RSS

Siapa yang harus bertangung jawab ?

25 Mei

Orang sering keterlaluan, tidak logis, dan hanya mementingkan diri sendiri ; bagaimanapun, maafkanlah mereka.


Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih ; bagaimanapun berbaik hatilah.
Bila engkau sukses, engkau akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa sahabat sejati ; bagaimanapun, jadilah sukses.
Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu ; bagaimanapun, jujur dan terbukalah.
Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin saja dihancurkan orang lain hanya dalam semalam ; bagaimanapun, bangunlah.
Bila enngkau mendapat ketenangan dan kebahagiaan, mungkin saja orang lain jadi iri ; bagaimanapun, berbahagialah.
Kebaikan yang emgkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang ; bagaimanapun berbuat baiklah.
Bagaimanapun, berikan yang terbaik dari dirimu.
Engkau lihat, akhirnya ini adalah urusan antara engkau dengan Tuhanmu ; bagaimanapun ini bukan urusan antara engkau dengan mereka.

Beberapa kata indah dari bunda Teresa yang saya ambil dari bukunya Stephen R.Covey ‘ The 8th Habit’.

Katakanlah saya sudah membangun Perusahaan di mana saya bekerja saat ini dengan baik. Tersusun dengan benar dan baik. Apakah akan menjadikan jaminan bahwa saat saya pergi dari perusahaan, perusahaan ini masih berdiri kokoh dan benar. Tidak ada yang bisa menjawab dengan benar. Yang telah saya bangun hanyalah sebuah sistim, sedang orangnya ? Bisa saja didepan saya begitu patuhnya dia menganggukan kepala, tapi apakah kita bisa tahu bahwa orang yang begitu patuh menganggukan kepalanya dihadapan saya, dialah justru yang telah menggerogoti pondasi sistim yang telah saya bangun, bahkan sebelum saya pergi dari perusahaan ini. Saya tidak tahu isi hatinya, saya hanya tahu hasilnya. Saya hanya terlena dengan kepatuhannya. Bisa jadi orang itulah nantinya yang akan menghancur leburkan bangunan yang telah saya bangun. Karena dia telah menyusun tujuannya sendiri. Karena ada saya, tujuannya tidak bisa tercapai. Tujuannya adalah untuk hasil yang dia inginkan, untuk dirinya sendiri, bukan untuk siapa-siapa. Walaupun ia sering berteriak dengan lantang demi kemajuan perusahaan. Hebatnya dia meminjam tangan organisasi.
Sungguh sangat berbahaya kalau orang hanya mementingkan hasil tanpa memperhatikan caranya, asal-usulnya. Sebab orang cenderung hanya mau ingin mewujudkan apa yang dia inginkan. Menurut Manchiavelli, tujuan adalah membenarkan, oleh karena itu juga menghalalkan segala cara. Kita akan menolak apa yang dikatakan Manchiavelli, tapi tanpa sadar kita sudah melakukannya. Stephen R. Covey mengatakan ; nurani mengajarkan kepada kita bahwa tujuan dan cara mencapainya tidak terpisahkan ( The 8th Habit). Immanuel Kant mengajarkan bahwa cara yang digunakan untuk mencapai tujuan sama pentingnya dengan tujuan itu sendiri. Kalau ternyata tujuan itu bukan sebuah tujuan yang mulia, hanya tujuan untuk dirinya sendiri, betapa hebat korban yang akan diakibatkannya. Untuk memperbaikinya, harus kemabli lagi dari bawah.

Pernahkan kita semua berpikir, seorang yang sukses meraih apa yang diinginkannya, sebenarnya tujuannya hanya untuk dirinya sendiri. Begitu dia merasa terusik kursi kesuksesannya, maka paham Manchiavelli akan merasuk kedalam dirinya. Anda bisa melihat orang seperti itu diseputar anda.

Cermatilah kata-kata bunda Teresa diatas. Bisakah kita melakukannya ??? Bagaimanapun masing-masing dari kita akan berurusan dengan sang Khalik. Itu kalau anda percaya pada kebenaran Agama.

Apa Yang dikatakan Manchiavelli benar.

Saya punya pengalaman, seseorang yang baru bergabung pada perusahaan kami awalnya sangat baik pada setiap orang. Dia melakukan pendekatan-pendekatan pada beberapa orang, terutama pada orang yang dia anggap punya kewenangan atau orang yang hubungannya dengan pihak atasan maupun pejabat perusahaan sangat baik. Dia ber-baik-baik dan dekati orang itu. Dia berusaha sedemikian rupa agar dia berkesan baik.

Pelan-pelan dia mulai menyuarakan suara kemauannya, tapi tidak semua orang yang dia dekati mendengarkan. Dia tidak berputus asa, dia cari cara lainnya. Mulai dia mengusik kredibilitas orang- orang tersebut. Terutama orang-orang yang berani – jujur dan tidak gampang diprovokasi, apalagi diancam. Menghembuskan hal-hal yang bisa memicu kesalah pahaman. Tapi orang tersebut tetap tegar bak batu karang. Hatinya mulai panas. Cara berikutnya adalah berusaha merusak integritasnya. Meniupkan kata-kata yang membuat orang lain berkurang rasa hormatnya pada orang sasarannya. Hal ini mulai membuahkan hasil. Dia mulai mendapatkan dukungan dari berbagai pihak yang merasa dirugikan. Padahal sebelumnya orang-orang tersebut tidak merasa apa-apa. Tapi target sasarannya tidak memperdulikannya seakan tak terusik.

Mulailah terjadi pengelompokan, kelompok isu-isu, kelompok bergossip, kelompok sakit hati, kelompok penuntut. Nah orang ini masuk dalam kelompok penuntut. Masalah-masalah yang lalu-lalu mulai dibangkit-bangkitkan. Dia merasa sudah mulai memegang medan kendali, walaupun target sasarannya tetap tak bisa dia tundukan. Disinilah, pada setiap meeting dia bersuara vocal seakan untuk kepentingan bersama. Setiap orang yang menunjukan prestasinya dan orang tersebut diluar lingkarannya, maka yang keluar adalah kritik negatip. Apapun alasannya, bagi dia, apa yang dilihatnya selalu tidak baik.

Dia mulai mengusik HRD. Menuntut apa yang menurut ia sudah menjadi haknya. Mempengaruhi kaum bawah untuk mengadakan aksi. Pada saat seperti itu ia akan maju ke atasannya untuk menyediakan dirinya menyelesaikan konflik dibawah. Ketika sampai dibawah dia juga akan berkata seperti ketika dia berkata pada atasannya. Kalau pada atasannya ancamannya bernada halus, kebawah ancamannya bernada jelas. Dia berpikir, dia harus bisa menyelesaikan masalah ini, tapi dia  juga harus mengesankan sebagai pahlawan yang berhasil memperjuangkan keinginan kaum bawah. Maka peredaman itu terjadi, tapi sebenarnya hanya sesaat. Untuk suatu saat bisa dia picu lagi. Sumber masalah adalah pada dia sendiri.

Orang ini pada akhirnya bisa mencapai tujuannya. Tapi bisakah anda mengijinkan cara-cara yang dia pakai ?  Sementara orang-orang yang tidak bisa dia pengaruhi adalah menjadi musuh utama baginya. Menjadi batu sandungan yang berarti. Orang jujur dan benar adalah batu cadas yang harus dia hancurkan. Disinilah perusahaan buta akan apa yang telah terjadi di organisasinya. Kenapa masih banyak perusahaan kita memakai cara berpikir lama, kalau ada “perusuh” dalam organisasi, untuk membuat perusuh itu agar tidak mengganggu kerja perusahaan, maka sang perusuh itu diberikan jabatan supaya “diam”. Menurut saya itu adalah perbuatan konyol yang tidak masuk akal, sebab si perusuh itu cuma berpikir untuk dirinya sendiri, bukan kepentingan organisasi. Perilaku organisasi akan terkontaminasi dengan sifart sifat si perusuh. Pelan tapi pasti akan terjadi kerusakan organisasi. Ditambah lagi, si perusuh itu sebenarnya tidak ingin terjadi regenerasi. Kenapa ? Karena sebenarnya dia tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Dia hanya pintar bicara dan megacau orang lain, utnuk mengambil keuntungan darisana. Saat ada level bawah mulai kelihatan menonjol, maka dia akan berusaha mengusir atau membunuhnya. Menghalalkan segala cara, seperti yang telah di tuturkan Manchiavelli.

Sifat orang kita yang sangat…sangat menjujung tinggi jabatan dan sertifikat – ijasah, belum bisa melihat hasil karya. Inilah yang akan menghambat kemajuan orang Indonesia. Sertifikasi ternyata tidak berbanding secara linier ( lurus ) dengan kualitas cara berfikir orang yang memegang sertifikasi itu.  Ditambah, orang kita belum bisa bersaing secara jujur. Karena itu, mereka akan tetap menjadi orang pemakai bukan pembuat. Orang Indonesia masih akan tetap menjadi sasaran pasar orang – orang luar yang sudah mampu membuat. Mereka begitu mengenali isi kepala dan isi hati orang Indonesia daripada bangsa itu sendiri. Dengan sedikit pujian, maka apapun yang mereka jual akan laku di Indonesia. Kita lebih menghargai bangsa lain daripada bangsa sendiri. Perhatikanlah !

Oleh Didik Suwitohadi
25-05-2010
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Mei 2010 in Manajemen

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: