RSS

Inisiatip

12 Apr

Stephen R.Covey dalam bukunya The 8th Habit membagi tingkatan inisiatip manusia dalam 7 tingkatan, yaitu mulai dari :

  1. Menunggu sampai diperintahkan ( tingkkat inisiatip yang paling rendah )
  2. Bertanya…..
  3. Membuat rekomendasi
  4. Saya bermaksud untuk
  5. Melakukan dan langsung melaporkannya
  6. Melakukan dan melaporkannya secara berkala, dan akhirnya…..
  7. Melakukannya.

Mari coba kita urai satu persatu.

Inisiatip pertama, Menunggu sampai diperintahkan. Saya yakin banyak dari kita melakukan hal ini, yaitu menunggu diperintah baru muncul ide atau inisiatip. Kalau tidak ditanya ya…tenang-tenang saja. Tingkat ini tingkat berinisiat yang paling rendah, dan menurut saya, orang ini, orang yang hampir tidak punya inisiatip. Hidupnya tergantung perintah orang lain. Didalam pekerjaanpun, orang seperti ini akan lebih banyak bengong kalau apa yang dia kerjakan sudah selesai. Dia lebih banyak bermain aman saja, tidak cari perkara tidak cari-cari pekerjaan. Tidak ada perintah, ya diam dan tunggu. Kalau terlalu banyak orang seperti ini, akan terbentuk sebuah “group gossip sakit hati

Inisiatip ke dua. Bertanya. Mulai ada sesuatu yang tidak mengenakan hatinya, ada sesuatu yang tidak beres menurut pandangannya, mulailah orang tersebut bertanya. Kenapa ini seperti ini, kok tidak lebih baik seperti itu ? Ide dalam pikirannya mulai muncul untuk diwujudkan. Tapi biasanya, ketika dia diminta untuk membereskan, dia sendiri kebingungan, mau diapakan, mau bertindak bagaimana. Walaupun tadi dia sudah bertanya dan meyampaikan pendapatnya. Dia masih membutuhkan jalan awal untuk mulai melangkahkan kakinya.

Inisiatip ke tiga. Membuat rekomendasi. Menurut saya sebaiknya ini dilakukan seperti ini, karena…. Nah mulailah dia menerangkan apa yang ada dalam pikiran untuk menyelesaikan suatu masalah. Secara teori dia akan membeberkan apa sebaiknya dilakukan dengan membandingkan apa yang pernah diketahuinya, tapi biasanya masih lemah dalam tindakan ( action ).

Inisiatip ke empat. Saya bermaksud.…. Disini sudah mulai tercetak konsep dalam pikirannya. Orang ini tidak akan bertanya lagi, tapi langsung mengutarakan pendapatnya, mengenai apa yang dilihatnya. Dia akan membeberkan secara menyeluruh apa yang akan dilakukannya dan apa maksud dia melakukan itu.

Inisiatip ke lima. Melakukan dan langsung melaporkannya. Pak tadi saya perbaiki masalah kerusakan di wilayah ini, dan ini detail laporannya. Orang ini tidak menunggu lagi dalam melihat persoalan dihadapannya, dia langsung bertindak dan hasilnya dilaporkan. Yang penting permasalahan yang ada harus diberesi dulu, tidak boleh menunggu, dan tidak boleh ragu-ragu.. Penilaian akhir, biar sang boss mengoreksinya.

Inisiatip ke enam. Melakukan dan melaporkannya secara berkala. Secara otomatis bila ada persoalan dia tidak perlu lagi ragu untuk mengambil inisitip untuk menyelesaikannya. Karena sudah menjadi satu kebiasaan, maka perilaku itu tanpa dia sadari, sudah biasa dia lakukan, dia hanya perlu membuat laporan secara berkala tentang apa saja persoalan yang ada, dan bagaimana penyelesaiannya. Boss, yang punya anak buah seperti ini akan bisa duduk tenang, pikirannya akan lebih terpusat pada urusan urusan yang lebih tinggi. Dia tidak perlu lagi memikirkan atau ragu dengan kondisi yang ada dibawahnya, karena dia sudah punya tangan kanan yang “ tangguh dan mampu ”. Nyaris bisa membaca apa yang diinginkannya.

Inisiatip ke tujuh. Melakukannya. Inilah bagian dari kemampuan seseorang yang tanpa sadar sudah biasa dilakukan sehari-hari tanpa perintah. Ada sesuatu yang tidak beres dia beresi, lantai kotor, dia bersihkan tanpa bertanya siapa yang mengotori. Waktu yang luang dia gunakan untuk memeriksa kembali apa yang sudah dia lakukan. Membuat rencana-rencana baru. Menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang ada. Orang ini hampir tidak pernah mengalami kesulitan yang berarti dalam menyelesaikan pekerjaanya. Karena dia sudah biasa “ melakukannya “. Dia bergerak secara alami.. Karena dia sudah sering “ melakukannya “, maka semuanya seperti kebiasaan saja, tidak ada istimewanya bagi dirinya. Itu sudah tugas saya, its may job, I will do !. Semuanya akan bergerak secara otomatis. Kecenderungan orang macam ini adalah tidak bisa diam, paling tidak, sering berpikir, bagaimana kalau bagian ini saya rubah begini, atau bagain itu saya rubah begitu, apa dampaknya.

Orang ini bisa memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan apa yang dia lihat saat itu. Dan dia sudah menyiapkan dirinya apabila kejadian itu sampai terjadi.. Prediksinya jarang meleset, melihat apa yang tidak pernah orang perhatikan. Dia menjadi orang yang kreatip. Banyak akal banyak cara.

Tantangan bagi orang ber-inisiatip tinggi.

Karena dia sudah biasa “ melakukannya “, tiada hari bagi dirinya tanpa perbaikan-perbaikan.. Pengetahuannya semakin luas dan dalam. Cara berpikirnya akan cenderung melawan arus, walaupun sebenarnya tidak, karena inisitipnya sering membuat orang shock. Dia bisa menjadi sparing partner bagi bossnya, sebab sebenarnya dia sudah menjadi “BOSS”. Dia tidak takut untuk berkata tidak atau menunjukan sesuatu yang dia anggap tidak benar. Beda dengan orang yang hanya menunggu ( inisiatip pertama, menunggu ampai diperintah ), bagi orang yang punya tingkat inisiatip pertama, orang berinisiatip tingkat 7 dianggap pengganggu waktu-waktu santainya. “ Yang penting pekerjaan selesai, untuk apa capek-capek melakukan yang lain, kalau nanti boss butuh, pasti akan memanggil.” Itulah isi kepala orang dengan inisiatip tingkat pertama.

Coba kita simak cerita diawah ini ( The 8th Habit, halaman 207 ) :

” Saya tidak bergurau, para pemenang amat menyukai pekerjaan-pekerjaan remeh. Mengapa? Karena pekerjaan tersebut memberi mereka ruang yang luas. Tak seorang pun peduli ! Tak seorangpun memperhatikan ? Anda melakukannya sendiri ! Anda adalah raja ! Anda bisa mengotori tangan Anda, membuat kesalahan, mengambil resiko, menciptakan ke-ajaiban ! Keluhan yang paling sering terdengar dari orang-orang yang “ tidak berdaya “ adalah mereka tidak memiliki “ ruang “ untuk melakukan apapun yang hebat. Terhadapnya saya bilang dengan lantang : Omong kosong !

Yang penting : Carilah penugasan-penugasan “ kecil “ atau “ pekerjaan remeh “ yang tak diinginkan oleh siapapun juga ! CARI ! Itulah cara untuk mencari pemberdayaan diri, entah itu merancang ulang sebuah formulir atau merencanakan acara akhir minggu klien…. Anda bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang besar, agung dan Woouw “.

Dari cerita diatas, saya yakin sebagian besar orang kita berpikiran tidak berdaya. Sebenarnya tidak berdaya atau berdaya tergantung dari pikiran masing-masing. Kalau dalam pikiran sudah tertanam kata “ tidak berdaya “, maka tubuh juga tidak akan bergerak, sebab pikiran sudah “ terkunci tidak berdaya “.

Saya sering melakukan pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan anak buah saya, misalnya foto copy surat. Ada saja yang bertanya, “ loh Pak kok foto copy sendiri ? anak buahnya kemana ? “. Saya hanya tersenyum atau saya jawab dengan bercanda. Bagi saya, lebih baik saya menuju ruang foto copy sendiri, sementara saya bisa, daripada menyuruh anak buah saya yang sedang berkutat dengan tugas rutinnya, yang harus selesai hari itu juga, dan tugas itu saya juga yang memberikan. Kalau saya suruh dia foto copy yang hanya selembar, dia akan memakan waktu paling tidak seperampat jam, sebab lokasi perkantoran dengan tempat tugas saya jauh, tempat tugas saya dibagian belakang, sedang ruang foto copy ada digedung perkantoran depan perusahaan, jaraknya paling tidak ada 300 meter. Belum lagi antrinya, bisa makan waktu setengah jam hanya untuk foto copy selembar surat. Bayangkan, berapa waktu anak buah saya yang terbuang, sementara pekerjaannya dituntut tepat waktu.

Kita sering menganggap, bahwa atasan tidak pantas mengerjakan pekerjaan yang remeh-remeh seperti itu, itu pandangan yang salah ! Sepantasnya atasan itu berpikir jernih dan cerdik daripada menganggap pantas atau tidak pantasnya sebuah pekerjaan yang dia lakukan. Kalau atasan masih sering menganggu kerja anak buahnya, jangan harapkan target pekerjaan anak buahnya selesai dengan baik dan tepat waktu. Lakukanlah sendiri hal-hal remeh yang sebenarnya bisa anda lakukan, tidak usah menyuruh. Anak buah juga butuh waktu seperti Anda untuk menyelesaikan pekerjaannya. Jadilak orang ber-inisiatip tingkat 7.

Jangan biarkan hidup Anda satu-satunya dikendalikan oleh lingkungan. Berontaklah ! Buatlah diri Anda berpengaruh terhadap lingkungan, jangan lingkungan berpengaruh dan akhirnya menyiksa Anda. Pada akhirnya menghambat dan menghancurkan kehidupan Anda. Jangan salahkan lingkungan ! Jangan salahkan orang lain ! Salahkanlah diri Anda sendiri. ! Tuhan memberikan hidup pada Anda, hak Anda untuk menentukan kehidupan Anda, bukan siapapun !

Oleh Didik Suwitohadi
08-04-2010
Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 12 April 2010 in Manajemen

 

Tag:

2 responses to “Inisiatip

  1. Thomas

    12 April 2010 at 06:20

    Inisiatip atau inisiatif ???
    he he he …..jangan dimasukkan ke hati.
    nice artikel.
    salam.

     
    • Didik Suwitohadi

      16 April 2010 at 06:00

      He..he…he lidah Jawa ni yeee… No problem. Trim sudah hadir di Blog saya. Salam

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: