RSS

Gurita Cikeas dan adegan Pansus Century

04 Feb

Buku Gurita Cikeas, George Junus Aditjondro, wajah lama yang suka sekali memelototi kondisi korupsi di Indonesia, mulai jaman orba sampai jamannya SBY saat ini. Matanya yang kelihatan tenang tersenyum, tapi tiba tiba saja bisa meluapkan emosi tak terkontrol. Lihat saja peristiwa pemukulan dengan buku yang dipegangnya terhadap Ramadan Pohan. Ternyata seorang George Junus Aditjondro yang terkenal kritis itu tak beda dengan orang intelek Indonesia lainnya yang masih saja belum dewasa banget. Walau telah menjadi dosen di university Australia, ternyata juga masih tak tahan dengan kritik atau kata-kata orang Indonesia.


Saya jadi kecewa dengan jawaban-jawaban George saat tanya jawab di TV one. Saya berharap dia bisa memberikan fakta-fakta yang akurat dan meyakinkan kita, orang Indonesia. Ternyata jawabannya juga sama saja dengan para cendekiawan kita yang sering diwawancarai di TV, ya gitu-gitu aja. Cuma unjuk ‘KEPINTARAN’ bukan kualiatas atau kompetensi yang membuat orang berdecak.

Lihatlah parodi di DPR, para anggota pansus bukannya menggali informasi, tapi malah seperti polisi yang sedang menyidik maling jemuran. Lebih gila lagi, mereka saling ribut dan saling serang, saling umpat diantara mereka sendiri. Seperti yang dicontohkan Ruhut Sitompul dalam rapat pansus, kata ‘BANGSAT’ dengan enteng saja diucapkan oleh seorang Ruhut sitompul yang kondang itu. Saat ditanya wartawan jawabnya enteng saja “ Hidup saya mengalir begitu saja dan bla….bla…bla ( saya lupa lanjutannya ) “.Saya yakin, masarakat pada geli, mengumpat dan ada yang tertawa terbahak. Orang-orang yang diharapkan bisa mewakili masarakat malah membuat adegan seperti ketoprak, yang kelucuannya bisa mengalahkan acara Srimulat atau opera van java.

Masarakatpun bisa melihat dengan sangat jelas, anggota DPR yang banyak bergelar itu dalam rapat pansus, sungguh sangat kalah wibawa dengan orang-orang pemerintahan. Lebih gila lagi seperti yang saya sebut diatas, mereka sangat kelihatan tidak solid. Pasalnya mereka bukanlah satu tim yang hebat yang memperjuangkan hak rakyat, walaupun dari mulut mereka sering mengatakan memperjuangkan hak rakyat. Rakyat yang mana ?, jawabannya gampang sekali, rakyat yang pro partainya.

Orang-orang pemerintahan begitu lugas begitu tenang dan sangat kelihatan professional. Sedang anggota pansus, sangat kelihatan begitu ngoyonya untuk menunjukan kekuatannya. Hasilnya menjadi bahan cercaan para pengamat. Dan pengamat itu bukan yang tampil di televisi saja loh, tapi para tukang becak, ibu-ibu rumah tangga, para karyawan, para pkl, para sopir , mahasiswa, pengusaha serta cukong-cukong yang hobinya menyogok itu. Betapa para cukong itu tertawa terpingkal-pingkal melihat adegan di rapat pansus tersebut. Harus diakui, mereka para cukong memegang kartu trup atas masalah-masalah korupsi.

Ternyata kita memang harus lebih banyak belajar menjadi dewasa. Gelar professor atau apapun tidak selalu mewakili seseorang menjadi ber – KUALITAS dan DEWASA. Maka tidak heran kalau kita masih sangat mudah diakali oleh para cukong.

Oleh. Didik Suwitohadi
1-2-2010
Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 4 Februari 2010 in Essei

 

Tag: , , , ,

One response to “Gurita Cikeas dan adegan Pansus Century

  1. muhammad zakariah

    10 Februari 2010 at 16:54

    ya gitulah indonesia.. pusing gw lihatnya.. pejabatnya pada aneh2 gak tau ngurusin kepentingan rakyat atw kpentingan partai maunpun kantong pribadi.. gw sudah skeptis dgn bangsa ini.. salam gan…

    http://interisty.wordpress.com/2010/02/08/demokrasi-yg-kelewat-batas/

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: