RSS

Terpesona

31 Jan

Bentuk tubuhnya jenjang tegak, kulit wajahnya tanpa bintik, khas laki-laki, rambutnya disisir rapi kebelakang. Berdahi lebar dengan kerut-kerut halus,ukiran kehidupan terpahat disana. Tak dipungkiri aura kematangan laki-laki memancar mempesona. Beberapa helai rambut pada sisi samping pelipisnya berwarna putih keperakan, Memperjelas kematangannya sebagai seorang pria. Tidak nampak tua tapi sebaliknya, begitu mempesona dan matang. Wajahnya mengganbarkan usia dibawah tiga puluhan, walau sebenarnya usianya sudah sekian belas tahun diatas itu.

Setiap berpapasan dengannya, hati Dila selalu berdesir. Ada magnit yang membuatnya untuk tidak membuang kesempatan meliriknya. Saat terjebak dengan sorot mata tajam itu, hati Dila bagaikan gulungan ombak setinggi 3 meter menghantam karang terjal.. Dila berusaha keras menyimpan gambaran hatinya rapat-rapat, agar tak terbaca oleh laki-laki yang telah membuat hatinya porak poranda akhir akhir ini.

Dia duduk dideretan meja sebelah kanannya, duduk menghadap berlawanan dengan posisinya, dia menghadap ke arah timur. Sedang Dila duduk menghadap kearah barat. Posisi mereka berhadapan, cuma beda meja. Sikapnya tenang, tanpa memperdulikan sekitarnya, asik dengan piring makannya yang sudah habis separuh. Sementara teman sekitarnya asik ngobrol sambil mulutnya penuh makanan. Dila selalu merasa risik mendekati jijik, melihat orang makan sambil ngomong, mulutnya kelihatan menjijikan dengan makanan berlepotan disana, iihh….!

Sambil menikmati pecel makan siangnya, Dila melirih arah kanan depannya. Hingga satu saat sendok makannya mampir ke hidungnya. Kontan dia tersedak dang berbangkis, pecah tawa sekitarnya. Air putih satu gelas menggolontor ruang tenggorokannya. Sementara teman sebelahnya menepuk-nepuk pelan punggungnya sambil terpingkal.

Mata Dila berair, terasa sesuatu menusuk dadanya, sakit banget. Dila terbatuk batuk….

“ Makanya kalau makan berdoa dulu non, sampai sendok nyasar ke hidung, itu gimana ceritanya? “.

Dila tak bisa berkomentar, dia masih terbatuk batuk, mukanya merah. Sementara tawa masih berderai disekitarnya. Benar – benar sial banget ! Umpatnya dalam hati. Disana, yang telah membuat hidungnya disodok oleh sendok makannya, cuma menoleh sebentar kemudian meneruskan makannya lagi. Dila jadi malu diri. Untung makan siangnya hanya tinggal 3 sendok. Dila cepat bangkit dan bergegas….

“ Hei mau kemana ? “. Teriak teman sebelahnya.

“ Kekamar kecil…”. Asal saja jawabnya.

Peristiwa di ruang makan kemarin masih jadi gunjingan pagi ini. Setiap ditanya kenapa kok bisa sendok menyuapi hidungnya, Dila hanya menjawab nggak tahu. Dia takut, takut sekali kalau isi hatinya terbaca oleh teman-temannya. Dia tidak mau itu terjadi. Bisa runyam dan tidak nyaman lagi hari-harinya. Biarkan hatiku tersimpan hanya untuk diriku sendiri.

Sementara gelegar ombak samudra itu terus menerus menghempaskannya. Apalagi bila bertemu dengannya, gelegar ombak itu semakin menggila, membuatnya repot setengah mati untuk membenahi dirinya agar kelihatan biasa saja sikapnya. Oh Tuhan betapa sulit dan tersiksanya. Kenapa kau anugrahkan cinta pada manusia, kalau hanya membuat hatiku tidak karuan. Kenapa tidak kau bisikan padanya bahwa ada aku disini yang setengah mati tak bisa tenang jika melihat sosoknya. Kenapa kita harus lahir di budaya timur, yang selalu adat dijadikan patokan dalam segala pergaulan laki dan perempuan. Kenapa tidak kau samakan saja budaya dunia ini seperti budaya barat yang terbuka dan realistis. Masih banyak lagi kenapa yang ia tujukan pada Tuhan.

Hati Dila komat-kamit menghujat ketidak samaan yang telah ada dibumi ini. Ketidak samaan yang membuatnya jadi kebingungan. Ketidak samaan yang membuatnya sering sulit tidur, bila siang hari bejumpa dengannya. Kalau saja manusia dianugerahi bisa bercakap – berkomunikasi satu sama lain dengan hati, alangkah senangnya. Malam ini juga dia akan melakukan percakapan telepati dengan orang yang telah membuatnya pusing tujuh keliling dihajar rasa cinta yang tak mau diajak kompromi barang sebentar untuk sekedar menentramkan hati.

Bukankah telepati sudah digantikan dengan cara percakapan jarak jauh ? Alias dengan telepon. Harusnya aku berterimakasih dengan mbah Graham bels, ucapnya dalam hati.Tapi aku tidak punya nomor teleponnya. Tanya teman ? Itulah masalahnya. Dila tidak mau rasa hatinya diketahui oleh siapapun, malu ah….!

Berhari-hari Dila bergelut dengan gelombang perasaannya. Dia heran dengan dirinya sendiri, kenapa bisa sampai begini ? Cinta begitu dasyat menyedot segala tenaga dan perasaan yang ada. Tuhan…betapa agungnya cinta. Perasaan kau ciptakan begitu indah sekaligus menyakitkan. Membuat gelisa siapapun yang sedang dihuni cinta. Tidak satupun manusia kuasa menolak rasa cinta. Cinta yang kau ciptakan bisa menyambar siapa saja tanpa pandang strata. Betapa luas daya jelajah cinta. Lautan yang dalampun tidak mampu mengukur kedalamana cinta yang kau anugrahkan Dila tak bisa menghindar. Bukan tak bisa menghindar, lebih tepatnya tak mampu menghindar dari CINTA.

Deretan rak-rak buku gramedia dia jelajahi, dia mau cari buku yang menghebokan, yang ditulis Geoge Junus Aditjondro. Dari ujung keujung rak dia belum temukan buku itu.

Sedang asik-asiknya bongkar bongkar rak buku, penciumannya membaui sesuatu yang lain. Baunya begitu segar dan membuatnya ingin dekat dengan bau itu, arahnya dari sisi kananya. Saat ia menoleh…..

Buuk…adubiyung…..!!!! Jantungnya terasa berhenti berdetak, tapi kemudian gelegar ombak samudra pantai selatan memecah karang-karang hatinya. Dia mematung. Sudah tak bisa lagi mengelak. Dia menatap benda yang berdiri disisinya itu. Dila sudah tidak tahu lagi warna kulit wajahnya saat itu seperti apa, yang jelas ombak samudra bergulung-gulung dengan ganasnya. Dila tergulung didalamnya, tak mampu lagi bernafas.

“ Sedang cari apa…?.

Suara itu begitu membuatnya bertambah mabuk. Dengan terbata…..

“ Anu…bukunya Adi tjondro…..”

“O…itu. Sudah habis.”. Dia melihat sekeliling, kemudian

“ Kamu sendirian ?”.

Lidah Dila tiba-tiba kaku, berkata-kata, dia hanya mengangguk. Sementara sebuah buku yang sejak tadi digenggamannya tanpa sadar ter-remas-remas olehnya.

“ Eh…bukunya nanti rusak tu. Bisa didenda yang jaga toko nanti kamu “.

Reflek, tanpa sadar Dila melempar buku itu ke raknya. Laki-laki itu tersenyum. Dila salah tingkah.

Duh Tuhan kenapa kau hadapkan aku dengan situasi seperti ini, keluhnya dalam hati.

“ Gimana kalau kita ngobrol di cafe ice cream depan itu…?”. Ajaknya, sambil menunjuk cafe ice cream didepan gramedia, disebelah kanan pintu masuk. Dila hanya mampu mengangguk.

Sampai hampir jam 12 malam mata Dila tak bisa terpejam, wajahnya sumringah, tersenyum sendirian diatas ranjangnya sambil memeluk boneka gajah kesayangannya. Betapa peristiwa di toko buku Gramedia tadi sore adalah peristiwa penyiksaan yang berujung bahagia.

Gelombang ombak pantai selatan mulai mereda berganti mekarnya bunga-bunga di pantai cinta. Ah… betapa sore yang tak mungkin dapat dia lupakan, menikmati ice cream dengan pria yang didambakan. Tuhan… ternyata kau benar-benar maha tahu. Kau berikan aku kekuatan untuk menundukan gelegar ombak pantai selatan yang begitu dasyat memporak porandakan hari hariku. Kini ombak itu bisa aku selancari bersama dia. Dila tak mampu lagi menunggu hari senen. Besok masih hari minggu. Rasanya ingin memutar bumi ini menjandi satu jam, agar dia bisa menemui cintanya segera.

Dalam mimpinya dia bertemu dengan malaikat bersayap putih mengkilat, turun menghapirinya. Meraih pinggang, dan Dila menjerit manja saat kakinya mulai tidak menjejak tanah.

Randaka

29-01-2010

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 31 Januari 2010 in Cerita

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: