RSS

Cair Dalam Keraguan. Bag.4

24 Jun

Sebuah Novelet.
Oleh. Randaka.

yellow iris-cropped macroMata itu menyimpan sejuta rahasia, sejuta makna. Sikap diam dan dinginnya membuat segan perempuan yang mau mendekatinya. Tapi itulah salah satu daya tarik Pak Edwin. Semakin lama Tari semakin tenggelam dalam buaian pengandaian yang terus bersambungan dengan pengandaian lainnya, yang membuatnya tersenyum sendiri. Kadang wajahnya memerah malu malu. Senyum-senyum sendiri. Melamun itu ternyata sangat mengasyikan. Membayangkan kemesaraan itu ternyata bisa membuat diri melambung dan melayang-layang. Apa ini fall in love. Hah…! Apa benar aku lagi seperti itu? Sentak pikirannya yang lain.

Tiba tiba saja tubuhnya terasa terbanting kebumi, seperti iklan permen di televisi. Seorang gadis menikmati permen serasa melayang diawan, tersentak karena sapaan laki-laki tampan. Geragapan dia tersadar dari lamunan indahnya. Tepukan itu sebenarnya halus, tapi sudah cukup membuat dirinya terlonjak karena saat itu kesadarannya sedang terbang ke langit, entah langit mana.

“ Gila kamu ! Hampir copot jantungku .” Telapak tangannya mengelus dada, rasa kaget membuat degub jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, bahkan mungkin lebih. Yang menepuk pundaknyapun tak kalah kagetnya, sampai terloncat kebelakang. Irma tak habis mengerti, tepukannya tadi biasa biasa saja, seperti biasanya kalau dia menegur dengan tepukan tangannya. Tapi tadi kok sampai membuat Tari terlonjak begitu rupa, dia begitu kaget atas reaksi yang tidak biasanya. Biasanya, paling paling dia akan terkena pukulan majalah. Tapi raksi kaget tadi benar-benar membuatnya terloncat mundur.

Dipandangnya Tari lekat lekat, kemudian dia tersenyum.

“ Kenapa kamu tersenyum ! Sudah bikin aku kaget setengah mati masih bisa senyum senyum “. Sembur Tari. Melihat Tari agak uring uringan, Irma tambah maklum. Senyumnya bertambah lebar.
“ Ngaku saja, kamu lagi naksir seseorang ya ? Siapa ? Kasih tahu aku dong ?”

Sialan ! Dia harus exstra hati hati menjawab. Begitu larutnya dalami lamunan sampai tidak sadar kalau semua orang sudah duduk di meja kerja masing masing. Sialan Irma ! Kenapa dia iseng ?. Sekarang bagaimana cara menjawabnya. Harus cari akal yang tepat ! Tari berusaha kembali bersikap seperti biasa dan seakan memang tidak ada apa apa. Degub jantungnya mulai normal kembali.

“ Lagi enak enak melamun kamu kagetin, kalau aku jantungan gimana ?”
“ Ya dibawa ke rumah sakit. Terus aku laporkan kepada orang yang lagi kamu lamunkan tadi ,” jawab Irma menggoda.
“ Ngawur aja. Memangnya kalau orang lagi melamun pasti melamunkan laki laki he….!?” Sambil menjawab, otak Tari berputar untuk bisa lolos dari percakapan yang nantinya bisa membuat dirinya terperangkap. Aku tak mau jadi korban gossip.

“ Kerjaan kamu sudah selesai belum ?, biasanya kamu molor melulu. Kalau dapat penilaian jelek pada akhir tahun, ngomel !.” Tari mengalihkan pembicaraan.
“ Iya nih masih kurang sedikit, ada yang membuat aku bingung….” Irma mengernyitkan keningnya, kemudian duduk di kursi kerja Tari yang didepan komputer. Tari memutar kursinya, menghadap ke arah Irma. Lolos deh ! Hatinya lega.
“ Bilang aja nggak bisa ngerjakan dan perlu bantuan , gitukan ? Kapan kamu bisa selesaikan laporan kamu sendiri, kalau harus aku bantu terus ? Biasanya kamu bisa selesai lebih cepat ? “. Akhir akhir ini hasil kerja Irma memang sering kacau. Beberapa kali dapat koreksi keras dari Pak Edwin. Kabar yang berdengung, dia lagi punya masalah dengan suaminya. Tapi masalah apa, itu yang belum jelas. Group gossippun belum bisa mengendus permasalahan itu.

“ Kamu punya masalah ? “ Tari mencoba berani sedikit. Pertanyaan itupun dia ucapkan dengan hati hati. Raut wajah Irma tiba tiba redup, diam saja tidak menjawab.
“ Okey deh nanti aku bantu, nggak usah sedih gitu. Nggak bisa juga nggak akan dibunuh oleh Pak Edwin. Paling ya dapat teguran sajalaaah… .” Tari mencoba mencairkan suasana hati temannya. Tapi Irma masih diam menunduk. Tari jadi merasa tidak enak.
“ Sorry kalau perkataanku tadi mengganggu kamu .”
Irma mengangkat wajahnya, senyum terlihat terpaksa. Wajah itu begitu kelihatan sangat trenyuh. Kenapa tiba tiba saja dia seperti dilukai. Apa pertanyaanku tadi melukainya ?, pikir Tari.
“ Kamu teman yang baik, sering bantu kesulitan aku. Nanti aku akan minta bantuanmu .” Setelah berkata begitu Irma menuju meja kerjanya.

Tari tercenung, memandangi punggung temannya. Dia terbawa suasana emosi Irma. Ada apa dia ? Tiba tiba sesedih itu ?. Ah itu urusan dia. Dia tidak mau cerita, mungkin masalahnya terlalu pribadi, dalihnya dalam hati. Dia beralih duduk dikursi depan komputer. Laporan itu hanya kurang beberapa bagian saja. Nanti sore pasti sudah selesai. Waktu selanjutnya, dia sudah kembali mencurahkan seluruh perhatiannya pada layar monitor komputer. Pertanyaan pertanyaan tentang masalah Irma, tertindih oleh rumitnya pekerjaan yang sedang di kerjakan.

Jam sudah menunjukan pukul lima sore lebih, satu persatu teman sekantornya mulai meninggalkan meja kerjanya. Tarakhir sekali adalah Irma.
Irma mencolek lengannya.
“ Mau nginap disini ?” .
Tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar komputer…
“ Tinggal sedikit, tanggung, sekalian saja selesai. Besok tinggal dikoreksi ,” jawabnya.
“ Kalau kamu mau pulang duluan silahkan. Akukan sudah biasa pulang sendiri,” ujarnya lagi, perhatiannya tetap pada layar komputer.
“ Okey ! Aku duluan ya… ! mudah mudahan tidak ada hantu yang menemani kamu hi…hi….hi.”
Tari cuma mengibaskan tangannya menanggapi gurauan Irma.

Setelah suara detak hak sepatu Irma menjauh dan hilang, suasana kantor berubah begitu lengang. Beberapa lampu sudah mulai dimatikan. Tapi kelengangan itu tidak berpengaruh pada Tari, karena perhatiannya terfokus pada pekerjaannya. Keinginannya untuk segera menyelesaikan laporan produksi membuatnya tidak menyadari bergeraknya waktu. Jam sudah menunjukan hampir jam tujuh malam ketika dia menggerakan kedua lengannya, menjulurkannya tinggi-tinggi. Membuat gerakan seakan menarik tubuhnya keatas. Pundak dan punggungnya seak tadi terasa kebas. Dengan menjulurkan tangannya tinggi dan sejauh-jauhnya, membuat ototnya tertarik, sekaligus juga menarik otot punggung. Rasa kaku dapat terkurangi. Tanganya masih mengepal mengarah keatas, membuat badannya bagian dada menegang tegak, membuat gumpalan indah yang ada dibagian dada semakin menonjol.

Sebuah suara membuatnya menarik kedua tangannya secepat kilat, secepat itu pula dia memutar kursinya kearah suara itu. Edwin sudah berdiri dikirinya, ditempat tadi siang dia berdiri diam diam. Tas kerja sudah ada ditangan kirinya. Tari melirik kearah kirinya, ruangan kerja itu sudah gelap.

“ Kamu tidak pulang Tari ?”.
Dengan tersipu dia menjawab…
“ Sebentar lagi Pak, tinggal sedikit. Bapak mau pulang ?”.
“ Kita pulang sama sama ya ? Aku tunggu kamu di depan Lobby “.

Tanpa menunggu jawaban Tari, Edwin sudah melangkah dari sana. Tari kebingungan sendiri. Gila, ternyata dia pemaksa juga !, pekiknya dalam hati. Setelah meredam kegugupan dan keterkejutannya sejenak, Tari mematikan komputer dan merapikan mejanya. Kemudian mengambil tasnya, dengan langkah agak tidak enak dan ragu ragu dia menuju halaman depan lobby. Disana Karimun ungu itu menunggunya. Mesin mobil itu sudah berbunyi saat Tari sampai kedekatnya. Edwin membukakan pintu dari dalam mobil, tas kerjanya tergeletak di jok belakang.

Agak segan Tari melangkah masuk mobil. Tanpa mengucapkan apa apa, Edwin menjalankan mobil pelan pelan. Didepan sana seorang satpam sudah menunggu membukakan pintu gerbang. Ada rasa sesal di hati Tari. Kenapa aku tidak menolak saja ajakannya, pikirnya. Apa yang dikawatirkan pasti akan terjadi. Satpam itu sudah melihatnya. Tapi bukankah mereka juga sering menlihat kita semua saling numpang diantara satu sama lain. Pasti hal itu sudah lumrah bagi pandangan mereka. Pikiran Tari berputar, ber andai-andai.

Tapi ini pasti dianggap tidak lumrah, karena aku numpang Pak Edwin. Disini masalahnya ! Aku tidak numpang si Tom atau si Mona. Dan sepanjang pengetahuannya, belum pernah ada yang kelihatan semobil dengan Pak Edwin. Satpampun pasti sudah hapal kalau Pak Edwin sering pulang terlambat dan sendiri. Mobil dia sering paling terakhir yang melewati pintu gerbang itu. Setelah itu, pintu gerbang akan terus tertutup sampai besok pagi.

“ Kamu kelihatan gelisah ? Kenapa ?” Pertanyaan itu membuat lamunannya terhenti.
“ Tidak apa apa Pak .”

Tangannya berusaha sibuk memegang megang tasnya. Aduh kenapa aku jadi begini ?, omelnya pada dirinya sendiri. Serba kikuk dan serba tidak enak. Jok yang didudukinya terasa tidak nyaman. Biasanya dia begitu lancar bercakap dengan atasannya, tapi kali ini lidahnya begitu susah untuk diajak berbicara. Otaknya terasa tumpul. Pada saat seperti ini, hanya satu harapannya, cepat segera tiba dirumah.

Dalam perjalanan tidak banyak yang mereka bicarakan. Satu satunya ucapan yang sangat jelas dikeluarkan oleh Tari adalah saat Edwin menanyakan alamat rumahnya. Mobil Karimun itu pelan pelan meluncur kearah alamat rumah Tari. Edwin dengan seksama melihat nomor nomor rumah yang berderet rapih. Lokasi perumahan yang begitu tenang dan asri, pikirnya.

“ Pak, pagar depan itu, berhenti disitu Pak. “ Tari menuding pagar rumah yang bercat coklat setinggi dua setengah meter, sedang tembok pagar bercat putih. Pintu gerbangnya juga bercat sama dengan pagarnya. Begitu mobil berhenti, buru buru Tari membuka pintu. Saking terburu dan gugupnya, dengkulnya sampai terbentur dasboard depannya.

“ Aduh…! “ Suara itu mengejutkan Edwin.
“ Kenapa ? “
“ Tidak apa apa Pak, cuma terbentur “. Sambil meringis menahan sakit Tari turun dari mobil. Mukanya seperti kepiting rebus. Sialan !, umpatnya pada dirinya. Dia merasa malu sekali. Edwin turun dari mobil juga, tapi tanpa mematikan mesin mobil, hanya menarik hand rem.

Didepan pagar rumahnya, Tari serba tidak karuan. Dengan malu malu dia menawarkan Edwin untuk masuk.
“ Masuk dulu Pak ?”.
Edwin melihat ke arah rumah Tari. Rumah yang sederhana, tidak besar tapi menarik. Ada pohon jambu air dihalamannya, dipojok kiri rumah. Pinggir pagar bagian dalamnya tertata rapih tumbuhan sulur. Ada adenium cukup besar tumbuh di dekat jalanan masuk dari pintu gerbang, berbunga kombinasi putih kuning dan merah. Rupanya adenium itu mengalami okulasi sehingga menumbuhkan bunga dengan warna kuning putih dan merah . Jalan paving dari pintu gerbang kearah teras tertata rapih, begitu terawat , pada celah antar paving tidak ditumbuhi rumput-rumput liar. Jarak antar celah paving rapat, permukaan paving tidak ada yang saling menonjol.

“ Pak…! “
Suara lembut Tari mengagetkannya.
“ Eh…Ya…?”
“ Masuk Pak….?”. Rasa kikuk Tari mulai teratasi. Dia membiarkan Edwin masih memandangi bagian teras dan halaman depan rumahnya.
“ Eh… terimakasih. Rumahmu asri. Lain kali saja ya ? lain kali saja. Sekarang sudah malam .”
Ada senyum nyaman dan lega di dalam diri Tari.
“ Sampaikan salamku pada orang rumah ya…? Selamat malam.” Dia agak mencondongkan tubuhnya. Selesai berucap begitu dia melangkah masuk ke mobil. Tari mengangguh sambil tersenyum. Dia memandangi mobil itu sampai hilang dibelokan depan sana.

BERSAMBUNG.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Juni 2014 in Cerita

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: