RSS

Agama yang meracuni kehidupan saya.

13 Mar

Dulu, saya beragama untuk agama ( Agama Sentris ). Saya menganggap seolah-olah agama barang suci. Terpisah dari kehidupan. Segala sesuatu yang tampak luarnya tidak berhubungan dengan agama saya anggap tidak penting, bahkan ekstremnya saya anggap hanya akan menjauhkan saya dari agama. Mempelajari Ilmu Pengetahuan saya anggap tidak perlu. Yang perlu hanya ilmu agama. Akibat dari pemahaman seperti itu membuat saya anti kemajuan. Saya mengisolasi diri dari kehidupan pada umumnya. Saya mengutuk kehidupan di luar komunitas orang-orang yang tidak taat beragama. Kehidupan saya benar-benar ekslusif.

Kenapa hal itu bisa terjadi?

Karena saya menganggap agama sebagai barang suci, tabu, mutlak dan tidak boleh diganggu. Pemahaman seperti itu membuat saya rela berkorban, selalu merasa hina, penuh dosa demi mensucikan agama. Saya mengekang seluruh nafsu dan motivasi saya dengan ketat. Seluruh hidup, jiwa dan raga saya curahkan demi kepentingan agama. Akhirnya saya merasa kehilangan diri saya sendiri. Yang tersisa hanya jiwa bergama yang palsu. Saya katakan palsu karena jiwa agama yang saya serap hanya propaganda dari para ustad di mesjid, guru-guru saleh dan buku-buku agama yang berpandangan sempit.
Bahkan tragisnya, saya merasa tidak punya pandangan dan harapan baik lagi terhadap kehidupan dunia. Saya hanya merindukan sorga di akhirat. Keyakinan saya waktu itu telah menipu setiap kenyataan hidup secara berlawanan. Kepahitan di dunia akan menjadi kebahagiaan di akhirat. Sebaliknya kesenangan di dunia akan menjadi siksaan di akhirat. Karena itu saya harus rela menderita di dunia untuk mendapatkan sorga di akhirat.
Pemahaman seperti itu merubah saya menjadi seorang yang sangat pesimis. Saya merasa tak berdaya, lemah, hina, dan sontoloyo. Singkatnya saya merasa benar-benar terasing dalam kehidupan, bahkan merasa asing dengan diri saya sendiri. Keyakinan itu begitu memukul jiwa saya.
Desakan pengalaman beragama seperti itu akhirnya mencapai anti klimaksnya, hingga akhirnya jiwa saya berontak. Jika pemahaman seperti itu yang saya anggap sebagai beragama, berarti agama hanya menghancurkan hidup saya. Jika saya ingin tetap beragama dan tidak ingin hidup terasing di zaman saya hidup, berarti saya perlu memahami agama dengan cara pandang yang lebih segar dan hidup. Maka melalui buku-buku yang mencerahkan dan pergolakan bathin yang hebat, lambat laun keyakinan seperti itu mulai gugur satu persatu dalam diri saya. Secara perlahan semangat berpikir kritis mulai menyusup dalam pikiran saya, sampai akhirnya merubah seluruh sistem keyakinan saya.
Dan kini, seluruh sistem keyakinan lama itu telah tinggal catatan. Rekonstruksi keyakinan yang saya alami terasa begitu mencerahkan. Saya merasa hidup baru kembali. Agama yang saya pahami sejalan dengan kehidupan. Bahkan saya meyakini agama itu mengabdi pada kehidupan. Bukan kehidupan yang mengabdi pada agama. Agama saya pahami hanya seperangkat konsep, prinsip, aturan dan bimbingan. Apapun istilahnya, yang jelas agama itu bukan tujuan dan bukan barang suci (hanya Tuhan yang suci). Seperti dalam dunia pendidikan dan pengajaran, agama hanya ibarat sebuah kurikulum. Ia mesti dijabarkan sesuai dengan kemampuan siswa, guru dan situasi. Agama mesti diterjemahkan dalam kehidupan. Tanpa itu, agama tidak akan berfungsi dalam kehidupan.
Karena agama untuk kehidupan berarti agama harus hidup. Bukan menjadi patung mati. Ia mesti relevan dengan setiap waktu dan tempat. Agama tidak cukup dipahami sebagai kumpulan ayat-ayat mati (harfiah) yang ada dalam kitab suci. Tetapi jiwa dan semangat yang tersembunyi dibalik ayat-ayat itulah yang harus digali.
Hanya dengan menafsirkan ayat-ayat sesuai waktu dan tempatlah agama bisa berfungsi dalam kehidupan. Tetapi jika yang terjadi sebaliknya, maka agama hanya akan menjadi racun kehidupan. Bukankah kehidupan adalah gerak dan perubahan? Karena itu mustahil agama akan berfungsi dalam kehidupan bila agama yang dipahami menentang perubahan.
Oleh. Erianto Anass
24 Maret 1996.
Disampaikan pada forum diskusi.agama@groups.facebook.com

Kesimpulan.

Gambaran orang beragama yang berharap terlalu banyak pada agamanya. Padahal agama hanyalah mengajarkan keberadaan Tuhan. Mengajari apa yang baik dan apa yang tidak baik ( menurut agama tersebut ). Banyak orang beragama mengharapkan pujian, agar dia dianggap orang yang alim dan ahli surga. Banyak orang beragama hanya fokus mengejar sorga, menganggap agamanya paling benar dan tidak mentolerir agama atau kepercayaan orang lain. Mengharapkan sesuatu yang absurd. Pada akhirnya mereka jatuh pada sesuatu yang sia sia dan keputus asaan. Betapa pemikiran semacam itu sangat membodohi orang.
Menganggap dirinya sudah sujud patuh pada apa yang diajarkan Tuhannya, tapi kenapa masih tetap saja miskin dan tidak merasa tenteram. Menganggap ilmu pengetahuan bisa menjerumuskan dia pada hal hal yang tidak baik. Misalnya ilmu kloning, dianggap mau mempersekutukan Tuhan. Padahal itu hanya ilmu pengetahuan, yang Tuhan juga yang menyuruh untuk mempelajari demi kemslahatan umat di dunia. Tapi dengan catatan, bahwa semua itu adalah karunia dari Tuhan. Jangan menganggap semua yang kita usahakan hanya se mata mata karena usaha kita. Sebagian benar, sebagian tidak. Bagi umat yang beriman pada Tuhannya, semua adalah karunia dari yang kuasa.
Karena terlalu larut pada agama saja, maka kita akan selalu ketinggalan hal hal baru, terutama ilmu pengetahuan. Kita akan menjadi orang yang serba terkejut, serba mengutuk, serba menyalahkan, serba merasa paling benar. Karena kita tidak secuilpun mau mempelajari ilmu lain, kecuali agama. Padahal kalau kita mau jujur, agama adalah dogma, yang harus dipatuhi oleh umatnya. Celakalah umat kalau hanya berpikir sebatas itu. Maka harus kita buka kembali paradigma kita tentang agama. Agama hanyalah alat bagi kita agar kita tidak menyimpang terlalu jauh dari garis yang sudah ditentukan oleh ajaran agama yang kita yakini. Agama adalah sebuah pegangan, tak kala kita jatuh dalam kebimbangan. Agama adalah rem bagi kita saat kita melaju terlalu kencang. Agama adalah rambu rambu agar kita tidak se mena mena dengan yang lainnya. Agama adalah rambu rambu, kapan kita berhenti dan kapan kita berlanjut.
Agama bukan sekedar kepercayaan, tapi sesuatu yang seharusnya membuat manusia lebih punya hati. Kalau ada orang beragama begitu tega bertindak kejam pada manusia lainnya yang tidak segolongan, betapa orang tersebut telah diseret setan ke dalam ruang gelap, melalui penafsiran dan pemahaman agama yang dia anut. Bukan salah agamanya….! Tapi sekedar salah manusianya dalam menafsirkan ajaran agamanya. Hal itu sudah terbukti di muka bumi ini. Sejak jaman dulu, sudah jutaan manusia berjatuhan jadi korban sia sia, hanya karena pemahaman dan penafsiran agama. Betapa sangat kejamnya agama jika sudah salah tafsir dan salah memahami ajaran.
Cobalah kita berpikir sejenak, apakah yang kita inginkan akan terpenuhi bila kita meminta sama Tuhan ? :
Pertama, saya yakin tidak akan terpenuhi, kalau kita hanya duduk di tempat ibadah dan berdoa siang dan malam, tanpa ada usaha mewujudkan apa yang kita inginkan. Itulah orang orang yang menggunakan agama tanpa nalarnya. Siapapun yang mengajarkan hal semacam ini adalah pembodohan. Dan celakanya, ternyata banyak diajarkan oleh orang orang beragama, terutama di pelosok pelosok, disuruh tawakal saja dan pasrah “ kalau memang rejekimu pasti akan diberikan “. Betapa kata kata ini manis dan menyejukan, tapi membuat orang tidak lagi punya semangat juang yang keras. Menjadi orang yang hanya menerima begitu saja, tanpa harapan dan rancangan dalam kehidupannya. Hidup adalah sebuah pilihan, bukan kata Tuhan semata. Tapi kata diri sendiri…! Mau hidup sebagai apa…? Mau hidup seperti apa…? Semua bisa dicapai dengan usaha, dan Tuhan berjanji akan selalu mengabulkan semua permintaan manusia, asal datang dan ambilah janji itu, jangan hanya tepekur di tempat ibadah. Bangkit dan berjalanlah menuju arah seperti yang kamu inginkan. Rejeki harus diambil, bukan di antar.
Ke dua, akan segera sangat berhasil, begitu kita mempunyai keinginan segera beriktiar dan menyusun rencana. Berusaha keras mencari informasi apa yang harus dilakukan agar keinginan maupun tujuannya tercapai. Pada saat beribadah, melakukan doa agar apa yang dikerjakan dapat berhasil dengan baik. Berdoa dengan intens, semoga menemukan jalan keluar dengan segera, atas apa yang akan di usahakan. Kemudian bangkit dan berjuang lagi. Inilah umat yang diharapkan Tuhan. Jangan terlalu dalam teperkur, rejeki anda bisa bisa sudah diambil orang duluan. Jangan sampai Tuhan bilang, bahwa kita pemalas, kerjanya cuma meminta dan meminta tanpa menggerakan tubuh sama sekali.
Agama bukanlah sesuatu yang kaku, hanya mengikuti jamannya saja. Agama bisa mengikuti keadaan jaman. Tinggal kita, mau belajar lebih lanjut apa tidak. Apa tetap berpegang pada paradigma lama. Kalau hanya seperti itu, anda hanya akan menjadi orang yang tertinggal dan suka menghujat.

Oleh. Didik Suwitohadi.
13-03-2012.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Maret 2012 in Wawasan

 

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: