RSS

Ber-terimakasihlah pada Alam

11 Des

Sketsa alamKetika alam memberikan kesejukan. ketenangan… manusia juga ikut merasakan kesejukan dan ketenangan dihatinya. Hujan bukanlah satu petaka, namun sebuah sirkulasi masa yang akan selalu begitu dan begitu. Akibat hujan …. banjir…? Sebenarnya tidak…! Itu akibat ulah penghuni bumi sendiri.

Alam bukanlah perusak. Alam bukanlah sang murka. Alam melakukan itu semua sesuai kodratnya. Setelah itu, bumi mendapatkan manfaatnya. Petani mendapatkan manfaatnya, sebuah tanah yang subur. Sebuah hamparan masa depan dengan hasil bumi yang menakjubkan. Bukankah itu berkah…?

Marilah kita merenung. Seberapa besar dan seberapa lama kita makan dari alam….. ? Mulai dari nenek moyang kita hingga keturunan kita yang tak terhingga banyaknya dan entah sampai kapan.

Apa yang tidak diberikan alam pada kita….? Semuanya diberikan…… ! Mobil, beton, intan, minyak, makanan, pakaian dan segala mahluk hidup yang kita makan. Semuanya…! Luar biasa…! Sementara alam hanya meminta pada manusia untuk tidak ceroboh dan semena mena padanya. Sangat sederhana….! Tapi nafsu membuat hal sederhana itu serasa sangat sulit. Bagai harus melewati lautan api yang panjang.

Manusi meng-explorasinya habis habisan… Namun alam tak akan pernah habis. Manusia bukanlah apa apa bagi alam. Tapi manusia sepertinya tidak mengerti itu. Merasa sangat kuat bisa menguasai alam. Manusia berpikir, alam adalah kekuasaannya. Betapa lucunya pemikiran itu. Bagaimanakah manusia bisa menguasai alam…? Sehebat apapun ilmu manusia, tak mungkin bisa menguasai alam. Tidak akan pernah mungkin….! Manusia membutuhkan alam, bukan sebaliknya.

Alam tidak membutuhkan manusia untuk tumbuh dan berkembang. Campur tangan manusia membuat naluri alam terganggu. Merasa dibatasi perkembangannya. Atau merasa dipaksa-paksa pertumbuhannya. Semua menjadi tidak sewajarnya dan alami. Itulah efek nafsu manusia, yang mengatas namakan ilmu pengetahuan.

Sadarkah manusia, bahwa ilmunya juga berasal dari alam. Belajar dari alam. Kenapa ketika sudah mengetahuinya, malah merusak dan merasa lebih mampu dari ā€œ sang Guru ā€œ…?

Sang Guru tidak pernah bicara pada muridnya, dia hanya memberikan contoh dengan tindakannya, pertumbuhannya, berikut akibatnya. Namun manusia selalu saja salah mengartikannya.

Tanda tanda itu sudah sangat jelas, namun manusia sering meng-abaikanya.

Betapa indahnya…. jika Manusia mengerti alam dan mampu bekerja sama dengan alam. Tapi… mungkinkah….? Mimpi yang indah.

Oleh. Didik Suwitohadi
Surabaya, 11-12-2014

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: