RSS

Makanan bag.4

22 Mar

oleh. Dr. M. Quraish Shihab, M.A

Pengharaman segala yang memabukkan dilakukan Al-Quran secara bertahap; bermula di Makkah dari isyarat yang diberikannya pada ayat di atas, disusul dengan pernyataan tentang adanya sisi baik dan buruk pada perjudian dan khamr yang turun di Madinah ( QS Al-Baqarah [2]: 219 ):

Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi, jawablah bahwa dalam keduanya ada dosa yang besar dan manfaat untuk manusia. Dosanya lebih besar dan manfaatnya. Disusul dengan larangan tegas mendekati shalat bila dalam keadaan mabuk sehingga kamu menyadari apa yang kamu ucapkan ( QS Al-Nisa’ [4]: 43 ), dan diakhiri dengan pernyataan tegas bahwa :

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya ( meminum ) khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan rijs ( keji ) termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung (QS Al-Ma-idah [5]: 90).

Khamr terambil dari kata khamara yang menurut pengertian kebahasaan adalah ” menutup “. Karena itu, makanan dan minuman yang dapat mengantar kepada tertutupnya akal dinamai juga khamr.

Sementara ulama menyatakan bahwa khamr adalah ” perahan anggur yang mendidih atau yang dimasak “. Abu Hanifah, Ats-Tsauri, Ibnu Abi Laila, Ibnu Syubrumah, semuanya berpendapat bahwa sesuatu yang memabukkan bila diminum banyak, selama tidak terbuat dari anggur, maka bila diminum sedikit dan atau tidak memabukkan maka dia dapat ditoleransi.

Pendapat ini ditolak oleh mayoritas ulama. Mereka berpendapat bahwa apa pun yang memabukkan, menutup akal atau menjadikan seseorang tidak dapat mengendalikan pikirannya walau bukan terbuat dari anggur, maka dia adalah haram. Pendapat ini antara lain berdasar sabda Rasul Saw. yang menyatakan:

Semua yang memabukkan adalah haram, dan semua yang memabukkan adalah khamr ( HR Muslim melalui Ibnu Umar ).

Di sisi lain Imam At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Abu Daud meriwayatkan melalui sahabat Nabi, Jabir bin Abdillah bahwa Nabi Saw. bersabda:

Sesuatu yang memabukkan bila banyak, maka sedikit pun tetap haram.

Dari pengertian kata khamr dan esensinya seperti yang dikemukakan di atas, maka segala macam makanan dan minuman terolah atau tidak, selama mengganggu pikiran maka dia adalah haram.

PESAN-PESAN AL-QURAN MENGENAI MAKANAN

Seperti dikemukakan di atas, ketika berbicara tentang ” perintah makan “, Allah Swt. memerintahkan agar manusia memakan makanan yang sifatnya halal dan thayyib.

Kata “halal” berasal dari akar kata yang berarti “lepas” atau “tidak terikat“. Sesuatu yang halal adalah yang terlepas dari ikatan bahaya duniawi dan ukhrawi. Karena itu kata “halal” juga berarti “boleh”. Dalam bahasa hukum, kata ini mencakup segala sesuatu yang dibolehkan agama, baik kebolehan itu bersifat sunnah, anjuran untuk dilakukan, makruh ( anjuran untuk ditinggalkan ) maupun mubah ( netral / boleh-boleh saja ). Karena itu boleh jadi ada sesuatu yang halal ( boleh ), tetapi tidak dianjurkannya, atau dengan kata lain hukumnya makruh. Nabi Saw. misalnya melarang seseorang mendekati masjid apabila ia baru saja memakan bawang. Nabi bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud melalui Ali bin Abi Thalib:

Rasul Saw. melarang memakan bawang putith kecuali setelah dimasak.

Dalam riwayat At-Tirmidzi dikemukakan bahwa seseorang bertanya: Apakah itu haram? Beliau menjawab:

Tidak, tetapi saya tidak suka aromanya.

Kata thayyib dari segi bahasa berarti lezat, baik, sehat, menenteramkan, dan paling utama. Pakar-pakar tafsir ketika menjelaskan kata ini dalam konteks perintah makan menyatakan bahwa ia berarti makanan yang tidak kotor dan segi zatnya atau rusak (kedaluwarsa), atau dicampur benda najis. Ada juga yang mengartikannya sebagai makanan yang mengundang selera bagi yang akan memakannya dan tidak membahayakan fisik dan akalnya. Kita dapat berkata bahwa kata thayyib dalam makanan adalah makanan yang sehat, proporsional, dan aman. Tentunya sebelum itu adalah halal.

A. Makanan yang sehat adalah makanan yang memiliki zat gizi yang cukup dan seimbang. Dalam Al-Quran disebutkan sekian banyak jenis makanan yang sekaligus dianjurkan untuk dimakan, misalnya padi-padian ( QS Al-Sajdah [32]: 27 ), pangan hewani ( QS Ghafir [40]: 79 ), ikan ( QS Al-Nahl [16]: 14 ), buah-buahan ( QS Al-Mutminun [23]: 19; Al-An’am [6]: 14l ), lemak dan minyak ( QS Al-Mu’minun [23]: 21 ), madu ( QS Al-Nahl [16]: 69 ), dan lain-lain. Penyebutan aneka macam jenis makanan ini, menuntut kearifan dalam memilih dan mengatur keseimbangannya.

B. Proporsional, dalam arti sesuai dengan kebutuhan pemakan, tidak berlebih, dan tidak berkurang. Karena itu Al-Quran menuntut orang-tua, khususnya para ibu, agar menyusui anaknya dengan ASI ( air susu ibu ) serta menetapkan masa penyusuan yang ideal.

Para ibu ( hendaklah ) menyusukan anaknya dua tahun sempurna, bagi siapa yang hendak menyempumakan penyusuan ( QS Al-Baqarah [2]: 233 ).

Dalam konteks ini juga dapat dipahami dan dikembangkan makna firman Allah:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan jangan juga melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas ( QS Al-Maidah [5]: 87 ).

” Mengharamkan yang baik dan halal ” mengandung arti mengurangi kebutuhan, sedang ” melampaui batas ” berarti melebihkan dari yang wajar. Demikian terlihat Al-Quran dalam uraiannya tentang makan menekankan perlunya ” sikap proporsional ” itu. Makna terakhir ini sejalan dengan ayat yang lain yang petunjuknya lebih jelas, yaitu:

Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak senang terhadap orang yang berlebih-lebihan (QS Al-A’raf [7]: 31).

Rasul menjelaskan bahwa:

Termasuk berlebih-lebihan (bila) Anda makan apa yang Anda tidak ingini.

Dalam hadis lain Rasul Saw. mengingatkan:

Tidak ada yang dipenuhkan manusia lebih buruk dari perut, cukuplah bagi putra Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Kalaupun harus ( memenuhkan perut ), maka hendaklah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk pernafasan ( HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, dan At-Tirmidzi melalui sahabat Nabi Miqdam bin Ma’di Karib ).

C. Aman. Tuntunan perlunya makanan yang aman, antara lain dipahami dari firman Allah dalam surat Al-Ma-idah (5): 88 yang menyatakan,

Dan makanlah dan apa yang direzekikan Allah kepada kamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu percaya terhadap-Nya.

Dirangkaikannya perintah makan di sini dengan perintah bertakwa, menuntun dan menuntut agar manusia selalu memperhatikan sisi takwa yang intinya adalah berusaha menghindar dari segala yang mengakibatkan siksa dan terganggunya rasa aman.

Bersambung…….

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Maret 2010 in Agama

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: