RSS

Madre.

23 Jul

MadreMembaca cerita ini, seperti menjelajah sebuah jalan, memaksa keinginan untuk terus melangkah, tak ingin berhenti, penasaran dengan liku liku jalan tersebut, sampai dimana jalan itu akan berakhir. Seperti apa ujung dari jalan tersebut. Jalan yang begitu mulus tanpa celah, tanpa lubang lubang, tak perlu terlalu berhati hati memilih langkah, dan memikirkan apa yang akan dilakukan. Cerita ini melangkah dengan segala warna yang ditebar.

Dalam menulis cerita ini, Dee meluncur begitu saja tanpa beban. Sepertinya, ide dan imajinasinya berlari tanpa henti, tak ada jedah untuk berpikir, mau belok dimana atau berhenti dimana. Tiada jedah nafas sama sekali. Ibarat orang berlari, nafas dee benar benar sempurna, teratur dengan baik, tidak ada nada ngos ngosan.

Itulah cerita Madre. Dari kehidupan seorang yang seenaknya, dipaksa harus berdisiplin dengan waktu dan kerja keras. Serta memikirkan strategi bisnis. Belum lagi harus menghadapai orang orang yang boleh dikatagorikan sudah jompo, tapi masih bersemangat luar biasa, bahkan menantangnya.

Bakat atau titisan keahlian yang diturunkan orang tua kedalam darah seseorang, kadang tanpa disadari oleh orang itu sendiri, bahwa semua itu telah menyatu dalam jiwanya. Bahkan si pemilik bakat itupun tak yakin dan tak tahu kalau dia mempunyai keahlian turunan dari moyangnya. Sebuah keajaiban kehidupan.

Dewi lestari - MadreDari seorang yang bergaya hidup menggelandang, dengan pekerjaan seenak udelnya sendiri di Bali, tiba tiba terdampar di Jakarta, tiba tiba pula bisa membuat adonan roti sampai menjadi roti, hanya sekali dalam menerima pelajaran dari ahlinya. Tidak gagal, rotinya bisa jadi seperti layaknya hasil seorang yang sudah biasa membuat roti. Keajaiban keahlian turunan yang tak pernah disadari oleh Tansen, yang sudah terlanjur begitu yakin dengan pilihan hidupnya, yakni menggelandang seenaknya di Pulau Dewata. Cara hidup itulah yang dia yakini. Cara hidup yang menurut dia sangat nikmat. Tanpa beban…!

Didalam darahnya, telah mengalir darah turunan, seorang ahli membuat roti. Pekerjaan yang benar benar bertabrakan dengan kenyataan hidup yang dia jalani saat itu. Keajaiban yang terjadi, membuat dirinya bingung sendiri.

Ada bagian dari cerita ini, yang hampir membuat mataku sembab, begitu menyentuh. Perang yang luar biasa didalam diri Tansen. Mendahulukan kepentingan dirinya, atau harus tega meng-abaikan kegembiraan dan kebahagiaan orang orang yang telah begitu berjasa atas toko roti kakeknya. Orang yang begitu hormat dan setia terhadap kakeknya. Terutama Pak Hadi, telah begitu setia menunggui dan menjaga warisan kakeknya, yang suatu hari akan di jemput sang pewaris, yakni dirinya. Juga orang pertama yang sangat kecewa, ketika dia memutuskan menjual warisan itu. Warisan yang tiada duanya didunia ini. Warisan yang telah menghidupi banyak orang di masa kakeknya. Disinilah sifat dasar wariasan dari sang kakek di uji.

Cerita meluncur tanpa keterpaksaan, atau terasa ada pemaksaan. Sampai pada suatu titik, tanpa sadar, Tansen menemukan cintanya pada gadis pemilik perusahaan roti. Yang ternyata dimasa lalunya, adalah penggemar roti buatan kakeknya. Dan dimasa dewasanya, dia pula yang berminat membeli warisan dari kakeknya, dengan harga sekian ratus juta. Sejalan dengan waktu, tanpa sadar pula, Tansen telah membuat satu biang roti baru, yang pada awalnya dia bantah mati matian kalau itu bukan keahliannya. Dia beri nama Padre

Kehidupan yang sebelumnya tidak meyakinkan dirinya, pelan dan pasti telah membawa warna baru. Yang lebih jelas lagi, dia tak lagi kembali menggelandang di Bali. Ada tanggung jawab besar disini, meneruskan kebanggaan kakeknya, yakni Tansen de bakker.

Cerita ini sebenarnya bisa dikembangkan menjadi novel yang lebih dalam lagi. Misalnya, cerita kelam kehidupan kakeknya , seorang keturunan Cina yang menikah dengan neneknya, keturunan India. Pasti akan terjadi knflik konflik yang seru. Bayangkan, Cina kawin dengan India. Kemudian, cerita tentang kehidupan kedua orang tuanya yang mempunyai konflik tersendiri. Cerita tentang kehidupan Pak Hadi dengan Tan de Bakker. Konflik konflik seputar Tan de Bakker itu sendiri. Juga cerita tentang kehidupannya sendiri yang lebih berwarna. Konflik dirinya dengan keturunan kakeknya dari lain istri. Masih banyak yang bisa digali dan dikembangkan dalam Madre. Dee rupanya sudah cukup puas berhenti sampai disitu saja.

Ada pelajaran penting yang perlu kita renungkan dalam cerita ini. Sering kali kita membenci satu kehidupan atau pekerjaan yang tidak kita sukai, namun sebenarnya dari sanalah titik tolak kehidupan kita berada dan berkembang. Pernahkah kalian memikirkan hal itu…? Pasti tidak pernah terpikirkan. Apalagi mencobanya.

Oleh. Didik Suwitohadi
Surabaya, 23-07-2013.
Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Juli 2013 in Resensi Film - Buku

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: