RSS

Film Java Heat

10 Jul

Java heatFilm ini mengambil setting di Jawa, tepatnya jawa tengah – Jogjakarta. Sebuah Film yang mengambil keuntungan dari berita berita teroris muslim yang lagi menjadi berita di seantero dunia. Yang sejak itu Indonesia menjadi terkenal, atau lebih tepatnya mulai dikenal dunia luar, terutama orang Eropah. Karena BOM Bali yang menghebohkan itu.

Orang luar Indonesia yang sebelumnya hanya mengenal Bali, tanpa mengenal Indonesia sebagai negara dimana Bali berada, baru tahu kalau Pulau Bali itu ada di sebuah negara yang bernama Indonesia, setelah peristiwa tersebut. Kalau anda melihat film serial bule,  buatan setelah tahun tersebut, pasti mereka yang mau berlibur, sering menyebut Bali dan Indonesia. Bahkan dalam serial film hukum “ Good Wife “, ada adegan tarian Bali dalam sebuah acara para lawyer di AS itu.

Segi Cerita.

Kalau dilihat dari segi cerita, sebenarnya tidak ada yang baru dalam cerita semacam itu. Ceritanya begitu simple dan begitu umum, sudah biasa ada dalam film film ala Amerika lainnya. Issue kejahatan yang cerdik, memanfaatkan kebodohan bangsa lain, karena jiwa kefanatikannya yang negatip.  Dan menggambarkan superioritas ( keunggulan ) diri mereka, orang bule dengan segala keunggulan berpikir serta  tehnologi. Sedang negara lain dibuat begitu bego dan dengan mudahnya diakali.

Seperti juga cerita film film Amerika yang lain, selalu menggambarkan, begitu mudahnya agen mereka menyusup ke sebuah negara, apalagi sebuah negara ke tiga macam Indonesia. Menyamar jadi apapun bisa ( ini yang tidak disadari oleh banyak orang Indonesia ). Seorang agen marinir bisa masuk Indonesia dengan menjadi pengajar di-Indnonesia.

Beberapa adegan yang tidak wajar.

Beberapa keanehan adegan yang saya lihat di film tersebut. Seperti tokoh yang menjadi Sultan ( Rudy Wowor ) bersosok bule, sedang kerabatnya jawa banget ( Tio Paku Sadewo ). Parah banget salahnya.

Orang orang berpakaian ala kesultanan jawa, pakaian adat Jawa, abdi Sultan Jawa dengan membawa senjata, menggerebek sebuah tempat, dan terlibat baku tembak. Sepanjang yg saya tahu, hal semacam itu tidak ada dalam tradisi jawa ( nggak tahu kalau jaman penajahan ).

Di sini orang bule melakukan kesalahan yang sangat fatal dalam pembuatan sebuah film (pemain jawa kok diam aja ya…? ). Tapi saya yakin,  keanehan adegan itu tak akan terlihat dan tak akan mendapat respon dari penonton Indonesia. Yang sudah terlanjur hatinya melambung setinggi langit karena bule membuat film di Indonesia dengan setting cerita Indonesia, walau cerita itu, disisi lain menggambarkan kebodohan orang  Indonesia  sendiri ( jadi ingat novel tetra logi maupun Gadis Pantainya Pramoedya Ananta Toer, menonjok keras pada budaya feodal jawa ).

Sebuah adegan di Java Heat FillmAdegan yang aneh lagi menurut saya, seorang istri Polisi dengan pakai kerudung ( pakaian ala Islam ), memberikan salam pada tamunya seorang bule Amerika ( agen penyamar ), dengan cara saling memberikan ciuman di pipi. Rupanya sang Sutradara tidak begitu paham dengan aturan budaya semacam itu di dunia timur, terutama dalam kalangan muslim. Untuk  tidak sampai memberikan salam ala ciuman di pipi, antara laki dan perempuan yang bukan muhrimnya.

Gambaran dunia ke tiga, yang ditunjukan di film tersebut, betul betul menunjukan kalau dunia Indonesia hanyalah sebuah negara yang masih “primitif “, untuk ukuran orang berpikiran maju. Hal itu tergambarkan dalam sebuah adegan bule mengendarai andong di kampung, yang di sepanjang jalannya berceceran rakyat miskin sedang tidur di emper rumah.

Penjahat bule begitu mudah menculik anak seorang Sultan, dengan bantuan kerabat sultan yang berkianat, ingin merebut semua harta kesultanan. Dengan akal akalan bom bunuh diri teroris muslim. Kebodohan jiwa feodal yang begitu jelas digambarkan di film tersebut. Kebodohan umat muslim yang fanatik, dengan sangat mudahnya dibodohi demi kepentinga bule, melalui jiwa jihad yang keliru dari sebuah pemahaman sang tokoh jihat tersebut. Yang membenci Amerika, karena perang Amerika di negara arab, asal agama tersebut berada ( yang pada akhirnya dibunuh pula oleh si bule tersebut ).

Sebuah adegan, yang menurut saya hanyalah semacam olok olok oleh orang bule. Seorang putri sultanpun bisa diperoleh seorang Amerika bila mereka mau. Gambaran pikiran itu terekam dalam sebuah adegan akhir, ketika si marinir bule mau kembali ke Amerika dengan diantar oleh putri Sultan.  Ketika melakukan salam perpisahan, si bule mengatakan, bahwa dia mengerti kalau dia tidak bisa memberikann salam perpisahan ala Amerika, dengan ciuman bibir, karena dia putri sultan, apalagi dihadapan kalayak ramai.  Jawaban sang putri sultan, kenapa anda beranggapan seperti  itu…? sambil memberikan senyuman penuh arti.  Menurut saya ini adalah sebuah pelecehan dari jiwa superior sang bule, yang menganggap apapun bisa dia lakukan oleh bangsa yang digdaya itu, terhadap bangsa macam kita.

Saya kok merasa yakin, bahwa film ini tak akan laku, atau tak begitu dapat apresiasi dari publik bule, apalagi di bioskop klas atas misal nya, yang tidak bakalan menimbulkan minat orang melihatnya. Karena sesungguhnya film ini tak ada apa apanya. Hanya mencoba menjual sesuatu untuk orang Indonesia saja. Mewakili budaya Indonesia juga tidak. Hanya sebuah cerita hiburan saja, tidak lebih dari itu. Hanya memanfaatkan issue teroris muslim Indonesia.

Tapi bagi saya ada yang menarik dari semua itu, yakni permainan Ario bayu yang bisa mengimbangi permaian bule lawan mainnya.  Bahkan menurut saya, Ario Bayu bermain jauh lebih bagus dari tokoh bulenya.

Ario Bayu pantas disebut aktor yang bisa menggantikan aktor sekelas Slamet Raharjo dan Deddy Mizwar dimasanya, di samping masih ada Reza Rahardian yang sudah tak asing lagi kemampuan aktingnya.

Disisi lain, kita juga patut bangga, bahwa sinies luar sudah mulai melirik per-filman Indonesia.

Oleh. Didik Suwitohadi.

Surabaya, 10-07-2013.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Juli 2013 in Resensi Film - Buku

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

4 responses to “Film Java Heat

  1. bryan

    5 September 2014 at 11:41

    Gw juga mikirin itu gan, film ini merendahkan indonesia

     
    • Didik Suwitohadi

      5 September 2014 at 13:18

      Ya, budaya kesultanan Jawa di lecehkan….. keagungan Putri Sultan direndahkan. Bintangnya kok mau saja ya…

       
  2. bryan

    5 September 2014 at 11:42

    Film ini juga merendahkan islam

     
    • Didik Suwitohadi

      5 September 2014 at 13:17

      Menurut saya sih TIDAK. kenyataannya,memang ada Muslim yang digambarkan dalam film itu. Dan memang kejadian seperti itu. Orang orang itulah yang telah merendahkan Islam, membuat Islam tercoreng karena ulah orang orang yang tak bisa menghargai orang lain dan tak mampu bergaul didunia internasional. Keyakinan tak bisa dipaksa. Apa yang terjadi didunia semuanya adalah kehendakNYA. Jadi kita harus mngikuti arus yang kita anggap benar. Tuhan menyerahkan pada kita, pilihan hidup kita.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: