RSS

Demokrasi dan Kebebasan

21 Okt

Ngomong demokrasi, Amerika memang mbahnya demokrasi. Sampai kawin sesama jenis aja dianggap demokrasi. Bukan yang seperti itu yang cocok di Indonesia. Demokrasi di Indonesia ya demokrasi ala timur. Demokrasi bukan bebas sebebasnya menentukan jalan hidup.

Di AS pun, kalau kita cermat juga tidak begitu. Itu namanya orang yang baru mengenal HAM, baru kenal demokrasi, jadi euforia yang kesetanan.

Duduk sama rendah berdiri sama tinggi, itu bagus. Tapi dalam tarap pergaulan sosial, orang tetap berbeda status maupun cara, gaya hidup, kepintaran, pengetahuan, etika, kebiasaan, masih banyak lagi yang membedakan manusia satu dengan satunya. Jadi jangan demokrasi dijadikan senjata untuk demo. Dijadikan alasan untuk menggugat.

Lihat itu artis artis kita. Sudah berkeluarga, bergaul bebas,  melirik orang lain, terus pacaran, terus minta cerai. Dalil yang dipakai sudah tidak cocok, dan hak manusia untuk minta cerai kalau sudah nggak seneng. Apakah seperti itu yang dinamakan HAM dan demokrasi ?.

Sebaliknya juga, ada yang kusuk menjalankan agamanya, tubuhnya, wajahnya ditutup rapat, pakai baju kalau dilihat secara umum, sangat mencolok anehnya. Dalilnya, ini kebebasan menjalankan agama. Apa juga seperti itu yang dinamakan HAM dan demokrasi menjalankan aturan agama ?

Kenapa sih kok tidak yang wajar wajar saja. Ber-agama tetap ber-agama. Tidak perlu kelihatan mencolok begitu, seakan hanya dialah yang berhak untuk  diakui oleh TUHAN. Lucu dan sangat menggelikan kalau orang dalam kondisi era keterbukaan dan semua hal sudah tidak bisa lagi di tutupi, pengetahuan sudah demikian pesatnya berganti ganti dan berkembang, masih saja berpikiran bahwa dia paling suci dan paling benar diantara makluh makluh lainnya yang tidak searah dengan dia. Darimana hal tersebut didapatkan. Betapa kuper dan menyedihkannya manusia seperti itu.

Demokrasi dan HAM ditangan orang yang berbudaya, berpendidikan, ber-etika, akan menjadi sesuatu yang sangat memberikan manfaat kebebasan bagi semua manusia di bumi ini.

Demokrasi dan HAM di tangan orang yang menganut kebebasan, akan sangat individual dan semaunya saja. Tidak lagi menghargai budaya dan kondisi lingkungannya, serta etika.

Tapi secara jujur, saya akui, kebebasan adalah keinginan semua umat manusia. Saya sendiri sangat menikmati sebuah kebebasan. Manusia bebas adalah manusia yang tidak terikat oleh apapun, aturan, pemikiran, wilayah serta tindakan.

Burqah, Niqaf menurut saya itu adalah memang sudah budaya asalnya. Iran, Irak, Afganistan dan negara sejenisnya memang berbudaya seperti itu ( tapi saya yakin sejak saat sekarang sebagian mereka sudah tidak lagi sekolot itu dalam berpakaian ).

Sejalan dengan perkembangan jaman maka segalanya tetap akan berubah, kecuali etika, rasa saling menghormati.  Sehebat hebatnya bangsa dan se maju majunya dunia, etika tidak akan hilang dari peradaban manusia. Sebab etika adalah saling menghormati satu sama lain.

Dan kita orang Indonesia, sangat terkenal akan etika adat istiadat, sifat sosial gotong royong, kebersamaan, sejak jaman dulu.

Lakukanlah segala sesuatu sesuai dengan budaya Indonesia. Bukan budaya Arab, budaya Amerika atau lainnya, untuk kepentingan bersama, bangsa INDONESIA.

Tapi, bisakah kita manusia menterjemahkan demokrasi dan HAM tanpa menyinggung yang lain …?

Isi kepala manusia banyak cabang dan puncaknya.

oleh. Didik Suwitohadi
Surabaya, 21-Oktober-2011
Update 31-Oktober-2011
Iklan
 
 

Tag: , , ,

2 responses to “Demokrasi dan Kebebasan

  1. Nadiya

    22 Desember 2016 at 08:30

    Assalamualaikum wr.wb pak Didik yang terhormat , saat ini saya sedang mancari2 artikel mengenai sama atau tidaknnya demokrasi dan kebebasan sampai menemukan tulisan bapak . awalnya saya tertarik dan begitu saya baca , mohon maaf sekali memang negara kita ini negara demokrasi yang memiliki kebebasan yang terbatas . Tapi entah ini hanya perasaan saya atau memang benar bahwa bapak begitu tidak menyukai wanita berniqab .

    Saya hanya ingin memberikan pendapat karna kita bebas untuk berpendapat bukan ? mohon maaf sebelumnya jika pernyataan saya ini menyinggung bapak . Jujur saya sendiri wanita yang tidak mengenakan niqab namun saya merasa tidak setuju dengan pendapat bapak yang ditulisan ini saya fikir bukan membicarakan mengenai demokrasi tp mengenai ketidak sukaan bapak dengan wanita berniqab .. Berniqab itu bentuk ketaatan wanita terhadap Tuhannya Allah SWT meskipun hakikatnya wajah dan telapak tangan diperbolehkan terlihat karna itu tidak termasuk aurat. masalah suci atau tidaknya tak perlulah anda membicarakan bahwa org yang berniqab itu org yg ingin dipandang suci .

    niqab bukan masalah adat istiadat negara ini atau negara itu , biarlah para wanita yg ingin menjaga pandangan laki2 menutup seluruh tubuhnya dengan pakaian yg dia inginkan masalah dia suci atau bukan itu bukan urusan bapak , Bapak tahu dari mana jika org yang bapak bilang mencolok itu ingin jika hanya dia yang boleh dianggap oleh Tuhan, dan saya juga tidak tahu siapa yang bapak maksud dalam tuliasn bapak yang mengatakan : ” pengetahuan sudah demikian pesatnya berganti ganti dan berkembang, masih saja berpikiran bahwa dia paling suci dan paling benar diantara makluh makluh lainnya yang tidak searah dengan dia. ”
    karna ini media publik bukan hanya org yg ingin anda sindir aja yang membaca , jika anda ingin menyindir si A maka B sampai Z pun mungkin ada yg tersindir seperti saya contohnya .

    dan bisakan kita menterjemahhkan demokrasi tanpa menyinggung org lain seperti yang bapak katakan di akhir tulisan bapak ini. Sekali lagi mohon maaf Niqab yang mereka kenakan itu tidak merugikan bapak juga bukan, jadi menurut saya buat apa bapak cape2 membuat artikel yang mengatas namakan demokrasi tp menonjolkan ketidak sukaan bapak terhadap wanita berniqab???

     
    • Didik Suwitohadi

      22 Desember 2016 at 11:39

      Sebuah tulisan adalah pendapat. Sebuah tulisan bisa saja menyinggung seseorang. Walau maksudnya pendapat.
      Coba deh dicernah dengan baik.

      Dan bagaimana dg poto di KTP ? Budaya menutup aurat itu saya sangat setuju. Tapi apakah harus dibungkus semua sampai orang tidak mengenali, siapa dia. Terus kalo masuk negara orang dan dilarang berpakaian spt itu, di bilang melanggat HAM … ? Lah gimana ?. Sedang dia sendiri sebenarnya juga melanggar HAM orang lain untuk mengetahui siapa dirinya. Masak bertetangga gak kenal wajahnya?

      Kalau spt itu, ya sebaiknya tinggal ditempat spt itu pula. Bagaimana orang bisa mengenali orang yg seluruh tubuhnya gak kelihatan, cuma matanya ?
      Rasanya yg diselimuti kebencian itu bukan saya.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: