RSS

Transformasi

19 Jan

Dewasa ini cara pandang kepemimpinan dan organisasi manajemen semakin dinamis. Banyak pandangan – pandangan baru dalam segi kepemimpinan.

Kalau cara pandang lama. Pemimpin identik dengan orang yang berkuasa. Mempunyai otorita yang benar benar luar biasa. Lepas daripada orang tersebut mampu memimpin atau tidak, punya “isi” atau tidak, yang penting adalah kekuasaan. Sehingga banyak Pemimpin yang lebih cenderung pada lip service. Lebih banyak mendengar kata – kata manis dan menyenangkan, dari pada menggunakan logika dan pembuktian, juga pembelajaran terhadap diri sendiri. Sisi lain, orang yang mampu bekerja tapi minim dalam menggunakan kata- kata, akan lebih banyak menderita dan merugi. Sama sekali tidak akan pernah memetik hasil dari jeri payah pekerjaannya, karena personal tersebut tidak pernah terdengar dan terlihat. Sebaliknya juga, orang yang belum mampu tapi punya potensiuntuk mampu juga akan ter-abaikan. karena pemimpinnya tidak pernah “melihat”. Hanya mendengar !.

Pemimpin yang bagaimana yang akan diakui di dunia global ? Alternatipnya adalah Pemimpin Transformasional. Apa pemimpin transformasional ? Bagaimana sosok pemimpin transformasional ? Agar Perusahaan bisa membuat VISI kemudian men-transformasikan VISI perusahaan pada seluruh keluarga besar perusahaan tersebut melalui para Pemimpinnya.

Pemimpin transformasioanl dapat memberikan pengaruh kuat. Mampu menetapkan arah dan tujuan yang terus menerus. Membuat keputusan – keputusan yang efektip tentang perbaikan – perbaikan kwalitas. Semua kwalitas ! Serta pemberdayaan Karyawan, agar pelanggan Internal maupun External mendapatkan kepuasan dalam kinerja Perusahaan. Alangkah ideal dan hebatnya bukan ?!. Anda bisa bayangkan betapa akan pesatnya kemajuan Perusahaan tersebut, dengan para Pemimpin semacam itu. Anda tidak ingin seperti itu ?!. Kalau anda tidak ingin, artinya anda tidak termasuk manusia – manusia millennium baru yang selalu siap bertempur dan bersaing. Silahkan anda menjadi penonton. ( Dan yang lebih parah lagi anda akan menjadi seorang pengeluh ulung. Mengeluh dan selalu mengeluh).

Bagaimana karakter dari seorang Peminpin transformasinal ?

Menurut Vincent Gaspersz ( Konsep Vincent, Manajemen Bisnis Total).

  1. Memiliki VISI yang kuat

  2. Memiliki peta untuk tindakan ( map for action)

  3. Memiliki kerangka untuk VISI ( frame for the VISION)

  4. Memiliki kepercayaan diri ( self confidence )

  5. Berani mengambil resiko ( risk taking )

  6. Memiliki gaya pribadi inspirasional

  7. Memiliki kemampuan merangsang usaha – usaha individual

  8. Memiliki kemampuan meng-identifikasi manfaat – manfaat.

Satu Perusahaan di Amerika, yaitu General Motor. Yang telah men – transformasikan VISI Perusahaanya, yang digambarkan dalam strategi seperti gambar dibawah ini.

Pada gambar diatas, sangat terlihat sekali bahwa garda depan untuk kepuasan pelanggan adalah MANUSIA. Baru kemudian proses perbaikan kinerja. Disini terlihat sekali bahwa SDM adalah kebutuhan yang paling penting dari seluruh kebutuhan satu Perusahaan. Sehebat apapun sistim yang ada, tanpa didukung SDM yang benar – benar berkwalitas baik, maka Perusahaan juga tidak akan berjalan seperti yang diharapkan. Begitu juga sebaliknya, mempunyai SDM yang berkwalitas, dengan sistim yang amburadul. Maka perusahaan juga akan amburadul.

Bagaimana siklus diagram seperti diatas bisa berjalan, kalau transformasi dalam segala bidang tersendat. Tentunya Perusahaan tidak akan sampai pada target yang di-inginkan. VISI gagal !. SDM lemah !. Sistim rusak ! Lebih celaka lagi kalau tidak ada yang ditransformasikan. Pertanyaan yang mendasar adalah bagaimana sistim recruitmentnya ?!. Bagaimana sistim pemilihan para pemimpinnya ?!.

Muncul adanya cara memimpin yang akal –akalan. Manipulasi. Tidak tahu porsi – porsi tiap bagian. Melanggar aturan secara terselubung. Membebankan tanggung jawab pada seseorang, tanpa memperhitungkan struktur organiasasi bahwa sesungguhnya tugas itu secara struktur organisasi bukan tanggung jawab yang bersangkutan. Hanya karena orang tersebut mampu, maka ditimpahkan tanggung jawab orang lain dipundaknya. Tidak berusaha untuk meng-upgrade pihak yang seharusnya bertanggung jawab terhadap beban kerja tersebut. Muncul alasan flexibelitas. Flexibelitas adalah baik, tapi pada aplikasi yang salah, akan jadi kacau, tumpang tindih. Kata kerjasama akan sering diucapkan, tapi tanpa makna yang sesuai, hanya RETORIKA belaka. Alias ngomong aja. Untuk mencari celah – celah supaya dapat lolos dari persoalan.

Menjadi Pemimpin transformasional lebih banyak keuntungannya, salah satunya adalah bisa melakukan perbaikan yang terus – menerus tanpa henti terhadap diri sendiri maupun lingkungan departemen yang dipimpinnya ( continouse improvement for all). Bisa membangun diri lebih tinggi !. Lebih luas !. Lebih dalam !. ( Total to build own self more and more ). Menjadi orang yang dibutuhkan. Menjadi inspirasi bagi teamnya maupun diluar teamnya. Punya kesempatan yang lebih dari yang lain. Hidupnya akan lebih berwarna. Lolos dari lubang keluhan. Karena hari-harinya dipenuhi dengan ide-ide dan temuan-tmuan baru, yang terus mengalir deras dari pemikiran cemerlangnya

Hidup kita hanya satu, jangan jadi budak ketidak puasan dan keluhan.

Oleh: Didik Suwitohadi

11-08-2000

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Januari 2010 in Manajemen

 

Tag: , , ,

2 responses to “Transformasi

  1. blackenedgreen

    19 Januari 2010 at 13:53

    tulisan lama mas ? (11-08-2000)

    justru saya mau mengeluh disini (karena saya bukan pemimpin, apalagi yang transformasional).

    8 karakter pemimpin transformasional yang anda kutip diatas tidak ada cocok-cocoknya dengan coorporate culture di Indonesia. Salah satu contoh paling simpel baru saja terjadi, seorang menteri dari Jepang menunggu berjam-jam untuk bertemu dengan seorang menteri Indonesia. Akhirnya karena kesal, dia membatalkan pertemuan tersebut, dan ketika menteri kita ingin bertemu, si menteri Jepang akhirnya menyuruh staffnya untuk meladeni.

    Saya pernah berwirausaha dan gagal, dan kini merintis lagi. Mungkin ini hanya bragging dari orang gagal, tapi transformational leadership hanya berlaku pada komunitas dengan coorporate culture yang sehat (atau punya potensi untuk sehat.)

    Di lapangan… tidak terpikirkan.

    Cheers!

     
    • Didik Suwitohadi

      21 Januari 2010 at 05:43

      iya betul. Memang tidak ada yang ideal didunia ini. Realita yang ada akan selalu ada perbedaan. Tapi percayalah, kalau kita melakukan dengan benar maka hasilnya akan benar. Salam !. Dan Thanks sudah hadir di blog saya

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: