RSS

Cair Dalam Keraguan. Bag. 2

17 Jun

Sebuah Novelet.
Oleh. Randaka.

yellow iris-cropped macroDia bergabung dengan Perusahaan ini sudah hampir tiga tahun, selama itu pula dia tidak pernah mendengar issue tentang keluarga Pak Edwin. Dia ingin tahu, tapi kawatir dicurigai. Masalahnya, pertama, Pak Edwin adalah orang yang sering jadi lirikan perempuan-perempuan dikantor ini. Kedua, Perusahaan ini banyak biang gossipnya. Tapi pada akhirnya teman sekantornya ada yang cerita. Pak Edwin masih single, sampai umur mendekati empat puluh dia belum menikah dan tidak punya teman perempuan istimewa. Ada sih gossip yang mengabarkan kalau Pak Edwin punya pacar namanya anu, atau Pak Edwin lagi dekat sama si anu. Gossip itu semua tak terbukti sama sekali, hingga sampai saat ini. Banyak teman perempuan di kantor yang meliriknya, bahkan saking ngebetnya sampai melepaskan gossip kalau Pak Edwin adalah miliknya. Tapi semua itu cuma sebatas omongan perempuan perempuan yang lagi kesengsem padanya. Pak Edwin tak pernah menanggapi semua itu. Padahal kalau dia mau , dia bisa menggandeng mereka satu persatu. Tapi laki laki ini adem ayem saja.


Sikapnya begitu tenang dan acuh. Sorot matanya tajam menghujam. Ingin sekali Tari membelah semua rahasia dibalik sorot mata yang tajam itu. Kalau lagi tersenyum, perempuan yang berada dihadapannya menjadi terhipnotis untuk beberapa detik, karena pesona bibir manisnya yang dihiasi kumis tipis dan halus. Kulitnya coklat susu yang selalu kelihatan kesat dan bersih. Rambutnya jarang tersisir rapih, paling sering dia merapihkan rambut dengan jari tangannya. Tapi justru dengan keadaan rambut yang kurang rapih, menambah daya tarik dia sebagai laki laki yang matang. Kata beberapa gadis yang ganjen itu, woou….. cowok macho ! Dia bukan laki laki pesolek yang cenderung bergaya metro. Selera pakaiannya kalau untuk ke kantor cenderung ke jenis casual yang enak dipakai. Pada hari hari tertentu dia lebih sering pakai celana jean atau yg berbahan drill.

Jam dinding sudah menunjukan jam lima sore, sebagian teman temannya sudah pada pulang duluan. Tari sudah merapihkan mejanya, siap untuk pulang. Dari balik kaca setebal 5 mm, pembatas ruang atasannya dengan ruang dimana dia berada, disana Pak Edwin membisu didepan komputer. Dia biasa pulang telat, jarang sekali dia pulang tepat jam lima, lebih sering setengah jam sesudahnya, bahkan kadang sampai menjelang jam sembilan malam dia baru pulang. Satpam pintu gerbang yang sering cerita. Mobil Karimun warna ungulah, yang lebih sering melewati gerbang kantor yang terakhir kali.

Tari merebahkan tubuhnya, penat seharian duduk dikantor terbalaskan dengan berbaring di tempat tidur. Punggung terasa nyaman ber-alaskan kasur pir dengan sprey tebal. Pikirannya menjelajah jauh ke belakang. Selama tiga tahun dia berkontak diri dengan Pak Edwin, selama itu pula dia merasa nyaman dan enak, tidak ada rasa apa apa. Komunikasi berjalan lancar tanpa rasa risih atau ada sikap salah tingkah. Tidak ada yang membuat tingkahnya kikuk jika berhadapan dengan Manajernya itu. Orang yang sangat jarang tersenyum, tajam dalam berpikir, tegas dalam mengambil tindakan. Brilian dalam analisa keuangan. Sehingga dia begitu disegani oleh kolega koleganya. Bahkan Direksipun begitu memperhatikan segala buah pikiran serta pendapatnya. Apa yang diucapkan tanpa tendensi, sehingga orang lainpun tidak berani bicara sembarangan dengannya. Keterus-terangannya memang bisa membuat kuping maupun wajah memerah, bagi orang yang mendengar pendapatnya dalam rapat rapat Perusahaan. Bagi Pak Edwin kebenaran harus disampaikan, walau kadang membuat orang lain bisa tersinggung atas pengungkapan sebuah kebenaran. Tapi permasalahan harus diselesaikan, tidak harus disembunyikan dengan mengatakan hal lain guna menyembunyikan kebenaran itu sendiri. Atau menyelesaikan masalah dengan cara menutup dengan permasalahan lain, agar masalah tersebut tidak dipermasalahkan. Padahal, masalah tersebut satu saat akan muncul dan terungkap. Sebuah bom akan siap meledak, dan akan ada banyak orang yang tidak bisa menyelesaikan, karena permasalahan itu sudah sekian lama terpendam. Membutuhkan energi besar, serta finansial yang mahal.

Tari tahu, bahwa orang macam Pak Edwin tidak begitu disukai oleh sebagian orang yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan. Oportunis ! Orang orang yang mempunyai tendensi tertentu, untuk kepentingannya sendiri maupun sekelompok kecil dari mereka yang bekerja di Perusahaan ini. Tapi sosok satu ini begitu tegar dalam menghadapi semua itu. Seakan tidak terjadi apa apa. Tapi dibalik itu, Tari yakin Pak Edwin tahu semua orang yang suka maupun tidak suka atau pura pura suka padanya. Ketenangannya membuat Tari kagum. Dunia kerja memang dunia penuh intrik. Ketangguhan atasannya dalam menjalankan pekerjaannya, mendapat apresiasi tersendiri di hatinya. Laki laki tahan banting, tidak bisa begitu saja dikadali maupun di pengaruhi, apalagi diancam-ancam. Ancaman hanya akan membangkitkan semangat yang lebih bagi laki laki macam Pak Edwin. Ancaman adalah sebuah hal yang perlu dihadapi, bukan dihindari. Baginya, segala sikap yang diambil ada harga dan resiko yang harus diterima. Dunia tidak memberikan sesuatu dengan gratis.

Begitu kuat kekagumannya pada atasannya, tanpa sadar didalam dirinya mulai ada sesuatu yang menggeliat, mulai bereaksi. Sesuatu yang tidak disadari, mulai merekah begitu saja. Sesuatu yg mulai mengetuk-ngetuk pintu hatinya. Sesuatu yang kadang bisa membuat dirinya dengan tiba tiba saja merasa kikuk dan salah tingkah. Membuat pipinya merona merah dengan tiba tiba, saat dia hanyut dalam ayunan lamunannya.

Saat berdiskusi dengan atasannya, kadang dengan tanpa disadari, dia ingin mencuri pandang, menelusuri wajahnya. Padahal hari hari sebelumnya tidak terbersit setitikpun akan hal seperti itu. Sikap profesionalnya selama ini mulai digerogoti oleh sesuatu yang tak mampu dia bendung. Kalau sudah begitu, saat Pak Edwin mengajak berbincang , wajahnya akan terasa panas. Tiba tiba saja nada bicaranya bisa berubah menjadi seperti orang yang baru melamar pekerjaan, yang lagi di wawancarai. Beberapa kali hal itu terjadi, sampai Edwin heran dengan perubahan sikap yang tidak seperti biasanya itu. Tapi laki laki ini begitu luar biasa, bisa menyembunyikan expresinya, menetralkan suasana. Tari kembali bisa mengutarakan pendapatnya dengan lancar. Tapi mata itu, oh Tuhan kenapa aku selalu berdegup saat bertatapan. Padahal sudah tiga tahunan mata itu kutatap pada saat berdua seperti ini, berdiskusi panjang lebar masalah laporan accounting. Dan itu adalah hal yang lumrah bagi seseorang untuk saling menatap pada saat berkomunikasi. Kenapa kali ini semakin terasa berbeda ?

Lamunannya berantakan oleh suara ketukan di pintu kamarnya. Handel pintu diputar, kepala Ibunya muncul dari sela pintu yang terbuka seperempatnya.

“ Loh belum mandi…? Eh belum ganti baju juga. Sebentar lagikan magrib ? “. Wanita dengan rambut yang sudah memutih dibagian sisi kanan dan kirinya, serta sedikit dibagian atas kepalanya, heran melihat keadaan anaknya yang tidak seperti biasanya. Tari tidak pernah telat keluar dari kamarnya selepas dia pulang kerja. Biasanya dia sudah mandi dan ganti baju rumah, sudah rapih dan selesai sembayang magrib, kemudian makan malam bersama. Tapi hari ini ditunggu sampai seperempat jam tidak muncul dari kamarnya.

Tari menggeliat, seperti kucing yang lagi bermalas-malasan.

“ Lagi males Bu, “ erangnya. Kemudian duduk disisi ranjang, kedua tangannya teracung keatas, menarik tubuhnya, memutarnya kekanan dan kekiri. Otot ototnya terasa mengencang, tubuhnya terasa lebih nyaman. Rasa kakunya berkurang, tidak pegal-pegal lagi

“ Ibu makan duluan saja, nanti saya makan sendiri. Tari mau mandi dulu dan solat “. Dia bangkit melangkah ke lemari pakaian. Sementara, tanpa memberi jawaban, Ibunya menutup pintu kamarnya dan berlalu, tapi expresi wajahnya membersitkan sebuah tanda tanya.

Dimeja makan, Tari sendirian. Merasa tidak nyaman. Makannyapun sedikit sedikit, malas-malasan. Sambil mengunyak makanan, tubuhnya bersandar di sandaran kursi makan. Sementara tangan kanannya memegang sendok terkulai begitu saja di meja makan. Isi piringnya acak acakan, campur aduk antara nasi – lauk dan sayur. Kalau saja saat itu dia lagi mekan bersama Ibunya, maka dia sudah kena tegur.

“ He..kamu mau makan atau cuma mau ngotori meja makan….?!”.
Tari tersedak, isi mulutnya sebagian tersembur keluar. Buru buru dia meraih gelas berisi air putih di sisi kirinya. Beberapa tegukan dari isi gelas itu melegakan kerongkongannya kembali. Wajahnya memerah, hidung dan dadanya terasa perih. Tangan kanannya menggosok gosok dadanya. Sementara tangan lembut Ibunya memijat mijat tengkuknya. Ada secuil biji nasi keluar dari lubang hidungnya, mata Tari melelehkan air mata. Perih terasa dihidung dan dada.

“ Kamu ini ada apa sih ? Tidak seperti biasanya. Makan juga awut awutan seperti itu ? “.
Tari merasa lega sesaat kemudian. Teguran Ibunya benar benar membuatnya terkejut. Padahal teguran tadi nadanya juga biasa biasa saja. Kenapa membuatnya begitu terkejut sampai tersedak begitu. Sialan…? Kenapa aku…? Umpatnya dalam hati.

“ Kamu ada masalah ?”. suara lembut Ibunya membuatnya jengah.

“ Tidak ada apa apa Bu, cuma capek saja, “ ujarnya. Tangannya mulai merapihkan alat alat makannya. Dia coba menghindar dari tatapan Ibunya. Dia merasa tak mungkin bisa bohong. Tatapan Ibunya mampu menyelusup ke sela-sela hatinya. Sialnya lagi dia biasa berbagi dengan Ibunya. Tapi kali ini, kenapa terasa segan dan berat untuk berbagi. Anehnya lagi, ada rasa malu, biasanya dia begitu terbuka dengan Ibunya menyangkut segala permasalahan hidupnya. Buku yang sudah biasa terbuka itu, tiba tiba saja minta ditutup.

“ Tari mau kekamar dulu Bu “. Menghindar adalah jalan terbaik baginya.

Orang tua itu hanya memandang anak gadisnya berlalu dari ruang makan. Dia tak mau terburu, dia tahu, kalau sampai pada saatnya nanti, anak gadisnya pasti akan membuka diri padanya. Tidak perlu terlalu ingin tahu dan memaksa. Kalau dipaksa malah tidak akan mau bicara.
Dia ingin segera melihat Tari bahagia bersama pasangannya. Tapi hingga detik ini belum ada satupun laki laki yang di anggap cocok. Beberapa teman laki lakinya memang pernah bertamu kerumah ini, tapi kelihatan biasa biasa saja tidak ada yang istimewa. Dan akhir akhir ini malah tidak ada tamu laki laki teman anaknya.

Kadang dia tidak mengerti dengan cara berpikir anak muda jaman kini. Kalau dulu pada jamannya, umur sudah lewat duapuluh saja sudah bingung kalau tidak cepat dapat pasangan. Tapi jaman sekarang, perempuan sampai umur tiga puluh belum kawin, kok ya anteng anteng saja. Bahkan ada yang lebih nekat lagi untuk tidak kawin. Betapa hebatnya perempuan jaman sekarang. Pandai mencari duit, pendidikannya tinggi dan tidak tergantung lagi sama yang namanya laki laki. Bahkan yang lebih membuatnya mengelus dada, ada yang tidak takut dengan laki laki. Kalau perlu bersedia bersaing dengan laki laki dalam meraih sesuatu. Dia lebih tidak mengerti lagi dengan adanya organisasi perempuan yang katanya membela hak-hak perempuan. Hak-hak apa ? Dan apanya yang dibela ?

Umur Tari sudah hampir tiga puluh tahun. Dia tidak melihat puterinya itu ada rasa kawatir kalau sampai tidak dapat pasangan. Kembali dia hanya bisa mengelus dada dan geleng geleng kepala, kala mendengar puterinya berkomentar tentang laki-laki. Hidup itu tidak harus selalu dibawa bayang bayang laki laki. Perempuan juga harus mampu menghidupi dirinya sendiri. Tidak selalu perlu menggantungkan hidup pada laki laki. Sudah bukan jamanya lagi laki laki mendominasi kehidupan perempuan. Begitulah celoteh anaknya pada saat sedang berbincang bincang diberanda depan bersamanya. Oh Puteriku yang perkasa, semoga saja dia tidak terlalu besar kepala meremehkan keberadaan lelaki. Walau bagaimanapun perempuan butuh tangan-tangan hangat laki laki. Dia tidak sadar, kalau dia ada itu karena adanya bibit dari laki-laki. Apa salah, kalau aku telah membuatnya mendaki pada pendidikan yang tinggi. Membuatnya jadi perempuan yang tangguh. Tapi bukan maksudku untuk menjadikan dia begitu percaya diri untuk tidak tergantung dengan laki-laki. Mungkin jamanku dan cara berpikirku sudah tidak lagi sesuai dengan keadaan jaman yang kelihatan sudah serba begitu cepat pergerakannya. Perempuan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat anak gadisnya. Kalau sudah begitu, biasanya dia akan segera mengambil air wudhu, dan dengan kusuk mengadu kepadaNYA. Doanya, hanya keselamatan dan kebahagiaan anaknya semata.

Semua Ibu pasti mengharapkan puterinya segera disunting. Melihat puterinya bahagia bersama seorang yang dicintainya, membentuk keluarga yang tenang dan damai, adalah satu karunia tersendiri bagi seorang Ibu. Hati tidak akan was was lagi. Selanjutnya, ia sudah bisa beristirahat dan melihat semuanya dengan senyum tenang. Tapi Tari, puterinya ini tidak mudah begitu saja ditundukan. Perempuan cantik dan pintar biasanya disegani laki laki, bahkan ada laki laki yang takut mendekat pada perempuan macam itu. Keder sebelum berkenalan.

BERSAMBUNG.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Juni 2014 in Cerita

 

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: