RSS

Cair Dalam Keraguan. Bag.6

28 Jun

Sebuah Novelet.
Oleh. Randaka.

yellow iris-cropped macroEdwin memeriksa laporan produksi yang barusan diserahkan Tari padanya. Baru dua hari kemudian laporan itu bisa diserahkan Tari. Masalahnya, saat laporan itu sudah selesai dan siap diserahkan, Mala menelepon kalau ada beberapa kesalahan yang telah dia buat. Dia minta berkas laporannya dikembalikan, dia ganti dengan yang benar. Tari benar-benar geregetan dengan Mala, ini artinya dia harus memproses ulang laporan itu. Sudah terlambat salah lagi.

“ Tari kamu tinggal sama siapa dirumah itu ?,” Edwin memecah kesenyapan.
“ Dengan Ibu saya Pak. Ayah saya sudah lama meninggal .“
“ Kamu anak tunggal ?” Tatapan Edwin beralih dari lembar laporan kearah Tari. Tatapan itu membuat Tari resah-gelisah. Duduknya serasa tidak nyaman seperti dulu. Bukankah setiap bulan acara seperti ini dia lakukan, kenapa sekarang rasanya dia serba canggung? Sorot mata itu ?, kenapa hatinya jadi berdesir. Padahal dulu hal tersebut terabaikan, bukan sesuatu yang aneh dan istimewa.

“ Tidak Pak. Dua saudara saya tinggal di kota lain.”
“ Mereka sudah berkeluarga ya…?”
Tari terdiam dan tersipu. Apa yang aneh dengan pertanyaan itu ? Bukankah itu hanya pertanyaan basa-basi pada umumnya ? Bentak hatinya yang lain.

“ Ya Pak ,” jawabnya sambil memainkan jari-jarinya membuang resah. Sialan ! Kenapa aku ini.
“ Boleh aku main kerumahmu Tari ? Kapan-kapan .” Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Tari terhenyak. Tidak tahu harus berkata apa. Pertanyaan yang jauh dari perkiraan. Bagaimana aku harus menjawabnya ? .
“ eehh….” Jari jarinya semakin berkutat satu sama lain, mulai terasa basah
“ Kalau tidak boleh juga tidak apa-apa kok.”
“ ooh…boleh kok Pak tidak apa-apa ? Tapiii….”. Tari ragu-ragu..
“ Tapi apa ? Ada yang melarang kamu ?.” Ah orang ini ternyata begitu berterus terang dan mengejar.
“ Ah tidak ! Tapi apa Bapak nanti tidak malu ?, apalagi nanti kalau ada orang kantor yang tahu.” Perkataan itu dia sampaikan dengan hati-hati. Ada senyum di bibir yang mempesona itu, senyum ringan yang tersirat, bahwa hal semacam itu bukanlah sesuatu yang terlalu perlu diperhatikan atau dikawatirkan. Menuruti kata orang tidak akan ada habisnya. Bisa-bisa tubuh kita yang habis dimakan perasaan sendiri. Edwin selama ini sudah tahu budaya atau kebiasaan dikantor ini. Yang paling baik untuk menghadapi budaya gossip adalah cuek saja. Biarkan anjing-anjing itu menyalak, selama tidak menggigit biarkan saja.

“ Kamu takut jadi bahan gossip ? Kenapa harus takut kalau apa yang kita lakuakan adalah sesuatu yang yaaaa…..biasa-biasa sajalah. Kenapa harus peduli dengan omongan orang ? Apakah hidupmu selama ini ditentukan oleh orang lain ?,” Edwin meletakan laporannya diatas meja. Dia menyandarkan tubuhnya .
“ Tapi mereka bisa bicara yang macam-macam Pak ?,” Tegas Tari.
“ Macam-macam bagaimana ? Ditambaha-tambahi gitu ?.” Tanpa terasa mereka terlibat membicarakan budaya gossip di kantor itu.
“ Merekakan sudah biasa bergossip Pak, pasti apa yang mereka ceritakan akan melebar kemana-mana ? “
Hmm….rasa canggung tadi sudah cair, guman Edwin dalam hati. Dia tadi melihat anak buahnya bertingkah canggung tidak seperti biasanya. Sekarang karakter aslinya mulai muncul. Bersemangat mengeluarkan pemikirannya. Perempuan yang bukan bertipe lembut. cenderung tegas dan tidak menunjukan ciri perempuan timur pada umumnya yang lemah dihadapan laki-laki. Dia punya semangat juga cenderung keras kepala. Dia hormat, tapi tetap menunjukan sosoknya yang tegas dan mandiri.

“ Ya biar saja, wong mulut mereka sendiri. Yang akan capek ya mulut mereka sendiri. Kalau kita tanggapi malah seperti yang kamu katakan, melebar kemana-mana. Makanya tidak usah pedulikan gossip-gossip itu. Pekerjaan yang tidak mendidik. Pekerjaan yang mendidik orang untuk menjadi nepotisme.”

Orang ini benar benar cuek ! Tidak peduli. Dia anggap semua itu adalah sesuatu yang tidak perlu dapat perhatian. Padahal dia berusaha mati-matian menghindar dari rana pergossipan. Jangan sampai berbuat sesuatu yang membuat dirinya di gossipkan. Tapi Pak Edwin ? Bukan main pendapatnya itu. Tapi dipikir-pikir benar juga, untuk apa menanggapi ulah yang tidak ada ujung pangkalnya. Jadi selama ini dia sudah terserang ketakuatan virus gossip. Padahal harusnya tidak perlu begitu. Kenapa sih orang timur itu cenderung merasa takut dan bersalah kalau tidak ikut kebiasaan lingkungan. Kenapa harus begitu. Kini pikirannya mulai terbuka. Kenapa harus sebegitu takutnya ? Biarkan mereka bergossip, cuek aja. Kalau tidak ingin jadi bulan-bulanan bibir-bibir ember itu.

“ Eeh lalu laporannya bagaimana Pak, ada yang perlu diperbaiki ?,” ujar Tari kemudian setelah terjadi pembicaraan diluar kontek tadi. Edwin tertawa kecil. Ah… lekuk bibir itu begitu manis kalau tertawa, bisik hati Tari. Wajahnya merona. Edwin mengambil laporan itu dan meletakan di rak samping kanannya.
“ Iya ya… kita kok tadi jadi bicara seperti itu yaaa…. Kan sama aja sebenarnya kita tadi ngegossip. Cuma ngegossipnya tidak spesifik. Baiklah laporannya bisa saya bawa nanti di rapat manajer minggu depan. Ada laporan lainnya yang ingin kamu sampaikan ?”
“ Tidak ada Pak, saya permisi Pak.” Tari bangkit, memundurkan kursinya, kemudian dia sorongkan lagi ke posisi semula. Tari mengangguk, Edwin menggerakan tangannya, melempar senyum, kemudian melayangkan pandangannya kelayar monitor komputer.

Tari duduk diam di kursi kerjanya, tidak melakukan apa-apa. Irma menghampirinya.
“ Lagi berdebat apa tadi ? Kelihatan dari sini kok seru sekali. Kamu kelihatan begitu bersemangat, kalau nggak mau dibilang kelihatan ngotot siiihhh…..”
“ Ah tidak apa-apa. Biasa diskusi sebentar masalah laporan laaaa…..”
“ Ooohh…aku kira gara-gara Mala laporan terlambat, kamu jadi kena getahnya. “
“ Ooooo nggak mungkin dong aku kena damprat, kerjaankukan tidak pernah salah…hi…hi…hi.”
“ Sok kamu…!!!.” Irma mendorong jidat Tari dengan telinjuknya. Tari tertawa lebar.
“ Eh… ngomong-ngomong bagaiamana urusanmu dengan mertuamu ?” Tari berkata pelan.
“ Kalau laki gue nekad yaaa….kita pisah saja,” ujar Irma mantap. Tanpa sadar Tari mengacungkan jempolnya. Irma mengernyitkan dahi,
“ Kamu seneng aku jadi janda ?”.
“ Sssstt…..jangan keras-keras,” Tari meletakan telunjuknya di bibir. Irma mendelik.
“ Jadi perempuan jangan lemah, itu yang aku ingin sampaikan saat aku dirumahmu. Cuma aku lihat saatnya tidak tepat waktu itu. Tapi aku bersukur, kalau kamu sudah punya pemikiran yang mantap. Sudah bukan jamannya perempuan harus tergantung pada laki-laki. Apalagi laki-lakinya pingin kawin lagi. Huuu…tarik saja kupingnya sampai putus. Mertua yang suka manas-manasi anak untuk kawin lagi, waaaa…didemo aja tu mertua.”
“ Sialan kamu….!” Umpat Irma pelan, kemudian dia melangkah kemeja kerjanya. Tiga langkah kemudian dia berhenti dan berbalik, mengacungkan jempolnya pada Tari sambil tersenyum. Tari membalas dengan mengangkat dua jempolnya.

Rasanya plong melihat temannya bisa mengambil sikap dan sudah kelihatan tanpa beban. Dunia sekarang sudah bukan hanya milik laki-laki. Perempuanpun sanggup berkiprah layaknya laki-laki. Makan tidak makan bukan lagi tergantung laki-laki. Perkawinan bukan lagi berarti perempuan punya sandaran hidup sehari-harinya. Perkawinan sekarang adalah sebuah komitmen antara laki dan perempuan untuk mengayuh biduk berdua. Kemana biduk akan dibawa, itu adalaha komitmen awal sebelum biduk diluncurkan. Nakoda memang hanya satu, tapi jangan lagi terserah begitu saja pada sang nakoda, dibelakang nakoda adalah berdiri seorang pendukung yang juga punya hak suara untuk menentukan arah perjalan biduk tersebut. Perempuan juga harus bisa proaktip melakukan kreatifitasnya, tidak lagi menunggu.

Maka sangat disayangkan kalau di jaman super cepat ini, masih ada seorang perempuan mendambakan seorang suami yang diharapkan untuk membuat hidupnya berlimpah materi, tidak kekurangan, menggantungkan semua hidupnya pada laki laki. Akibatnya, perempuan tersebut tanpa sadar telah memutuskan dirinya untuk di jajah laki laki selama hidupnya. Dia sudah tidak punya kemerdekaan bekerja, berpikir dan berkarya. Apa apa tergantung oleh suami. Sungguh menyedihkan. Sedangkan laki laki membutuhkan keseimbangan dalam kehidupannya. Betapa menyebalkan ketika pulang ke rumah yang ditemui bukan seorang istri, cuma pelayan kehidupannya. Tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah, istri memang harus menghormati suaminya, selayaknya seorang istri. Begitupun laki laki. Itulah yang disebut keseimbangan hidup.

BERSAMBUNG

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 Juni 2014 in Cerita

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: