ketidak sukaan itu dengan bagusnya. Dibalik itu dia berusaha untuk membuat kesan jelek pada semua orang, membuat opini agar Pak Dudy tidak disukai banyak orang. Tapi Pak Dudy sendiri orangnya benar benar cuek. Dia biarkan semuanya  mengalir begitu saja, toh semuanya pada akhirnya akan mengetahui sebuah kebenaran, dan itu sudah terbukti saat ini.

Sejak Pak Dudy resmi dipromosikan, Pak Tanto Martowo seperti orang kebakaran jenggot. Sering uring-uringan tanpa sebab yang jelas. Mukanya tidak pernah enak dilihat. Sepertinya dia sangat tidak bisa menerima seorang lulusan STM bisa menduduki jabatan manajer. Sepantasnya jabatan itu diterima seorang lulusan S1. Kenapa pikiran konvesional seperti itu masih tetap saja ada dikepala orang orang lulusan perguruan tinggi ?

Sebulan setelah Pak Dudy pindah ke Jakarta, gossip yang selama ini tidak terpecakan, akhirnya terkuak. Darimana Pak Sugianto memperoleh informasi issue itu semua ?, ternyata dari Pak Tanto Martowo. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dua orang ini memang lengket satu sama lain. Sampai timbul tanda tanya besar bagi para staff yunior yang belum tahu apa apa, kenapa Pak Tanto Martowo begitu sangat percaya pada Pak Sugianto. Ternyata mereka menjalin hubungan simbiosis mutualisme. Saling memberikan informasi untuk kepentingan bersama. Tapi sayang kerja sama itu lebih banyak untuk sesuatu yang tidak baik, hanya untuk kepentingan pribadi masing masing dan menjatuhkan orang lain.

Pertanyaan terakhir yang belum terjawab, seminggu kemudian terjawab sudah. Sumber segala gossip itu memang dari Pak Tanto Martowo, tapi darimana dia memperoleh informasi itu ? Ternyata dia nguping pembicaraan para pembesar pusat pada saat mereka main tennes.

Segalanya sudah terkuak, tinggal apa yang terjadi atas diri Pak Tanto Martowo ? Dia dipindah tugaskan ke kantor cabang Irian Jaya alias Papua. Akhirnya kita kembali pada pepatah orang tua, siapa yang menanam dialah yang menuai. Kalau bibit tanamannya baik maka akan dipanen hasil yang baik. Sesuatu yang kedengaran kuno, tapi tetap berlaku hingga saat ini.

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 7 Januari 2010 in Cerita

 

Tag: ,

One response to “Manajer NDESO

  1. Dana

    7 Februari 2010 at 01:53

    Sepertinya saya dapat menggambarkan cerita ini.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: