RSS

Hati hati dalam menyikapi HADIS

03 Sep

Dalam mencari informasi kebenaran akan agamanya, umat Muslim berpedoman pada dua hal, Al Qur’an dan Hadis. Al Qur’an adalah segala sesuatu yang disuarakan – difirmankan Tuhan, merupakan kitab suci bagi umat Muslim. Hadis adalah catatan perilaku dan perkataan Nabi, atau bisa juga disebut apa saja yang dilakukan dan diperbuat oleh Nabi. Celakanya, hadis juga sudah menyebar pengertiannya secara umum, adalah catatan perilaku dan perkataan para sahabat Nabi. Jadi, hadis bukan hanya mencatat semua perihal perkataan dan perilaku Nabi, tapi ada juga Hadis yang mencatat perkataan dan perilaku para sahabat Nabi. Kebanyakan Muslim menganggap hadis sama berharganya dengan kandungan Al Qur’an. Hadis juga dianggap sebagai penjelasan dari Al Qur’an, salah kaprah secara bersama sama. Menurut saya, dari pengertiannya saja sudah sangat tidak sesuai, kalau dianggap hadis adalah penjelasan dari Al Qur’an. Memang ada sebagian kecil, tapi tidak selalu hadis merupakan penjelasan dari Al Qur’an bukan..? Kita garis bawahi lagi, hadis adalah catatan perilaku dan perkataan Nabi dan juga sahabat sahabat Nabi.

Dua hal tersebut menjadi hal yang amat penting bagi seluruh muslim di dunia. Saya tidak akan membahas masalah Al Qur’an, sebab sangat jelas Al Qur’an ke absahannya adalah benar ( bagi seluruh muslim ), tidak ada sumber Al Qur’an yang berbeda. Jika terjadi perselisihan tafsir firman dalam Al Qur’an, maka semuanya akan kembali merujuk pada Al Qur’an, yang hanya satu satunya sumber firman ALLAh, tiada yang lain lagi.

Hadis, permasalahannya sangat berbeda dengan Al Qur’an. Kita pernah melihat debat antar muslim di sebuah stasiun televisi. Yang satu mengakui hadis yang dia sampaikan itu benar dan sahih atau sah. Yang satu berpendapat, bahwa hadis tersebut tidaklah benar atau tidak sah, atau diragukan kebenarannya, menolak keberadaan hadis tersebut.

Saya sering bertanya tanya, tentang apa saja yang dikutip oleh para peng-kotbah, mereka sering mengatakan seperti ini : “ Nabi bersabda, bla…bla..bla…”. Apa benar Nabi bersabda seperti itu ? Dalam kotbah tersebut, tidak disebut sumber informasinya ( hadis darimana ? siapa yang meriwayatkan ? ). Dengan entengnya, sang pengkotbah tersebut selalu meng-atas namakan nama Nabi pada setiap kalimat dalam kotbahnya.

Hati kecil saya selalu meragukan kotbah kotbah yang mensitir kata kata, yang katanya dari Nabi Muhammad. Lepas dari itu semua, saya hanya mengikuti naluri saya atas kebenaran, maka bila ada yang berkotbah atas nama Nabi, apabila hal tersebut baik menurut pencernaan saya dan tidak meng-diskriditkan pihak pihak lain, atau bersifat provokasi, maka perkataan tersebut saya anggap baik, dan patut di perhatikan. Lepas apakah semua yang di ucapkan si pengkotbah itu benar benar memang meluncur dari mulut sang Nabi. Saya hanya mengambil sisi kebaikannya saja.

Pertanyaan saya tentang keabsahan hadis hadis yang sering diucapkan peng-kotbah atas nama Nabi tersebut, sedikit banyak mendapatkan jawabannya dalam History of ARAB ( hal. 493 ) yang di tulis oleh Phillip K. Hitti. Lahir di Libanon 1886. Meninggal di AS 1978. Ia seorang Profesor bidang Sastra Semit dan ketua jurusan bahasa bahasa Timur. Adalah sebagai berikut :

“ Selama dua setengah abad setelah Nabi Muhammad wafat, catatan tentang perkataan dan perilakunya terus bertambah. Terhadap berbagai persoalan agama, politik atau sosial, setiap kelompok berusaha mencari hadis untuk memperkuat pendapatnya, baik hadis itu sahih atau PALSU. Perseteruan politik antara Ali dan Abu Bakar, konflik antara Mu’awiyah dan Ali, permusuhan antara dinasti Abbasiyah dan dinasti Umayyah, serta persoalan superioritas antara orang Arab dan non-Arab, membuka pintu yang sangat lebar untuk menjamurnya pemalsuan hadis. Keadaan itu lebih parah, karena ternyata membuat hadis akan memberi keuntungan komersial, sehingga banyak juru hadis yang menikmati keuntungan itu. Sebelum dihukum mati di Kufah pada 772, Ibn abi al’Awja’ mengaku telah menyebarkan 4000 hadis palsu……..”

Bayangkan, 4000 hadis palsu, belum yang lainnya yang belum diketahui, dan kemungkinan sudah menyebar kemana mana di seluruh negeri pemeluk Islam. Inilah bagi saya, adalah sumber malapetaka antar muslim, dan juga perilaku muslim. Banyaknya perawi atau periwayat hadis, masalahnya, apakah yang mereka riwayatkan, benar benar seperti yang diucapkan atau dilakukan Nabi. Apakah mereka melihat dengan mata kepala sendiri. Apakah memang mereka benar benar mengerti apa yang dimaksud Nabi saat itu ?. Manusia punya kecenderungan untuk menambah-nambah suatu berita.

Apa yang disampaikan dalam buku Hitti tersebut juga sudah terjadi di kehidupan jaman sekarang. Antar kelompok agama atau tokoh tokohnya, saling meng klaim bahwa alirannya, adalah aliran Islam yang benar. Segala cara ditempuh untuk mencari pengesahan atau pembenaran atas tindakan dan perkataan kelompoknya, dengan mencari cari hadis dan mensitir ayat ayat Al Qur’an, secara sepotong sepotong. Buntutnya, meng-kafirkan atau memberikan label sesat pada muslim yang tak sepaham dengan kelompoknya atau dirinya.

Kaum muslim terpelajar, saya harap tidak terjebak dengan apa saja yang diklaim dari hadis. Waspadalah, kehancuran satu agama biasanya disebabkan pandangan pandangan yang tak kenal kompromi dari para pemeluknya itu sendiri. Terlalu mendewakan kebenarannya sendiri, tanpa menggunakan nalarnya. Tidak memcoba mempelajari pihak luar yang berpendapat lain atas apa yang mereka yakini.

Suatu ajaran itu akan sangat berbeda pada saat sang pengajar utama atau pengajar awal telah berpulang. Darisanalah penganutnya mulai saling merasa dirinya paling tahu dan paling benar diantara penganut lainnya. Dan merasa yang paling berhak menggantikan sebagai pemimpin berikutnya. Sehingga perpecahan tak akan bisa lagi dihindari. Begitu juga yang terjadi pada Islam. Begitu Nabi wafat, maka terbelahlah mereka menjadi dua golongan atau aliran, satu dari golongan pihak para sahabat Nabi ( Sunni ), satu dari golongan para keluarga Nabi ( Syiah ). Itu kalau dilihat dari perselisihan antar kelompok, belum lagi perselisihan antar pemahaman agama, semakin banyak lagi perpecahan yang terjadi didunia Islam.

Yang bisa menjaga keutuhan kaum Muslim adalah kerukunan antar kaum Muslim itu sendiri. Bagi saya, lebih baik belajar agama dari berbagai sumber, dengan begitu kita akan mengetahui banyak hal yang akan membuat kita bisa memilah menurut nalar dan kedalaman pengetahuan kita. Cerdaslah untuk menjadi umat beragama. Jangan mendewakan tokoh agama bila anda tak ingin terjebak pada konflik antar sesama pemeluk agama yang sama. Pergunakan nalar dan nurani secara bersama.

Muslim tak perlu alergi membaca buku buku yang ditulis kaum orientalis ( penulis non muslim ), sebab dari sanalah kita akan banyak mendapatkan informasi yang akan menjadi kajian lebih dalam akan ke Islamman kita. Mereka melihat dari kacamata sejarah, bukan sekedar dari kacamata agama. Umumnya mereka lebih jujur dalam memberikan pandangan, bukan memihak.

Selama seorang manusia mengakui adanya Tuhan, selama itu pula dia akan sadar, bahwa dia hanyalah makluh yang lemah yang tak bisa apa apa tanpa ijin Tuhan. Menyadari, bahwa dia bukan wakil Tuhan, jadi tak perlu membenci kaum lain yang berbeda. Sebab yang membuat berbeda itu Tuhan juga.

Tuhan berkehendak, apapun bisa terjadi didunia ini. Bahkan Muslimpun bisa masuk neraka, sebagai contoh dari muslim muslim yang lain. Bukan sekedar muslimnya yang menjadi jaminan dia disayang Tuhan, tapi segala amal dan perbuatannya selama dia hidup. Tuhan maha adil dari segalanya, jadi jangan kita GR bahwa hanya kaum kita yang akan selalu dalam lindungannya atas segala perbuatan kita. Siapapun tak akan luput dari hukuman Tuhan kalau dia berbuat salah.

Hanya Tuhan yang tahu atas segala yang ada di dunia ini, bukan manusia !

Oleh. Didik Suwitohadi
03-09-2012

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 September 2012 in Agama

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: