RSS

Jadilah diri sendiri, agar Anda tidak “ Lelah “.

09 Feb

Perasaan iri dan cemburu terhadap keberuntungan orang lain adalah sesuatu yang manusiawi. Tapi kalau sudah sampai pada puncak ber-issue – gossip, kasak kusuk, fitna, nah ini yang sudah lewat dari garis batas kewajaran.

Anda tentu sudah tidak aneh lagi kalau ditempat kerja ada perkataan – perkataan seperti berikut, “ Ooo dia dekat dengan Bapak Anu, makanya kariernya cepet naik.” Atau “ Ah dia sih suka menjilat “. Ada yang lain lagi “ Disuruh apa aja dia mau, makanya cepet naik gaji. Kalau aku sih pantang di suruh suruh”. Masih banyak sekali kata kata sejenis tersebut yang sering kita dengar di tempat kerja.

Begitulah dinamika kehidupan diperkantoran atau tempat kerja.  Ketika ada teman sekerja dapat promosi, hati memberontak. Kenapa bukan saya yang masuk promosi ? Sebagai Karyawan, merasa sudah berlaku dan berbuat seperti rekan yang dipromosikan. Apa yang beda ?. Puncaknya kekesalan adalah bisik bisik seperti diatas. Atau lebih parah lagi menjadi patah arang.  Menjadi penyakit lingkungan alias provokator dan biang mencibir serta sinis.

Perasaan diperlakukan tidak adil di tempat kerja sering menyergap hati. Apalagi bagi yang merasa sudah lama bekerja, rasa jenuh dan bosan menggerogoti hati setiap hari. Dari tahun ke tahun terasa hanya itu itu saja. Merasa tidak ada perubahan yang berarti. Sedang teman atau orang lain yang katakanlah mempunyai masa kerja relatip sama, sudah pada kelihatan mapan. Menjadi orang yang punya posisi.

Kita sering tidak pernah menyadari, bahwa perjalanan karier dalam satu pekerjaan, sebenarnya ditentukan oleh diri kita sendiri. Bukan semata mata kebijakan Perusahaan. Perusahaan hanya meneropong, melihat dan menilai. Menurut Stephen R Covey, kalau menginginkan sesuatu, ya harus rajin  “menabung” . Pada saatnya akan sangat berguna kelak. Kapan…? Hal ini tidak se-mata mata bisa dihitung dengan waktu. Semua tergantung dari situasi, kondisi serta kesempatan yang ada.  Perkembangan karier tidak bisa dilihat hanya dari tempat kita bekerja saat itu. Karyawan yang handal akan selalu siap, dan menyiapkan diri untuk sebuah kesempatan yang akan lewat  dihadapannya. Baik dilingkup Perusahaan dimana dia bekerja, maupun kesempatan diluar Perusahaan. Tapi kalau tidak punya “tabungan”, jangan harap bisa ikut berlomba meraih  kesempatan yang ada tersebut. Sebab, tidak punya “modal “. Kalaupun punya, tidak mencukupi untuk menutup persaratan yang diminta, karena tidak pernah “menabung”.

Orang yang bagaimana yang diinginkan oleh Perusahaan ?

Orang berkepribadian, yang mempunyai jati diri tersendiri ( kalau tidak boleh disebut sebuah kelebihan ). Unik, berkarakter. Mempunyai cara atau gaya berpikir yang mengagumkan. Tapi tidak rumit. Tidak teksbook thinking, tapi aplikatif (menyesuaikan antara teori dengan kondisi yang ada). Ide idenya murni, tidak bajakan. Attitude ( sikap ) yang tidak meragukan, kompetensi meyakinkan. Fleksibel, bisa kerja sama dengan tim maupun perorangan. Tapi juga tetap bisa teguh pada prinsip. Darisanalah  potensi  seorang SDM profesional akan muncul. Profesional bukan hanya sekedar kualitas kerja, tapi juga profesional dalam hal sikap, sebagai orang yang berlabel profesional.

Era dunia kerja sekarang mengarah pada obyektivitas kerja atau kinerja. Hubungan dekat memang bisa menolong karier. Tapi seberapa lama harus bersembunyi dibalik sebuah kedekatan. Toh pada akhirnya realita dan kebenaran yang akan membuktikan bobot sebuah kinerja. Perlu dipikirkan juga, pejabat yang kita dekati tak akan selamanya memegang kekuasaan. Kalau beliaunya pindah atau lengser, apa yang akan kita lakukan. Kita akan limbung bahkan bisa terjepit. Karena sandaran dan pegangan sudah tak ada. Kebiasaan lama akan kambuh, kita akan coba “dekati” atasan baru dengan cara lama. Tetapi apakah atasan baru bersifat seperti pejabat lama. Kalau dia berpikiran obyektiv profesional, maka siap siap saja menerima akibatnya. Karier kita akan segera tamat. Tanpa kita sadari kita sudah membuka borok perilaku jelek kita sendiri. Ibarat sebuah buku,  bisa terbaca dengan sangat jelas apa yang tertulis ditiap halaman pribadi kita.

Untuk menghadapi sesuatu yang baru dibutuhkan pemikiran yang baru pula. Kreatif dan proaktip adalah sosok Karyawan yang sangat dibutuhkan  Perusahaan. Pada umumnya orang orang semacam tersebut bisa mengikuti irama kerja Perusahaan, yang kemungkinan besar akan selalu ber-ubah ubah sesuai dengan kondisi makro.

Kepribadian yang bagaimana yang diinginkan perusahaan ?

Kepribadian dalam pandangan Perusahaan pada umumnya, adalah bagaimana seorang karyawan dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan tetap pada aturan Perusahaan. Kualitas Karyawan adalah merupakan perwujudan perfomance dari Perusahaan itu. Citra Perusahaan ada pada diri Karyawannya.

Tidak sering bermasalah dengan Perusahaan. Bagaimanapun juga Perusahaan tidak suka bermasalah dengan Karyawannya. Hal tersebut akan menyedot energi Perusahaan. Energi yang seharusnya untuk mencapai target Perusahaan, jadi terganggu hanya untuk mengurusi  persoalan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Attitude atau perilaku adalah menjadi satu issue yang patut diperhatikan. Kepatuhan adalah sebuah sarat yang dituntut, tetapi kalau memang pada saatnya ada yang harus dijawab dengan kata “ tidak “, maka harus sanggup mengatakan apa adanya sesuai dengan keadaan. Prinsip kebenaran harus dinomor satukan. Tapi juga tidak berkesan melawan, bisa berkompromi dengan keadaan.

Orang dengan kepribadian dan karakter yang kuat, tidak akan kawatir mengatakan “tidak” dihadapan atasanya. Dengan catatatan sudah siap dengan argumen dan data. Tapi juga tidak menimbulkan kesan sok. Banyak atasan yang tidak mau kelihatan bodoh dihadapan anak buahnya, walau sesungguhnya dia sebenarnya tidak tahu. Tugas kita sebagai bawahan membuat sedemikan rupa, agar hal tersebut tidak terjadi.

Seorang karyawan diharapkan tetap bisa berkarya dalam koridor tugas dan aturan Perusahaan, tidak merasa semua aturan tersebut sebagai pembatas. Tidak gampang mengeluh. Bisa menyesuaikan diri ( apllicable ) dengan keadaan Perusahaan. Menerima segala kekurangan Perusahaan. Bukan idealnya menurut kita, tapi idealnya menurut Perusahaan dengan segala kondisinya  saat itu.  Yang lebih penting lagi adalah, menjadi orang yang bisa berkembang, dan bisa dikembangkan. Dengan demikian akan mampu dan bisa ditempatkan pada lini manapun.

Menghindari pikiran membandingkan pekerjaan dan kemampuan diri dengan orang lain, itu akan jauh membuat hati tenang. Menyadari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, akan memacu keinginan untuk terus memperbaiki diri dan memicu semangat belajar demi perbaikan kualitas diri. Daripada waktu hanya dipergunakan mencari cari kekurangan orang lain, lebih baik energi negatip itu dirubah menjadi energi positip. Cemburu positip akan mendorong seseorang untuk lebih berusaha lagi memperbaiki diri. Dengan demikian tidak akan “lelah” karena perilaku pikiran yang negatip. Menjadi orang yang tahan dengan segala perubahan dan suasana adalah pilihan dari seorang yang mau maju. Orang yang sukses telah “ membangun kebiasaan untuk melakukan hal hal yang tidak disukai oleh orang orang yang gagal. “ ( the 8 th habit, Stephen R. Covey )

Tanpa kita sadari “ tabungan “ kita berlimpah, berlipat dengan bunganya. Artinya kita tidak akan kekurangan energi untuk melakukan sebuah perjuangan menuju keberhasilan yang kita inginkan. Dengan demikian, Perusahaan merasa telah memiliki sebuah asset yang berharga. Dan itu adalah keuntungan bagi Anda sebagai Karyawan.

Kapan rasa LELAH itu muncul.

Ketika ada teman yang naik jabatan, yang muncul adalah rasa curiga. Ketika harapan promosi tidak kesampaian yang datang adalah sakit hati dan nelangsa (jawa), efeknya kinerja menurun. Ketika ada rekan kerja dapat pujian, yang timbul adalah rasa benci. Dan lain sebagainya yang sejenis dengan perasaan perasaan tersebut diatas. Sebuah pemicu yang membuat hati terbakar,  kondisi pikiran berantakan. Sekarang coba kita balik, bisa tidak energi pemicu negatip tadi dirubah menjadi sebuah energi pemicu positip?. Justru dengan melihat semua hal tersebut diatas, kita bisa menganggap hal tersebut adalah sebuah cambuk, untuk lebih bersemangat mencapai karier, maka    ” kelelahan ”  itu tidak akan menyelimuti diri. Yang muncul adalah energi positip yang menimbulkan dorongan besar untuk  melakukan sesuatu yang lebih dan lebih lagi.

Semua rasa sakit yang kita rasakan, sebenarnya bukan ulah orang lain, tapi hati dan pikiran kita yang memunculkannya. Ada sebagaian Perusahaan yang sangat konsen dengan ATTITUDE ( sikap, tabiat, perilaku ) ketika menerima Karyawan baru. Kata para pakar, EQ akan lebih membuat seorang Karyawan mencapai keberhasilan daripada sekedar bermodalkan IQ tinggi.    EQ yang baik akan membantu Perusahaan dalam mencapai target – target yang dicanangkan

Ketika dihadapkan pada posisi sulit dalam pekerjaan, yang sering muncul  adalah keluhan. Merasa pekerjaan semakin banyak, serasa tiada akhir. Menganggap Perusahaan tidak bisa menerima ide – ide yang disampaikan. Akibatnya jadi merasa terbebani, merasa tidak mendapatkan apa – apa dari apa yang telah dilakukannya. Stres, terdepresi, merasa sia sia.  Maka KELELAHAN itu muncul. Kelelahan mental, batin, pikiran, yang berimbas pada kelelahan fisik. Banyak para pemikir SDM mengatakan, hal tersebut terjadi karena faktor kecerdasan emosi masih rendah (EQ), sehingga hati dan pikiran  muda diguncang. Dengan kata lain, tidak tahan menerima hantaman permasalahan di sekeliling. Sedang permasalahan itu akan selalu datang dan terus datang.

Dijaman modern ini, banyak orang mengeluh, tapi tidak jelas apa permasalahannya. Resah tanpa alasan. Jenuh dan sejenisnya. Semuanya adalah bersumber dari pikiran. Merasa ter-abaikan. Merasa tidak ada gunanya. Merasa tidak dihargai. Tidak diperhatikan. Merasa selalu disalahkan. Sesungguhnya, bisa jadi pekerjaan yang dilakukan memang selalu ada yang salah, dan itu tidak disadari. Tidak ada unsur menerima, tidak lapang dada,  hati dan pikiran. Ujungnya tumbuh prasangka. Kalau sudah begitu, sebenarnya kita telah menabur racun pada hati kita sendiri. Seterusnya akan menggerogoti diri sendiri.

Manusia sering meminta lebih. Lebih besar, lebih banyak dan lebih yang lainnya. Karena merasa telah memberikan jauh lebih banyak. Sebuah persepsi yang sering timbul dari hampir seluruh pekerja. Sedang Perusahaan, melihat hasil ( result ). Perusahaan punya pembanding yang lebih lengkap dan komplek. Kita hanya melihat dari sudut pandang dari diri kita saja. Kita tidak sadar, bahwa banyak hal yang tidak kita ketahui diluar dari sudut pandang kita. Akibatnya yang muncul adalah ketidakpuasaan. Kembali, hati yang kena getahnya.

Ingin menjangkau sesuatu yang tinggi dan hebat, karena terpesona dengan  kesuksesan dan kemapanan orang lain, tanpa mau mengukur kemampuan dan kekurangan diri, akan berimbas pada niat pencapaian sesuatu dengan cara yang tidak terpuji. Melakukan dengan cara instan, jalan pintas. Sesuatu yang mustahil.  Keberhasilan dicapai melalui proses dan pengorbanan. Tidak ada satu sukses tanpa melalui perjalanan usaha dan pengorbanan, serta kesungguhan  dan ketekunan untuk meraihnya.

Katakanlah proses sukses instan itu terjadi, ada dua kemungkinan. Pertama, kemungkinannya sedang luck,  nasib sedang baik. Kedua, saya yakin cara yang ke dua adalah cara yang tidak positip. Orang bilang, cara main sikut, tendang lalu injak. Mengandalkan hubungan dekat. Ketika berhasil dengan cara seperti itu, akibatnya adalah akan duduk dikursi yang sangat tidak nyaman. Akan selalu pasang wajah curiga, berikut  pagar pengaman. Hidup jadi tidak tenang, berselimut was – was. Karena ketakutan yang diciptakan sendiri..

. Dalam situasi dan kondisi seperti itu, kelelahan mental, pikiran, batin akan terus muncul. Kita telah SAKIT. Yang ditimbulkan oleh pikiran jahat kita sendiri. Sering kaget, ketika Perusahaan melakukan kebijakan baru. Hal hal seperti itu pasti merusak konsentrasi kita dalam menjalankan pekerjaan. Banyak energi yang terbuang. Pada akhirnya bukan pekerjaan yang kita pikirkan, tapi bagaimana bisa meyelematkan kedudukan dan diri sendiri.

Banyak uang, jabatan tinggi, apalah gunanya kalau hidup dalam kondisi penuh kecurigaan dan kecemasan dan ketidak tentraman. Tidak bisa menikmati hidup seperti layaknya kehidupan orang normal, tidak LELAH. Tidak akan bisa menikmati hidup seperti orang yang SEHAT, selama masih menyimpan penyakit tersebut. Penyakit psikologis. Obatnya ada pada diri  sendiri. ( Ada yang lebih gila lagi, lari dan mempercayakan segala persoalan tersebut pada paranormal )

Bagaimana menghindari LELAH tersebut…?

Jadilah diri sendiri dengan segala kemampuan yang kita miliki. Berusaha belajar instropeksi. Asah kemampuan. Menerima segala sesuatu apa adanya. Bersukur ! Bisa menerima keadaan yang ada. Membuang kecurigaan kecurigaan. Jangan biarkan diri kita disetir oleh keadaan lingkungan. Menerima kekurangan diri sebagai cambuk untuk membuat kita lebih giat lagi. Hilangkan buruk sangka, baik pada teman sekerja maupun pada Perusahaan. Mampu menerima kelebihan dan keberhasilan rekan kerja. Belajar dan berdiskusi dengannya, itu akan lebih bermanfaat daripada mencari kelemahannya.

Tidak memelihara rasa iri dan cemburu negatip. Merubah rasa iri dan cemburu negatip menjadi rasa positip, akan menjadi sebuah energi positip yang luar biasa. Dengan demikian  akan bisa melihat sisi perjuangan seseorang dalam meraih sukses, daripada sekedar mencemburui dan sirik atas keberhasilannya.

Tidak hanya melihat apa yang dia terima saat ini. Tapi  coba lihat sejarah perjalanan dia dalam meraih kemapanan. Hal tersebut akan membuat  kita lebih bisa merenung.  Sebuah perjalanan panjang telah dilampaui. Perjuangan dan pengorbanan telah dilakukan. Sampai tiba pada titik sukses seperti saat ini.

Dengan kata lain, lihatlah proses perjalanan menuju sukses, lalu mempelajari proses tersebut. Maka akan tiba giliran kita menuai sukses yang kita inginkan. Dengan proses yang benar, akan mendapatkan sesuatu dengan benar. Percayalah, Tuhan akan memberikan apa yang kita inginkan bila saatnya tiba.

Didik Suwitohadi
01-11-2006
Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2010 in Manajemen

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: