RSS

Cair dalam keraguan. Bag. 1

14 Jun

Sebuah Novelet.
Oleh. Randaka.

yellow iris-cropped macroKantin Perusahaan itu luasnya kira kira 8 X 20 meter. Cukup untuk tempat makan para staff Perusahaan yang berjumlah sekitar seratus orang. Tentu saja mereka saling bergantian, tidak selalu bersama sama kalau sedang makan siang. Meja meja makannya terbuat dari kayu. Ukurannya kurang lebih 1 mtr kali 2 mtr. Permukaan meja dilapisi bahan sejenis plastik bermotip kotak kotak, dan dilengkapi bangku kayu panjang, sepanjang mejanya. Lantainya dari keramik warna abu abu . Memang sangat kontras dengan meja dan bangku. Meja dan bangku warnanya cenderung warna coklat gelap, sedang lantainya berwarna abu abu cemerlang.

Dindingnya di cat warna krem. Sedang plafonnya berwarna putih, dengan beberapa lampu bergelantungan disana. Lampu lampu itu ber-kap yang bisa memantulkan cahaya, memberikan efek ruangan tersebut jadi amat terang. Untuk membuat udara diruang makan itu jadi nyaman, di plafon pada jarak tertentu dipasang kipas angin berbaling baling dengan diameter kurang lebih 70 cm. Dijalankannya dengan putaran sedang.. Pada dinding dipasang kipas angin yang bisa bergerak kekanan dan kekiri, ruangan jadi lebih enak dan lebih sejuk dari udara luar. Suasana ruang makan terasa nyaman.


Menu makanan yang disajikan adalah khas menu makanan sehari hari yang biasa diolah orang orang kebanyakan pada umumnya. Sayur lodeh, sayur asam, sayur sop, serta masakan yang terbuat dari bahan sayuran lainnya. Tapi masakan yang mengandung dagingpun disediakan, seperti soto atau rawon juga ada. Masakan bali telor dan pecel yang selalu tidak ketinggalan, hampir setiap hari disajikan, keduanya adalah masakan favorit para Karyawan. Sayuran dan pecel adalah makanan yang paling disuka. Soto atau rawon kadang saja disukai sebagian Karyawan. Sedang jenis makanan lainnya yang boleh dikata tidak umum bagi kebanyakan lidah orang kita semacam steak daging ala belanda, kadang ada kadang tidak ada. Peminatnyapun cenderung dapat dihitung dengan jari. Yang belum tahu makanan tersebut, coba coba untuk memakannya, tapi setelah itu kembali ke menu khas Indonesia. Rupanya lidah mereka kurang cocok dengan taste atau cita rasa dari makanan tersebut. Lebih cocok dengan makanan asli Indonesia, terutama masakan Jawa.

Soal menu, rupanya pengelola kantin termasuk piawai dalam mengelolanya, sehingga jarang sekali celetukan dari para karyawan tentang kebosanan terhadap makanan yang disajikan. Dia sering mendatangi meja Karyawan yang sedang makan, sekedar mengajak berbincang tentang penyajian dan cita rasa makanan yang dia sajikan. Darisana dia mendapatkan masukan apa yang kurang berkenan bagi karyawan. Dengan demikian dia bisa mengatur, agar penyajian makanan tidak membosankan, sesuai dengan selera kebanyakan karyawan.
Suasana siang itu cukup ramai. Segala suara bercampur jadi satu. Gerutuan, nada marah, tertawa lepas beradu dengan suara sendok garpu yang saling bersentuhan diatas piring. Saat saat seperti inilah yang ditunggu tunggu para karyawan untuk melepas segala beban pikiran dan hati yang gondok yang dipendam sejak pagi, sejak mulai bekerja tadi. Simpanan permasalahan yang tidak bisa ditumpahkan saat bekerja, semua akan tumpah pada saat makan siang. Maka berbagai nada dan ritme suara akan bergaung di kantin. Segala exspresi kedongkolan maupun peristiwa lucu akan tumpah di sana. Nah yang lebih seru, apalagi kalau bukan masalah masalah gosip, baik gosip kondisi Perusahaan, kebijakan kebijakan perusahaan, maupun Pak anu akan di pecat dan Pak anu akan dapat promosi. Pak anu ada main dengan si anu. Wah kalau Pak anu jadi atasan saya, susah saya, orangnya gitu sih. Gimana caranya supaya Pak anu suka sama saya ya ?. Orangnya cakep pinter lagi. Sampai gosip gosip affair antar karyawan terhangat semuanya tumpah ruah mengalir begitu saja di kantin pada saat makan siang.

Se-akan sudah menjadi tradisi, membicarakan orang lain adalah satu kenikmatan tersendiri. Apalagi kalau berhasil menyebar gosip, yang membuat orang lain jadi sangat penasaran. Siapa yang tahu gosip terbaru duluan pasti wajahnya akan berbinar binar, saat itu juga dia akan dikerumuni rekan rekan kerjanya. Jadilah acara makan siang berubah menjadi seperti acara infotainment siang. Cuma yang terjadi disini adalah bukan cerita tentang skandal artis, tapi skandal atau peristiswa rekan sendiri maupun para atasan.
Tari menyuapkan makanan ke bibirnya yang dipoles merah. Makan siang kali ini dia memilih sayur asem dengan dadar jagung berikut tahu bacem plus ikan goreng. Tak lupa sambal terasi di pinggir piring makannya. Baginya, ini adalah kenikmatan tersendiri, burger dan ayam goreng yang dia makan di rumah makan cepat saji kemarin atas traktiran Tanto rekan kerjanya, tak senikmat makanan yang dia lahap siang ini. Wajahnya memerah, mengkilat basah, desisan desisan halus keluar dari bibir merah itu. Sambal pedas tersebut tak mengurangi minatnya untuk melahapnya, warna merahnya menggiurkan seleranya.

Rekan samping kiri kanan dan depannya yang semeja dengannya pada sibuk dengan gossip mutakir bulan ini. Tapi Tari lebih asik dengan makan siangnya, tak mempedulikan segala ocehan kaum perempuan disekitarnya. Baginya, siang ini makanannya nikmat. Lagipula dia tak begitu suka dengan gossip menggossip. Kerjaan orang yang kurang kerjaan, begitu menurutnya.
Tanpa terasa isi piringnya telah licin. Diraihnya teh manis hangat di sebelah kanannya, di sruput, rasa manis meluncur ke lidah kemudian hilang di kerongkongan, nikmat..!. Hari ini, benar benar hidup terasa tanpa beban. Bebas merdeka, makan siang yang begitu luar biasa. Pekerjaan juga tanpa masalah. Semua laporan sudah diserahkan pada atasannya. Sampai waktu makan siang tiba, atasannya tidak memanggilnya balik ke ruangannya. Itu artinya semua pekerjaannya tidak ada yang perlu dikoreksi atau dipertanyakan. Pak Edwin memang orang yang sangat teliti, paham benar dengan profesinya. Laporan kurang baik, hanya dalam pandangan hitungan detik dia segera tahu, dan langsung minta diperbaiki. Laki laki matang yang penuh pesona. Loo…kok…? Jadi kesana..? Ngawur nih otak aku. Tanpa sadar dia pukul kepalanya dengan genggaman jari jari tangannya yang terawat halus.

Sebuah telapak tangan mendarat di bahunya, membuatnya terjingkat.
“ He kepalamu kemasukan sambal ? Makanya makan sambal jangan banyak banyak “ teman sebelah kanannya meledek.
“ Gak !.”
“Terus kenapa, kepala gak ada salahnya kok kamu pukul ? “
Tari meneguk lagi air tehnya, dibiarkan air teh itu melewati kerongkongannya dulu sebelum dia menjawab. Hmmm…nikmat sekali. Diambilnya dua lembar tissue, ia melap bibirnya.
“ Gak, tadi aku lupa sesuatu, “ alasan asal saja. Kalau sampai salah ngomong bisa bisa dia jadi bahan berita bulan ini. Dasar mulut ember semua. Selalu mau tahu urusan orang. Dia jadi bergidik. Seandainya tadi dia keceplos ngomong atas isi kepalanya yang barusan melintas, bisa bisa heboh nih ruang kantin. Aku akan jadi serba kikuk kalau menghadap Pak Edwin. Tapi kenapa tadi, otakku jadi melenceng kepikiran kearah sana ya…? Dia heran sendiri dengan arah pikirannya tadi. Menghayal atau memang komentar murni.?
Tari bangkit, ….

“ He, mau kemana ? kita ngobrol dulu di sini. Kamu jarang sekali ngonbrol sehabis makan sama kita. Santai aja non, gak usah tergesa dan terlalu serius ?,” teman satunya berusaha menahan.

Santai gundulmu ! Memang hidup itu harus santai. Kalau santai terus, hidup mau dibawa kemana ? pekik Tari dalam hati.
Kadang dia heran dengan cara berpikir rekan rekannya. Padahal mereka rata rata berpendidikan tinggi. Tapi kok tidak ada effort atau usaha untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Tidak kreatip dan berinisiatip untuk menelurkan ide ide baru, guna kemajuan diri sendiri, atau paling tidak membuat pekerjaan rutinya jadi lebih cepat dan mudah. Sepertinya mereka sudah terlalu puas dengan apa yang saat ini mereka dapatkan. Tidak mau lagi berpikir yang lebih lagi. Tapi begitu ada peraturan baru, atau sebuah kebijakan perusahaan yang baru, mereka langsung hebohnya bukan main. Orang orang berpendidikan tinggi yang begitu alergi dengan perubahan. Padahal perubahan akan terus terjadi dan terus berlangsung. Hanya orang orang yang mampu mengikuti perubahanlah yang akan bisa bekerjan baik dan tenang. Karena sebelumnya sudah mempersiapkan dirinya.

“ Sorry deh, ada yang harus saya lakukan. “ Sambil menepuk pundak temannya, kemudian dia berlalu. Temannya hanya menggerakan sebelah tangannya, sementara tangan satunya memegang gelas minum yang lagi tersedot isinya. Terdengar suara gerengan yang tak jelas, sebelum Tari berlalu.

Tari kembali kemeja kerjanya, beberapa lembar berkas masih beserahkan. Dia raup lembar lembar kertas itu, kemudian ditumpuk disisi kanan mejanya. Dengan begitu bagian meja dihadapannya bersih. Dia tumpuhkan kedua lengannya disana. Diam, bingung sendiri, apa yang akan dilakukannya.

Pintu ruang sebelah kiri depannya terbuka, dia tidak menyadari itu. Sebelum melangkahkan kakinya, laki laki itu berdiri sejenak didepan pintu yang barusan dia tutup. Dia melihat anak buahnya yang pagi ini berbusana rok terusan krem dengan blaser warna maron, serta sebuah ikat pinggang coklat melilit pada pinggangnya yang ramping. Rambut lurusnya, terikat rapat pada bagiang belakang. Wajahnya oval, terselimuti make up yang tidak terlalu tebal, bahkan terkesan tanpa make up.

“ He em….! “.
Tari tersentak, laki laki ganteng itu berdiri disana dengan senyum kecilnya.
“ Eh… Pak, mau makan siang Pak…?” Dengan geragapan dia mencoba berbasa basi.
“ Kamu sudah makan siang ?”. Dia balik bertanya.
“ Sudah Pak “.

Sambil mengibaskan tangannya dan meninggalkan senyumnya, dia melangkah berlalu dari sana menuju ruang makan para Manajer di lantai dua. Mata Tari mengekor terus di setiap langkah Edwin. Sampai dia hilang di tangga teratas lantai dua. Baru kemudian dia terduduk lunglai di atas kursinya. Apa barusan yang terjadi ? Kenapa aku merasa ada yang berbeda dengan diriku tadi ? Tidak biasanya ? Tanpa sadar dia meneliti sekujur tubuhnya, dia berdiri dan mematut diri. Dia luruskan kerutan kerutan pada roknya dengan telapak tangannya, dari bagian perut hingga keujung bawah rok. Kedua jarinya menarik narik bagian depan blasernya. Tapi tiba tiba dia berhenti. Apa yang sedang aku lakukan ?, pikirnya. Dengan jengah dia duduk kembali. Untung rekan rekan kerjanya masih ada di ruang makan semua.

Dia raih sebuah majalah wanita di rak kirinya, dia buka buka lembar halamannya. Tidak ada yang menarik, pikirnya. Aneh ! Padahal majalah ini adalah majalah favoritnya. Koleksinya bertumpuk dikamar pribadinya. Majalah ini baru dibelinya tadi pagi, nomor terbaru lagi. Tapi otaknya kok jadi bebal, dan mengatakan majalah ini tidak ada yang menarik ?.

Sebuah suara mengagetkannya. Sebenarnya suara itu biasa biasa saja, suara meja di tepuk dengan telapak tangan. Tapi karena dia begitu larut dengan pikirannya, jadinya dia sangat kaget. Kontan tangan kanannya berusaha memukul tangan jahil tadi. Tapi secepat dia mengayunkan lengannya, secepat itu pula si pemilik tangan menghindar sambil tertawa.

“ Beli majalah itu untuk dibaca non, bukan cuma dibolak balik. Bisa lungset keriting tuh majalah “
“ Reseh ! ngagetin orang aja…! “ Yang diumpat hanya cengengesan menggoda.

Rupanya waktu istirahat sudah lewat, meja kerja didepan dan sampingnya sudah pada ada orangnnya. Jadi aku tadi melamun ? tanyanya pada dirinya sendiri.

BERSAMBUNG.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 Juni 2014 in Cerita

 

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: