RSS

Harus bagaimana

14 Jan

Oleh. Randaka

Ruangan itu berukuran kira kira 3 X 3,5 mtr. Ruangan seukuran tersebut terlalu sederhana untuk disebut sebagai ruang seorang Manajer Pabrik . Disana hanya ada meja kerja setengah biro dengan kursi bersandaran setinggi punggung, berlapis kulit imitasi warna coklat tua, cukup serasi dengan warna mejanya coklat muda. Dua kursi lipat warna hitam berada didepan meja kerja itu.  Sebuah almari file berada di samping kanannya. Separo dari dinding ruang bukan terbuat dari batu bata, melainkan panel almunium dengan kaca rayben setebal 5 mm. Dengan demikian penghuni ruang itu bisa dengan leluasa melihat keluar ruang, sedangkan dari luar tidak akan dapat melihat ke sisi dalam ruangan dengan jelas.


Laki laki itu tingginya kurang lebih 168 cm, bentuk tubuhnya biasa saja tidak gemuk, cenderung bisa dibilang agak kurus. Rambutnya lurus agak gondrong. Gaya potongan rambutnya bagian samping pendek rapi. Bagian depan dipotong agak panjang. Sehingga membentuk semacam jambul. Sedangkan gaya potongan bagian belakang agak panjang sedikit. Kulitnya bersih. Wajahnya agak lonjong dengan guratan pada kening yang nampak jelas melukiskan sebuah peristiwa disana.  Kalau tidak duduk diruangan itu mungkin orang tidak yakin kalau dia adalah manajer pabrik. Gaya potongan rambutnya tidak mewakili gaya rambut seorang eksekutif, walau hanya Perusahaan kecil.

Hari ini, tepatnya pagi tadi dia telah menandatangani surat PHK salah satu Karyawan yang telah mangkir 3 hari ber-turut turut tanpa pemberitahuan dan tanpa alasan yang bisa ditolerir. Untuk kesekian kalinya dia melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan, tapi itulah salah satu resiko jabatan, membuat seseorang menjadi pengangguran.

Kondisi ekonomi yang semakin sulit membuat dia harus bersikap tegas dan putar cara untuk sedapat mungkin menghemat biaya opersional dan me-maksimalkan tenaga kerja yang ada. Apalagi pabrik ini bukan jenis pabrik besar, hanya memproduksi minyak goreng dengan label tidak terkenal. Produknya dikemas dalam satu kemasan drum kecil kecil beukuran 50 kg. Dipasok ke pasar pasar tradisional dan toko toko. Bukan ketoko besar layaknya swalayan. Produk minyak gorengnya hanya untuk konsumsi menengah bawah. Malahan boleh dikata lebih banyak untuk kalangan bawah atau rakyat kebanyakan. Dijual eceran atau kiloan tanpa kemasan yang menarik seperti produk produk lainnya. Mengambil istilah pasar, minyak goreng yang dia produksi dijual sistem curah. Dikemas dalam  kantong plastik ukuran satu kg atau setengah kg, bahkan ada yang dikemas dalam kantong plastik ukuran seperempat kg oleh penjualnya, mengikuti kebutuhan dan kemampuan pembeli di pasar pasar tradisional.

Sistem pembayaranpun tidak kontan, barang datang tidak langsung bayar. Umumnya dibayar dua minggu kemudian. Bahkan ada yang sampai 1 bulan lebih baru bayar. Biasanya itu berlaku bagi toko yang mengambil jumlah cukup besar. Dari perputaran itulah dia harus putar otak untuk menyiasati segala kebutuhan operasional pabrik, agar semuanya bisa berjalan dengan lancar. Salah satunya adalah mendayagunakan tenaga kerja yang ada seoptimal mungkin.

Pagi menjelang siang, sang pemilik datang meninjau Pabrik, tentu saja ia harus menemani berkeliling melihat lihat kondisi lingkumgan Pabrik. Ada beberapa bagian dari Pabrik yang harus diperbaiki. Semua rincian dia beberkan diruang kantor pemilik, setelah selesai berkeliling Pabrik.

Ruang itu berukuran kira kira 5 X 8 mtr. Sebuah kursi dari kulit warna hitam mengkilat  bersandaran tinggi terletak dibelakang sebuah meja berwarna coklat tua yang permukaannya dilapisi kaca tebal 5 mm, berukuran 80 cm X 150 cm dari bahan kayu jati. Dibelakang kursi itu, almari berwarna coklat tua tinggi 1,75 mtr X 2 mtr dengan tiga pintu kaca setebal 5 mm. Didalamnya penuh dengan plakat plakat penghargaan, Vandel Vandel dan barang cindera mata dari Perusahaan dan instasi pemerintah. Dinding ruang sebelah kiri meja kerja, dihiasi tiga buah foto berbingkai besar, foto pemilik Pabrik sedang berjabat tangan dengan walikota, dan satunya lagi dengan mentri perindustrian. Sedang foto satu lagi berjabat tangan dengan seorang Pangdam kota ini. Satu set sofa kulit berwarna coklat tua, berada dua meter didepan meja kerja itu, dinding seputar sofa bertengger foto foto keluarga sang pemilik Pabrik. Lantai seputar sofa dilapisi karpet merah tua berbulu tebal. Keseluruhan ruang itu berlantai marmer coklat muda berkombinasi dengan warna hijau tua, mengkilap dan licin. Sebutir debupun hampir tidak dijumpai diruang ini, semua benda tertata rapi walau jarang digunakan.

Dia masih ingat benar, dia pernah duduk di sofa itu bersama pemilik Pabrik. Mendengarkan cerita sang pemilik Pabrik, betapa kerja keras orang tuanya mendirikan Pabrik ini. Kini dia mewarisinya, dan telah berjanji pada almarhum orang tuanya untuk menjaga dan memelihara Pabrik warisan ini sebaik baiknya. Pabrik ini merupakan semacam tugu peringatan bagi usaha keras orang tuanya, yang harus dia jaga kelestariannya serta dikembangkan. Satu pesan yang dia genggam erat sampai detik ini adalah, jangan mengeluarkan uang sembarangan tanpa manfaat dan keuntungan. Semua pengeluaran keuangan Pabrik harus diperhitungkan dan dikaji dengan baik, untuk menghindarkan dari kebangkrutan. Hindari mengambil kredit Bank kalau tidak benar benar perlu atau dalam kondisi terjepit.

Itulah sebabnya, sebagai manajer pabrik, sampai saat ini dia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan atas rincian dana yang dia ajukan untuk perbaikan perbaikan yang diperlukan. Pemilik hanya menjanjikan akan mempertimbangkan terlebih dahulu, lakukan perbaikan seperlunya saja, karena angka angka yang dia paparkan terlalu besar untuk biaya perbaikan perbaikan itu. Dengan kondisi ekonomi seperti saat ini, memang berat untuk melakukan pembiayaan pembiayaan. Harus hati hati dalam mengucurkan dana, jangan sampai terbuang cuma cuma.  Tapi tembok pembatas Pabrik dengan area luar sudah tiga kali dibobol maling. Beberapa pompa raib dari tempatnya. Beruntung para maling tidak menjarah ke ruang penyimpanan produk. Kalau itu terjadi maka kerugian akan semakin besar. Dengan sangat terpaksa dia harus mem-phk satpam yang bertugas saat itu yang dia anggap lalai menjalankan tugasnya. Itu artinya, harus ada pengeluaran mendadak beberapa juta untuk pesangon satpam tersebut. Mengeluarkan karyawanpun sekarang butuh biaya, tidak gratis. Biaya ke pihak pihak yang berwenang menyetujui PHK. Belum lagi kalau si karyawan tidak terima begitu saja di PHK. Prosesnya adalah ke pengadilan, itu adalah tambah biaya. Maka bagian personalia dia intruksikan untuk melakukan tindakan tindakan persuasif untuk menghemat biaya Perusahaan. Bicara dari hati kehati dengan karyawan yang kena phk. Agar perkara phk tidak jadi lahan mengeruk keuntungan bagi pihak pihak tertentu.

“ Pak orangnya minta sekian….”. kata Personalia diseberang sana. Nada suara yang  berat dan lelah,   nyaris putus asa. Ya… memang sebuah beban yang berat. Sebuah kehidupan orang lain yang akan dia lemparkan entah kemana nanti. Sebuah keluarga, anak istri yang akan menerima akibat dari sebuah keputusan. Tapi apapun itu, tindakan harus dilaksanakan demi tegaknya aturan

Dia terdiam sejenak, memindah gagang telepon ke tangan satunya, sementara tangan satu meraih selembar kertas dan mengamati tulisan disana.

“ Coba kamu usahakan untuk bisa turun lagi dari nilai itu. “. Cara cara negosiasi begini yang menurut dia lebih baik dan efektip. Hanya melibatkan Perusahaan dan Karyawan itu sendiri, tanpa melibatkan pihak ketiga. Paling paling hanya dengan pihak pengurus SPSI, dan dapat dibicarakan secara kekeluargaan pula. Kalau sampai meloncat ke pihak ketiga biayanya akan lebih tinggi. Dia berpikir lebih baik membayar pesangon Karyawannya lebih besar sedikit daripada mengeluarkan biaya lebih besar untuk pihak ketiga ke empat dan seterusnya. Apalagi hal tersebut juga akan mempertaruhkan nama Perusahaan. Sudah bukan rahasia lagi, kalau ada Perusahaan sedang berselisih dengan Karyawannya, maka akan ada pihak pihak lain mencari kesempatan untuk mengeruk keuntungan. Para opurtunis akan mengeruk keuntungan dari kesengsaraan dan kerugian orang lain.

Belum tuntas perkara yang satu sudah muncul masalah baru, ada telpon dari kantor kelurahan setempat minta bantuan untuk dapat berpartisipasi dalam perbaikan pendopo kelurahan. Bahasa halus dari minta sumbangan material bangunan atau uang tunai. Dan harus dipenuhi, kalau tidak, alamat segala urusan akan susah atau malah Perusahaan dapat masalah masalah baru. Sebuah fenomena yang sudah diketahui oleh semua Perusahaan di wilayah itu. Telepon macam itu bukan hanya dari kelurahan saja, masih banyak dari instansi instansi lainnya dilingkungan Perusahaan berada. Itulah kenyataan fenomena yang ada, semua sudah pada tahu tapi pada tidak mampu menghilangkannya. Hal hal semacam ini yang membuat biaya operasinal membengkak tidak semestinya, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan biaya produksi. Tapi pada akhirnya juga akan terbebankan ke biaya operasinal produksi. Hasil akhir adalah nilai barang produksi tinggi, akibatnya keuntungan sangat tipis. Harga jual tidak bisa bersaing dengan barang dari luar negeri.

Beberapa waktu yang lalu Kabag Personalianya berniat mengundurkan diri. Tapi dengan bicara dari hati kehati, niat itu urung dilaksanakan. Dia berhasil mengetuk hati Kabag Personalianya untuk sementara waktu bisa membantunya dalam menyelesaikan persoalan persoalan yang ada. Banyak persolan persoalan perburuhan yang muncul akhir akhir ini. Buruh sudah pada melek hukum. Tapi sayang tidak didukung oleh perilaku dan kemampuan atau skill yang membaik serta melek ilmu pengetahuan, yang bisa mengangkat nilai jual para Buruh itu sendiri.

Yang lagi ramai saat ini malahan euforia tuntutan tuntutan atas hak hak buruh yang katanya tidak atau kurang dipenuhi oleh Perusahaan. Mereka lupa, bahwa yang berhak menuntut bukan hanya buruh, tapi Perusahaan juga punya hak untuk melempar tuntutan pada buruh. Tuntutannya adalah kinerja yang optimal, skill yang meningkat. Dengan demikian Perusahaan akan bisa berjalan dengan baik dan maju.

Ada masalah dengan mesin mesin produksi tidak perlu harus memanggil tenaga asing, yang notabene adalah para tenaga dari Pabrik pembuat mesin itu. Tentu saja akan memakan ongkos lebih tinggi lagi. Menyiapkan hotel dan konsumsinya, antar jemput dari Hotel ke Pabrik. Dan mereka tidak mau tidur dihotel klas melati, rata rata menginapnya minimal minta dihotel bintang tiga. Biaya yang dikeluarkan dalam satu minggu bisa setara dengan gaji sepuluh orang karyawannya sebulan, bahkan bisa lebih.

Seandainya saja karyawannya mampu memperbaiki sendiri mesin mesin itu, akan bisa menekan biaya yang tidak perlu seperti itu. Tapi harus bagaimana lagi, itulah sebuah kenyataan pahit yang harus ditelan. Karyawannya hanya mampu menonton orang asing itu bekerja, paling banter cuma jadi pembantunya. Tenaga asing lebih sering bekerja seorang diri, begitu professional dalam mengerjakan pekerjaanya  Karyawannya ?, satu mesin bisa dikerubuti beberapa orang. Itupun selesainya lama.

Padahal setiap membeli mesin baru dia selalu mengirim karyawannya ke Pabrik pembuat mesin untuk berlatih dan dilatih disana. Tapi tetap saja, kejadian memanggil tenaga asing itu tetap terjadi. Biasanya tidak memakan waktu lama, mesin itu akan berjalan normal kembali setelah selesai diperbaiki tenaga asing tersebut. Dalam hati dia merasa malu, sekaligus trenyuh melihat ketidak mampuan karyawannya, yang juga adalah bangsanya. Tapi sisi lain dia juga tak habis pikir, kenapa mereka tidak sadar juga atas ketidak mampuannya. Yang ada adalah tuntutan minta setara dengan tenaga asing tersebut. Fenomena yang menggelikan sebenarnya, tapi juga menyakitkan.

Dia sedang tenggelam dengan persoalan persoalan yang saling menyusul dan harus segera ada solusinya saat dia dengar ketukan dan pintu dibuka.

“ Tidak pulang Pak…? “. Pesonalianya memegang daun pintu ruangannya yang setengah terbuka.

Dia mendongak, menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat duduknya. Terasa agak nyaman, dia melirik jam dinding, sudah jam enam sore lebih. Sambil meregangkan tubuhnya lagi, dia tersenyum.

“ Sebentar lagi….Bagaimana urusan hari ini ? “

“ Bisa diselesaikan Pak “.  Ada nada kelegaan disana. Tidak seperti tadi siang, nada suara yang terasa berat, keluhan.

Aku telah menambah pengangguran lagi di Indonesia, bisiknya dalam hati.

“ Silahkan pulang dulu, sebentar lagi juga aku selesai “

“ Baik Pak, selamat sore…eh..malam”. Pintu itu tertutup. Segera nuansa sunyi menyergapnya, suara mesinpun sudah tidak terdengar.

Saat dia menghidupkan mesin mobilnya, hari sudah gelap. Pelan pelan mobilnya merayap menuju pintu gerbang keluar. Satpam yang berjaga disana berjajar seperti biasa saat melihat  mobilnya menuju gerbang keluar, memberi hormat saat mobil melewati mereka. Seperti biasa pula dia menganggukan kepalanya.

Angin malam berhembus menerpanya dari celah kaca cendela yang dia buka sedikit. Untuk beberapa jam dia akan bebas. Esok, pergulatan seperti pagi dan siang tadi akan menyergapnya lagi. Ah…itulah hidup. Hidup memang harus dilayani.

( Surabaya akhir juni 2007 )

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 Januari 2010 in Cerita

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: