RSS

Pergolakan cinta dan gengsi

08 Jan

Oleh : Randaka

Linda membaringkan tubuhnya, kamar pribadinya terasa senyap. Ekor matanya melirik jam dinding yang terpajang diatas pintu kamar, sudah lewat pukul sebelas malam.  Bola mata agak sipit dengan bulu mata halus menatap – menerawang kosong jauh  kesana. Bibirnya bergetar, lima detik kemudian dengan tubuhnya pun mulai bergetar. Lama kelamaan tubuh berkulit putih berbalut kaos pink tipis dengan celana sebatas dengkul coklat muda itu bergetar bertambah keras. Lelehan air bening dari sudut matanya yang terasa asin saat menyentuh bibir. Kekuatan untuk merengkuh cintanya begitu membuncak didalam dada, tapi sampai detik ini dia tidak mampu meraupnya. Kekuatan itu saat ini berubah menjadi jarum jarum kecil menusuk nusuk seluruh isi dadanya.

Cinta yang telah begitu mengakar, menerjang segala logika. Selama ini dia membututi kemanapun cintanya pergi. Semula, dia selalu tidak mau menerima telepon itu. Bukan karena dia tidak suka, itu hanya gaya dia untuk membuat laki laki yang suka padanya jadi penasaran dan mabuk berat. Gaya yang selalu berhasil dia praktekan, tapi ternyata tidak berlaku pada Dodik. Dia tidak pernah terlihat pusing dengan segala gaya dan muslihatnya. Bagi Dodik, cinta itu nyata dan alami. Tidak perlu ada jinak-jinak merpati, tidak perlu ada muslihat dan rayuan, itu tidak penting. Cinta adalah tindakan pengungkapan isi hati. Rayuan bukanlah cinta, tapi muslihat. Tapi herannya perempuan selalu suka ditipu. Minta jalan yang berliku. Kenapa harus melalui jalan melingkar kalau jalan lurus itu ada ? Cinta itu baginya adalah sesuatu yang jelas, begitu sangat jelas. Bisa dirasakan denyutnya.

Sudah sangat sering Linda tidak menjawab telepon dari Dodik, berlagak mengacuhkannya, tapi sesering itu juga dia kecewa dan menyesal berat atas apa yang telah dia lakukan. Pria itu sama sekali tidak ber-reaksi seperti yang dia inginkan, penasaran dan memburunya. Dia benar benar tidak seperti laki laki lain yang pernah dia kenal, yang dengan gampang masuk jerat pesonanya, kemudian memburunya. Sensasi yang luar biasa yang dia rasakan, dirinya serasa melayang melambung dan terbuai menikmati permainannya. Seterusnya dia akan membuat laki laki itu semakin menuruti apa yang dia mau. Keinginan tuan putri akan selalu terturuti !. Dia merasa menang , terpuaskan !

Surat cinta dari Dodik, begitu indah, penuh makna pada setiap kata dan kalimat. Ungkapan perasaan yang terus terang tapi tidak vulgar. Cenderung romantis dan puitis. Jiwa raganya tersedot keindahan kalimat kalimat cinta. Mamanya hampir saja susah bernafas karena pelukannya yang begitu ketat dan keras. Kegembiraan yang meluap. Jeratku mengenainya.

Dia membalas surat itu, tapi dia tidak menuliskan secara jelas, menerima atau menolak ungkapan perasaan hati Dodik. Kalimat kalimat balasannya dibuatnya mengambang. Keinginannya, agar Dodik semakin penasaran dan mengejarnya. Aku juga suka kamu, burulah aku, itulah sensasi dan seni cinta. Begitulah apa yang ada dipikirannya. Tapi dia harus kecewa, Dodik tidak melakukan seperti yang dia inginkan.

Setelah menerima surat balasan darinya, sikap Dodik biasa biasa saja. Tidak ada wajah kecewa, marah atau penasaran.  Seandainya saja Dodik bersikap seperti ini……

“ Ada waktu buatku untuk kita bicara secara pribadi…?”.

Dia akan pura pura berkata…

“Ada apa…?”. Dia akan mengangkat dagunya dan bersikap se-akan tidak ada apa apa.

“ Sebentar aja okey…? Pliiiiisssss”. Dodik akan meng-iba-iba

Nyatanya percakapan seperti itu tidak pernah ada. Nihil. Harap tinggal harap. Kecewa sekaligus penasaran. Bagaimana mungkin, dia yang banyak disukai temannya, bahkan yang lainpun tak kurang yang meliriknya. Tapi Dodik..?, begitu anteng tenang dan kalemnya, seperti tidak ada apa apa. Sebal !.

Hampir satu tahun mereka berdua kuliah di JIMS ( Jakarta Institute Management Studies ) cabang Surabaya, yang berafiliasi dengan WAUC ( World Association Universties and College ) Kampusnya menyewa ruko di belakang Radisson Hotel ( sekarang berganti nama menjadi Surabaya Hotel ). Berseberangan dengan gedung WTC Surabaya. Disebelah selatan kampusnya, samping Radison Hotel, berdiri bangunan tak kalah megahnya dengan WTC, Delta Plaza Surabaya. Makanya kalau dosennya telat datang, biasanya anak anak akan nongkorng atau jalan jalan di Mall itu.

Kuliah dilakukan sekitar jam enam sampai selesai, biasanya minimal kuliah selesai jam sepuluh malam. Sistem kuliah mengadopsi gaya kuliah di negara negara maju. Yang kuliah disana banyak juga dari mahasiswa yang terdaftar di Perguruan tinggi di Surabaya, kuliah dobel. Serta orang orang yang sudah kerja, termasuk Dodik. Pagi sampai sore dia kerja, malamnya kuliah sampai selesai. Menurut pendapat para mahasiswa perguruan tinggi Surabaya yang ikut kuliah disana, gaya kuliahnya memang benar benar beda. Lebih banyak ke pembahasan masalah dan diskusi, serta pengembangan pikiran. Lebih banyak menuju ke pokok permasalahan, itulah yang membuat mereka tertarik. Jadi selesainya juga bisa cepat, daya pikir juga lebih bisa berkembang. Apalagi bagi yang sudah kerja, mereka butuh pengetahuan praktis yang lebih dekat dengan permasalahan permasalahan yang ada, yang sering mereka tangani se hari hari. Tidak dijejali dengan teori teori yang sebenarnya tidak perlu. Semua teori bisa dibaca dibuku. Ditempat kuliah lebih banyak pembahasan persoalan, dan pengembangan ide masing masing mahasiswa. Dosennya banyak dari para praktisi bisnis, bersikap sebagai mediator dan nara sumber. Sedang segala ide datang dari Mahasiswa. Kuliah menjadi hidup, ada komunikasi dua arah serta transfer pengetahuan yang nyata. Tidak seperti orang yang mendengarkan seminar atau pidato.

“ Terus terang, nggak pernah tuh dia cerita sama saya kalau dia naksir atau suka sama kamu.”. kata Zen teman yang sering bersama Dodik. Anak keturunan arab.

“ Tapi kalau dilihat dari sikap dan sorot matanya, memang dia suka sama kamu. Tapi sama sekali dia tidak pernah cerita tentang kamu. Apalagi tentang surat yang dia kirim sama kamu, saya tidak tahu kalau dia menulis surat padamu. Sepertinya dia biasa-biasa saja, “ terang Zen lagi.  Kepenasaran di dada Linda semakin menggumpal. Ini cowok benar benar cuek habis. Sepertinya cinta bukan sesuatu yang penting dalam hidupnya. Biasanya cowok justru akan berusaha mendapatkannya. Tapi ini lain, seakan dia bukan sesuatu yang penting dalam hidupnya. Padahal dia mengirimkan surat cinta ! Sungguh menyebalkan !

Sebenarnya Dodik bukannya tidak mau menyentuhnya, selama ini dia bingung dan tidak mengerti akan sikap Linda yang aneh. Surat cintanya dibalas dengan kalimat-kalimat tidak jelas, tidak bisa dia mengerti. Tidak ada ketegasan, apakah dia menerima cintanya atau menolaknya. Itulah yang membuatnya harus hati hati bersikap. Tapi dia berusaha untuk menunjukan cintanya, setiap Linda ulang tahun dia selalu memberi kiriman bunga mawar segar sebelum dia bangun tidur. Sebuah kejutan yang manis. Dengan harapan respon positip akan dia terima. Namun semua itu sia-sia, pada akhirnya dia berpikir bahwa permainan ini tidak perlu dilanjutkan.  Dia tak perlu memaksakan diri.

Sementara Linda semakin terbelit dengan permainan yang dia buat sendiri. Permainan cintanya telah membuat akar-akar cinta itu membelit bagaikan kanker yang semakin mengganas. Tapi sisi lainnya, hatinya juga begitu kuat mencekeram keangkuhannya.

Kadang Linda berpikir, dia harus mengakui kesalahannya, mengakui apa yang ada dalam lubuk hatinya. Kenapa harus mengingkari kenyataan hati. Tapi gengsi membuat semua janji janjinya menjadi kaleng tanpa isi. Sementara jaring-jaring cinta yang dia tebar semakin rapat menjerat dirinya sendiri. Kalau sudah begitu, dia hanya bisa menangis dan menangis, menyakiti dirinya sendiri. Sampai selesai kuliah, janji itu hanyalah seperti  tulisan diatas pasir pantai.

Rasa penasaran Linda membukit, cinta terus tumbuh tanpa bisa dia bendung. Tapi pengingkaran-pengingkaran itu masih terus tejadi. Gengsi dan cintanya berebut berlomba menjadi nomor satu. Kemanapun Dodik pindah kost, dia akan selalu mengetahuinya. Bahkan dia mampu memperdayai Ibu kost Dody, dan berhasil menyelusup masuk kekamar Dody, mengaku pacar Dody, tapi meminta Ibu kost Dody untuk tidak menceritakan ulahnya. Lebih gila lagi dia berhasil menjalin kontak dengan Manager senior dimana Dodik bekerja. Tujuannya adalah mencari informasi tentang Dodik. Pernah dia seharian ditemanni temannya memarkir mobilnya di halaman parkir hotel Novotel, hanya menunggui Dodik selesai pelatihan. Setelah selesai diapun pulang begitu saja, tanpa menemui Dodik. Kini segalanya berbalik, dia telah jadi pemburu dan penyelidik. Seorang pemburu yang munafik, kalau tidak bisa dibilang psikopat.

Ke semua temannya dia bercerita, kalau Dodik adalah pacarnya. Tapi ketika ditanya kenapa tidak pernah bersama ?, alasannya adalah, Dodik lagi ngambek, kalau sudah ngambek lama sembuhnya. Ketika dikasih saran bahwa dia harus lebih mendekatinya, jawabannya selalu sama. Ah nanti saja.

Kata nanti itu sudah berjalan sejak mereka selesai kuliah dan kembali pada kehidupan sendiri sendiri. Linda masih tetap saja sama, mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dikejar. Memimpikan sesuatu yang tidak perlu di-impikan.

Kini dia kelimpungan sendiri, nyatanya dia tidak bisa melupakan Dodik. Dia sudah tidak pernah bertemu dengannya lagi. Dodik kembali pada kesibuka di tempat kerjanya. Dia sudah lupa akan romantika saat dia kuliah.  Suatu saat dia menelepon ke rumah Linda, tapi dia memperoleh jawaban kalau keluarga yang tinggal di alamat tersebut sudah pindah. Maka tidak ada lagi yang perlu diharapkan, hubungan sudah benar-benar putus. Sebagai temanpun dia sudah tidak bisa mengharap.

. Sementara Linda semakin terobsesi dengan cintanya. Nama Dodik sudah benar-benar terpatri dalam hatinya. Namun ada tembok penghalang cintanya, tembok keangkuhan yang dia bangun sendiri. Banyak temannya menyatakan bahwa kelakuannya itu sesuatu yang tidak wajar. Sudah jelas orang mengaku suka padanya, dan dia juga suka, tapi dia tidak memberi jawaban dengan jelas. Mengharapkan orang tersebut berusaha mengejarnya. Kenapa harus seperti itu ? Sesuatu yang susah dinalar dan tidak masuk akal, bagi mereka itu perbuatan semaunya sendiri dan aneh.

Sudah satu tahun ini dia pindah rumah. Kini tidak ada telepon yang bisa membuat hatinya bergetar. Kalau rasa kangennya menggebu, dia akan mengajak temannya mengintip dimana Dodik berada. Menunggu dimana Dodik biasa lewat dari pulang kerja. Melihat wajahnya dengan sembunyi sembunyi, rasa rindu itu terobati. Kalau perlu dia membututi kemana saja Dodik pergi.

Seperti sore ini, dia melihat Dodik dengan seorang perempuan di café ice cream Tunjungan Plaza. Hatinya membara. Ingin sekali dia duduk disana dan dengan sengit akan mendampratnya….

“ Jadi selama ini kamu selingkuh yaaa…?! Tidak pernah menemui aku…! Selingkuh dengan cewek macam ini..?!”.

Tentu saja itu cuma terjadi dalam kayalannya. Mana mungkin dia akan berani melakukan hal seperti itu. Walau hatinya panas sampai membuat perutnya mules, gengsinya juga semakin membumbung tinggi, lebih tinggi dari langit langit Mall ini.

“ Kamu cemburu berat ? Panas nih yeee….!,” goda teman yang menemaninya saat itu.

Linda menggeretakan giginya rapat rapat.

“ Sudah telepon saja. Kenapa sih kamu berlagak seperti ini ? Perbuatan kamu ini adalah perbuatan aneh yang sia sia. Tidak akan ada hasilnya. Membututinya kemana dia pergi. Mengatakan pada banyak orang kalau kamu pacarnya. Hampir semua teman tahu siapa Dodik dari kamu. Tapi kamu sendiri tidak mau menghubunginya. Apalagi yang kamu tunggu ?. Kamu tahu segalanya tentang dia. Kamu tahu dimana dia kerja. Kamu tahu siapa atasanya. Kamu tahu dimana dia tinggal. Bahkan nomor hpnya aja kamu tahu. Kalau jadi detektip, kamu pasti laris disewa orang sana sini, “ ujar temannya. Hatinya teriris melihat adegan disana. Orang yang dicintainya, selalu dibuntutinya, sedang bercanda ria dengan perempuan lain. Sungguh sebuah adegan yang mahal bayarannya.

“ Ayo.. ! Buat apa melihat orang lagi pacaraan, “ ajak temannya. Kakinya terpancang, pandangannya lurus kesana. Temannya jadi tidak sabar. Diseretnya Linda dari sana. Tapi kaki Linda terasa berat, seperti tertancap dilantai yang dipijaknya. Temannya bertambah kesal.

“ Kalau kamu masih tidak mau, aku yang akan pergi. Silahkan kamu puaskan dirimu dengan segala maumu. Aku sudah capek menemani kamu !. “.

Harusnya aku yang disana, gumannya dalam hati.

“ Kalau kamu benar benar mencintainya, harusnya kamu sudah menemuinya, sejak dulu. Kamu sendiri berkali kali mengatakan, kamu akan menemui dan menelepon Dodik. Tapi sampai detik ini, kamu tidak pernah melakukannya. Terus maumu apaaa…? “. Suara Tristanti meninggi. Tidak ada jawaban disana. Sudah sekian kali anak ini bicara permasalahan yang sama yang sebenarnya muda diselesaikan. Permasalahannya sudah jelas, dia tinggal memulai membuka komunikasi dengan Dodik dan urusan akan segera selesai. Mengharapkan Dodik menghubunginya, mana mungkin ?. Rumahnya saja Dodik sudah tidak tahu, sudah pindah rumah. Lucu juga kalau dipikir pikir. Orang tidak tahu alamatnya, tapi diharapkan menghubunginya. Tristanti sebenarnya sudah capek meladeni teman yang tidak jelas maunya.

Sudah terlalu sering Linda berkata….

“ Ya, nanti aku akan datang ke tempat kostnya. “

Atau…

“ Ya nanti aku akan telepon “.

Satupun dari apa yang dia ucapkan tidak pernah dia tepati. Akhirnya Tristanti memutuskan untuk tidak terlalu banyak bicara lagi, atau lebih tepat, tidak menanggapi lagi apa yang dikatakan Linda. Semuanya hanyalah sebuah kebohongan besar,  dia mengambil keputusan untuk tidak lagi mempercayai Linda maupun menanggapinya.

Pagi saat dia keluar dari kamar tidurnya, mukanya sembab dan merah. Semalaman dia bergulat dengan perasaannya. Dia melempar diri di sofa ruang tengah. Diraihnya remote tv, mengangkat kedua kakinya keatas sofa. Tubuhnya bersandar, malas. Kedua kakinya ditekuk hingga kedua dengkulnya menyentuh dada. Dia  meringkuk diatas sofa. Tangan kirinya memeluk kedua dengkulnya sedang tangan kanannya terkulai disamping sambil memegang remote tv. Matanya menatap televisi, tapi pikirannya tidak diacara televisi itu, melayang entah kemana.

“ Hei belum mandi kok sudah disini ? “. Mamanya muncul dari ruang lainnya.

“ Habis nangis lagi ya…?,” ujar mamanya begitu dilihatnya wajah anaknya kelihatan sembab. Ibu yang bijak itu duduk disamping putrinya. Dibelainya rambut panjang hitam yang tidak tersisir, cuma diikat dengan karet gelang begitu saja.

“ Mama-kan sudah bilang, kalau kamu memang suka, yaaa kamu harus menjawabnya. Jangan dibiarkan sebuah persoalan mengambang, kamu menuntut orang lain untuk menyelesaikannya. Itu hal yang tidak mungkin. Persoalan ini jadi rumit karena ula kamu sendiri. Seharusnya kamu sudah memberikan jawaban saat kalian masih sama sama kuliah dulu. Dimana kalian masih sering bertemu. Sekarang masalahnya sudah semakin rumit. Dodik sudah tidak bisa lagi menghubungi kamu, karena kita sudah pindah rumah. Kamu masih mengharapkan dia untuk menghubungi kamu ? Dia tidak tahu kemana kita pindah . Kamu punya nomor teleponnya kan ?”.

Tangan penuh kelembutan itu masih  membelai rambut Linda. Dia kasihan melihat putrinya yang tersiksa oleh hatinya sendiri.

“ Sudah berapa lama kamu begini terus ?. Mama kira secepatnya kamu mengambil keputusan. Kalau kamu benar benar mencintainya, kamu harus segera menghubunginya. Kalau tidak, ya sudah ! Lanjutkan hidupmu dan lupakan dia. Kamu begitu tahu benar siapa Dodik, bahkan sampai keluarganyapun kamu tahu. Dan Dodik tidak tahu kalau kamu sudah kenal dengan keluarganya. Sebenarnya Mama tidak setuju dengan tindakan kamu yang sembunyi sembunyi itu. Semua kesalahan tidak pada Dodik, semua adalah tanggung jawabmu semata. Jangan kamu menyalahkan Dodik. Dia tidak bersalah apa apa. Yang dia inginkan sederhana saja, yakni jawaban kamu. “.

Tangan lembut dan hangat itu meraih putrinya. Linda memutar tubuhnya dan bergelung dalam pelukan hangat Mamanya. Airmatanya sudah tak terbendung lagi. Bayangan bayangan apa yang telah dia lakukan berkelebat bergantian. Betapa banyak yang telah dia lakukan tanpa sepengetahuan Dodik. Tapi semua itu ternyata sia sia. Bukan salah dodik, tapi semua yang dia lakukan adalah untuk memenuhi ke-egois-an diri sendiri. Tindakan tindakan bodoh dan memalukan telah dia lakukan.

Dalam pelukan Mamanya, dia berjanji pada dirinya, dia harus segera menyelesaikan kemelut ini semua. Semoga gengsi dan egonya sudah menyerah kalah pada realita dan kebenaran. Aku harus segera menghubungi Dodik. Apapun yang akan terjadi, terjadilah. Kalau aku sudah terlambat untuk memilikinya, setidaknya aku bisa menjadi sahabatnya.

Kalau aku belum terlambat, akan aku rajut benang benang cinta yang kusut karena aku yang membuatnya kusut.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Januari 2010 in Cerita

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: