RSS

Seni tak lepas dari peran kapitalis

13 Jan

Menonton si Burung Merak bernyanyi di Balai Pemuda ( tgl. 18-Mei- 2003,  jam 19.30 – selesai ), dalam Festival Seni Surabaya,  memang ada keasikan tersendiri. Dengan segala daya pesonanya si Burung merak berusaha membius penonton.

Namun tak dapat dipungkiri. Walau dengan penguasaan tehnik pembacaan puisi yang baik, tak urung sangat kentara sekali bahwa stamina si Burung Merak kala itu sudah mulai berkurang. Beberapa kali Rendra keseleo lidah dalam pengucapan kata. Kadang ada beberapa artikulasi yang kurang jelas dalam tatanan vokalnya. Tapi semua itu tidak menghapuskan karisma seorang Rendra dalam kanca sastra Indonesia.

Saya bukan ahli sastra, tapi saya suka menikmati seni. Ada beberapa hal yang menarik hati saya untuk menorekan pendapat dalam tulisan ini ( meskipun memang sudah sangat terlambat ). Ketika di buka sesi dialog antara penonton dan Rendra, ada seorang penanya yang mengatakan bahwa seni sekarang lebih banyak bergantung pada kapitalis. Seorang Gunawan Mohamad pun kena kritik tentang hal itu. Bahkan sponsor acara pesta seni surabayapun sempat di singgung oleh si penanya pada saat itu. Dari nada suaranya, sang penanya sepertinya benar benar punya ganjalan dengan acara seni yang didukung oleh sponsor atau yang dia sebut kapitalis. Dia tidak bisa terima begitu saja, bahwa seni dibuat duduk sama rata dengan kapitalis. Yang pada akhirnya bermuara pada kecurigaan, bahwa karya seni tersebut dipengaruhi oleh pesan sponsor, yang menjadikan seniman tidak murni lagi dalam menelurkan karya atau ide idenya. Hal ini dianggap membohongi nurani. Kredo sang seniman sudah hilang karena sebuah kebutuhan kapitalis ( tapi sebenarnya juga untuk kebutuhan seniman itu sendiri ).

Sebuah karya seni adalah idealisme dari seorang Seniman. Seorang seniman bebas berkreasi untuk mewujudkan keberadaanya. Tetapi yang juga harus disadari , bahwa Seniman adalah seorang manusia, yang mempunyai tanggungjawab terhadap kelangsungan sebuah kehidupan, baik kehidupannya sendiri maupun kehidupan orang lain yang menjadi tenggungjawabnya. Idealis adalah sesuatu yang harus dimiliki seorang Seniman. Tapi idealisme tidak akan terwujud manakala perut tidak diisi, agar bisa mewujudkan idealisme, dan tetap bisa berkarya, seniman harus mampu berkompromi, bersimbiosis dengan keberadaan lingkungannya, termasuk para kapitalis. Biar bagaimanapun yang membeli karya lukis, buku novel maupun karya karya seni lainnya adalah para kapitalis. Setuju atau tidak itulah kenyataannya. Orang awam biasa tidak akan mungkin membeli sebuah lukisan dengan harga jutaan hingga ratusan juta rupiah, bahkan milyar rupiah, hanya sang kapitalis yang menyukai seni, kenapa harus ditolak  ?.

Karya seni apapun, tidak akan bisa lepas dari adanya penonton. Tanpa penonton apalah arti seni itu sendiri. Karena merekalah yang akan memberikan penilaian, julukan, merk atau apapun namanya terhadap suatu karya seni. Dan penonton ( menurut saya ) mayoritas adalah kapitalis..! Apa mungkin satu karya bisa terkenal, punya harga atau nilai, kalau hanya ditonton kaum Seniman saja, tanpa diperkenalkan pada masarakat ? Kalau jawabannya ya, bagaimana mungkin sebuah karya seni bisa dihargai dan menjadi terkenal ?. Bukankah yang memberi penghargaan seni itu adalah penikmat seni ? Bukankah seni itu diciptakan untuk dilihat dan nikmati publik ? Seni adalah penyeimbang dari sebuah kehidupan. Jadi seni bukan semata mata milik para seniman.

Lukisan Picasso tidak akan terkenal tanpa dilihat dan diperkenalkan pada masarakat. Sekali lagi, masarakat adalah bagian dari kaum Kapitalis, tidak bisa kita pungkiri dengan menutup kedua mata begitu saja. Musik jazz yang lahir dari penderitaan orang orang Negro, bisa berkembang merambah seantero dunia, di sukai orang sejagat, juga tak lepas karena sang kapitalis Amerika, yang mengembangkan musik tersebut menjadi sesuatu yang layak untuk ditonton oleh semua bangsa. Datang dikonser musik jazz adalah suatu prestise tersendiri. Tidak bisa dikatakan seni itu hanya untuk seni, semuanya saling ada keterkaitan. Ada pencipta ada penikmat dan ada cost (biaya)

Ketoprak yang mbarang (ngamen) dari kampung ke kampung, tidak akan bisa terus berkembang dan bermain kalau tidak ditonton oleh orang kampung. Orang kampung juga adalah kapitalis walaupun dalam ukuran sangat kecil. Tapi unsur kapitalis itu tetap ada, sebab mereka mengeluarkan uang, sebagai imbal balik dari satu karya seni yang sudah menghiburnya.  Lakon atau cerita  yang dimainkanpun bisa diminta sesuai keinginan penonton. Itu sudah membuktikan bahwa seni tidak bisa terpisah atau hidup sendiri tanpa unsur-unsur kapitalis.

Kalau seorang Gunawan Mohamad dikatakan besar karena berdiri bersama kapitalis, saya kira ada benarnya. Semua pembiayaan dari apa yang dikerjakan Gunawad Mohamad adalah dibantu oleh orang yang berduit yang sejalan dengan ide Gunawan Mohamad dan suka dengan karya seni. Sehingga sebuah majalah hebat lahir dari tangannya. Tentu saja nafas bisnis memang ada disana, tapi orang  bisnis itu juga menghargai keberadaan Gunawan Mohamad sebagai seorang Seni. Otak pebisnis melihat adanya peluang disana, maka berjalanlah mereka beriringan.

Dikatakan tidak benar kalau Gunawan Mohamad besar karena kalpitalis, itu juga ada benarnya. Walaupun Gunawan Mohamad berdiri dan berkarya bersama orang kapitalis, tetapi seorang Gunawan Mohamad tetap eksis sebagai seorang sastrawan yang kuat, seorang pekerja seni yang tidak rela di kebiri dan disetir begitu saja oleh pemodalnya. Jadilah satu kerja sama tim yang baik, ada yang berpikir dari segi bisnis, sisi lain ada yang berpikir kualitas sebuah karya seni. Akan saling memberikan kotribusi dalam satu karya seni yang baik, bermutu dan layak jual.

Masyarakat tentu saja ingin melihat karya seni yang bagus dan bisa dimengerti sekaligus bisa menghibur. Seorang Seniman wajib menjaga kwalitas dan idelismenya agar tidak terjebak pada seni pesanan, yang pada akhirnya juga berakibat ditinggalkan masarakat.

Pada akhirnya akan kembali pada Seniman itu sendiri, apakah dia seorang yang cukup teguh dengan idealismenya, tanpa melupakan kepentingan pecinta seni, ataukah dia begitu gampang berkompromi dengan kapitalis. Yang jelas, suatu karya seni yang baik tetap akan dianggap masyarakat sebagai karya seni yang baik. Lepas dari apakah karya seni itu lahir murni dari seorang Seniman, atau lahir dari seorang kapitalis yang nyeni, atau kolaborasi dari keduannya. Masyarakat adalah hakim yang lebih jujur. Lewat merekalah, satu karya  bisa diukur keberadaan kompetensinya.

Oleh : Didik Suwitohadi

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Januari 2010 in Essei

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: