RSS

Partikel

23 Sep

Ada terselip kritik sistim pendidikan dalam novelnya ini. Tergambar dalam dialog tokoh Firas, ilmuwan yang kontroversial, yang dituduh ayah angkatnya telah berubah menjadi seorang Ateis. Padahal sejak kecil dia dididik ketat dalam pusaran agama Islam. Dan di tokohkan oleh masyarakat di sebuah pedesaan, setelah Ayah angkatnya.

Seperti juga seri Supernova yang terdahulu, novel ini juga menceritakan kegelisahan orang muda yang mencari jati dirinya. Melarikan diri dari lingkungannya, yang dianggap tak mengerti akan dirinya. Pemberontakan anak terhadap orang tua, sekaligus seorang anak muda yang sangat memuja sang Ayah.

Novel Partikel menurut saya, sangat berbeda dari serial dua Supernova yang sebelumnya, yakni Akar dan Petir. Dua novel tersebut seakan dipaksakan untuk hadir. Ceritanya kurang sekali berkembang, terasa agak dipaksakan untuk segera terbit. Endingnya selesai begitu saja tanpa alasan yang jelas. Beda dengan Partikel, plotnya sudah digenjot sejak awal. Memang di pertengahan cerita, Dee hampir saja mengulangi kesalahan seperti pada Akar dan Petir, hampir monoton, plot cerita saat Zarah mendapatkan hadiah dari hasil potonya yang diikutkan lomba. Perjalanan ke belantara orang utan. Untuk beberapa halaman, seperti membaca sebuah laporan traveling.

Dalam novel ini, Dee mau mengatakan, bahwa pendidikan tidak harus selalu ada di sekolah formal, orang tuapun bisa memberikan pendidikan dirumah secara mandiri. Dengan mitodenya sendiri. Hasilnya ternyata jauh lebih berhasil daripada sekolah formal, yang cenderung memperlakukan semua murid sekolah dengan cara yang sama. Sedangkan kemampuan, kecepatan dan daya tangkap masing masing orang sangat berbeda. Disinilah letak permasalahan pendidikan formal kita ( mungkin juga di negara lain ).

Firas sang ayah, memutuskan memberikan pendidikan sendiri pada anak perempuannya Zarah Amala ( tokoh utama ), walau mendapat tentangan luar biasa dari keluarga besarnya. Dia menjanjikan bahwa pengetahuan anaknya tak kalah dengan anak sekolah formal, bahkan akan jauh lebih unggul.

Firas adalah seorang jenius di bidang ilmu pertanian, dosen di IPB. Selama pendidikannya dia selalu dapat beasiswa. Sayang sekali, karena kejeniusannya dan rasa kepenasarannya terhadap jamur, karier dan keluarganya jadi berantakan. Sampai dia harus bermusuhan dengan orang tua angkatnya, dan dianggap gila oleh orang kampung, karena seringnya dia menghilang di sebuah hutan diperbukitan yang sangat ditakuti oleh warga sekitar. Tak satu manusiapun yang berani mendekati area hutan itu, apalagi masuk, pasti tak akan kembali. Tapi Firas bisa keluar masuk dengan se-enaknya tanpa diketahui oleh siapapun. Sampai satu saat dia benar benar menghilang tak tentu rimbanya.

Kalau saja buku ini diterbitkan pada jaman ORBA, pasti sudah dibredel, dan Dee bisa interogasi. Kenapa…? Coba kita baca dialog yang terjadi saat pelajaran agama di kelas Zara. Saat sang Guru menceritakan asal usul manusia. Zara mengangkat tangannya, dan berkata bahwa ada versi lain dari cerita asal usul manusia ( hal. 99 ) : “ Kalau yang saya tahu begini Bu. Kenapa missing link dari kera ke manusia belum ketemu ketemu sampai hari ini ? Karena kita diduga hasil hibrida dengan makluh ekstraterestrial, Bu. Makanya ada loncatan genetika yang tidak terpecahkan sampai sekarang. Ceritanya begini, makluh estraterestrial datang dari planet yang krisis. Mereka butuh logam emas. Lalu mereka ke Bumi karena ingin menambang emas disini. Nah untuk itu mereka butuh pekerja. Mereka membuat percobaan dengan ber macam macam spesies disini, termasuk Homo erectus. Dari sekian banyak percobaan itu, akhirnya satu berhasil. Jadilah kita. Kita gabungan dari tiga spesies, Bu. Homo erectus, makluh gigantis ras Nefilim dari planet Nibiru, dan makluh ekstraterestrial dari Sirius. Percobaan itu tidak dilakukan disini, tapi di Sirius. Setelah berhasil, hibrida hibrida yang kemudian jadi nenek moyang kita dibawa kembali ke Bumi “. Tentu saja Zara pada akhirnya di usir dari kelasnya, kemarahan si Guru tak tertahan lagi.

Dee juga mencoba memasukan unsur mistik dalam ceritanya ini. Tapi unsur mistik ini dia lakukan tidak dengan gaya kepercayaan orang timur, terutama orang kita. Yang masih sangat kental dengan praktek perdukunan. Di dunia baratpun perdukunan juga ada. Bedanya, mereka melakukan dan mempelajarinya dengan nalar. Mereka memasukan dalam dunia sain – ilmu pengetahuan yang harus dipelajari dengan riset. Bahkan diseminarkan secara berkala.

Seperti biasa, ending pada Partikel juga menggantung seperti pada Akar dan Petir. Tapi pada Partikel, pembaca dengan jelas bisa mengarah kemana cerita itu nantinya. Walaupun masih tetap penasaran, tapi paling tidak bisa menebak arahnya kemana. Cerita ini tak akan berakhir begitu saja. Dee masih bisa mengolahnya untuk kemudian hari.

Oleh. Didik Suwitohadi.
23-09-2012.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 September 2012 in Resensi Film - Buku

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: