RSS

Kerugian akibat konflik

29 Jun

Sebuah pertemuan disebuah hotel berbintang di daerah pegunungan, terjadi deadlock. Tidak ada titik temu antar manajer bagian. Mereka sepakat untuk kembali kekantor dengan tanpa keputusan atau hasil apapun dalam pertemuan rutin yang diadakan tiga bulan sekali di hotel tersebut. Biasanya pertemuan tersebut dipimpin oleh manajer senior perusahaan. Dialah yang memimpin dan mengambil keputusan akhir dari perdebatan dalam pertemuan antar manajer bagian. Pertemuan dihadiri manajer pabrik maupun manajer pemasaran cabang luar kota, bahkan luar pulau. Pemasaran produk pabrik tersebut sudah menyebar ke seluruh Indonesia.

Mereka saling ngotot dengan pendapatnya masing-masing. Saling tuding atas kegagalan dari divisinya. Tanpa mereka sadari mereka telah terbentuk dalam kelompok- kelompok atau kubu-kubu. Pada saat istirahat makan siang, kemunculan kelompok-kelompok dadakan itu semakin jelas terlihat. Saat masuk sesi berikutnya ketegangan dan adu mulutpun tak bisa dihindarkan, bahkan pemimpin rapat yang ditunjukpun tak mampu menghadapi keadaan.

Akhirnya mereka sepakat untuk tidak meneruskan pertemuan tersebut, kalaupun diteruskan tidak akan membuahkan hasil. Yang ada hanya adu argument yang tida berkesudahan. Padahal mereka sudah menginap dua hari disana, di hotel berbintang

Organisasai perusahaan pada umumnya menganggap hal itu adalah suatu hal yang biasa. Padahal seharus tidak begitu. Menurut Daniel Dana dalam bukunya “ Resolusi konflik”. Sebuah meeting tidak bisa menghasilkan keputusan apapun, adalah sebuah kerugian besar dari perusahaan. Kerugian itu bisa dihitung secara material.

Selama ini manajemen perusahaan menganggap meeting gagal dalam menentukan sikap, tidak didapatkan sebuah keputusan, berlarut larut baru mendapatkan titik temu, atau lebih parah lagi meeting sudah berhari-hari tapi tetap tidak ada titik temu, betapa biaya perusahaan sudah terbuang sia-sia. Ibarat menjalankan mesin produksi tapi tidak ada hasil yang dapat dijual.

Mari kita hitung kerugian konflik tersebut.

Bayangkan kalau para manajer tersebut rata-rata bergaji 10 jutaan. Berapa kerugian perusahaan yang telah terjadi. Mari coba kita hitung, 10 juta kali 10 orang menjadi 100 juta. Mereka bekerja rata-rata 8 jam sehari dan 25 hari dalam satu bulan.

Kita hitung gaji per-jam dari seorang manajer. 10.000.000 / ( 25 X 8 jam ) = 10.000.000/200 jam = Rp.50.000,-. Seorang manajer digaji Rp.50.000 per-jam. Mereka sudah menghabiskan waktu dua hari untuk meeting yang sia-sia. Berapa kerugian yang diakibatkan oleh sepuluh manajer tersebut, adalah sbb : 10 X (2 hari X 8 jam ) X Rp.50.000= 10 X16 X Rp.50.000 = Rp.8.000.000,-. Sepuluh orang manajer telah menerima gaji buta.

Bayangkan ! perusahaan telah menggaji manajer-manajer itu selama 2 hari sebanyak 8 juta, dan mereka tidak menghasilkan apa-apa untuk perusahaan. Lebih parah lagi seandainya kondisi dilapangan produksi baru bisa bergerak kalau keputusan meeting itu sudah didapat, berapa milyar atau trilyun kerugian diakibatkan kinerja manajernya yang tidak profesional dan tidak solid.

Baiklah, itu kalau hanya kita lihat dari segi gaji. Bagaimana kalau tranportasi dan akomodasi mereka, para manajer yang mulia, kita hitung juga ? Okey ! Kita mulai dengan biaya kamar hotel. Mereka tidak mau tidur dua orang dalam satu kamar, maunya satu kamar sendiri sendiri. Per-kamar kita anggap Rp.750.000. Sepuluh orang berarti (10 X 750.000) X 2 hari = Rp.15.000.000,-. Biaya makan 3 kali per-hari. Satu kali makan kita anggap 50.000. Biaya makan 10 X ( 2 hari X 3 ) X 50.000 = 10 X 6 X 50.000 = Rp 3.000.000. Biaya transportasi. Kita anggap saja 5 orang adalah manajer setempat dan 5 orang dari luar pulau. Yang lima orang semuanya tinggal di kota setempat, Surabaya misalnya, maka biaya transportasinya tidak terlalu mahal. Kita anggap saja biaya transportasi tiap orangnya Rp.300.000,-. Maka lima orang, biaya transportai menjadi 5 X 300.000 = Rp.1.500.000. Sedang yang lima orang lagi adalah manajer dari luar pulau, biaya transportasi kita anggap 1,5 juta per-orang. Jadi 5 orang biaya transportasinya adalah 5 X 1.500.000 = Rp.7.500.000,-. Jadi biaya transportasi untuk 10 manajer tadi adalah. 7.500.000 + 1.500.00 = Rp.9.000.000,-

Mari kita total jumlah uang perusahaan yang telah dihamburkan oleh 10 manajer tadi.

  • Gaji mereka dalam 2 hari itu adalah Rp.8.000.000,-
  • Biaya kamar hotel selama 2 hari Rp. 15.000.000
  • Biaya makan selama 2 hari Rp.3.000.000,-
  • Biaya transportasi 10 manajer Rp. 9.000.000,-

Jadi total uang perusahaan yang telah mereka habiskan tanpa hasil apa-apa adalah sbb ;

Rp.8.000.000 + Rp.15.000.000 + Rp.3.000.000 + Rp.9.000.000 = Rp.35.000.000,

Bukan main ! 35 juta dalam 2 hari ludes begitu saja tanpa hasil apa-apa ! Kita belum menghitung efek-efek lainnya secara lebih detail dari sebuah konflik meeting. Perhitungan diatas hanyalah perhitungan sangat sederhana saja. Kalau dikaitkan dengan lainnya, seperti produksi yang tertunda, pengiriman barang tertunda, datangnya barang dari pemasok tertunda, biaya makan karyawan, operasional mesin dll. Akan bertambah bengkak jumlah uang yang ludes dihamburkan manajer-manajer tadi.

Bagaimana pendapat para Presiden direktur atau para Komisaris. Jangan jangan mereka juga melakukan kebodohan yang sama dengan yang telah dilakukan para manajernya. Kalau itu memang benar, maka kebodohan itu secara otomatis menurun ampai ke level tukang sapu perusahaan. Betapa menyedihkan !

Oleh. Didik Suwitohadi.
28-06-2010.
Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Juni 2010 in Manajemen

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: