RSS

Kesalah pahaman tentang tindakan memaafkan

01 Feb

Secara umum, kita mengatakan, bahwa tindakan memaafkan adalah tindakan yang melemahkan. Menurut Dr Ibrahim Elfiky, dalam bukunya “ Personal Power “, ada 3 mitos memaafkan yang disalah artikan orang secara umum.

  • Memaafkan berarti lemah
  • Memaafkan berarti menerima luka dan penderitaan orang lain.
  • Memaafkan berarti melupakan

Mitos memaafkan berarti lemah.
Sering kita mengatakan bahwa memaafkan berarti kita lemah, dan secara bersamaan memberikan kekuatan pada orang lain. Padahal kalau kita berpikir lebih dalam lagi, hal itu adalah salah. Tidak semua orang mempunyai kekuatan untuk bisa memberikan kata maaf pada seseorang.

Bayangkan kalau anda tidak bisa memberikan maaf pada orang lain, apa yang terjadi..? Kekacauan dalam pikiran anda. Anda selalu diganggu kebencian anda. Tidurpun anda tidak nyaman. Selalu digerogoti kebencian yang tak terukur. Hari hari anda akan dipenuhi pengaruh pengaruh buruk yng muncul dari kebencian anda. Bahkan anda bisa tidak rasional lagi terhadap orang yang anda benci.

Mitos memaafkan berarti menerima luka dan penderitaan orang lain.
Pendapat Dr. Ibrahim Elfiky menyatakan, ada perbedaan besar antara memaafkan dan menyetujui sebuah perilaku. Kita punya hak untuk tidak menyetujui perilaku seseorang, tapi kitapun masih bisa menerima orang tersebut. Menolak perilakunya bukan berarti tidak bisa menerima orangnya. Karena kita sama sama mahluk Tuhan, yang luar biasa, dalam memperluas kata maaf.

Pada kakekatnya seseorang itu tidak akan selalu sama dengan perilakunya. Ada sisi sisi lain yang yang membuat orang tersebut baik. Misalnya orang kasar itu tidak selalu jelek. Perilakunya memang kasar, perkataannya suka menyakitkan. Tapi sebagai manusia dia adalah orang yang baik. Yang perlu kita lakukan adalah memahami perilaku itu.

Seorang pemimpin tidak boleh terpengaruh oleh perilaku sesorang, karena dia bisa memilih orang yang tidak tepat dengan pekerjaan yang akan dilakukan orang tersebut. Karena tidak suka dengan perilaku kasarnya, maka dia tidak dipilih. Padahal sebagai pimpinan dia sangat tegas dalam bertindak, mampu memimpin dan mendorong seseorang ke arah target. Hanya perilakunya yang keras dan cenderung kasar. Hal ini masih bisa diperbaiki. Ketegasannya diperkuat, sifat kasarnya diperhalus. Sehingga akan terjadi satu sinergi dua sifat tersebut. Sinergi tersebut akan melipatgandakan kinerja yang bersangkutan. 

Memaafkan berarti melupakan.
Menurut Dr. Ibrahim Elfiky, ada beberapa hal yang harus kita lakukan, adalah sbb :

  • Maafkan orangnya.
  • Ambil pelajaran dari situasinya
  • Ingat selalu pelajarannya.
  • Lepaskan emosi negatif yang menyertainya.

Kenapa kita harus melakukan hal tersebut diatas. Pada umumnya nasihat yang kita terima adalah “ maafkan dan lupakan “. Kalau hal itu yang kita lakukan, maka kita akan terjebah pada kesalahan yang sama. Memaafkan lagi dan melupakan lagi. Memaafkan memang harus, tetapi kita tidak boleh melupakan peristiwa kesalahan itu terjadi, agar pada saat yang sama kita tidak mengulanginya.

Dimasa depan, saat terjadi peristiwa yang sama atau mirip, setidak tidaknya kita masih ingat kesalahan yang telah terjadi, dengan demikian kita bisa menghindarinya. Atau paling tidak sudah mempersiapkan diri sebaik baiknya agar kesalahan pada peristiwa yang sama tidak akan terjadi. Itulah yang dinamakan kontrol.

Pelajaran apa yang disampaikan oleh Dr. Ibrahim Elfiky ? Menurut saya adalah, pelajaran OBYEKTIFITAS. Setiap orang yang mampu menggunakan pikiran obyektifnya, akan mendapatkan jalan keluar yang sebaik baiknya. Walaupun jalan keluar itu bukanlah satu keputusan yang dia sukai. Tapi benar menurut kaidahnya.

Tidak semua keputusan yang kita lakukan, menyenangkan diri kita maupun orang lain. Tapi benar menurut yang seharusnya. Itulah keputusan yang terbaik.

Seorang Patih Gajah Mada, sosok patriot dijaman Majapahit dibawah raja Hayam Wuruk, salah satu sifat yang harus di punyai seorang pemimpin adalah, Abhikamika ( Gajah Mada, CEO Agung Majapahit, oleh Bhre Tandes ),

Abhikamika : Pemimpin harus tampil simpatik, orientasi ke bawah, mengutamakan kepentingan rakyat banyak, daripada kepentingan pribadi atau golongannya.

Begitu banyak pemimpin di perusahaan yang ber-orientasi pada diri sendiri. Hampir semuanya. Kecenderungan untuk menyelamatkan diri lebih besar dari pada menyelamatkan orang lain. Rasa berkorban itu akan lebih kecil pada saat orang semakin besar jabatannya, atau pada orang yang tidak pernah mengalami hidup dikalangan bawah, yang serba sulit dan harus berjuang keras hanya untuk makan satu hari.

Kenapa kaum akar rumput – kaum bawah mempunyai rasa solidaritas begitu tinggi, rasa empati begitu dalam ? Karena mereka pernah merasakan kepahitan yang sama. Tapi sisi lain, mereka begitu mudah digoda dan dibujuk. Disini peran sifat Abhikamuka harus muncul, kalau tidak kita akan termakan bujukan tersebut. Pada akhirnya kita akan menjadi boneka untuk menindas sesama.

Memaafkan memang perkara mudah, tapi untuk tidak terjebak pada kesalahan yang sama, adalah perkara yang tidak mudah. Maka kita harus tetap belajar untuk menjadi orang yang selalu bertindak berdasarkan pikiran yang obyektip. Hilangkan segala pemikiran tentang kerugian yang akan kita alami. Percayalah, tidak akan ada kerugian pada diri kita, bila tindakan kita obyektif, sesuai dengan seharusnya, bukan sesuai dengan keinginan kita. Memang kita tidak menerima keuntungan pada saat itu juga, tapi akan kita dapatkan disaat yang tidak kita sangka sangka. Tuhan maha adil dengan segala tindakannya.

Oleh. Didik Suwitohadi
29-01-2012

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Februari 2012 in Manajemen

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: