RSS

Cair Dalam Keraguan. Bag.3

21 Jun

Sebuah Novelet.
Oleh. Randaka.

yellow iris-cropped macro“ Pagi Pak ! “. Tari menganggukan kepala. Sementara atasannya, sebelum membuka ruang kerjanya mengangguk pula dan menghentikan langkahnya sejenak, menatapnya. Seperti ada yang beda dengan perempuan didepannya ini. Tatapan yang hanya beberapa detik itu, membuat Tari salah tingkah. Detik kemudian tanpa berkata apapun Edwin membuka ruang kerjanya, hilang dibalik pintu. Sementara Tari masih sempat mencoba mencuri pandang dengan ekor mata kirinya. Hanya sekian detik. Sekian detik yang telah membuat perasaannya tidak karuan. Tapi yang terpenting adalah, gerak-geriknya tidak sampai menjadi perhatian orang di ruangan itu. Bisa gawat kalau sampai mereka menangkap tingkahku, yang bagi mereka mencurigakan. Ruang makan akan segera gempar dengan gossip baru tentang dirinya.

Tari sebenarnya heran, kenapa sih mereka, terutama para perempuan, suka sekali bergossip. Padahal tindakan mereka itu sama dengan mencemarkan nama orang. Bahkan bisa jatuh pada fitnah. Tapi, itulah mulut perempuan. Apa saja akan bisa menjadi topik obrolan. Anehnya, ada saja perempuan yang sangat suka jadi bahan pembicaraan. Kalau tidak, dia akan bertingkah membuat dirinya menjadi bahan pembicaraan. Tujuannya agar dia lebih dikenal dilingkungannya, dianggap ada. Apa saja akan dia lakukan. Pamer perhiasan. Berbusana yang menawan. Membicarakan saudaranya yang kaya. Rencana liburan keluar negri bersama keluarga misalnya. Masih banyak lagi hal hal yang bisa membuat mereka merasa menonjol dan jadi bahan pembicaraan. Tentu saja pembicaraan tentang kelebihan atau hal hal yang akan membuat orang lain berdecak mengaguminya.

Siang di ruang makan.
“ Tari…! Kok kamu kelihatan lain hari ini ! “. Mala dari bagian produksi duduk disampingnya. Sepiring makan siang dan teh hangat dia letakan didepannya. Tari asik dengan makan siangnya juga. Tidak begitu memperdulikan, tapi Mala tidak berhenti sampai disitu.
“ Ternyata kau nampak beda loh dengan gaya rambut yang kamu biarkan terurai, tidak kamu ikat seperti biasanya.” Mala memundurkan tubuhnya, bergerak agak menjauh dari posisi Tari supaya bisa mengamati lebih leluasa. “ Hei…tidak biasanya kamu memakai lipstik yang berbeda, warna pink itu kelihatan cocok buat bibirmu. Kamu jadi kelihatan menawan. Wooouuu….kalau dandanmu begini, akan ada yang tertambat sama kamu nih.” Ember bocor terus saja bocor.

Dengan rambut terurai tertata rapih, Tari memang kelihatan berbeda dari sebelumnya. Dia sendiri tidak tahu, kenapa tadi dia punya keinginan untuk tidak mengikat rambutnya seperti biasa. Ada sesuatu yang menggerakan hatinya untuk berdandan seperti itu. Dan kini petaka mulai mengincarnya. Hanya karena berbeda dandanan dari biasanya, akan menjadi santapan gossip di ruang makan ini. Yang lebih celaka lagi, semua orang tahu kalau dia memang tidak begitu suka dengan yang namanya dandan.

Tari berusaha setenang mungkin menanggapi suasana ini. Kalau tidak, akan ada pertanyaan pertanyaan yang kemungkinan bisa membuatnya sebal dan keselo lidah. Gerak gerik dan mimik wajah diatur sedemikian rupa agar berkesan biasa saja, tidak ada apa apa. Kalau dia salah tingkah sedikit saja, maka kecurigaan akan timbul diantara teman teman kantornya ini. Akibatnya bisa konyol, jadi bahan gossip.

Tapi didalam hati sebenarnya kebat kebit juga saat Mala berceloteh tadi. Dia harus berusaha bersikap biasa-biasa saja agar Mala tidak berkomentar lebih lanjut, lebih mengarah kemana-mana. Cuek saja Tari…!
“ He Laporan bulanan kamu tentang produksi sampai saat ini belum aku terima loh…”. Ucap Tari tanpa menanggapi ucapan Mala tadi. Komentar ini harus segera dibelokan, kalau tidak…..
“ Iyaaa…. masih kurang dikit, besok pasti kelar, “
“ Awas kalau tidak selesai.! Laporan ku tentang produksi juga tidak akan bisa aku serahkan, dan itu gara gara kamu tidak segera menyerahkankan laporanmu “.
“ Jangan kuatir, beres deh “.

Tari melirik piring Mala, isinya tinggal separuh Cepat benar orang ini makannya. Baru beberapa detik dia duduk, sudah habis setengah piring. Tari melihat piring Mala dan ke Mala bergantian. Karena merasa ada yang aneh, Mala menoleh kearahnya.

“ Kenapa ? Tidak percaya sama janji saya ? Besok pasti selesai “. Dia meyakinkannya.
“ Bukan itu…,”.jawab Tari
“ Terus apa ?”. Secepat dia menjawab, secepat itu pula isi piring berpindah ke mulutnya. Tari meringis.
“ Kamu makan kok seperti itu sih, seperti belum makan tiga hari saja. “.
“ Sorryyy…. Lagi bersemangat,“ ucapnya, tanpa menghentikan makannya.
Tari bangkit meninggalkan Mala. Setelah tiga langkah dia mendengar Mala berkata….
“ Tari bajumu kok tidak pernah aku lihat sebelumnya..? Baru ya…? “. Dasar…! Omel Tari dalam hati. Ingin sekali dia berbalik dan menutup mulutnya dengan lap meja.

Tari mengibaskan tangannya. Bahaya !, bisa bisa dia akan mengupas segalanya. Dia bergegas berlalu dari sana.
Saat dia kembali meja kerjanya, belum ada seoragpun yang kembali ke tempat kerja masing masing. Tari membuka majalah kesukaannya. Membuka beberapa halaman, sebuah artikel menarik perhatiannya, dan mulai asik menyimaknya.
Bunyi pintu terbuka tak membuatnya tersadar. Keasyikannya membaca, membuatnya tak memperdulikan sekelilingnya. Laki laki itu telah berdiri tepat di depan meja kerjanya. Sekian waktu kemudian Tari tercekat, pelan pelan dia mengangkat kepalanya. Pandangan pertama adalah celana coklat casual, terus keatas , ikat pinggang dunhill. Kemudian kemeja kotak kotak biru putih. Sampai diatas leher sebuah senyuman mempesonanya. Dadanya terasa dipukul tiba tiba. Tari tertegun, memandang wajah dengan senyum menawan didepannya. Padahal dari dulu senyum itu ya seperti itu, tapi kenapa kali ini……?

“ Lagi baca artikel apa ? Kok asyik benar “.
Tari cepat berbenah dan berdiri.
“ Ah tidak Pak… Mau makan siang Pak ? “. Tari melirik sekitarnya. Aduh… untung mereka belum pada kembali dari ruang makan. Dadanya terasa sedikit lega. Tapi dag dig dug itu berdentam didalam dada. Kakinya terasa kaku. Tangannya bergerak gerak tak beraturan.

“ Laporan bulan ini untuk produksi kok belum kamu masukan ke ruanganku ?”.
“ Ya Pak nanti akan segera saya selesaikan. Laporan dari bagian produksi juga belum saya terima. Tadi sudah saya ingatkan bagian produksi untuk segera mengirim laporan produksi bulan ini. Akan segera saya selesaikan begitu laporan dari produksi masuk Pak “. Sialan si Mala, umpat Tari dalam hati. Tidak biasanya dia terlambat memberikan laporan produksi. Pak Edwin adalah orang yang tepat waktu. Bahkan kadang sebelum waktu yang dicanangkan habis, pekerjaan dia sudah selesai. Sehingga dia bisa melakukan koreksi kembali. Itulah sebabnya dia begitu sangat dipercaya Direksi. Orangnya begitu teliti. Data yang dia simpan lengkap. Kadang Tari tak habis pikir, pada saat semua orang kelimpungan menyelesaikan tugasnya, atasannya ini tenang tenang saja, seperti tidak punya kepekerjaan. Padahal yang harus dia perhatikan begitu banyak.

“ Baiklah, cepat diminta ya laporan dari produksi !”. Sebuah perintah halus tapi tegas. Kemudian dia berbalik tak lupa meninggalkan senyum menawannya, menuju ruang makan manajer. Pelan pelan Tari terduduk kembali. Gila ! aku tadi kenapa kok begitu kikuknya ? Dia mengepalkan tinju kecilnya, memukul kepalanya sendiri. Dasar bebal banget ! Dia mengumpat dirinya sendiri.

Kalau saja ada yang melihat betapa kikuknya dia tadi, bisa rame deh ruang ini. Dan diruang makan akan muncul berita baru yang terhangat. Hanya sebuah peristiwa sepele seperti tadi. Akan membuat dia jadi bahan gossip segar.

Tari mengangkat gagang telepon.
“ Mala ! Cepat laporannya kasih ke aku ! “.
“ Iya..ya… Ini lagi baru akan aku suruh orang mengantar ketempat kamu “. Terdengar suara Mala diseberang sana. Tumben dia sudah ada dimeja kerjanya, pikir Tari.
“ Ya, cepat. Barusan Pak Edwin tadi menanyakan hal itu. Eh..kok tumben kamu sudah ada diruang kamu ? Nggak ada yang digossipin ya hari ini ? “. Goda Tari.
“ Gossip gundulmu ! Banyak tunggakan kerjaan yang harus aku selesaikan. Gara gara aku tidak masuk kerja beberapa hari “.
“ Kemana aja beberapa hari itu ? Cari bahan gossip ?”. Tari menahan senyumnya.
“ Setan kamu ! Anaku sakit tahu. Makanya cepat punya anak, biar tahu rasanya punya tanggung jawab dobel dobel “.
“ Enak aja punya anak. Kawin saja belum “.
“ Ya cepet kawin sana ! Mau apa lagi ? Cari diluar sana banyak tuh ! “. Timpal Mala se enaknya.
“ Memangnya kue ! tinggal cari begitu saja. Nggak enak langsung di buang !”.
“ Hi…hi…hi…” Terdengar tawa sember disana.
“ Kenapa ketawa ?”. Tari memasang wajah cemberut, walau sebenarnya Mala tidak mungkin melihat wajah cemberutnya itu.
“ Atau kamu lagi mengincar atasannya kamu yang ganteng dan dingin itu ?”.
Deg…! Tari seperti disambar palu berkilo kilo. Waduh gawat ! Bisa rumyam nih kalau urusan ngobrol ngelantur ini aku teruskan, pikirnya.
“ Wis…pokoknya laporannya segera dikirim ! Ngawur kamu !!”. tari segera menutup teleponnya. Masih terdengar tadi suara halo halo dari Mala. Rupanya dia penasaran dengan jawabannya.

Sepuluh menit kemudian, laporan produksi sampai di tangannya. Setelah menandatangani serah terima dokumen pada buku exspidisi kurir yang mengantar, dia langsung membuka laporan itu. Dan mulai asik didepan komputernya.

Konsentrasinya mengerjakan laporan tersebut, membuat dia tidak menyadari kalau orang sekelilingnya sudah pada pulang semua. Hanya tinggal dia sendiri di ruang itu, dan ruang sebelah lampunya masih menyala terang. Ruang atasannya.

Jam didinding menunjukan jam enam sore lebih sekian. Hari mulai merambat gelap. Tari masih asyik dengan pekerjaannya. Kembali dia tidak menyadari bahwa disana sudah berdiri laki laki yang akhir akhir ini telah membuatnya kikuk.

Dengan kedua tangan tersembunyi didalam saku celana dia memperhatikan Tari yang tengah tenggelam dengan pekerjaannya. Meneliti angka angka dalam lajur dimonitor. Bawahannya yang satu ini memang beda dengan yang lainnya. Cerdas tangkas dan cara berpikirnya tidak berbelit seperti umumnya karyawan perempuan yang lain. Mayoritas bawahannya adalah perempuan, laki laki hanya beberapa saja. Ketelitian dan ketelatenan dalam memperhatikan angka angka memang perempuan lebih cermat, lebih telaten dan sabar daripada laki laki. Ada selisih angka dalam laporan, perempuan cenderung lebih sabar untuk mencari dan menelitinya.

Tapi yang membuat dia agak pusing adalah kecenderungan perempuan dalam bergossip. Terlalu ikut campur dalam wilayah wilayah yang seharusnya tidak perlu dibicarakan. Perhatian sesama memang perlu, tapi tidak harus sampai sedalam dalamnya. Satu lagi, perempuan cenderung tidak dapat menjaga apa yang telah dibicarakan bersama, yang seharusnya untuk konsumsi internal. Itulah masalah yang Edwin hadapi dengan karyawan perempuan. Jangan bicara sembarangan dengan karyawan perempuan, seperti sharing masalah pribadi, buntutnya bisa jadi runyam. Bahan pembicaraan tadi. bisa-bisa berubah dijadikan bahan gossip.

Tapi anak buahnya yang satu ini beda sekali. Cerdas dan apa adanya. Berdiskusi dengannya begitu enak. Dia begitu energik dan bersemangat dalam mengutarakan pendapat pendapatnya. Membahas masalah masalah accounting, dia lebih banyak mengajak satu anak buahnya ini untuk berdiskusi. Untungnya ruang kerjanya berdinding kaca . Jadi apa yang mereka berdua lakukan didalam ruangan, dapat dilihat dari luar. Posisi ruang kerjanya berdampingan dengan area kerja para bawahannya. Meja kerjanya menghadap kearah dimana para anak buahnya berada. Pintu masuk ruang kerja, diarah kiri depan meja kerjanya. Siapapun yang masuk dari pintu itu akan langsung berhadapan dengannya.

Satu hal lagi yang tak luput dari perhatiannya, Tari tidak pernah terlalu lama diruang makan. Sehabis makan siang dia biasanya akan ada di meja kerjanya. Disana dia beristirahat. Tidak seperti para anak buahnya yang lain, baru berbondong bondong kembali keruang kerjanya saat waktu istirahat habis. Bahkan ada yang belum kembali walau waktu istirahat sudah habis. Tari selalu dia jumpai ditempat kerjanya, pada saat dia beranjak makan siang. Kebiasaan yang sering dia jumpai adalah, sedang asik membaca majalah wanita. Atau kalau tidak begitu dia akan asik mengerjakan pekerjaannya, walau saat itu waktu istirahat belum habis.

Orang lain kalau kembali keruang kerjanya, akan ber-leha leha sampai waktu istirahat habis. Tari tidak seperti itu, tak heran kalau dia sering mendapati Tari diledekin teman temannya. Tapi dia tenang saja menghadapi keisengan teman temannya.

Dalam meeting meeting rutin bulanan, pendapat pendapatnya selalu langsung pada pokok permasalahan. Tidak berbelit, atau menggunakankata kata yang sulit diurai maksudnya. Atau menyampaikannya dengan takut-takut. Begitu jelas dan bersemangat saat mengutarakan ide idenya. Bisa membuat orang terkesima pada saat dia bicara. Begitu bisa meyakinkan. Mestinya dia di marketing, bukan di accounting. Tapi pekerjaannya di accounting juga lebih sering memuaskan. Kalau ada masalah, biasanya karena dari sumber laporannya yang memang tidak benar. Misalnya laporan produksi yang bulan ini sudah terlambat dua hari. Yang ternyata orang produksi sendiri belum memberikan data produksi pada dia. Baru saat ini dia lagi ngebut menyelesaikannya. Edwin sudah bisa memperkirakan, paling lambat besok laporan itu akan diserahkan padanya.

Sambil tersenyum simpul Edwin berlalu dari sana. Rupanya hentakan sepatu Edwin yang agak keras memijak lantai menyadarkan Tari dari keasyikannnya. Dia baru sadar kalau seseorang ada didekatnya, tapi entah sejak kapan. Tari menghentikan jari jarinya yang lentik menari diatas keyboard. Dia menoleh, laki laki itu berada dua langka dari tempat duduknya. Tanpa sadar dia berucap….

“ Pak…! “ Tari kaget dengan bunyi suaranya sendiri. Terlambat sudah, Edwin telah menghentikan langkahnya dan menoleh.
“ Ya…?”.

Senyum itu, oh… semakin membuat begemuruh hati Tari. Tanpa sadar jari-jarinya meremas rok. “ Eh…anu. Bapak memerlukan saya ?” Sebuah pertanyaan asal saja.

“ Ah… Tidak cuma kebetulan saja tadi saya mau makan, saya lihat kamu asyik sekali dengan komputer itu.” Ucapnya. Posisi meja komputer memang ada disamping kanan Tari. Kalau dia sedang bekerja dengan komputernya otomatis dia akan pindah tempat dan akan menghadap kearah kanan. Dan itu berarti dia akan membelakangi meja kerjanya dan pintu ruang atasannya.

Sudah berapa lama dia berdiri dibelakangku ? Apa saja yang sudah dia perhatikan dariku ? Jangan jangan dia memperhatikan dandananku hari ini. Waduuh gr banget aku !, pekiknya dalam hati

“ Kamu sudah makan siang ? “.
“ Sudah Pak. Bapak mau makan siang ?” pertanyaan yang tolol lagi !. Tentu saja dia akan makan siang, mau kemana lagi ? Hardik hatinya.
“ Saya makan siang dulu ya…?” Tanpa menunggu jawaban Tari, Edwin sudah melangkah pergi.

Dia tertegun menatap langkah laki laki itu. Kemudian, seperti lepas dari himpitan beban, tubuhnya terhenyak lemas dan bersandar di sandaran kursi. Ah… keberuntungan masih dipihaknya. Ruang kerja itu lagi kosong tidak ada manusia satupun kecuali dia dan atasannya. Seandainya tadi ada yang lihat adegan tadi, waduh bakalan habis deh dia jadi bahan ledekan. Untuk kesekian kali dia lepas dari sesuatu yang dia kawatirkan, yaitu digosipin !. Coba saja kebiasaan buruk dikantornya itu tidak ada, alangkah nyamanya suasana kerja ini. Masing masing orang tidak perlu mengusik keasyikan orang lain. Tapi itulah kondisi lingkungan kantornya. Gossip sudah dianggap sebuah hiburan tersendiri dari kejenuhan urusan pekerjaan.

Hari ini juga dia mentargetkan laporan bulanan produksi sudah harus selesai. Makanya waktu tadi itu, dia begitu terfokus kepada penyelesaian laporan tersebut. Tidak terlalu begitu lama bagi dia untuk menyelesaikan laporan itu, sebab pada dasarnya laporannya tiap bulan sama. Yang berbeda hanya permasalahan dan angka angkanya saja. Untuk itu Tari sudah punya cara tersendiri. Rancangan umumnya sudah dia siapkan, hanya tinggal memasukan data data dari laporan kerja produksi. Kemudian memberikan catatan sedikit di akhir laporan.

Sambil berhenti sejenak, Tari bersandar pada kursi komputernya. Dia membayangkan, seandainya tadi ada yang melihat Pak Edwin berdiri dibelakangnya, diam diam sedang mengawasinya. Pasti suasana kantor akan segera geger, gosip Pak Edwin lagi berduaan dengan Tari saat semua karyawan istirahat. Sebuah head line berita yang akan menarik minat para pemburu gossip dikantor ini. Dia akan tidak merasa nyaman lagi berhadapan dengan Edwin. Tapi dia ganteng, siapapun suka padanya. Cuma susah didekati. Cenderung cuek dan dingin. Tatapan matanya tajam menusuk, siap menusuk hati siapa saja yang bertatapan dengannya. Seakan mampu mecungkil apa saja yang ada dalam hati pemiliknya. Tapi kalau tersenyum, mampu melelehkan hati perempuan yang melihatnya.

BERSAMBUNG.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Juni 2014 in Cerita

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: