RSS

Di bawah sinar rembulan.

29 Nov

Bulan menggantung besar di langit cerah. Hawa terasa hangat di sekitar. Kelamnya malam tersapu cerianya rembulan yang tersenyum penuh. Bayang bayang pohon begitu mesra berbaring di tanah.

Saat seperti ini, di desa desa, ramai anak anak desa bermain dihalaman rumah yang luas. Kanan kiri banyak tanaman dan pepohonan. Mereka berteriak bersautan, saling mengejar dan memeluk. Bermain – bergembira khas anak anak.

Sementara orang tua mengawasi diberanda rumah sambil bercengkerama. Betapa wajah wajah bahagia itu membuat mereka tenteram dan nyaman,  sukur mengguyur seluruh relung hati.

Seorang Ibu menghela nafas dalam, bersimpuh diteras rumah yang terbuat dari kayu. Setiap rumah didesa itu selalu lebih tinggi dari halamannya. Paling tidak jika masuk rumah harus menaiki anak tangga kayu, minimal sebanyak tiga anak tangga.

Dihalaman yang luas, anak anak ribut dengan keceriaannya. Sementara sang Bapak duduk agak jauh disamping sambil menghisap klobotnya. Asap kenikmatan mengepul dari lubang hidung dan mulut. Tarikan nafas menunjukan betapa dia menikmati benar rokok klobot itu.

Bulan purnama membuat semua bayang bayang masa lalu dan masa akan datang bertaburan dijagat angan. Keindahan purnama mampu membangkitkan suasana tentram sekaligus ngilu di ulu hati.

Betapa kenangan bermunculan di saat saat seperti ini. Sedih senang saling menyapa. Keindahan alam adalah anugrah yang penuh makna dan misteri dalam kehidupan setiap orang.

Disana ditempat lainnya, perempuan itu termangu sendiri di kursi malasnya, diteras rumah dengan halaman taman yang tertata rapi. Bulan penuh menyinari tanaman halaman rumah. Begitu jelas seluk beluk sela tanaman. Sinar rembulan menambah sempurna keindahan tanaman. Tetapi betapa bertolak belakang dengan perempuan tersebut, yang termangu di kursi malasnya. Bergaun malam cerah dengan  sal membelit lehernya yang bersinar. 

Sekali sekali tarikan nafasnya menggoyang sal yang melilit leher. Ada senyum kecil, lucu, kadang ada tarikan nafas berat. Gelombang rasa, sepertinya sedang berpesta didalam sanubari perempuan itu.

Bayangan anak anak kecil berlarian disela sela tanaman di taman. Betapa kegembiraan terpancar di wajah wajah kecil lucu dan lugu.

Sebuah lengan yang tiba tiba melingkar dilehernya dari arah belakang membuyarkan ilusinya.

” Masih kamu memikirkan mereka?. Jangan kau ganggu mereka dengan perasaan perasaanmu itu. Biarkan mereka hidup dalam kehidupan yang telah mereka miliki dan mereka pilih sendiri. Kadang kita harus merelahkan apa yang telah kita miliki dan kita cintai. Semuanya itu sesungguhnya bukan milik kita. Saat akan pergi, pasti terjadi. Kini, harusnya kita bahagia melihat mereka bahagia bersama orang orang yang mereka cintai. Toh… kadang mereka juga hadir disini dengan segala keceriaannya.”

Perempuan itu menggerakan kepalanya keatas, tersenyum penuh makna. Kemudian dia menempelkan pipinya pada lengan yang melingkar di leher dari belakang. Kebahagiaan itu ada disini, dalam pelukannya. Namun nuansa rembulan kadang membawanya berpetualang ke masa masa lalu yang penuh dengan segala sejarah kenangan yang tak mungkin dia lalui lagi.

Rembulan …ya… rembulan…Kau satu dari bagian alam yang mampu membuat manusia menerawang ke masa masa yang telah lalu, dan bermain main di masa kini. Sinar sejukmu yang benderang di malam ini, membuat segalanya menjadi menerawang ke alam yang tak mungkin dilalui. Menyedot hati dan perasaan entah kemana. Mempermainkan hati semua makluh di atas bumi ini.

Berteman dengan alam adalah sesuatu yang sangat indah. Alam mampu mempermainkan dan mengaduk aduk hati setiap insan di muka bumi ini. mampu mencairkan sesuatu yang keras menjadi lunak kembali, walau dalam sejenak.

oleh. Didik Suwitohadi
29-11-2011
Iklan
 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: