RSS

Kekawatiranku atas Agamaku

30 Mei

Sejarah mencatat, umat Islam pernah melakukan perjalanan jauh sampai ke Afrika, untuk minta suaka pada penguasa disana. Saat itu adalah awal dari perkembangan agama Islam.

“ Dulu, kami adalah orang orang jahiliah yang menyembah berhala, memakan bangkai ( maytah, QS : 2 Al Baqarah ayat 173 ), melakukan maksiat , menelantarkan keluarga dan melanggar perjanjian untuk saling melindungi; pihak yang kuat menerkan yang lemah. Begitulah keadaan kami, sampai Allah mengutus kepada kami seorang rasul dari kalangan kami, yang garis keturunannya kami ketahui, serta yang kejujuran, integritas, dan kemuliaannya kami kenal baik. Ia mengajak kami kepada Allah untuk meng-Esa-kan-Nya, dan menyembahnya tanpa sekutu ; memerintah kami untuk meninggalkan semua batu dan berhala sesembahan kami dan para leluhur kami. Ia memerintah kami untuk berkata benar, menunaikan amanah, memelihara keluarga, tidak menzalimi, dan tidak menumpahkan darah. Ia melarang kami berbuat zina, bersaksi palsu, mengambuil hak hak anak yatim dan menuduh lacur pada perempuan suci. Ia memerintah kami untuk menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya. Ia juga memerintah kami untuk melaksanakan solat / salat, membayar zakat dan berpuasa “.
( “ History of the Arabs “, Philip K.Hitti, hal. 152 )

Itulah yang disampaikan oleh Ja’far ibn Abi Thalib, didepan raja Najasi, saat ia bersama umat islam lainnya hijrah ke Abyssinia ( mencari suaka ), menghindari kaum Qurais yang mengejar ngejar muslim diawal dakwa Nabi. Raja Najasi bernama Ashhamad bin Al Abyar. Menurut catatan sejarah, pada akhirnya raja Najasi masuk Islam. Najasi berada di Abyssinia atau juga disebut Habasyah, saat ini bernama Ethiopia.

Ja’far ibn Abi Thalib adalah putra Abu Thalib paman Nabi Muhammad. Abyssinia pada waktu itu penduduknya banyak memeluk Kristen. Agama yang dibawa kaum Yahudi, yang sudah mengalami beberapa perubahan karena orang Romawi.

Sangat jelas disana makna perintah untuk berbuat baik, tidak sewenang wenang pada orang atau umat lainnya. Betapa ajaran Muhammad mulia. Tapi kenapa sekarang Muslim Indonesia sepertinya se mena mena pada yang lain. Arogan dan merasa mayoritas, kemudian semua harus menurut pada muslim. Padahal Indonesia bukan Negara berdasarkan agama, melainkan ber- Ke-Tuhanan yang Maha Esa.. Kesalahan pemahaman ajaran agama bisa merusak tatanan satu negara dan bangsa tersebut. Membodohkan rakyat. Lihatlah…! Muslim sekarang dengan muslim di era kejayaan Islam sesudah nabi. Betapa pada waktu itu antara universitas di Bagdad dan universitas di Al Andalus ( Spanyol, baca Islam di Spanyol ), saling bersaing dalam ilmu pengetahuan. Tapi sekarang dijaman modern ini, yang mereka tahu hanyalah perbuatan perbuatan yang biasa dilakukan kaum tak terdidik, dengan mengatas namakan Islam. Anarkis. Begitukah cara Muslim membangun agama agung…?, yang dibawah Muhammad dengan segala perjuangannya dimasa itu. Seorang pemimpin yang agung, sangat menghargai perbedaan. Muhammad melarang kaumnya berbuat zina dan sejenisnya. Tapi beliau tidak mau ikut campur yang bukan umatnya. Bahkan diganggupun beliau masih bersabar. Apa yang telah diperbuat oleh seseorang, maka adalah tanggung jawab pribadi orang tersebut, bukan dikaitkan dengan agamanya.

Agama Islam bukan untuk memerangi orang lain atau menghujat apa yang dilakukan orang lain, apa lagi melarangnya. Islam mengajari kebaikan, bukan berarti orang yang tidak sejalan dengan Muslim harus tidak diperbolehkan kegiatannya. Negara yang berhak melarang atau membolehkan satu kegiatan masyarakatnya. Kalau tidak suka menyingkirlah dari sana. Kalau mengganggu, laporkan ke aparat. Semua ada aturannya. Saat ini bukan lagi jaman Islam yang baru saja diperkenalkan Nabi. Perlu di ingat itu…! Kekalifahan sesudah nabi, bukan lagi sekedar penyebaran keyakinan akan Islam, tapi sudah mulai pada penaklukan penaklukan atas sebuah daerah atau syku suku di Arab maupun sekitarnya. Sudah bergeser dari apa yang di lakukan Nabi.

Perbuatan perbuatan yang tidak baik menurut norma agama Islam, sebaiknya tidak ditiru atau dilihat oleh Muslim, jika itu memang diyakini tidak baik bagi dirinya. Jangan malah jadi paranoid, membunuh atau melarang kegiatan orang lain, yang dikawatirkan mempengaruhi Muslim. Betapa salah pengertian seperti ini. Bagi saya, itulah ujian ke imanan saya terhadap agama saya. Tuhan maha segalanya.

Saya justru kawatir, bila suatu saat tiba waktunya, para ulama ulama atau ahli ahli agama itu tidak lagi dihormati keberadaannya, karena salah dalam menafsirkan ajaran agama dan memberikan perintah atau fatwa yang tidak benar, yang bisa menjerumuskan orang dan membodohkan orang. Apalgi fatwa fatwa yang berlandaskan bukan kebenaran agama semata, tapi berdasarkan kelompoknya, atau berdasarkan suka dan tidak suka karena beda pendapat. Betapa “ muslim muslim kelas bawah “ akan semakin terperosok pada jurang kesalahan dan kebodohan yang semakin dalam. Muslim muslim jenis ini percaya 100% pada ulama yang dianutnya tanpa dugaan apapun dan tanpa berpikir apapun. Karena mereka sudah terdoktrin, bahwa ulama adalah wakil atau penerus shiar Nabi. Betapa sangat berbahayanya, beragama tanpa ilmu dan tanpa nalar.

Tidak ada agama yang mengajarkan peperangan…! Penganutnya yang mengobarkan peperangan atas nama agama. Omong kosong besar, untuk menuju kebaikan, harus dilakukan pemusnahan atau peperangan. Nabi tidak pernah mencontohkan itu.

Maha besar Tuhan dengan segala pengajarannya.

Oleh. Didik Suwitohadi
29-05-2012.

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 30 Mei 2012 in Agama

 

Tag: , , , , , , , , , ,

2 responses to “Kekawatiranku atas Agamaku

  1. barakah hi

    9 Juni 2013 at 01:38

    agama yang tidak mengajarkan tentang perang berarti agama itu tidak bisa dipakai. yakin deh bukan dari Allah.

    ajaran Agama itu harus lengkap sehingga umatnya tidak ngaco seperti yg kita lihat dijaman modern ini. Jumlah manusia yang tewas ditangan umat nasrani jauh lebih banyak dari pada gabungan jumlah manusia yg tewas oleh kaum agama lain (ex. islam, hindu, budha etc).

    perang bosnia, ambon, poso, kalimantan tengah, WWI dan WW2, pemusnahan bangsa indian,aborigin,pembantaian di rwanda, inkusisi spanyol dan banyak contoh pembantaian yang lainnya.

    jadi silahkan berpikir ulang jika ingin mengeluarkan statemen bahwa yang menyudutkan islam.

     
    • Didik Suwitohadi

      9 Juni 2013 at 05:26

      Jadi, Agama itu memang harus membunuh ya…? He..he..he… agama mana itu…? Masak harus ada perang Bung Barakah hi.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: