RSS

Ingin berlari disampingmu …. selamanya

15 Agu

couple runningHentakan ujung telapak kakinya menekan dasar sepatunya yang empuk, melentingkan kakinya melaju diatas trotoar jalan di jam 20.00. Desis nafasnya mulai terdengar halus. Ini sudah hampir pada kilometer 3. Artinya mulai ada penyesuaian degup jantung, yang awalnya memburu, pelan pelan akan menurun menyesuaikan kondisi tubuh. Deru jantung tak akan secepat awal lari. Nafasnya mulai bisa diatur, otot kaki sudah mulai lentur. Tidak terasa kaku lagi.

Sementara di sisi kirinya berseliweran kendaraan tanpa peduli pada para pelari malam. Karena ini berlari rame rame, maka kecepatannya dia sesuaikan dengan kebanyakan pelari lainnya, yakni antara pace 8-9. Tapi kadang dia percepat larinya hingga pace 6. Sekedar mengejar ketertinggalan.

Ekor kudanya menyembul dari balik topi, menari kekanan dan kekiri. T shirtn yang dia pakai bertulisan BAJAK, itu kaos dapat ikut lari di Jakarta waktu lalu. Sudah cukup banyak event lari yang dia ikuti. Rata rata dia dapatkan medali finisher, walau jarang naik podium untuk meraih nomor kemenangan.

Prasanti berlari santai, tidak terburu buru, seperti hari hari sebelumnya. Hari ini adalah selasa diawal Juli. Aawal Juni lalu ada sosok baru yg ikut berlari malam. Sosok yang telah mengundang perhatiannya. Tepatnya, mencuri pikirannya. Sosok ini tanpa dia sadari sering melintas begitu saja dalam bayangannya. Kulitnya coklat sama dengan kulit tubuhnya. Tingginya selisih 5 – 10 cm dari tinggi tubuhnya. Sikapnya cenderung cuek. Tidak begitu bicara kalau tidak diajak bicara. Senyumnya manis, se tidaktidak itu menurut pandangannya. Kehadirannya telah menyerap perhatiannya. Pelan pelan, tapi pasti, Prasanti tak bisa lagi berkata tidak, bahwa dirinya selalu memperhatikannya.

Tiba tiba saja tubuhnya terdorong balik kebelakang. Kepalanya tersentak. Tangannya reflek memegang jidatnya yang telah terasa nyut – nyut. Cabang pohon Bintaro yang ditanam petugas tata kota di trotoar, menjuntai rendah, ditabrak oleh jidatnya. Ada tawa dan cekikikan di sekitar trotoar. Tentu saja rona wajah jadi merah tua detik itu juga, ditambah rasa nyut nyut yang lumayan membuatnya meringis. Sambil mengelus jidatnya, dia melanjutkan larinya.

Dua kali dalam seminggu dia selalu lari lewat trotoar ini, dan dia sangat tahu bahwa ada pohon Bintaro tumbuh rendah di trotoar depan hotel itu. Kenapa sampai dia tabrak…?

Seorang pelari lain lewat sambil menepuk punggungnya….
“ Pelari yang sering ikut event, kok bisa nabrak pohon ya….hi…hi…hi…. lagi sial mbak….?! hi … hi …hi “.
Prasanti mengejarnya. Dia cekal tengkuknya dan di tekan tekan. Temannya tertawa tawa saja, sambil terus berusaha berlari menghindar
“ Tiap lari lewat sini kok gak hapal kalau disitu ada pohon…? “.
Prasanti cuma nyengir dan kembali meraba raba jidatnya. Sambil lari bersama, acara cubit dan ha ha hi hi pun berlangsung.

Seperti biasa, di tempat pemberhentian, pasti rame rame berpotoria. Prasanti kali ini tak begitu berminat bergaya. Tangannya masih meraba raba jidatnya. Sialan…! Ternyata sakit beneran..! Saat berhenti begini, sakitnya semakin terasa.
“ Hoi… itu pohon kenapa kamu tabrak …! “ teriak seorang teman lain.
“ Apa itu bagian dari latihan kekuatan jidat…? “. Teriak yang lain. Disusul celotehan dan tawa ria lainnya. Prasanti tak mempedulikannya. Dia menghindar.

Disana dibawah tiang litrik si dia sedang berisitirahat bersama Arpan. Si endut yang ceria. Dan memang dia lebih akrab dengan Arpan daripada dengan yang lain. Beberapa kali Prasanti memang pernah berbincang dengannya, bahkan lari didepan atau di belakangnya. Sekedar senyum dan basa basi sih biasa saja. Tapi lama lama sepertinya sudah tidak biasa. Tanpa dia sadar, dia sering tanya tanya tentang si dia ini, pada rekan laki laki. Parahnya lagi, pada akhirnya, setiap tengah malam dia terbangun dan melintaslah si dia dikedalaman pikirannya. Memang aneh… tapi inilah yang terjadi.

“ Kalau memang seneng sama dia ya sudah dekati saja “ . Salah seorang teman perempuan tiba tiba sudah di belakangnya dan menyenggol punggung kanannya. Hampir dia terjungkal… digebuknya si penyenggol itu.
“ Kelamaan mikir, bisa bisa disambar orang duluan. Kalau aku belum bersuami, aku akan bersaing denganmu .”
Prasanti mengangsuran gelas platik minuman penyegar dari sponsor yag mangkal di tiap hari mereka lari malam. Mereka duduk di tepi trotoar, menikmati minuman gratis, tak peduli hingar bingar kendaraan yg lewat. Sementara di sana ribut ria sambil berpose.

“ Hati tak pernah bohong Pras…. jadi jangan coba coba menipunya. Akan menyakiti diri sendiri “. Temannya meraih gelas plastik yg sudah kosong dari tanganya, bersama dengan gelas plastiknya, dia bangkit memasukan dua gelas plastik itu ke tempat sampah. Kembali duduk di dekat Prasanti lagi.

Tidak ada sesuatu yang lebih menyakitkan daripada membohongi diri sendiri. Dengan menahan diri seperti saat ini, hati Prasanti semakin serasa dicubit cubit.

Benar kata orang, tubuh tak akan bisa bohong. Dia bergerak dan bereaksi sesuai kejujuran nurani. Walau mulut berusaha menutupinya. Anggota tubuh tetap pada kejujurannya.

Hingga sampai kembali ke titik start, gonjang ganjing hati Prasanti semakin membuatnya kelimpungan. Suasana keceriaan lari malam ini, tak bisa dia nikmati seperti biasanya.

Selesai men-stadar motornya, Ia menyeret tasnya sampai ke dalam kamar. Dilepaskan begitu saja tas itu tergeletak di lantai. Melempar diri ke ranjang. Gemes dengan drinya sendiri. Menaklukan hati sendiri ternyata tidak gampang. Ada ego yang menghalangi begitu kuat. Diperkuat lagi dengan rasa gengsi. Dan masih ada lagi sekian pasukan penghalang kejujuran yang semakin ketat. Prasanati harus menghadapi semua itu. Yakni menghadapi dirinya sendiri. Kemampuan dan kedewasaannya diuji saat ini. Peperangan tak akan berakhir, sebelum dia menentukan keputusan.

Sesuatu yg dengan jelas dia ketahui. Sesuatu yang mudah dia lakukan. Tetapi menjadi sulit ketika semua ketidak jujuran dan gengsi berkecamuk mengacaukan nurani. Betapa peperangan dalam diria membuat dia seperti berdiri dibara api. Berkobar saling menjilat satu sama lain. Dia adalah medannya.

Dibenamkan wajah dalam kelembutan bantal. Kedua tangannya mengepal memukul permukaan kasur. Berbalik menelentang dengan satu tarikan nafas berat. Menatap langit langit kamar.

Dengan enggan dia meraih laptopnya. Kebiasaan setelah lari malam. Di sosial media FB pasti sudah muncul poto poto komunitas lari. Prasanti sering memperhatikan itu semua dengan senyum sendiri. Melihat diri dan rekan rekannya berpose di trotoar dengan aneka gaya yang aneh aneh. Adalah merupakan hiburan tersendiri sebelum tidur.

Tapi malam ini, poto poto dirinya minim sekali, hanya ada beberapa dalam pose dia sedang lari, berdiri beristirahat. Dia memandangi poto dirinya dengan temannya yang sedang duduk ditrotoar. Dalam hidupnya belum pernah dia mengalami peperangan diri seperti saat itu. Dua kubu perasaan yang kuat saling menarik dan mendorong. Dia ingin menuntaskan, tapi betapa susahnya. Ada sesuatu yang membuatnya tidak segera menuntaskan perasaan hatinya. Mestinya dia bisa mulai dengan pendekatan yang jelas. Tapi belum dia lakukan…! Apa ini yg dinamakan kelemahan perempuan, sekaligus kekuatan dalam menahan diri, serta biasa menyakiti diri sendiri…? Aneh…! Tapi inilah kenyataan yg sedang berjalan saat ini.

Icon pada messenger Face Book nya memberikan tanda ada pesan yang masuk. Dia klik ikon itu dan munculah wajah si pengirim pesan. Dia…! Prasanti tertegun…… pesan itu jelas …. “ Saya pingin berlari bersama kamu tiap saat, tiap detik… Kalau mau sih…. “.

Jalan sudah dibuka, kini dia yang harus melangkah. SELESAI.

( endingnya, silahkan pilih sendiri )

Oleh. Randaka.
15 Agts 2015-08-15.
Keterangan.
Pace adalah satuan waktu yang dipakai dalam olah raga lari, yakni kecepatan waktu tempuh per Km.
Pace 10 artinya…. jarak 1Km ditempuh dalam 10 menit. Jadi… nilai pace seseorang pelari semakin rendah, maka kecepatan waktu tempuhnya semakin cepat. Itu artinya kecepatan lari seseorang tsb juga cepat.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Agustus 2015 in Cerita

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: