RSS

Cair Dalam Keraguan. Bag.5

26 Jun

Sebuah Novelet.
Oleh. Randaka.

yellow iris-cropped macroTari menarik nafas lega, terasa plong. Dia beranjak dan membuka pintu gerbang rumahnya. Didalam dadanya terasa ada yang terbuka saat dia mulai membuka pintu pagar rumahnya. Tari berjalan pelan menuju pintu rumah sambil mendekap tasnya didada. Serasa ada sesuatu yang ingin dia pegang erat agar tidak lepas. Entah kenapa kini dia merasa dirinya melayang ringan.

Ibunya sedang menonton TV di ruang tengah saat dia melewatinya. Mereka berdua saling bertegur sapa seperti biasa. Tari langsung masuk kamarnya. Dia melemparkan dirinya ditempat tidur. Saat ini hatinya lagi berbunga bunga, dia tak menyadari itu dan dia sendiri juga tidak tahu kenapa.

Selesai mandi dia menuju ruang makan, tanpa ditemani Ibunya dia makan sendiri. Kali ini, makanan terasa lebih enak dari biasanya. Sayur bening sambal terasi dadar telur dan dadar jagung serta tahu bacem, hampir habis dilahapnya semua. Ibunya sudah berada disana, tanpa dia sadari. Ia heran melihat selera makan anaknya tidak seperti biasanya.


“ Kamu tadi tidak makan siang ?”
Tari tersedak, diraihnya air minum disebelahnya. Satu tegukan air putih memulihkan kelancaran jalan makan di kerongkongannya.
“ Makan, kenapa Bu ?”
Ibunya menggerakan kepalanya kearah makanan didepannya.
“ Kenapa dengan makanan ini ?,” Tari belum mengerti isarat gerakan kepala Ibunya
“ Kamu habiskan semua. “ Perempuan itu terheran-heran melihat isi baskom sayur maupun piring tempat lauk ludes.
“ Hi..hi..hi… saya lapar “. Katanya sambil tertawa. Dalam hati dia juga heran, kok makanan sudah habis, perasaan dia makan seperti biasa.
Orang kalau lagi terserang hama cinta, kadang kesadarannya bisa hilang. Yang ada didepannya hanya keindahan-keindahan saja. Apa yang dilakukan anggota tubuh lainnya tidak terperhatikan. Bahkan boleh dikata anggota tubuhnya berjalan begitu saja tanpa kontrol, akibatnya Tari kekenyangan malam itu.

Malam itu dia jadi sulit tidur. Bukan karena kebayang terus pada Edwin, tapi perutnya terasa tidak nyaman, terasa penuh. Didalam kamarnya jadi sering terdengar suara orang kentut. Minyak angin yang dia siapkan kalau dia lagi masuk angin, yang semula tinggal tiga perempat botol, kini hanya tinggal separuhnya. Bau minyak angin begitu menyengat dikamarnya. Dicampur dengan bau gas yang keluar dari perutnya. Kalau saja Ibunya masuk kekamar itu, pasti akan gelagapan dengan campuran bau yang luar biasa itu. Dia baru bisa tidur menjelang jam tiga pagi. Perutnya sudah terasa agak lumayan lega dan ringan.

Tari memencet bel rumah bercat putih. Lebar rumah itu sekitar tujuh meter. Pintu gerbang rumah terbuat dari pipa besi, membentuk daun pintu persegi empat, dengan jeruji-jeruji dari bahan beton ezyer diameter 12 mm. Terpasang rapi dengan jarak antara yang teratur pada bagian dalam bentuk daun pintu pagar rumah tersebut. Tinggi pintu gerbang kurang lebih dua meter, lebar total pintu gerbang tersebut sekitar tiga setengah meter. Pintu gerbang itu dibagi menjadi dua bagian daun pintu, yang saling bertemu tepat ditengah, sehingga bisa dibuka kesisi kanan dan kiri. Bagian tengah terkunci oleh sebuah gembok dengan diamater pengunci 10 mm, berbahan kuningan.

Halaman bagian dalam dari pintu gerbang itu dipaving dengan bentuk paving kombinasi bulatan dan segi empat yang diatur begitu rupa sehingga membentuk ornamen yang enak dilihat. Paving yang berbentuk bulat berwarna merah bata, tersusun rapi dibagian tengah. Sedang selebihnya paving berbentuk segi empat berwarna abu-abu terpasang bersilang dibagian pinggir. Paving tersebut memanjang dari pintu gerbang kurang lebih empat setengah meter, bertemu dengan dinding tembok rumah. Sebuah jendela berdaun jendela dua, terbuka lebar. Bagian dalam jendela terlindungi teralis besi motip bunga dan tirai putih transparan, sehingga pandangan dari luar tidak bisa menembus dengan jelas di bagian dalam kamar tersebut.

Halaman depan sebelah kiri pintu gerbang rumah terhampar sebuah taman mini ber-rumput hijau. Sebuah pohon cemara setinggi satu setengah meter, tepat disamping pintu gerbang. Pagar rumah tersebut terbuat dari bahan pagar BRC setinggi satu setengah meter, dengan tembok penggah pagar tetinggi setenga meter. Tinggi permukaan pagar BRC itu sejajar dengan permukaan tinggi pintu gerbang.
Tanaman bunga asoka yang sedang berbunga rimbun berwarna merah, tumbuh pada bagian halaman berumput dengan permukaan tanah agak tinggi dari bagian halaman lainnya, setinggi sepuluh centimeter dari permukaan rumput lainnya. Pohon Asoka itu tumbuh pada pojok depan kiri rumah, tepat dekat dengan dinding pembatas rumah disebelahnya. Selain dua pohon itu, halaman tersebut tidak ditumbuhi bunga atau jenis pohon lainnya. Hanya rumput yang hijau yang tumbuh pada semua halaman depan rumah itu.

Di teras rumah hanya ada sepasang kursi kayu dan sebuah meja segi empat ukuran 40 kali enam puluh centimeter dipelitur mengkilap warna coklat kekuningan. Bentuk ukuran alas duduk kursi kayu tersebut kurang lebih empat puluh kali empat puluh centimeter dengan tinggi kaki kursi lebih rendah dari tinggi kaki ukuran kursi normal. Tinggi kaki kursi mirip dengan tinggi kaki kursi yang biasa berada di taman yang cenderung rendah. Bagian tempat duduk dibuat melengkung. Bagian tengah agak kedepan melengkung tinggi, kemudian melengkung rendah kebagian belakang. Bagian depan juga melengkung kebawah tapi bentuk lengkungnya lebih tinggi daripada lengkungan di bagian belakang. Sehingga saat diduduki berat badan cenderung jatuh ke arah belakang. Hhal tersebut akan membuat nyaman yang duduk pada kursi tersebut. Bisa bersandar dengan nyaman pada sandarannya. Sandaran kursi setinggi kira kira sampai punggung. Dengan bentuk tempat duduk seperti itu, membuat yang menduduki kursi itu tidak akan melorot ke depan, karena tempat duduk pada bagian belakang lebih rendah dari bagian depan, ditambah bentuk lengkungannya yang cenderung membuat tubuh berat kebelakang dan punggung menempel pada sandaran kursi.

Bagian samping kursi ada tumpuan tangan yang kontur lengkungannya mengikuti lengkungan bagian alas yang diduduki. Sandaran punggung bagian atas juga dibuat melengkung ke belakang. Posisi punggung akan benar benar menempel dan condong kebelakang. akan terasa rilek dan nyaman.

Terasnya tidak terlalu luas, menjorok kearah halaman sekitar satu setengah meter dari batas tembok ruang tamu. Atap teras disanggah dua pilar segi empat. Pilar bagian kiri rumah berjarak satu meter dari tembok pembatas rumah sebelah. Ruang kosong satu meter dari pembatas temboh rumah sebelah tersebut ada lahan kosong yang ditanami rumput hijau tebal. Ada sepeda anak anak beroda tiga disana.
Setelah Tari memencet bel kedua kalinya, pintu ruang tamu itu terbuka, Irma muncul disana…

“ Hei… kamu kesini beneran ternyata….!,” setelah memakai sandalnya Irma buru buru membuka gembok pintu.
“ Ayo masuk, aku tadi baru nidurin si kecil…ayoo. “ Mereka berdua menuju kursi teras.
“ Nggak terbangun tadi aku mencet bel ?”
“ Nggak… Kebetulan tadi kamar aku tutup jadi suaranya tidak terlalu keras. “
Tari duduk, meletakan tas tangannya diatas meja kecil itu.
“ Enak ya kursinya, langsung bisa nyandar dan santai gini, cuma kakinya kok rendah ? Tapi enak bisa selonjor dan santai nih. “ Tari meluruskan kakinya, otot kakinya terasa lemas. Punggung terasa relaks bersandar pada sandarannya. Kursi itu begitu ergonomis.
“ Halamanmu kok rumput melulu, cuma ada dua pohon ? “
“ Yaaa…. memang kita bikin begitu supaya si kecil bisa bermain dengan leluasa. Kalau terlalu banyak bunga nanti malah rusak semua ditabraki si kecil. Dia senang main main di rumput tebal itu. Kalau bergulung juga tidak berbahaya, soalnya rumputnya tebal banget, hampir 15 centimeter tebalnya. Dia tidak perlu main keluar. Njaganya juga tidak susah. Diakan lagi senang senangnya bermain, sudah satu tahun lebih, suamiku sering menemaninya berguling disitu,“ ujar Irma berseri.
“ Kemana dia sekarang kok tidak kelihatan ? “.
Raut muka Irma berubah muram. Ada rasa sesal di hati Tari.
“ Maaf kalau aku membuat kamu ….”
“ Tak apa, “ potong Irma. “ Hal itulah sebenarnya yang ingin aku sampaikan pada kamu. Kamu tahukan ? Bagaiamana kondisi teman-teman di kantor. Mereka begitu keranjingan gossip. Kadang aku tak habis pikir, kok ada komunitas seperti di tempat kerja kita ?.” Irma menyandarkan tubuhnya. Dia diam sejenak, matanya memandang menerawang kedepan, entah kemana. Dia menarik nafas panjang. Tari tidak berusaha menyela, dia diam saja. Berusaha ikut merasakan apa yang dirasakan temannya.

Dia membiarkan Irma dengan diamnya.
“ Dia ada dirumah Ibunya ,” ujarnya kemudian, tanpa mengalihkan pandangannya yang lurus kedepan.
“ Kenapa kamu tidak ikut ? “
“ Kamu tahu kenapa aku tidak ikut….?”
Tari tidak perlu menanyakan kenapa, karena sedetik kemudian….
“ Suamiku lebih mementingkan Ibunya daripada kepentingan keluarganya. Kalau sudah disana. Dia akan susah diajak pulang. Ditambah pemandangan yang membuat aku harus menekan dadaku kuat-kuat, agar tidak meledak.” Raut mukanya tiba-tiba menegang. Tari masih tetap diam, dia biarkan Irma mengalir mengeluarkan semua ganjalan dalam dadanya.
“ Tiap aku kesana selalu bertemu dengan perempuan yang pernah dekat dengan suamiku.”
“ Kok bisa begitu ? Darimana dia tahu setiap kali kalian ada dirumah mertuamu ?”
“ Karena yang mengundang adalah mertuaku.” Raut wajah Irma berubah dingin. Tari bertambah tidak mengerti. Mertua sendiri mengundang perempuan lain untuk anak lelakinya yang jelas sudah punya istri dan anak.
“ Kok aneh, mengundang orang lain hanya untuk sesuatu yang….Aku tidak paham maksudmu ?”
“ Karena perempuan itu adalah termasuk kerabat yang sejak kecil memang dekat dan akrab dengan suamiku. Mereka berpisah saat masing masing kuliah di kota yang berbeda. Ternyata selama itu, perempuan tersebut memendam rasa pada suamiku. Tapi semuanya terlambat baginya. Saat perkawinan kami dia menangis seharian dikamarnya. Keluarganya pada bingung tidak mengerti kenapa dia seperti itu. Beberapa hari kemudian terkuaklah persoalan yang membuatnya menangis seharian dan tidak mau keluar dari kamarnya. Dia cerita pada adik suamiku tentang perasaannya yang dipendam pada suamiku. Sampai saat ini dia belum menikah. Celakanya mertuaku sejak dulu memang tidak begitu merestui hubunganku dengan suamiku. Tapi suamiku kukuh dengan cinta dan pendiriannya. Aku begitu bangga dan tersanjung. Perempuan mana yang tidak tersanjung setinggi langit diperjuangkan seperti itu. “

Wajah Irma berubah ceria saat menceritakan bagian yang membuat hatinya berbunga-bunga. Dia begitu mendewakan suaminya saat itu. Baginya tidak ada perempuan yang bahagia sebahagia dirinya. Tapi itu dulu, beberapa bulan akhir-akhir ini tidak !. Batu yang keras sekalipun akan berlubang ditimpa tetesan air terus menerus. Apalagi hati manusia yang setiap detik bisa berubah. Dulu dia begitu yakin akan keteguhan suaminya. Tapi kini ? Dia melihat keteguhan itu hanya tinggal bekasnya saja. Digerogoti oleh mertuanya sendiri.

“ Terus kenapa sekarang suamimu jadi berubah begitu ?”
Irma menggelengkan kepala, bersandar kembali. Wajahnya mendongak keatas. Dia tidak percaya atas perubahan itu. Kenapa bisa berubah seperti itu ? Ya kenapa ? dia balik bertanya pada dirinya. Kemana suamiku yang dulu, yang begitu gigih membela dirinya.
Tanpa menjawab pertanyaan Tari….Sesaat kemudian….
“ Dia mengajukan permintaan untuk mengawini perempuan itu,” ujarnya dengan wajah menerawang jauh.
“ Hah…?! Yang bener ? “. Tari terloncat
“ Alasannya dia didesak Ibunya. Bagiku itu cuma alasan laki-laki untuk mencari yang baru. Karena yang lama sudah membosankan bagi dirinya. Kami bertengkar hebat saat itu, dampaknya kamu tahu sendiri, pekerjaanku jadi kacau dan dapat teguran keras dari Pak Edwin.”
Oooh… ini masalahnya saat itu, yang membuatnya harus bolak-balik memperbaiki laporannya dan Tari terlibat penyelesaian pekerjaan Irma waktu itu. Dia sendiri sebenarnya bertanya-tanya saat itu, Irma bukan pekerja yang bodoh, dia perempuan cerdas. Pekerjaannya sangat jarang terkoreksi oleh Pak Edwin. Tapi waktu itu, hasil pekerjaannya betul-betul menguji kesabaran Pak Edwin, sekaligus membuatnya terheran-heran dengan perubahan temannya saat itu. Perempuan mana yang tahan mendengar suaminya minta kawin lagi. Dasar laki-laki ! alasannya ada ada saja.

Saat Tari berpamitan, Irma wanti-wanti bahwa itu adalah rahasia dirinya. Tari tahu apa yang dimaksud temannya.
“ Jangan kawatir, aku tidak punya geng gossip,” ujarnya sambil tersenyum menggoda. Irma mencubit lenganya.
“ Terimakasih, kamu telah meringankan beban hatiku. Rasanya plong bisa menceritakan padamu. Aku tak mungkin cerita pada keluargaku. Bisa hancur urusannya. Biarlah akan aku coba selesaikan sendiri. “
Sebelum pulang Tari menggemnggam tangan temannya erat-erat. Irma merasa menerima kekuatan baru.

Rumah mungil yang indah, ternyata menyimpan sesuatu yang tidak indah. Manusia ternyata tidak bisa dinilai dari luarnya begitu saja. Tapi untuk bisa melihat sisi dalamnya, butuh ketajaman mata hati. Tari telah mendapatkan pengalaman batin yang berharga.

BERSAMBUNG

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Juni 2014 in Cerita

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: