RSS

Kalian menderita, karena itu pilihan kalian sendiri.

11 Apr

Di bulan Maret 2012. Bumi Indonesia sedang bergelora, panas…! Mahasiswa dan aktivis LSM demo, karena tak terima BBM dinaikan. Tapi saya lihat rakyat kok ya anteng anteng semua. Ya ada sih yang bicara tentang kenaikan BBM, tapi tidak menggebu gebu seperti para mahasiswa dan para aktivis itu. Mereka dengan lantang meneriakan berjuang, turunkan BBM….! Usir neolib …! Usir kapitalis…! sampai turunkan presiden dan wakilnya. Pokoknya segala bahasa yang tidak enak didengar di telinga terlempar dari mulut mereka.


Dan, berjuanglah mereka di jalan jalan raya. Menutup jalan jalan raya, membuat lalulintas macet. Merusak pagar kantor pemerintahan. Menduduki truk tanki bahan bakar, sehingga bbm tersebut terlambat sampai ditempat. Untung saja tidak sampai meledak itu tanki bahan bakar. Mereka terus berpesta membakar bakar ban bekas. Menghadang truck yang muat LPG, mereka jarah LPG itu dan dibagi bagikan kepada para pejalan kaki. Menurunkan bendera merah putih. Meng olok olok pemerintahan. Ada mahasiswa yang copot baju pakai ikat kepala seperti pendekar. Menendang nendang pagar kantor pemerintahan, mendorongnya beramai ramai sampai roboh. Corat coret pada pagar tembok kantor pemerintahan. Menduduki lintasan jalan pesawat terbang, sehingga pesawat tidak bisa beroperasi. Pokoknya serba ramai dan ribut. Mereka merajalela bagaikan orang orang yang tak punyak otak lagi. Padahal mereka menamakan diri MAHASISWA. Sampai ada seorang Ibu menanggis meng iba-iba pada pendemo ( mahasiswa ), minta diberikan jalan agar ambulance yang mengangkut keluarganya yang sakit bisa lewat.

Sementara rakyat, hanya menonton acara itu. Nah. si mahasiswa semakin menjadi jadi, menunjukan perjuangannya. Menamakan diri sebagai pejuang rakyat. Tapi tidak juga disadari apa yang mereka lakukan dijalanan sudah menganggu aktifitas rakyat biasa yang tiap hari harus ber susah payah hanya untuk sesuap nasi. Sementara mereka para mahasiswa di sekolahkan orang tuanya untuk menjadi orang yang pinter dan berguna bagi siapapun. Minimal bagi dirinya sendiri. Tapi ternyata mereka lebih suka jadi pejuang yang rame rame seperti itu. Menurut mereka sih….mahasiswa harus berjuang untuk rakyat. Membela kepentingan rakyat. itulah tugas mulia mahasiswa. Ada sebagian dari tukang becak yang tersenyum mendengar jawaban itu. Dan dia berseloroh sendiri ” Dari dulu saya jadi tukang becak. Dari mahasiswa demo sampai mereka lulus, saya tetap jadi tukang becak. Dan mahasiswa yang lulus, yang dulunya jago demo, ternyata masih menganggur. Melamar kemana mana tidak diterima. Ternyata setelah lulus mereka juga tidak bisa apa apa. “. Ya… kalau dipikir pikir dimana perjuangan mahasiswa itu sebenarnya…? Perubahan fenomenal yang bersifat sesaat. Yang membuat dada mereka kembang kempis disebut pejuang rakyat oleh para tokoh partai, diperparah oleh medianya.

Pada akhirnya rakyat hilang kesabaran, melawan serta mengobrak abrik demo mahasiswa itu, karena mereka sudah lelah, jalan jalan di tutup oleh pendemo, masyarakat tidak dapat ber aktifitas dengan nyaman. Semua serba resah oleh ulah demo mahasiswa.

Tgl 29 Maret 2012, ada sebagaian perusahaan yang mengijinkan buruh buruhnya ikut demo, karena kalau tidak, perusahaan perusahaan itu pasti akan didatangai para pendemo lain dan di gedor pintu gerbangnya, agar karyawannya keluar untuk ikut demo. Apakah ini yang dinamakan aspirasi masyarakat….? Memaksa harus ikut demo…? Hal semacam ini sepanjang pengamatan saya, sudah terjadi sejak 2011, mungkin juga sudah ada di tahun sebelumnya. Demo mencari massa dengan memaksa. Heran saya, dalam kondisi seperti itu, aparat tidak melakukan ketegasan. Jelas jelas mereka menggedor perusahaan dan memaksa karyawan lain untuk demo. Mestinya, pada saat seperti inilah aparat bertindak tegas ( represif…? ).

Pada account jejaring sosial banyak umpatan yang tertulis disana, apabila ada orang yang mengkritisi tentang demo saat itu. Dibilang anjing penjilat presiden dan segala nama kotoran yang bisa disebutkan. Saya jadi miris, inikah orang Indonesia masa depan…? Inikah orang berpendidikan…?

Kita sudah benar benar keluar dari nalar. Sadarkah kita kalau tangan tangan asing bermain disana. Sementara para pemimpin tidak satupun berani melawan hal itu. Mereka ketakutan kalau dia dilengserkan dari jabatan, atau ketakutan bila tak dapat bantuan lagi.

Bangsa bangsa yang pintar selalu bisa menggunakan otaknya untuk memporak porandakan bangsa lain, demi keuntungan bangsanya. Kenapa kita tidak seperti itu…? Tapi jangan porak porandakan bangsa lain demi kepentingan kita. Berpikir pada kepentingan bangsa sendiri, tanpa membuat bangsa lain jatuh, adalah pemikiran yang jauh lebih baik daripada gaya orang orang barat yang selalu ingin menjajah orang timur ( bangsa lemah dan bodoh ? ). Mereka menghasut, spionase, mengadu domba, meng iming imingi materi, senjata, kemudian memberikan bantuan dengan minta imbalan yang bisa menguras harta benda Negara tersebut. Ini sudah terjadi di Indonesia setelah era Soekarno.

Kenapa Indonesia masih “ bodoh “ saja sejak dulu. Sangat jarang dan hampir tidak ada orang benar yang dipercaya dan didukung rakyat..? Kenapa…? Karena orang benar dan pintar itu rata rata memang nggak punya duit….! Sebuah ketololan yang memasyarakat.

Apalagi ditambah isu isu agama yang digembar gemborkan para ahli agama di tv-tv. Semakin dalam kebodohan masyarakat di Indonesia. Bahkan orang orang yang berpendidikan cukupun bisa dijadikan orang bodoh oleh orang orang yang dengan sengaja menggunakan isu agama untuk kepentingannya. Contoh, isu Negara Islam Indonesia ( NII ). Saya tidak menyalahkan isu isu agama, tapi buatlah rakyat itu melek keadaan, disamping takut dosa. Tahu kondisi Negara, bisa bangkit dan berpikir lebih dalam lagi, bukan sekedar hanya berpikir untuk perut. Dan nekat mati konyol demi pemahaman agama, betapa sia sia hidupnya. Sementara yang menganjurkan hal itu, bukan tidak mungkin sedang enak enakan hidup nyaman, berlimpah ruah harta benda.

Maaf kalau saya katakan, agama dimasa ini bukan membuat manusia jadi sadar atas kebodohan dan keadaannya, tapi malahan menjadi bodoh dan pasrah saja dengan keadaan yang ada. Puncaknya, marah demi agama. Kemudian membabi buta dengan perkataan jihat-syahid, serta mati masuk sorga. Betapa pemikiran yang sangat sangat konyol…!

Saya melihat, demo dimasa kini bukan lagi demo yang mempunyai intelektualitas yang baik, tapi demo sakit hati dan demo opportunis. Banyak orang menggunakan kesempatan ini untuk unjuk gigih demi kepentingan dirinya dan partainya. Mereka mengungkit ungkit masa lalu, membanding bandingkan dan menunjukan data data dan dosa dosa kegagalan pemerintah masa kini, tanpa memperhatikan apa yang telah diperbuat pemerintah masa kini. Apapun yang terjadi, Indonesia telah mulai melakukan terobosan terobosan pelayanan publik yang semakin baik. Tapi ingat, untuk menjadi baik bukan sesuatu yang mudah. Kalau Indonesia semakin baik, maka akan banyak yang merasa dirugikan, karena para penjahat kelas intelek itu akan semakin kehilangan kesempatan untuk mengeruk materi negara demi kepentingannya dan golongannya. Maka mereka akan selalu membuat isu isu yang membuat kita semua tidak percaya dan resah. Cobalah untuk berhenti sejenak, megambil nafas, berpikir sedikit saja. Kita menoleh ke jaman ORBA ( Soeharto ), kemudian kejadian reformasi. Apakah memang Negara tidak ada perubahan…? Kalau tidak ada perubahan dalam hal apa…? Dan apakah memang benar benar tidak ada perubahan..? Dan apakah itu karena kekuasaan lama mulai mencekeram pemerintahan kita…? Kalau jawaban pertanyaan yang terakhir itu adalah “ Ya “, maka saatnya kita luruskan lagi jalan perbaikan itu. Jangan serahkan pemerintahan pada golongan lama alias teman teman dan anak didik SOEHARTO. Sadarkah kalian bahwa hal tersebut sudah mulai terjadi. Pertanyaan simpel dan mendasar : siapakah ketua setgab…? Untuk apa setgab dibentuk ?. Siapakah yang membuat Lumpur meluber di Porong ? Dan apakah ada tindakan nyata atas orang tersebut ? Siapa sajakah orang orang yang jadi penasehat di partai ( demokrat ) berkuasa saat ini ? Dari golomgan partai manakah mereka sebelumnya ? Saya kira kita semua sudah tahu…! Kebodohan sudah mulai terulang pada rakyat Indonesia. Mereka hanya percaya pada pemimpin yang bisa memberikan Rp.50.000,- an disaat pemilihan pemimpin. Maka kalian jangan menyesal kalau menderita, karena itu memang sudah pilihan kalian.

Bangsa yang menderita, karena pilihan bangsa itu sendiri, jangan salahkan siapa siapa, yang menentukan hidup kita enak dan tidak, bukan semata mata orang lain. Kenapa pada jaman Bung Karno kita bisa sangat bersatu, setelah merdeka kok cakar cakaran ?. Ini menandakan, kalau kita masih dalam tataran bangsa dengan kualitas rendah.

Sekarang, semuanya hanya dilihat dengan kacamata materi, kekuasaan, bukan lagi kebersamaan dan kerendah hatian serta gotong royong membangun bangsa.

Kesatuan itu sudah mulai diobrak abrik “penjajah” lagi. Kualitas pendidikan sangat rendah, dan tak disadari oleh bangsa Indonesia, terutama kaum mudanya, mahasiswa. Parahnya lagi, kaum tuanya cuma bangga dan terlena dengan gelar ke sarjanaan yang tanpa makna. Lebih parah lagi sarjana Indonesia ternyata tak begitu laku, karena kualitas daya pikir dan daya kerja tak sebanding dengan gelar dan kebutuhan publik. Sungguh menyedihkan bangsa Indonesia. Bangsaku tercinta. Bangkitlah dari mimpi.

Oleh. Didik Suwitohadi
01-April-2012.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 April 2012 in Essei

 

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: