RSS

Apakah harus begitu…?

03 Feb

Kadang aku bingung dan bertanya tanya dalam diri, melihat begitu banyak orang berseliweran di jalan kota besar ini. Hebatnya lagi, ternyata sebagian besar dari mereka berasal dari kota kota kecil di sekitar kota besar ini. Bahkan sampai beberapa ratus kilometer dari sini.


Mereka adalah kaum urban yang begitu terpesonanya ingin hidup dikota yang maha ramai dan maha menjajikan segalanya ( se tidak tidaknya, itu menurut pemikiran mereka ). Mereka belajar dikota besar, setelah selesai dan menerima gelar sarjana, sebagian besar dari mereka tidak mau pulang kekampung halamannya. Menetap dan mencari kehidupan di kota besar dengan segala fasilitas keramaian dan hiburan yang ada. Padahal, pada saat itu mereka masih menggantungkan hidupnya dari kiriman uang orang tuanya di daerah. Di kota mereka lebih banyak menganggur dan bersenang senang, cari kerja jika tak malas ( beda dengan orang muda, yang memang dari desa datang ke kota untuk cari kehidupan, jenis ini memang benar benar melarat didaerahnya ). Sebagian besar pula, mereka anak anak daerah yang orang tuanya hidup sebagai petani, perkebunan, pedagang dan pegawai pemerintahan serta guru. Mereka malu rupanya mengakui dan mengikuti jejak orang tuanya sebagai petani, berkebun, berdagang dan sebagainya. Yang lebih membuat saya juga bersedih, anjuran dari orang tua mereka untuk bekerja dikota, mencari pangkat dikota. Pulang membawa mobil dan jabatan. Membuat kagum dan terbengong bengong kerabat serta orang kampungnya. Mereka lebih suka mendaftar sebagai pegawai negri sipil di kota besar daripada di desa atau dikotanya sendiri.

Saya tidak mengatakan bahwa anjuran itu salah, tapi apakah memang harus memberikan anjuran seperti itu pada anak mereka ?. Hanya untuk menyombongkan diri pada kerabat dan tetangga kampung akan kesuksesan anaknya, yang pulang dari kota besar. Apakah mereka tidak berpikir akan kelanjutan usaha mereka yang sudah dibangun sedemikian lama demi biaya anak mereka. Kenapa mereka tidak diarahkan untuk melanjutkan apa yang dipunyai orang tua, dan mengembangkannya. Kenapa harus menjadi orang kota untuk bisa dihargai dan dikagumi di desa atau dikampung, atau dikota kecil mereka ?. Kenapa mereka tidak bangga dengan kesuksesan di tempat sendiri ?. Membangun daerah sendiri. Kenapa harus berjubel di kota ?.

Orang kita masih berpandangan feodal sekali, mereka ber-anggapan, bahwa kota besar adalah sumber kebanggaan. Menurut mereka, kebanggaan hanya dapat diperoleh di kota besar, bukan ditempatnya sendiri. Sungguh pemikiran tersebut harus segera di rubah dan dibuang jauh jauh. Pemikiran seperti itu, meracuni pemerataan kemajuan negara. Membuat orang tidak peduli dengan daerah masing masing. Tidak merasa bangga dengan daerah masing masing.

Sekarang jaringan internet bisa diakses darimanapun. Dari desapun kalau mau mengetahui segala isi dunia, juga sudah bisa. Tidak usah jauh jauh pergi kekota kalau hanya ingin pengetahuan pertanian, perkebunan yang lebih baik. Internet sudah menyediakan itu semua.

Orang desa yang hanya pakai sarung, blangkon, udeng dan pakaian adat lainnya, mampu mengetahui isi dunia, sama baiknya dengan orang kota, melalui akses internet. Yang dibutuhkan hanya sedikit belajar mengenal tehnologi komputer. Untuk fasilitas pembelajaran ini, saya kira adalah bagian dari tugas pemerintah setempat. Butuh tangan dingin dari ahli ahli pemerintahan.

Kita kadang tidak menyadari bahwa dikota kecil dibawah bukit, ada seorang seniman lukis yang begitu dikenal dunia, ahli tari, gamelan, batik, tapi tak dikenal tetangganya. Atau biasanya, didaerahnya dia dianggap biasa biasa saja, tapi namanya mendunia. Dia berkarya di kampungnya, tidak perlu kekota besar untuk menjadi terkenal maupun dikenal. Yang penting adalah berkarya.

Para pekerja seni inilah yang umumnya tidak silau akan kebesaran kota besar. Mereka kekota pada saat ada sponsor yang membawa mereka untuk mengenalkan karyanya. Atau memamerkan karyanya. Sesudah itu tidak perlu lagi tinggal di kota. Orang akan datang padanya untuk melihat karyanya dan membelinya. Kenapa pekerja lainnya tidak bisa…?. Harus bisa.. ! Internet adalah sambungan intenasional yang sangat murah. Belajarlah kearah sana.

Kenapa orang orang muda daerah tidak dipacu semangatnya untuk membuat usaha orang tuanya menjadi maju. Dengan ijasah sarjananya, seyogyanya mereka akan bisa mengelola usaha keluarga jauh lebih baik dari pendahulunya. Jadi petani, jadilah petani modern, yang sudah mengenal ilmu pertanian dan pemasaran, agar tidak di akali tengkulak. Jadi pedagang juga bisa mengembangkan komoditas yang ada dikotanya di pasar nasional maupun internasional. Tahu apa yang diinginkan pasar. Yang pingin kerja di pemerintahan, juga bisa memajukan pemerintahan setempat. Apa yang kurang selama ini, yang tidak diketahui oleh pendahulunya, gali dan kembangkan. Yang penting tidak merusak tatanan alam dan ekosistimnya. Jangan merusak tanah warisan pendahulu kita. Lindungi dan suburkan tanahya. Jangan jual pada para investor, akan hancur daerah kita jadinya.

Buatlah desa atau kota kecil kita jadi indah dan makmur, dengan pendidikan tinggi kita, yang kita peroleh dari kota. Bukan berbondong bondong lari kekota hanya untuk secuil keramaian yang mudah musnah. Jadilah pemimpin didaerah anda masing masing. Jangan sampai daerah anda dipimpin oleh orang yang bukan daerah anda. Mereka akan mengeruk segala kekayaan daerah anda, kemudian pergi ketempat asalnya.

Saya sedih, melihat bukit bukit, sawah sawah, kebun kebun, yang dulunya subur  indah terhampar, sekarang sudah rusak, bahkan ada yang musnah tak berbekas. Tumbuh beton beton bertulang. Kemana orang orang yang sudah sekolah dikota ? Mengapa mereka biarkan semua keindahan daerah menjadi porak poranda oleh para oportunis kota dan makelar makelar tanah setempat. Yang tersisa adalah bencana tanah longsor dan banjir.

Bangunlah dari mimpi hai orang desa, penyuplai makanan orang kota !

Oleh. Didik Suwitohadi
26-01-2012.
Untuk kota kecilku yang mulai porak poranda, dirusak warganya sendiri.
Iklan
 

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: