RSS

Balada Sang Kyai.

15 Mar

Suatu ketika seorang kyai kepala pondok pesantren mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi negeri Paman Sam atas undangan seorang muridnya yang kebetulan belajar di sana. Bagi Pak Kyai, hal itu adalah sesuatu yang sama sekali baru, selama hidupnya dia belum pernah keluar negeri, keluar kota pun hanya beberapa kali. Bagi Pak Kyai, ini adalah kesempatan dia untuk mengenal setan itu. Setan yang selama ini dimusuhinya, yang telah memporak porandakan umat Islam. Umat yang tidak punya hormat sama sekali akan ajaran Tuhan yang mulia.

Maka sebelum berangkat Pak Kyai sholat dan berdoa siang malam, memohon petunjuk untuk bisa melakukan yang terbaik selama kunjungannya di negara yang sangat dibencinya itu. Pada hari yang ditunggu-tunggu, berangkatlah Pak Kiai menuju Amerika Serikat, negeri penjajah dunia itu. Perjalanan yang sehari semalam naik pesawat dijalani Pak Kyai dengan sabar, demi mengenal musuh-musuh Islam, begitu pikir Pak Kyai.

Sesampai di Amerika Serikat, Pak Kyai langsung dijemput oleh muridnya yang bernama Pairan. Dan tanpa ba… bi… bu langsung diajak Pairan keliling dulu sebentar di kota sebelum akhirnya diajak pulang ke rumah sewaan Pairan. Pak Kyai akan menghabiskan waktu sebulan di Amerika Serikat.

Suatu sore Pak Kiai menonton TV, waktu itu dia melihat ada wawancara dengan tiga orang, dua laki-laki dan satu wanita. Lama sekali wawancara itu, Pak Kyai sampai bosan melihatnya, ketika dia memindahkan channel pun, lagi-lagi orang yang sama muncul. Sangking jengkelnya, Pak Kyai memanggil muridnya.

” Pairan, kesini kamu…”
” Nggih Pak Kiai, ada apa..?”

” Coba kamu jelaskan Pairan, apa yang diperbincangkan tiga orang ini, dari tadi hampir semua channel di TV-mu menayangkan mereka terus menerus, seperti tidak ada yang lain yang lebih menarik.”

Pairan menghela nafas sebentar.

Oh mereka Pak Kiai, mereka itu Bill Gates, Warren Buffett, dan istrinya Bill Gates, Melinda. Itu Pak Kyai, Si Warren Buffett yang tua keriput sebelah kanan itu, akan menyumbangkan 37 milyar dollar kekayaannya untuk amal.”

Pak Kiai hanya diam tanpa ekspresi.

Berapa kau bilang tadi, 37 milyar dollar, itu berapa Pairan. Dirupiahkan saja biar aku mengerti.

Karena Pairan tak pinter hitung-hitungan, dia segera ke kamar mengambil kalkulator.

” Begini Pak Kiai, kalau satu dollar itu kursnya …”

” Kurs, apa itu kurs..?”
” Oh, kurs itu nilai tukar Pak Kiai, jadi satu dollar bisa ditukar berapa rupiah, begitu kira-kira.”

” Ooooohh….”

Pak Kiai manggut-manggut mendengar penjelasan Pairan.

” Kalau kurs satu dollar itu Sembilan ribu Pak Kiai, maka jatuhnya akan menjadi tiga ratus tiga puluh tiga trilyun.”

” Hah, berapa…?”
” Tiga ratus tiga puluh tiga trilyun Pak Kiai.”

” Satu trilyun itu berapa ribu rupiah Pairan..?”

Pak Kyai dengan nada ingin tahu terus mengejar Pairan dengan pertanyaanpertanyaan. Pairan yang ditanyai seperti itu jadi kebingungan.

” Pak Kiai, maaf. Tapi kalau diribu rupiahkan akan susah, tapi kalau mau gampangnya satu trilyun itu satu juta juta, jadi kalau Pak Kiai ada duit satu juta ya satu jutanya satu juta itu.”

Pak Kiai matanya terbelalak, hampir saja dia berdiri karena kagetnya. Pecinya sampai hampir lepas. Tiba-tiba saja nafasnya memburu, serasa menjadi sesak nafas mendengar jumlah yang tak terkira itu. Pak Kyai jatuh lagi terduduk di kursi, sambil dengan susah payah bernafas.

” Pak Kiai, kenapa Pak Kiai…?”

Pak Kyai hanya diam saja, matanya masih menerawang tak tentu. Pairan yang kebingungan akhirnya lari ke dapur mengambil air putih untuk gurunya. Pak Kyai segera meminumnya.

” Hhhhmmm, agamanya apa si Warren Buffet itu…?”
” Dia tidak punya agama Pak Kiai.”

” Ah, pasti dia sangat kaya raya, kekayaannya pasti jauh lebih besar daripada yang dia sumbangkan itu.”
” Maaf Pak Kiai, 37 milyar itu adalah 80% kekayaannya. Sisanya pun katanya suatu saat akan disumbangkan.”

” Seberapa besar itu 80% Pairan, pasti tak lebih dari zakatnya umat Islam.”
” 80% itu seperti ini Pak Kiai, kalau Pak Kiai punya 10 kambing, 8 kambing disumbangkan, itulah 80%.”

Lagi-lagi Pak Kyai terhenyak, merasa tak ada gunanya membicarakan si Buffet yang tua renta itu, Pak Kyai mengalihkan pembicaraan.

” Itu yang duduk bersama dia, apa yang dia lakukan, apa dia juga mau menyumbang…?”
” Oh Bill Gates dan istrinya itu Pak Kiai. Mereka juga akan menyumbangkan hampir semua hartanya untuk kepentingan orang-orang miskin, pendidikan, dan kesehatan.”

” Yang disumbangkan Gates dan istrinya pasti tak sebesar si Buffet tadi”
” Maaf Pak Kiai, amal Gates justru lebih besar Pak Kiai. Si Buffet tadi malah ingin membantu yayasan yang sudah didirikan oleh Gates dan istrinya.”

Pak Kyai semakin tidak mengerti, apa pula yang dilakukan oleh orang-orang kafir ini begitu rupa.

” Pak Kiai, mereka bahkan menginginkan dihapuskannya budaya dan hukum warisan. Semua orang yang kaya, di kala mati semua hartanya harus digunakan untuk kepentingan umum.”

” Gila mereka itu Pairan, buat apa orang bekerja keras kalau begitu..?”
” Katanya mereka sih, itu hanya tugas manusia saja. Bekerja sekeras mungkin, tapi bukan untuk dirinya sendiri, tapi harus dikembalikan ke masyarakat. Karena bagaimanapun semua kekayaan itu juga dari masyarakat juga.

Pak Kyai mengambil nafas panjang, semakin tidak mengerti kenapa orang orang kafir setan ini bisa berpendapat aneh seperti itu.

Warren Buffet, Bill Gates, dan George Soros. Mereka menolong semua orang, bahkan yang berbeda pandangan dengan mereka. Tanpa memandang agama, tanpa memandang ras, tanpa memandang kebangsaan. Apakah Tuhan kita lebih bermoral daripada mereka…?, sedangkan Gusti Allah kita hanya me-rahim-i yang beragama Islam, Yesus kita hanya men-surga-kan yang memilih jalannya, Yahweh kita hanya menolong keturunan Yahudi. Saya koq kadang-kadang curiga, jangan-jangan mereka ini lebih bermoral dari Tuhan sendiri….?

” Hush….!!!”

Pairan ditampar oleh Pak Kiai sekeras-kerasnya sampai hampir terjungkal. Sebelum Pairan tegak kembali, Pak Kiai sudah memburunya dengan pertanyaan.

” Apakah mereka tidak beragama Kristen..?”
” Tidak Pak Kiai, mereka tidak beragama. Tapi spiritualitas mereka lebih tinggi daripada orang-orang yang beragama.”

Pak Kyai yang mendengar itu menjadi merah matanya, marah bukan main.

” Pairan, aku mau pulang sekarang. Tiada gunanya lagi aku di negeri ini.”

Segera Pak Kyai ke kamar dan memasukkan semua baju-bajunya lagi ke dalam koper

” Aku mau pulang sekarang juga. Tidak akan lagi aku berlama-lama di negeri kafir yang aneh ini.”

Pairan hanya melongo saja, sementara angin dingin musim gugur mulai membelai bumi Amerika Serikat.

Oleh. Rafael Djumantara
Disampaikan oleh Anindya Yumika Dewi
Dalam diskusi.agama@groups.facebook.com.

Kesimpulanku.

Dari kisah diatas bisa dambil pelajaran yang sangat berharga. Bahwa mengetahui hukum hukum agama tanpa tahu ilmu ilmu lainnya, dan berpandangan luas dan dalam, adalah sebuah ketololan yang tak terampunkan. Bisa bisa orang tersebut akan menjadi orang terkejam di muka bumi ini. Karena menganggap agamanyalah yang paling benar. Menurut saya, tidak ada agama yang paling benar di bumi ini, yang ada hanyalah agama yang paling benar yang diyakini oleh umat agama tersebut.
Maka kata katak dalam tempurung patut disandang oleh seorang kyai dalam cerita itu. Betapa dia menganggap semua manusia yang ada di bumi, yang tidak sealiran dengannya di anggap kafir. Padahal kata kafir, setahu saya tidak berarti seperti yang dimengerti umum. Kata kafir kalau merujuk pada bahasanya, yang saya tahu, adalah orang yang tidak menjalankan aturan yang sudah dia ketahui ( coba dilihat pada kamus bahasa arab, pengertian ini saya dapat dari pencerahan Qurais Shihab. Seorang agamawan yang tahu betul tentang tata bahasa arab, dan ilmu ilmu lainnya ). Kalau orang itu tidak se agama atau tidak se kepercayaan dengan kita, bukanlah kafir. Mereka mempunyai kepercayaan dan agama sendiri yang dianut dan diyakininya.
Kiai yang aneh macam itu akan melahirkan murid yang aneh pula.
Amal itu tidak hanya berlaku bagi umat beragama saja. Tapi bagi semua orang yang punya harta berlebih. Sorga itu bukan hanya milik orang yang beragama saja, tapi milik semua umat yang ber-aklah baik dan mulia. Kalau orang beragama percaya bahwa Truhan maha pengasih dan penyayang dan maha tahu segalanya, kenapa orang beragama mengklaim kalau hanya mereka saja yang akan masuk sorganya Tuhan. Bukankah Tuhan berhak mutlak memasukan siapa saja ke dalam sorganya. Maka bangunlah dari mimpi wahai umat beragama. Saya justru memberitahu buat anda untuk segera sadar dan berjalanlah di jalan Tuhan, bukan berjalan didalam ego dan kepandiran. Sugguh kebodohan yang amat sangat yang dilakukan oleh mahluk mahluk yang mengaku beragama.
Sang Kyai itu begitu ter kaget kaget dan heran tentang apa yang telah dilakukan oleh orang orang yang dia anggap kafir, mereka menyedekahkan begitu banyak hartanya untuk kemaslahatan umat di dunia. Sekali lagi umat di dunia….! Sedangkan kita umat Islam, cenderung meng kapling bantuan atau sedekah pada umat Islam saja. Apakah hal tersebut bukan suatu pandangan yang sangat keliru ?. Siapapun yang membutuhkan bantuan, harusnya diberikan bantuan, bukan hanya yang se agama dengan kita, tapi semua manusia.
Tidak ada seorangpun yang berhak masuk surga, kecuali manusia manusia yang sadar, bahwa dia berada di bumi ini untuk saling menolong, bukan saling meng kafirkan satu sama lain.
Siapa sih dalam era dunia masa sekarang yang tidak kenal dengan kata TUHAN…? Semua orang di dunia sudah tahu, apa itu arti Tuhan. Tapi agama yang mereka anut tentu saja berbeda beda, tergantung dari agama macam apa yang lebih awal mereka kenal. Jangan menjadi umat ber agama yang arogan. Semua agama mengajarkan kebaikan pada umatnya. Cuma umatnya saja yang sering salah menafsirkannya, dan merasa merekalah yang paling benar. Silahkan fanatik dengan ke imanan anda, tapi hanya untuk diri sendiri, untuk kebaikan diri sendiri. Fanatik dengan agama yang kita anut bukan berarti boleh menyepelehkan agama atau kepercayaan orang lain, apalagi melecehkannya. Saya kira, itulah sikap bijak yang harus dianut oleh umat beragama.
Sebaiknya jangan menyebarkan agama di tengah umat yang sudah beragama…! Kecuali mereka tertarik dan bertanya pada kita, tentang agama kita. Itulah saat yang baik untuk saling memberikan pemikiran tentang Agama dan ke Tuhanan.

Oleh. Didik Suwitohadi.
15-03-2012

Iklan
 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 15 Maret 2012 in Wawasan

 

Tag: , , , , , , , , , ,

5 responses to “Balada Sang Kyai.

  1. khalid

    27 Oktober 2012 at 18:01

    “jangan menyebarkan
    agama di tengah umat yang
    sudah beragama…! Kecuali
    mereka tertarik dan bertanya
    pada kita, tentang agama kita.”

    — kalo begitu boleh kan melarang begini: “Jangan menyebarkan atheisme di tengah umat yang beragama, kecuali jika mereka tertarik pada atheisme seperti yang Anda ajarkan (cc: Anindyumi)”

    plis deh Kalo mbak anindyumi atheis ya silahkan, tp tulisan nya jgn tendensius ya. Keliatan jelas anda anti terhadap Islam.

     
    • Didik Suwitohadi

      28 Oktober 2012 at 02:05

      Ha..ha…ha…. santai aja teman. Setiap orang akan menganggap agamanya adalah agama yang paling benar. Itu sah sah saja. Sebab kebenaran adalah ada dipihak diri masing masing orang. Walaupun sebenarnya tidak selalu benar. adalah bijak kalau tidak menggebar gemborkan agamanya yang paling benar. Seba seperti yang sudah sering saya katakan, ” tidak ada agama yang paling benar, keculai yang diyakini masing masing orang “. Jadi Relativ bukan ?. Tuhan membiarkan hal itu terjadi agar manusia bisa berpikir. Sejatinya manusia diberi otak untuk berfikir, diberi nafsu supaya ada kemauan berfikir. Bukan melampiaskan nafsu aja. salam

       
  2. sunnylive

    5 Januari 2013 at 00:49

    jangan menyebarkan ajaran agama ke orang yang sudah beragama lain, tetapi sebaiknya gunakan toa hingga terdengar nyaring ke semua perkampungan orang beragama lain.

     
  3. Heru

    3 Juni 2014 at 15:29

    Suatu buah pemikiran yang bijak ,buat penulis,tapi belum tentu menurut orang lain,tapi saya disini bukan menyalah kan cerita tapi sedikit mengkritik kata kata dalam cerita contoh ”koq kadang kadang saya berpikir bahwa mereka lebih berahlak dari pada tuhan” . Kenapa anda punya pemikiran demikian,sedangkan anak paud saja tau bahwa yang memberi hidup dan kehidupan adalah Tuhan entah itu harta, tahta, dsb mulai dari manusia pertama sampai manusia yang terakhir,itu suatu kedangkalan pola pikir. Contoh yang kata yang lain ” saya rasa semua agama itu sama” itu benar menurut pemikiran anda, tapi perlu di ingat bahwa dalam berkeyakinan tidak semua keyakinan itu bisa di paksakan kepada orang lain,itulah nama ego,kalau saya mengibaratkan ”baju”,anda harus memilih baju yang anda yakini cocok buat anda,bukan malah mengatakan bahwa semua baju cocok buat anda, atau anda tidak memakai baju, kerna bingung mau memilih baju yang baik buat diri anda,jadilah anda telanjang, atau anda memakai baju yang sudah bukan jamannya,tetap jadi rancu.sebaiknya lebih bijak lagi dalam menulis kerna bisa buat bumerang buat anda,maaf kalau ada kata kurang berkenan.

     
    • Didik Suwitohadi

      6 Juni 2014 at 06:31

      Santai sajalah. Yang dimaksud jelas bukan lebih tinggi dari pada Tuhan, sekedar kiasan saja mungkin. Trims telah hadir di blog ini. Salam

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: