RSS

KH Abdurrahman Wahid – Gus Dur

07 Sep

Nama aslinya adalah Kyai Haji Abdurrahman Wahid. Nama populernya adalah Gus Dur. Lahir di DenayarJombang, Jawa Timur pada hari ke-4 bulan ke 8 dari kalender Islam di tahun 1940. ( 7 September 1940 ). Dari pasangan orang tua bernama Wahid Hasyim dan Ibu bernama Solichah .

Menikah dengan Sinta Nuriyah, dikaruniai 4 anak ;

  1. Alissa Qotrunnada.
  2. Zannuba Ariffah Chafsoh, akrab dipanggil Yenny. Wahid Saat ini menjadi direktur organisasi The Wahid Institute. Aktif di PKB.
  3. Anita Hayatunnufus
  4. Inayah Wulandari

Meninggal di Jakarta 30 Desember 2009, dan dikuburkan ditanah kelahirannya, pondok pesantren Tebu Ireng – Jombang. Beliau adalah Presiden ke 4 RI, menjabat dari 20 Oktober1999 sampai 23 Juli 2001. Mandat beliau sebagai Presiden Indonesia dicabut melalui sidang istimewa MPR. Kemudian digantikan oleh wakil Presiden, yaitu Megawati Soekarnoputri.

Gus Dur adalah tokoh NU ( Nadlatul Ulama ), pernah menjabat sebagai Tanfydziyah ( badan esksekutip ) NU. Penggagas dan Pendiri Partai Kebangkitan Bangsa ( PKB ). Beliau juga adalah, guru bangsa, reformis, cendekiawan, pemikir, dan pemimpin politik.

Abdurrahman Wahid lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. “Addakhil” berarti “Sang Penakluk”. Kata Addakhil, konon tidak cukup dikenal, kemudian di ganti dengan nama “ Wahid “. Panggilan “Gus” yang berarti “mas” atau “abang”. Sebuah panggilan kehormatan bagi anak kyai di kalangan pesantren.

Gus Dur, putra pertama dari enam bersaudara. Lahir dari keluarga terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H Hasyim Ashari pendiri NU. Ibunya adalah putri pemilik pondok pesantren Denayar – Jombang.

Tahun 1944, Gus Dur mengikuti ayahnya pindah ke Jakarta. Di sana sang ayah menjadi ketua pertama partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia ( Masyumi ). Organisasi yang didukung oleh tentara Jepang, yang saat itu menguasai Indonesia. Gus Dur kembali ke Jombang lagi setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia17 Agustus 1945. Pada tahun 1949 Gus Dur kembali lagi ke Jakarta, mengikuti ayahnya yang ditunjuk sebagai menteri agama kala itu.

Di Jakarta, Gus Dur kecil bersekolah di SD KRIS, sebelum pindah ke SD ( Sekolah Dasar ) Matraman Perwari. Gus Dur kecil juga diajarkan untuk membaca buku non-muslim, koran, majalah, oleh ayahnya, agar wawasannya luas. Tahun 1953 sang ayah meninggal, setelah tidak menjadi mentri agama. Beliau meninggal karena kecelakaan mobil. Dan Gus Dur tetap tinggal di Jakarta bersama keluarga.

Tahun 1954, Gus Dur masuk ke Sekolah Menengah Pertama ( SMP ). Pada tahun itu dia tidak naik kelas. Sang Ibu mengirimnya ke Yogyakarta untuk belajar mengaji pada KH Ali Maksum di pesantren Krapyak, sekaligus sekolah di SMP. Setelah lulus dari SMP di tahun 1957, dia pindah ke Magelang untuk belajar di Pesantren Tegalrejo. Disana dia menjadi murid yang mempunyai reputasi dan berbakat. Berhasil menyelesaikan pendidikan di pesantren tersebut dalam waktu dua tahun, yang seharusnya ditempuh dalam waktu 4 tahun. Tahun 1959, ia pindah ke pesantren Tambakberas di Jombang. Disana, disamping untuk melanjutkan pendidikannya, dia juga menerima pekerjaan sebagai guru, yang pada akhirnya menjadi kepala sekolah sebuah Madrasah. Gus Dur juga bekerja sebagai jurnalis di majalah Horizon, sebuah majalah sastra, juga di majalah Budaya Jaya.

Pendidikan di Luar Negri.

Tahun 1963, menerima beasiswa dari kementerian agama untuk belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo – Mesir. Berangkat ke Mesir November 1963. Di Mesir ia suka nonton film film Eropah dan Amerika. Suka menonton sepakbola. Terlibat dalam organisasi Asosiasi Pelajar Indonesia, serta menjadi jurnalis dari majalah asosiasi tersebut.

Saat ia mulai menerima pelajaran di Al – Azhar, dia kecewa. Pelajaran yang diberikan Al Azhar, telah banyak dia dapatkan di pesantren di Indonesia, malahan lebih daripada itu. Ia telah mempelajari banyak materi yang diberikan tersebut. Dia menolak mitode belajar yang digunakan Universitas Al-Azhar.

Di Mesir Gus Dur bekerja di Kedutaan Besar Indonesia. Pada saat bekerja tersebut, terjadi peristiwa G 30S PKI ( pemberontakan Partai Komunis Indonesia ). Sehubungan dengan itu, Mayjen Soeharto yang memegang kendali komando saat itu, memerintahkan Kedutaan Besar Indonesia di Mesir untuk melakukan investigasi pelajar Indonesia yang belajar di Mesir. Diminta memberikan laporan tentang kedudukan politik pelajar disana. Pembuatan laporan ini diserahkan pada Gus Dur, untuk membuatnya.

Di Mesir, Gus Dur mengalami kegagalan belajar. Ia tidak setuju dengan mitode belajar disana. Tahun 1966, dia diberitahu bahwa dia harus mengulang pendidikan pra Sarjana. Nasib belajar Gus Dur diselamatkan oleh beasiswa lain yang dia terima untuk belajar ke Universitas Bagdad – Irak. Ia berangkat kesana, menikmati suasana baru serta tetap terlibat di Asosiasi Pelajar Indonesia disana. Tetap menulis dimajalah asosiasi tersebut.

Tahun 1970 dia menyelesaikan pendidikannya di Bagdad. Dia ingin melanjutkan pendidikannya di Belanda, di Universitas Leiden. Tapi dia kecewa, karena ijasah dari Universitas Bagdad kurang diakui di Universitas Leiden Belanda. Akhirnya di pergi melanglang ke Jerman dan Perancis sebelum kembali ke Indonesia di tahun 1971.

Perjalanan karier Gus Dur.

Setelah kembali ke Jakarta dari perjalanannya belajar di Eropah, ia bergabung dengan sebuah Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial ( LP3ES ). Sebuah organisasai kaum intelek muslim progresif dan sosial demokrat. LP3ES menerbitkan sebuah majalah disebut PRISMA, Gus Dur menjadi salah satu kontributor ( penyumbang ide, penulis dll ) utama di majalah tersebut. Disamping bekerja di PRISMA, Gus Dur juga bekeliling ke Pesantren dan Madrasah di seluruh Jawa. Pada era itu, pesantren berusaha keras agar dapat dana dari pemerintah, maka pesantren berusaha mengadopsi kurikulum mata pelajaran sekolah pemerintah. Gus Dur merasa sangat prihatin dengan keadaan itu, karena nilai-nilai pesantren jadi semakin luntur. Lebih prihatin lagi dengan keadaan pesantren yang dibelit kemiskinan. Pada saat yang sama, pemerintah juga berusaha membujuk pesantren, untuk bisa menjadi agen perubahan dan membantu pemerintah dalam perkembangan perekonomian Indonesia. Pada saat Gus Dur kembali ke Jakarta, dia berharap untuk bisa kembali keluar negri lagi, untuk belajar di Universitas Mc Gill di Kanada. Tapi demi melihat keadaan itu, Gus Dur memilih mengembangkan pesantren

Abdurrahman Wahid meneruskan kariernya sebagai jurnalis. Dia menulis untuk majalah Tempo dan di koran Kompas. Artikel – artikelnya diterima dengan baik oleh kedua media tersebut. Dan dia mulai mengembangkan dirinya sebagai komentator sosial. Akibatnya dia semakin populer. Mendapatkan banyak undangan untuk seminar dan memberikan kuliah-kuliah. Karena dia kembali tinggal di Jombang bersama keluarganya, maka dia sering pulang pergi Jakarta-Jombang.

Meskipun Gus Dur sukses didunia tulis menulis, tapi dia masih menjalankan pekerjaan sampingan, yaitu membatu istrinya berjualan kacang dan es lilin, untuk menambah penghasilan keluarga. Tahun 1974, dia mendapatkan pekerjaan sebagai pengajar di Pesantren Tambakberas, Jombang. Satu tahun kemudian, pekerjaannya bertambah, dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam.

Tahun 1977, mendapatkan pekerjaan sebagai dekan Fakultas Praktek dan Kepercayaan Islam di Universitas Hasyim Asyari. Kemampuannya melebihi pekerjaannya, karena itu beberapa waktu kemudian dia diminta untuk mengajar Pedagogi, Syariat Islam dan Musiologi. Kemampuan dan kelebihannya itu, telah membuat ketidak senangan dari beberapa orang dari kalangan universitas, akibatnya Gus Dur mendapat rintangan untuk mengajar subyek-subjek tersebut. Semua beban itu dia jalani begitu saja. Seperti kebiasaannya dalam menanggapi permasalahan dengan jargon “ Begitu saja kok repot…”

Awal keterlibatan di NU ( Nahdlatul Ulama ).

Abdrurahman Wahid selalu menolak saat dirinya ditunjuk untuk ikut terlibat di NU, karena Gus Dur lebih suka menjadi seorang intelektual publik. Baru pada tawaran ke 3, yang ditawarkan oleh kakeknya Bisri Syamuri, dia menerima menjadi Dewan Penasehat Agama. Efeknya Gus Dur harus pindah dari Jombang kembali tinggal di Jakarta.

Pada pemilihan umum 1982, ia berkampaye untuk Partai Persatuan Pembangunan. Sebuah partai gabungan dari 4 partai Islam termasuk NU didalamnya. Ia mengritik pemerintah yang selalu mengganggu kampanye partainya, dengan cara menangkapi orang-orang seperti dirinya. Namun Gus Dur selalu lolos dari jerat tersebut, karena hubungannya dengan orang – orang penting dipemerintahan. Seperti Jenderal Benny Moerdani.

NU pada saat itu dianggap banyak orang sebagai organisasi yang sedang mengalami stagnasi / kemandekan. Melihat kondisi seperti itu, dewan penasehat agama membentuk TIM-7, didalamnya termasuk Gus Dur. Untuk meghidupkan lagi NU, serta melakukan reformasi NU.

Pada 2 Mei 1982, pejabat-pejabat tinggi NU melakukan pertemuan dengan ketua NU saat itu, yaitu Idham Chalid. Pejabat-pejabat tinggi NU tersebut meminta Idham untuk mengundurkan diri dari NU. Awalnya terjadi perlawanan dari pihak Idham. Tapi pada akhirnya Idham mundur karena tekanan. Hal tersebut didengar oleh Gus Dur pada tgl. 6 Mei 1982. Gus Dur menyatakan pengunduran diri Idham Chalid tidak konstitusional. Akhirnya Idham tidak jadi mengundurkan diri. Dilakukan pertemuan lagi untuk mencari jalan yang terbaik antara para pejabat yang meminta Idham mundur dengan Idham sendiri. Dilakukan negosiasi persetujuan diantara mereka dengan mediator Gus Dur.

Tahun 1983, MPR ( Majelis Permusyawaratan Rakyat ) memilih Soeharto menjadi Presiden kembali, untuk ke 4 kalinya. Soeharto mulai menegaskan kembali ideologi negara adalah Pancasila. Isu tersebut terus digulirkan agar semua bisa mengetahui dan menerimanya, termasuk kelompok NU. Dalam menanggapi isu tersebut NU membentuk kelompok untuk merespon isu tersebut pada Juni 1983, Wahid ( Gus Dur ) menjadi bagian dari kelompok tersebut. Dengan berpedoman Al-Qur’an dan Sunnah, untuk mencari kebenaran isu tersebut. Akhirnya diputuskan, NU harus menerima ideologi Pancasila sebagai satu satunya azas negara RI. Diputuskan Oktober 1983.

Untuk lebih membuat NU menjadi organisasi yang hidup, maka Gus Dur mundur dari kepengurusan PPP . Hal itu agar dia dapat lebih fokus dalam membenahi NU.

Reformasi NU.

Reformasi yang telah dilakukan Wahid terhadap NU, membuat dirinya semakin populer dikalangan NU. NU berkibar kembali menjadi organisasi besar dan tidak stagnan lagi. Pada MUNAS NU ( Musyawarah Nasional NU ) tahun 1984, semua kalangan meminta Gus Dur menjadi ketua NU. Gus Dur mengajukan syarat, bahwa dia mendapat wewenang penuh untuk memilih pengurus yang ada dibawahnya. Tapi pada saat dia sudah menjadi ketua NU, syarat yang dia ajukan tidak bisa terpenuhi. Panitia Munas tidak mengumumkan susunan pengurus yang telah di susun oleh Gus Dur, melainkan mengumumkan pengurus yang sama sekali berbeda dari susunan pengurus yang disusun Gus Dur tersebut.

Terpilihnya Gus Dur sebagai ketua NU direspon positip oleh Presiden Soeharto ( Rezim Orde Baru ). Sikap dan berpikir moderat Gus Dur di sukai oleh orang pemerintahan. Tahun 1985, Soeharto menjadikan Gus Dur sebagai indoktrinator Pancasila. Tahun 1987, Gus Dur semakin dekat dengan pemerintahan, saat itu dia mengkritik PPP dalam pemilihan umum Legislatif tahun 1987, serta memperkuat Partai GOLKAR ( partai pemerintah ). Akhirnya dia menjadi anggota MPR ( Majelis Permusyawaratan Rakyat ) mewakili GOLKAR. Walau dia dekat dengan pemerintah, tapi dia tetap mengkritik pemerintah tentang pembangunan Waduk Kedung Ombo yang didanai oleh Bank Dunia. Pembangunan waduk itu konon memakan korban kepentingan masyarakat sekitar, dan dianggap se-mena-mena. Sampai tokoh sekaliber Romo Mangun dan tokoh Islam lainnya ikut membantu rakyat Kedung Ombo yang tanahnya dipaksa menerima ganti rugi yang tidak wajar. Peristiwa tersebut membuat hubungan Gus Dur dengan pemerintahan mulai renggang, walaupun Soeharto saat itu masih mendapat dukungan dari NU.

Perlawanan terhadap Orde Baru. ( ORBA ).

Pada Munas NU tahun 1989, Abdurahman Wahid terpilih lagi sebagai ketua NU. Pada saat itu Prsiden Soeharto berusaha keras menarik simpati kaum muslim Indonesia. Desember 1990 terbentuklah organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia ( ICMI ). Organisasi intelektual muslim ini didukung Soeharto dan diketuai oleh BJ Habibie. Didalam ICMI terdapat intelektual muslim seperti, Amien Rais, Nurcholish Majid ( rektor univ.PARAMADINA ), sebagai anggota. Tapi Gus Dur menolak untuk bergabung dengan ICMI, yang menurutnya Sektarianisme. Untuk menandingi ICMI, Gus Dur membentuk Forum Demokrasi, beranggota 45 intelektual dari berbagai komunitas religius ( agama ) dan sosial. Organisasi ini dicermati oleh pemerintah Soeharto. Pertemuan yang diadakan Forum Demokrasi saat menjelang pemilihan umum legislatif 1992, dihentikan oleh pemerintah

Maret 1992, Gus Dus mengadakan Munas besar untuk merayakan ulang tahun NU ke 66. Dan disana dinyatakan NU tetap mendukung terhadap ideologi Pancasila. Acara tersebut sedianya akan dihadiri sekitar 1000.000 umat NU, namun pemerintah Soeharto menghalangi, dengan cara mengembalikan bus-bus peserta munas masuk ke Jakarta, kembali ke kota masing-masing. Dengan adanya pemboikotan pemerintah Soeharto itu, yang hadir hanya sekitar 200.000 orang saja.

Selesai acara, Gus Dur mengirim surat protes pada Soeharto, menyatakan bahwa NU tidak diberi kesempatan untuk menampilkan Islam yang terbuka, adil dan toleran.

Ide-ide liberalnya selama jabatan ke duanya di NU, membuat Gus Dur mulai menuai ketidak setujuan dari para pendukungnya di NU. Gus Dur sering melakukan dialog antar agama dan menerima undangan mengunjungi Israel pada Oktober 1994. Hal itu semakin menambah ketidak setujuan kaum NU, terutama yang masih berpikiran tradisional. Bagi Gus Dur berkawan dan berdialog dengan siapa saja adalah sah-sah saja. Urusan kepercayaan adalah urusan masing masing. Manusia tidak perlu disekat-sekat atau di kotak kotakan. Gitu saja kok repot…he…he…he…. Bravo Gus, saya setuju dengan gaya plural anda.

Masa Reformasi

Pada Munas NU tahun 1994, Gus Dur kembali mencalonkan diri sebagai ketua NU untuk masa jabatan ke-3. Soeharto mendengar semua itu, dan ia ingin Gus Dur tidak terpilih sebagai ketua NU lagi. Pada minggu-minggu sebelum Munas dilakukan, orang – orang Soeharto berusaha melakukan kampanye agar Gus Dur tidak terpilih.

Pada saat Munas berlangsung, ABRI menjaga ketat acara itu. Aroma intimidasipun merebah, juga upaya suap agar tidak memilih Gus Dur sebagai ketua NU. Namun pada akhirnya Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua NU.

Dalam masa ini Gus Dur mulai melakukan manuver politik dengan beraliansi dengan Megawati Soekarnoputri, dari Partai Demokrasi Indonesia ( PDI ), seorang anak pendiri republik ini, yaitu sang proklamator Soekarno. Dengan nama besar ayahnya, Megawati mempunyai popularitas yang tinggi di masyarakat Indonesia, terutama kaum rakyat jelata ( grass root ). Gerakan Megawati adalah menekan Soeharto yang selama ini dianggap diktator. Gus Dur menasehati Megawati untuk hati hati, dan agar dia menolak untuk dipilih sebagai Presiden dalam sidang umum MPR 1998. Rupanya Megawati mengacuhkan nasehat itu, akibatnya pada Juli 1996, markas PDI diambil alih oleh ketua PDI dibawah dukungan pemerintah ( Soeharto ), yakni Soerjadi.

Melihat kondisi itu, Gus Dur merubah taktik politiknya. Dia mulai mendukung pemerintah. Pada November 1996, Wahid dan Soeharto bertemu untuk pertama kalinya sejak Gus Dur terpilih sebagai ketua NU.. Pertemuan dilanjutkan beberapa bulan berikutnya diikuti orang pemerintahan yang di tahun 1994 menghalangi Gus Dur untuk menjadi ketua NU. Pada saat yang sama pilihan reformasi masih tetap terbuka baginya.

Desember 1996, Wahid bertemu dengan Amien Rais, anggota ICMI yang kritis terhadap segala kebijakan pemerintah.

Juli 1997, awal krisis finansial Asia. Soeharto mulai kehilangan kendali atas situasi tersebut. Gus Dur, Megawati dan Amien Rais didorong untuk melakukan reformasi. Tapi Gus Dur terkena serangan stroke pada Januari 1998. Dari rumah sakit, Gus Dur melihat situasi Indonesia semakin memburuk. Pemilihan kembali Soeharto sebagai Presiden, dan protes mahasiswa atas semua ketidak beresan negara, memunculkan peristiwa kerusuhan Mei 1998. Terjadi penembakan 6 mahasisiwa di Universitas Trisakti.

19 Mei 1998, Gus Dur bersama dengan 8 pemimpin penting dari komunitas Muslim, dipanggil ke-kediaman Soeharto. Soeharto menyodorkan konsep Komite Reformasi, di tolak oleh Gus Dur cs. Mereka menolak untuk bergabung dalam Komite Reformasi Soeharto. Sampai tiba saatnya Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Presiden pada 21 Mei 1998, digantikan oleh wakilnya, BJ Habibie. BJ Habibie menjadi Presiden menggantikan Soeharto.

Lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa ( PKB )

Pada jaman rezim Soeharto, partai hanya ada 3, yaitu Golkar ( partai kelompok pemerintah ), PPP ( kaum Muslim ), PDI ( kaum demokrat, sosial dan lainnya ). Efek dari kejatuhan Soeharto terjadi pesta demokrasi, mulai bermunculan partai-partai baru. Antara lain PDI-P ( Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ) pimpinan Megawati, Partai Amanat Nasional ( PAN ) pimpinan Amien Rais. Kaum NU pun tak ketinggalan, banyak yang mendorong Gus Dur untuk membentuk partai baru. Usulan kaum NU itu baru ditanggapi Gus Dur pada Juli1998. Terbentuklah PKB dengan ketua partai Matori Abdul Djalil. Dan Gus Dur menyatakan partai tersebut terbuka untuk semua orang, bukan hanya untuk NU.

November 1998 di Ciganjur, kediaman Gus Dur, berkumpul tokoh tokoh politik, antara lain ; Amien Rais, Megawati, Hamengkubuwono X. Mereka menyatakan komitmennya untuk terus melakukan reformasi. 7 Februari 1999, secara resmi PKB mencalonkan Gus Dur sebagai Presiden pada pemilihan presiden berikutnya, pada tahun 1999.

Pemilu 1999, PKB memenangkan 12% suara, PDIP 33% suara. Dengan nilai suara tersebut Megawati yakin akan terpilih sebagai presiden pada sidang MPR nantinya. Namun PDIP tidak mempunyai mayoritas penuh, maka dilakukan aliansi dengan PKB.

Bulan Juli Amien Rais membentuk apa yang dinamakan Poros Tengah, koalisi partai partai berbasis muslim. Poros tengah menominasikan Gusdur dari PKB sebagai calon presiden. Akibatnya komitmen PKB terhadap PDIP mulai berubah.

20 Oktober 1999, MPR memilih Gus dur sebagai Presiden ke-4 dan Megawati dipilih Gus Dur menjadi Wakil Presiden, pada 21 Oktober1999.

Kabinet GusDur dinamakan Kabinet Persatuan Nasional., merupakan kabinet koalisi dari berbagai partai, dan TNI juga ada dalam kabinet tersebut.

November 1999, Gus Dur mengunjungi negara-negara anggota ASEAN, Jepang, AS, Qatar, Kuwait dan Yordania. Desember ia berkunjung RRC ( Republik Rakyat Cina ).

Aceh yang bergolak sejak lama, diberikan referendum otonomi oleh Gus Dur, bukan referendum seperti Timor timur. Gus Dur mulai mengurangi jumlah militer yang beroperasi di Aceh, ia ingin melakukan pendekatan yang lebih halus. 30 Desember 1999 dia mengunjungi Irian Jaya, dan meyakinkan rakyat disana bahwa mereka bisa menggunakan nama Papua untuk Irian Jaya

Perjalanan sebagai Presiden RI ke 4.

Januari 2000, ia melakukan perjalanan ke wilayah Eropah, dengan mengunjungi Swis, menghadiri Forum Ekonomi Dunia. Mengunjungi Arab Saudi dalam perjalanan pulang ke Indonesia.

Februari, Gus Dur melakukan perjalanan ke wilayah Eropah kembali dengan mengunjungi negara lainnya, Inggris, Perancis, Belanda, Jerman dan Italia. Dalam perjalanan pulang ke Indonesia, ia mengunjungi, India, Korea selatan, Thailand, Brunei Darrusalam. Pada bulan Maret mengunjungi Timor Leste. April mengunjungi Afrika Selatan, dalam perjalanan menuju Cuba, guna menghadiri pertemuan G-7, sebelum kembali, melawat ke kota Meksiko dan Hong Kong. Juni, sekali lagi Wahid mengunjungi Jepang, Amerika serikat, Perancis, dan ke Iran, Pakistan, Mesir.

Februari 2000, saat dalam perjalan ke Eropah, Gus Dur meminta Jenderal Wiranto untuk mengundurkan diri sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. Bagi Gus Dur saat itu, Wiranto adalah halangan dalam bergeraknya roda reformasi. Juga karena tuduhan pelanggaran HAM selama bertugas di Timor Timur. ( sekarang Timor Leste ).

Saat Gus Dur tiba kembali di Indonesia, Wiranto meyakinkan Gus Dur untuk tidak menggantinya, dan berhasil. Tapi kemudian Gus Dur merubah pikirannya, meminta Wiranto mundur. April 2000, Gus Dur memecat Menteri Negara Perindustrian dan Perdagangan, Jusuf Kalla, dan Menteri BUMN, Laksamana Sukardi. Alasannya, keduanya terlibat kasus korupsi, walau Gus Dur tidak pernah memberikan bukti kuat. Akibatnya, hubungnnya dengan Golkar dan PDIP memburuk.

Maret 2000, pemerintahan Gus Dur mulai melakukan negosiasi dengan Gerakan Aceh Merdeka ( GAM ). Nota kesepahaman ditanda tangani dua bulan kemudian dengan GAM, dan berakhir awal 2001, saat kedua belah pihak melanggar nota kesepahaman.

Pada era Gus Dur, diusulkan olehnya, agar TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut. Gus Dur juga berusaha membuka hubungan diplomatik dengan Israel, yang membuat marah kelompok Muslim Indonesia.

Usaha reformasi di tubuh militer, mengeluarkan militer dari ruang sosial politik, agar militer fokus pada tugasnya, yakni membela kedaulatan negara. Bukan ikut-ikutan dalam kancah politik, usaha dan jabatan di pemerintahan maupun DPR. Gus Dur menemukan sekutu dalam tubuh militer, yakni Jenderal Agus Wirahadikusuma, dia diangkat menjadi Panglima Kostrad ( Komando strategi angakatan darat ), pada bulan Maret 2000. Pada bulan Juni tahun itu juga, Agus mulai membuka skandal yang melibatkan Dharma Putra, sebuah yayasan yang memiliki hubungan dengan Kostrad.

Karena skandal tersebut, TNI melalui Megawati, mulai melakukan tekanan pada Wahid, untuk mencopot jabatan Agus Wirahadikusuma. Gus Dur merespon hal tersebut, kemudian berencana mengangkat Agus menjadi Kepala Staff Angkatan Darat ( KASAD ). Usaha itu mendapat tanggapan keras dari para petinggi ABRI, mereka mengancam untuk pensiun. Gus Dur takluk dengan tekanan tersebut.

Hubungan Gus Dur dengan TNI ( ABRI ) semakin buruk, ketika laskar Jihad yang dipersenjatai oleh TNI tiba di Maluku. Laskar Jihad di Maluku untuk membantu konflik orang Muslim yang ada disana. Gus Dur meminta TNI menghentikan Laskar tersebut, tapi mereka tetap bisa sampai di Maluku, dengan persenjataan dari TNI.

Tahun 2000 muncul pula dua skandal besar yang melibatkan Gus Dur, skandal Buloggate dan Bruneigate. Skandal Buloggate adalah permasalahan lenyapnya kas Bulog ( Badan Uurusan Logistik ) sebanyak 4 juta dollar AS. Meskipun pada akhirnya uang itu berhasil dikembalikan, tapi musuh musuh Gus Dur menuduhnya terlibat. Skandal Bruneigate, adalah uang bantuan dari Sultan Brunei untuk Aceh, sebanyak 2 juta dollar AS. Gus Dur dituduh menyimpan dana tersebut. Gus Dur gagal mempertanggungjawabkan uang tersebut.

Dalam sidang umum MPR 2000, laporan pertanggunganjawaban Gus Dur diterima oleh MPR. Pada saat itu juga Gus Dur menyampaikan, bahwa dia akan mewakilkan sebagian tugasnya kepada Megawati, sehubungan dengan kelemahan fisik yang dideritanya. ( Gus Dur selama ini selalu didampingi pembimbing karena lemah fisik, terutama penglihatannya ). Hal tersebut di setujui oleh MPR.

23 Agustus 2000, Gus Dur mengumumkan kabinet baru. Kabinet ini jauh lebih kecil dan terdiri dari banyak orang-orang non partisan. Tidak ada anggota partai Golkar di kabinet baru tersebut.

September, Gus Dur menyatakan darurat militer di daerah Maluku, karena kondisi disana semakin memburuk. Semakin jelas keterlibatan TNI atas Laskar Jihat, yang ditengarai kemungkinan didanai oleh Fuad Bawasier, mantan menteri keuangan era Soeharto. Pada saat yang sama, bendera Bintang Kejora dikibarkan di Papua Barat ( Irian Jaya ) oleh orang orang Gerakan Papua Merdeka. Gus Dur membolehkan bendera Bintang Kejora berkibar asalkan di bawah bendera Merah Putih Indonesia. Hal ini mendapat kritikan keras dari Megawati serta Akbar Tanjung ( pimpinan Golkar saat itu ). 24 Desember 2000, terjadi serangan bom di gereja-gereja dijakarta dan 8 kota lainnya di Indonesia.

Di Tahun 2000 tersebut, banyak elit politik yang kecewa dengan Gus Dur, diantaranya yang paling kecewa adalah Amien Rais. Ia mneyatakan kecewa mendukung Gus Dur sebagai calon Presiden tahun lalu. Megawati berusaha melindungi Gus Dur. Sementara dari pihak Golkar, Akbar Tanjung menunggu pemilihan umum legislatif tahun 2004.

November 2000, 151 anggota DPR menandatangani petisi pemakzulan Gus Dur.

Akhir kekuasaan.

Januari 2001, Gus Dur menyatakan, bahwa tahun baru Cina ( Imlek ) menjadi hari libur nasional. Larangan penggunaan huruf Tionghoapun di cabut. Gus Dur lalu berkumjung ke Afrika Utara, dan ke Saudi untuk naik haji. Kunjungannya ke Autralia pada Juni 2001, adalah kunjunngan Gus Dur yang terakhir keluar negri.

27 Januari 2001, didepan para rektor Universitas dia meprediksi terjadinya anarkisme di Indonesia. Jika hal itu terjadi dia menyatakan idenya untuk pembubaran DPR. 1 Februari 2001, DPR melakukan pertemuan, membahas tentang nota pemakzulan Gus Dur, untuk dilakukan sidang khusus MPR. Anggota DPR dari PKB melakukan walk out dalam menanggapi nota itu. Protes terjadi dari para anggota NU di Jawa Timur. Di Jakarta NU melakukan protes di sekitar perkantoran regional Golkar. April, para demonstran pendukung Gus Dur siap mempertahankan Gus Dur sebagai Presiden, apapun yang terjadi.

Maret 2001, Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, Yusril Ihza Mahendra dicopot Gus Dur dari jabatannya, karena dia mengumumkan permintaan agar Gus Dur mundur. Nurmahmudi Ismail, Menteri Kehutanan juga di copot, alasannya tidak sejalan lagi dengan visi presiden, berlawanan dengan presiden dalam pengambilan kebijakan. Dianggap tidak mampu mengendalikan Partai Keadilan, yang pada saat itu orang-orangnya ikut menuntut Gus Dur mundur.

Dalam situasi tersebut, Megawati mulai menjaga jarak, dan tidak hadir dalam pengukuhan penggantian menteri. 30 April 2001, DPR mengeluarkan nota ke dua agar diadakan sidang istimewa MPR pada 1 Agustus 2001. Gus Dur melakukan tindakan, dengan meminta Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan ( Menko Polsoskam ), Susilo Bambang Yudhoyono, untuk mengumumkan keadaan darurat. Yudhoyono menolak, Gus Dur memberhentikannya dari jabatannya beserta empat menteri lainnya dalam reshuffle kabinet pada tanggal 1 Juli 2001.

20 Juli, Amien Rais menyatakan bahwa sidang Istimewa MPR akan dimajukan pada 23 Juli. TNI menurunkan 40.000 tentara di Jakarta, berikut tank yang menunjuk ke arah Istana Negara. Gus Dur kemudian mengumumkan pemberlakuan DEKRIT, yang berisikan ;

1.Pembubaran MPR/DPR,

2. Mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu satu tahun.

3. Membekukan partai Golkar.

Namun DEKRIT tersebut tidak memperoleh dukungan.. 23 Juli 2001, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan digantikan wakilnya Megawati Soekarnoputri. 25 Juli 2001 Gus Dur pergi ke Amerika Serikat karena masalah kesehatan.

Setelah tidak menjabat sebagai Presiden, Gus Dur masih aktip di kancah politik. Antara lain mendukung pencalonan adiknya sebagai calon presiden pemilihan berikutnya, namun gagal.

Sejak menjabat sebagai Presiden, Gus Dur telah banyak menderita berbagai gangguan penyakit. Ia menderita gangguan penglihatan, sehingga seringkali surat dan buku yang harus dibaca atau ditulisnya harus dibacakan atau dituliskan oleh orang lain. Beberapa kali ia mengalami serangan stroke, diabetes dan gangguan ginjal.

Beliau wafat pada hari Rabu, 30 Desember 2009 di rumah sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, pukul 18.45, akibat komplikasi penyakit yang dideritanya. Menurut Salahuddin Wahid, adiknya, Gus Dur wafat karena sumbatan pada Arteri. Seminggu sebelum dirawat di Jakarta dia dirawat Jombang, sebab saat itu sedang dalam perjalanan di Jawa Timur.

Selamat jalan Gus, kau adalah umat muslim yang mampu menjalankan jiwa plural dalam kehidupan ber-agama dan bersosial masyarakat. Semoga langkahmu banyak ditiru kaum sesudah anda, agar tidak terjadi benturan-benturan antar umat beragama, atau mudah dibenturkan oleh orang orang yang kurang berpikiran panjang. Bagaimanapun ber – agama adalah hak yang diberikan Tuhan pada masing- maing umatNya.

Penghargaan.

  • Pada 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, penghargaan cukup prestisius untuk kategori kepemimpinan sosial
  • Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006. Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia.
  • Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan HAM karena dianggap sebagai salah satu tokoh yang peduli persoalan HAM.
  • Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas.
  • Dia juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple dan namanya diabadikan sebagai nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.

Gus Dur memperoleh banyak gelar Doktor Kehormatan ( Doktor Honoris Causa ) dari berbagai lembaga pendidikan, yaitu:

  1. Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Netanya University, Israel (2003)
  2. Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Konkuk University, Seoul, Korea Selatan (2003)
  3. Doktor Kehormatan dari Sun Moon University, Seoul, Korea Selatan (2003)
  4. Doktor Kehormatan dari Soka Gakkai University, Tokyo, Jepang (2002)
  5. Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Thammasat University, Bangkok, Thailand (2000)
  6. Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000)
  7. Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Sorborne University, Paris, Perancis (2000)
  8. Doktor Kehormatan dari Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand (2000)
  9. Doktor Kehormatan dari Twente University, Belanda (2000)
  10. Doktor Kehormatan dari Jawaharlal Nehru University, India (2000)

Oleh Didik Suwitohadi

12-Agustus-2010
ref. Wikipedia
kolom-biografi.blogspot.com
Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 7 September 2010 in Tokoh

 

Tag: ,

One response to “KH Abdurrahman Wahid – Gus Dur

  1. machfudz

    22 September 2012 at 03:54

    Reblogged this on Hamchan's Blog.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: