RSS

Cair Dalam Keraguan. Bag.7

29 Jun

Sebuah Novelet.
Oleh. Randaka.

yellow iris-cropped macroDiteras depan rumah, Ibunya dan Edwin bercakap-cakap dengan enaknya. Sesekali terdengar tertawa halus sang Ibu. Tari sudah lama tidak melihat Ibunya tertawa seperti itu. Betapa hatinya senang melihat Ibunya bisa tersenyum dan tertawa sore ini. Wajahnya berseri-seri, sebuah kehidupan muncul disana.

Orang tua itu seperti mendapatkan sesuatu yang sangat berharga, mendapat kunjungan Edwin sore itu. Mulanya dia terlihat surprise, ada laki-laki ganteng bertamu kerumahnya mencari anaknya. Apa ini tidak salah ? pikirnya. Dia tidak pernah mengenal laki-laki ini. Orangnya sangat berbeda dengan laki-laki teman anaknya yang pernah datang kesini. Kesan matang tegas dan berwibawa langsung tertangkap olehnya. Masa iya anaknya punya teman seperti ini ? Setahunya, yang pernah datang menemui anaknya, rata-rata sepantaran dengan anaknya, bahkan ada yang diawah umur anaknya. Dandanannya gaya anak muda masa kini. Ini kok beda, memang tidak klimis seperti bapak-bapak, tapi juga tidak seperti dandanan anak muda yang cenderung bergaya trendy. Penampilannya casual, tapi sikap dan gerak-geriknya begitu mantap dan meyakinkan. Membuatnya merasa sreg untuk menerima tamu satu ini.

Dengan masih terheran dia mempersilahkan tamunya duduk. Mempersilahkan tamunya masuk diruang tamu, tapi Edwin memilih duduk diteras. Saat itu Tari masih dikamar mandi. Ketika dikatakan ada tamu mencarinya namanya Edwin, Tari langsung membuka pintu kamar mandi melongokan kepala. Tari memandangi Ibunya, sementara sang Ibu bengong dan kebingungan. Ada apa nih anak ? Tari menarik kepalanya lagi masuk kekamar mandi, secepat reaksinya ketika mendengar nama Edwin disebut. Dia bersender pada dinding kamar mandi. Gila dia benar-benar datang kemari ? pikir Tari. Dia pikir, saat itu hanya perkataan basa basi belaka, ketika Edwin mengatakan akan datang ke rumahnya.
Setelah meminta Ibunya untuk menemaninya, Tari cepat-cepat menyelesaikan mandinya. Dikamar dia kebingungan sendiri. Duduk disisi pembaringan tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Dia benar-benar surprise dengan kedatangan Edwin, tanpa janji dulu dengannya, tiba-tiba saja datang. Dikantor, seharian tadi tidak bertemu dengan atasannya, seharian Edwin ada meeting keuangan antar manajer. Sampai saat pulang, ruangan Edwin masih menyala lampunya tanpa ada orang disana. Dan kini dia muncul dirumahnya sedang berbincang dengan Ibunya. Tari melirik jam yang ada diatas mejanya, menunjukan hampir jam delapan.
Ketukan pada pintu, membuatnya beranjak. Ibunya berdiri didepan pintu dengan keheranan.

“ Kok masih dikamar ? Ditemui sana ! Eh kamu belum merapikan diri ?”
Ya !, sejak dari kamar mandi memang Tari tidak melakukan apa apa. Dia hanya duduk diam ditepi ranjang. Dia benar benar kebingungan, benar benar shock. Belum pernah ada laki-laki yang datang kerumahnya secara tiba-tiba seperti ini.

Tari masih diam, meremas remas jemarinya.
“ Kenapa kok bingung gitu ? Ayo ganti pakaian rapihkan diri kamu ya ?.” Perempuan itu heran dengan sikap putrinya yang tidak seperti biasanya. Seorang perempuan yang kuat tegas dan berani, tapi malam ini kelihatan bingung dan ragu-ragu. Dia berharap segera mengetahui jawabannya malam ini juga.

Setelah Ibunya berlalu, Tari mulai merapihkan diri. Lima menit kemudian dia sudah berdiri di bibir pintu, rasanya canggung sekali. Dengan langkah berdebar dia menuju teras. Ibunya menoleh dan beranjak dari tempat duduknya yang tepat disebelah kanan Tari.

“ Ibu tinggal dulu ya nak Edwin…”
Edwing mengangguk dengan senyuman. Dihadapannya berdiri Tari dengan rok selutut warna coklat susu dengan kaos warna pink muda dengan model lengan pendek yang menggelembung, model krahnya bundar dengan belahan bagian dada sepanjang lima centimeter. Rambutnya dibiarkan terurai, pada ujung-ujungnya kelihatan masih basah. Wajahnya tanpa make up. Dan bibir itu murni merah tanpa lipstik. Gadis ini benar benar mempunyai kecantikan alami. Berdiri didepannya dengan sikap canggung. Biasanya tidak seperti itu sikap Tari. Bergitu percaya diri dan terkesan tidak mau diremehkan.

Apa aku salah kalau suka padanya ? Gadis cerdas yang tidak suka bergossip, punya sikap dan mampu menunjukan dirinya berdiri pada kakinya sendiri. Gadis yang tidak mau tergantung pada orang lain tepatnya pada laki-laki. Sikap kerasnya terpancar pada exspresinya saat bercakap serius. Tapi saat ini dia melihat gadis itu canggung dan malu-malu berdiri disana.

Tari terpesona dengan dengan apa yang dilhatnya saat ini. Dengan T shirt kuning tua celana jean biru agak ketat. ikat pinggan hitam. Begitu beda ! Bentuk badannya kokoh. Tubuh yang selama ini terbungkus rapi dengan kemeja lengan panjang dan celana resmi, kini bisa dia nikmati terbentuk nyata dibalik Tshirt itu. Nampaknya dia benar benar memperhatikan kondisi fisiknya. Rambut seperti biasa tidak terlalu rapih, tapi justru disitulah daya tariknya. Laki-laki yang sesungguhnya tidak suka berdandan. Hanya karena profesinya yang mengharuskan dia berdandan ala kantoran. Tari melirik kebawah, sepatu casual beralas datar warna coklat muda. Ada tulisan “ COLE “ pada sisi luar sepatu, tercetak kecil tapi jelas. Benar benar beda. Andaikan perempuan-perempuan penggossip itu melihatnya saat ini disini, dia jamin pasti pada bengong semuanya. Apa benar ini Pak Edwin yang disegani itu.

Tangan kiri Tari merapihkan roknya pada bagian belakang, telapak tangan kananya bergerak dari bagia atas roknya turun kebawah sambil bergerak duduk pada tempat duduk yang diduduki Ibunya tadi.

“ Kok bengong ? Kelihatan kamu bingung gitu ? “ Edwin membuka pembicaraan dengan nada sedikit bercanda.
“ Pak Edwin kok tidak bilang kalau akan datang kerumah ?.” Akhirnya keluar juga ucapan itu.
“ Sore tadi sebelum pulang, sebenarnya aku mau bilang sama kamu, tapi kamu sudah pulang. Dan lagi kan aku sudah pernah minta ijin ke kamu untuk datang kerumahmu waktu itukan ?” Edwin mengingatkan.
Tari resah. Tangannya memainkan bagian bawah bajunya.
“ Rumah kamu nyaman ya. Banyak tanamannya. Kamu yang menanam dan merawat itu semua ?” Edwin bersandar pada kursi teras yang terbuat dari besi bermotip lengkungan-lengkungan dengan dudukan empuk. Begitupun sandarannya berlapis kain oscar coklat dengan bantalan busa. Punggungnya terasa nyaman. Mata hitamnya menyapu mengitari teras dan halaman rumah itu.
“ Ah itu Ibu semua yang merawat dan menanamnya. “ Tari merasa malu dengan pengakuannya.

Percakapanpun mengalir begitu saja. Edwin seorang profesinal yang sering melakukan lobby-lobby dengan rekanan perusahaan, adalah bukan hal yang susah untuk mencairkan suasana yang canggung. Apalagi dia sudah cukup mengenal gadis dihadapannya ini. Percakapan mereka cenderung mengarah ke diskusi. Banyak topik yang mereka bicarakan. Emwin memberikan umpan-umpan yang menggelitik Tari untuk memancing argumntasi . Seiring berjalannya waktu kecanggungan itu lenyap sudah. Tari begitu lancar dalam membahas topik topik yang mereka berdua bicarakan. Seperti biasa, dia akan tidak mau kalah begitu saja dalam berargumen. Disinilah ketertarikan Edwin pada Gadis ini. Cerdas dan tidak ketinggalan perkembangan jaman. Enak diajak bicara hal-hal yang berbau ilmiah maupun profesinal.

Saat Edwin berpamitan pulang, jam sudah menunjukan hampir pukul sepuluh. Bagi ukuran kota besar, waktu seperti itu dianggap masih sore. Bahkan sebagian orang mengatakan jam dimana waktu kegembiraan baru saja dimulai. Tapi ini bukan di café atau di pub, apalagi diskotik. Ini adalah ditempat orang orang sopan dikehidupan normal. Disebuah perumahan yang asri dan tenang. Sesekali orang berlalu-lalang didepan rumah Tari. Dan mereka saling bertegur sapa, tak terkecuali Tari. Sekedar melambaikan tangan mengangguk dan tersenyum pada orang yang lewat dijalan depan rumah yang menyapanya. Edwin mengerti adap seperti itu.

Tari menutup pintu gerbang dan menggeboknya setelah Karimun ungu itu hilang ditikungan sana. Setelah mengunci pintu kamar tamu, dia mematikan lampu teras, hanya lampu halaman dekat pagar pintu gerbang saja yang masih menyala. Sebelum melangkah meninggalkan ruang tamu dia matikan lampu ruang tamu. Dia menuju ruang tengah, Ibunya tidak ada disana. Teleivisi tidak menyala. Mungkin Ibu sudah langsung tidur, pikirnya. Dia matikan lampu ruang tengah, tinggal lampu lima watt yang masih menyala dipojok ruang diselungkupi kap kuning.

Tari membuka kamar tidurnya, orang tua itu dengan senyumnya yang penuh arti duduk disisi ranjangnya. Sebelah tangannya menepuk-nepuk sisi tempat tidur didekatnya. Tari mengerti isarat itu. Ada rasa enggan. Dia duduk ditempat dimana tangan Ibunya menepuk permukaan kasur tadi. Mereka duduk berhadapan.

Tajamnya tatapan itu menembus ke kedalaman diri Tari, senyumnya penuh arti dan menyejukan. Tari malu melihat senyum itu. Senyum dengan sejuta makna.

“ Jadi pria itu yang telah membuat kamu gelisah bertingkah tidak seperti biasanya dan memporak-porandakan makanan dimeja makan ?”.
Tari sudah tidak bisa bersembunyi lagi. Dadanya serasa sudah terbuka lebar dan Ibunya bisa melihat dengan jelas segala isi didalamnya. Mukanya memerah, Diatak sanggup lagi memandang mata Ibunya. Dia menunduk malu.

Dengan kearifan seorang Ibu, wanita itu tersenyum melihat tingkah anaknya saat ini, persis ketika pertama kali dulu saat masih kuliah, dia bercerita kalau dia menyukai seseorang. Betapa mata itu berbinar-binar saat menceritakannya. Tapi hubungan itu kemudian hancur lebur saat wisuda kesarjanaannya. Ternyata pria luar kota yang menjadi segala tumpahan cinta dan sayangnya, segala harapan dan isi hatinya, sudah beristri. Betapa luar biasa terpaan badai yang dihadapi anaknya saat itu. Dengan pontang–panting dia berusaha keras membangkitkan semangat hidup anaknya, agar tidak hancur berkeping-keping. Dunianya baru saja dimulainya. Dia tidak ingin anaknya larut dalam penderitaan cintanya. Sejak saat itu, Tari menutup diri terhadap pria, kecuali hubungan biasa-biasa saja. Belum ada yang mampu membuat hatinya berbunga sampai detik saat dia menerima tamu pria yang ganteng dan begitu kelihatan matang tadi. Kalau tebakannya tidak salah, hari-hari bahagia sebagai seorang Ibu sudah didepan mata. Alangkah indah damai dan tentramnya dunia dikemudian.

Direngkuh kepala gadisnya, diusap-usapnya dengan sayang. Tari menelusup semakin dalam kedalam kedamaian pelukan Ibunya. Air mata itu tak terbendung lagi.

“ Ibu bersukur, ada pria yang mampu meluruhkan pintu hatimu. Kalau memang dia yang telah membuatmu gelisah selama ini, jalanilah sesuai kata hatimu. Ibu mengikuti kamu. Ibu sudah tua. Ibu kawatir tidak sempat melihatmu bahagia.”.

Pelukan Tari bertambah erat, dia tidak mau cepat-cepat kehilangan tumpuhan segala isi hatinya. Tuhan berikan aku waktu untuk membahagiakan Ibu terkasihku. Kebahagiannya adalah kebahagian Ibunya. Dia pernah hancur. Ibunyalah yang menata keping-keping kehancuran itu, sehingga dia bisa menjalani kehidupan kembali hingga detik ini.

Ciuman dikeningnya bagaikan air sejuk mengguyur seluruh badannya, merasuk kesetiap sel-sel tulang, otot dan darahnya. Dengan senyum sejuknya, perempuan itu menutup pintu kamar anak gadisnya. Dia melangkah kekamarnya dengan senyum serta dada lapang, terasa ringan ayun langkah kakinya. Semakin lumer beban yang menggumpal dalam dadanya selama ini. Berikan yang terbaik buat putriku Tuhan, lirih dalam titik hatinyanya sebelum memejamkan mata di pembaringannya.

Tari belum bisa memejamkan matanya. Ada cahaya berseliweran dalam angannya. Cahaya warna biru–hijau-kuning- merah-perak-putih. Cahaya itu bermain kesana kemari mengelilingi dirinya. Tapi kadang ada cahaya buram abu-abu kehitaman menyelusup ikut bermain diantara cahaya warna warni itu. Cahaya itu kadang muncul kadang pergi.

Tari menegukan hati dan pikirannya, aku harus mulai melangkah. Keraguan harus dilawan. Kebahagian, kesedihan, akulah yang membuatnya. Tari memejamkan matanya.

Dalam mimpinya dia tertawa riang bersama Edwin dikelilingi cahaya warna warni. Ada cahaya abu-abu agak kehitaman kadang ikut bermain disekeliling Edwin. Tapi Tari berusaha mengabaikannya, kadang tangannya bergerak-gerak mengibas mengusirnya. Hingga cahaya warna-warni itu semakin dominan bermain diantara mereka berdua. Tapi ada bayang bayang disana yang sedang memperhatikannya.

Sampai disini dulu.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Juni 2014 in Cerita

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: