RSS

Kesenjangan komunikasi antara Perusahaan dan Pekerja

17 Feb

Sesuatu yang hampir selalu memicu kerusuhan di sebuah Perusahaan diantaranya adalah ketidak puasan para Pekerja terhadap langkah, keputusan – kebijakan kebijakan yang diambil atau dikeluarkan oleh Perusahaan dalam menjalankan roda usahanya.

Mungkin, Perusahaan sudah menjelaskan – menerangkan se-detail detailnya akan maksud dan tujuan langkah langkah yang diambil Perusahaan. Bahkan mungkin juga sudah saling disetujui hitam diatas putih, antara Pekerja dan Perusahaan. Perundingan dianggap beres..

Tetapi begitu semua keputusan Perusahaan tersebut dijalankan, timbul gejolak. Kok bisa begitu…???. Satu keanehan, tapi nyata terjadi. Membuat bingung semua pihak. Kemudian aparat didatangkan, untuk mengatasi gejolak atau demo tersebut. Tetapi umumnya suasana tidak bertambah dingin, malah bisa jadi merebah kemana mana. Tuntutannyapun berubah menjadi ber-macam macam. Mana ujung mana pangkal jadi tidak jelas lagi. Kesempatan macam itulah yang dipakai oleh pihak luar untuk masuk, memperkeruh suasana. Dan siapa yang menjadi korban…??? Tetap saja PEKERJA…!!! Dan PERUSAHAAN

Pekerja kita masih hanya berorientasi materi.

Sepanjang pengalaman saya sebagai pekerja pabrik, jarang sekali rekan kerja memikirkan dirinya untuk bisa lebih berkualitas. Banyak dari mereka hanya mengandalkan lamanya pengalaman kerja, tapi lupa bahwa tehnologi dan ilmu pengetahuan selalu bergerak maju dan berubah. Kalau dulu mesin mesin hanya mengandalkan kemampuan mekanis, sedang electrik hanya merupakan pelengkap dalan pengoperasian mesin. Sekarang terbalik, sekarang sistim electrik yang mengendalikan mekanis. Dengan munculnya PLC ( Programable Logic Control ), maka kesalahan dari operasional mesin bisa direcord ( dicatat / direkam ) dan dikontrol oleh PLC, untuk kemudian ditampilkan dalam layar monitor pada mesin tersebut.

Banyak dari rekan electric mati langkah dengan kemajuan tersebut, karena mereka tidak mau mengupgrade pengetahuannya, maka perusahaan dengan sangat terpaksa mencari karyawan baru dengan kemampuan baru sesuai dengan tuntutan tehnologi mesin. Saat – saat seperti inilah yang ditakutkan karyawan lama, maka karyawan baru akan dimusuhi.

Oke kita kembali pada pokok permasalahan. Organisasi perburuhan karyawan di setiap perusahaan pasti ada. Tapi kecenderungan perusahaan memilih  wakil-wakil karyawan sedemikian rupa agar bisa dengan mudah dikendalikan. Perusahaan sepertinya alergi dengan perwakilan organisasi karyawan yang kritis. Masalahnya, seperti yang sudah-sudah, tuntutannya selalu keluar dari normatipnya, berlagak bagai pahlawan. Banyak karyawan menuntut agar perusahaan sepenuhnya menanggung kehidupannya dan keluarganya, hal tersebut adalah tidak mungkin.  Alasan yang sering kita dengar adalah ; “ Kitakan bekerja untuk perusahaan, kita sudah berjasa pada perusahaan, maka seharusnya perusahaan menanggung segala keperluan kita “.

Disisi lain banyak perusahaan yang hanya mengambil untung dari karyawannya, tanpa imbalan yang memadahi. Celakanya banyak karyawan tidak punya keberanian unrtuk hengkang dari tempatnya bekerja. Begitu tengantungnya mereka terhadap pekerjaan yang sedang dipegangnya saat itu. Kalau mungkin pekerjaan itu akan dibawa kemana saja dia pergi, asal tidak diambil perusahaan lagi untuk diberikan pada orang lain. Dengan sikap dan cara berpikir seperti itu, dengan mudahnya manajemen perusahaan memainkan apa yang dia inginkan. Karena perusahaan punya banyak pilihan, sedang karyawan tidak, Hal itu terjadi karena kebodohan karyawan itu sendiri, yang tidak mau belajar agar posisinya sebanding dengan manajemen perusahaan. Agar dia menjadi orang yang dibutuhkan, menjadi asset perusahaan, bukan menjadi beban perusahaan. Yang lebih membuat hati saya miris, seorang menuntut jabatan di perusahaan. Kalau tidak kesampaian, dia akan berlagak vocal disetiap pertemuan. Pada saat perusahaan memberi yang dia inginkan, tiba-tiba saja si vokalis tak terdengar lagi suaranya. Jalannyapun berubah, dari yang dulu menengadahkan kepala sekarang lebih banyak menunduk. Sungguh menyedihkan !

Karyawan yang tidak mau belajar dan membuat dirinya bertambah pintar akan menjadi beban berat bagi perusahaan. Semakin lama gaji karyawan semakin besar sedang kinerjanya tidak meningkat, inilah yang akan menjadi dilema bagi perusahaan. Pada akhirnya komunikasipun tidak akan efektip, karena cara berpikir karyawan tersebut tidak berubah, tidak berubah menjadi professional. Karyawan masih berpikir ala BURUH. Inilah yang banyak terjadi pada karyawan kita, mereka hanya cukup puas dengan apa yang mereka dapatkan, sampai pada akhirnya mereka tersadar, bahwa dunia sekelilingnya sudah berubah pesat. Sedang dia tetap seperti itu. Mulailah tuntutan mengikuti gaya hidup muncul, disinilah muncul tuntutan-tuntutan tidak normatip, bahkan cenderung tidak masuk akal. Perjanjian kerja yang tiap tahun sudah disetujui, bisa tidak diakui lagi.

Memang bukan kuwajiban perusahaan untuk membuat karyawannya menjadi orang yang professional, tapi kalau perusahaan itu merekrut anggota manajemen yang professional dan mempunyai skill baik, maka kesenjangan komunikasipun akan semakin tidak terjadi, sebab pimpinannya mampu mendidik dan mengajari, memberi contohg dan membawa bawaannya untuk sadar akan ilmu pengetahuan dan harga diri. Dia terjun langsung memberi contoh cara kerja yang baik dan benar.

Susahnya kalau dikalangan manajemen banyak dihuni oleh orang-orang vokalis yang seperti telah saya ceritakan diatas. Orientasi manajer semacam itu tidak mungkin mengajari bawahannya menjadi pandai. Karena dia sendiri sebenarnya tidak pandai. Dia hanya menginginkan status buat dirinya sendiri. Satu hal yang masih saya lihat selama saya bekerja di beberapa perusahaan, jiwa feodal itu masih kental. Jiwa entepreneurnya hampir tidak ada. Makanya, masih banyak karywan kita yang hanya mengejar status dan materi tanpa memikirkan kualitas dirinya. Bargaining power ( daya tawar menawar dengan perusahaan ) mereka menjadi rendah.

Didik Suwitohadi
09-2-2010
Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Februari 2010 in Manajemen

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: