RSS

Sekedar Selesai

18 Sep

mikir loyoApa yang akan dilakukan manusia, hanya manusia itu sendiri yg tahu. Kadang manusia melakukan dengan rencana yang matang, bahkan ada yg cenderung njelimet melakukan persiapan. Hasilnya…? Belum tahu. Hanya target atau perkiraan saja yg muncul di kepala. Saat dilakukan, ternyata tidak semudah yang direcanakan. Yang semula diperkirakan gampang, kenyataannya tidak segampang saat melakukan. Banyak halangan, banyak kesulita, hadangan, bahkan macet di tengah jalan. Buntu pikiran, halangan terberat bagi yang berkreasi. Sudah tidak ada jalan, bahkan sudah tidak tahu mau bagaimana.

Semua orang pernah mengalami hal seperti tersebut diatas. Pada saat seperti itu, kesadaran diri dibutuhkan. Rehat sejenak akan lebih baik, daripada uring uringan atau memarahi bawahan. Tidak akan membawa hasil yg lebih baik. Ujungnya hanya perselisihan. Rencana bisa jadi berantakan dan melenceng dari target. Kalaupun berhasil diselesaikan, akan memakan korban yang tidak sedikit, dengan manfaat yang sedikit pula. Memakan biaya yang banyak. Tidak sesuai dengan keinginan. Itulah yang namanya pekerjaan selesai, tetapi tidak membawa dampak sama sekali dengan keadaan. Tidak ada nilai lebih. Tidak bisa dilihat dimana keuntungannya dan manfaatnya. Hanya sekedar “ SELESAI ”.

Cukup banyak bangunan “ selesai ” dibangun dan besok, lusa, atau bulan depan sudah pada rontok. Karena “ hanya menyelesaikan ” pekerjaan, tidak berpikir ke jangka selanjutnya, akibatnya, kemungkinan manfaat dan kualitasnya. Kita sering terjebak dengan pasal pasal atau klausul-klausul kontrak yang ditanda tangani. Bersitegang atas dasar kertas tersebut. Sementara barang yang diperdebatkan sudah rusak, kemudian saling tunjuk, siapa yang harus bertanggung jawab. Ribut atas dasar klausul klausul, pasal pasal, bukan penyelesaian bersama.

Banyak mahasiswa menyelesaikan pendidikannya, hanya sekedar memenuhi “ target selesai ”, hasilnya bisa ditebak….. sekedar lulus, sekedar dapat gelar. Kualitas, tidak bakalan bisa bersaing. Lakukan wawancara, anda akan tahu isi kepala dan mental lulusan perguruan tinggi macam itu. Boleh dikata, tidak tahu apa apa, kecuali bangga dengan embel embel S1. Akibatnya, disepanjang jalan berderet lulusan S1, nongkrong dan ngobrol ngalor ngidul yg gak jelas, obrolan mimpi mimpi mereka, kebanggaan pada almamaternya yang ngetop. Mimpi mimpi yang jelas jelas jauh dari kualitas isi otaknya.

Sebagian besar, orang terjebak dengan pemikiran, bahwa sekolah tinggi akan menjamin kehidupan kita kelak. Tidak salah …!, jika benar benar belajar. Tetapi sekolah tinggi cuma bermodal “ selesai ”…. ? Darimana kualitasnya ?. Bisa menjamin kehidupan kelak, dilihat dari mana…? Sekolah adalah sarana. Perguruan tinggi boleh ternama, tapi yang paling penting, bagaimana kita mengambil semua ilmu yg tersimpan disana, kemudian meng-aplikasikannya dengan baik di kehidupan. Kalau cuma modal sertifikat perguruan tinggi saja, mana bisa menjamin kehidupan…? Hidup tidak sekedar ditentukan oleh sertifikat S1. Sudah bukan jamannya !

Pertanyaannya sekarang….! Siapa yang harus disalahkan…? Kalau saya sih dengan gamblang dan jelas, ya perguruan tingginya beserta dosen dosennya. Dari sanalah muaranya.

Karena mereka membiarkan cara lulus dengan pedoman “ selesai ” begitu saja. Yang kalau ditelaah lebih dalam, sebenarnya “ tidak selesai ”. Tepatnya …. belum layak dianggap “ LULUS ”.

Sama dengan ribut ribut sertifikasi Guru. Yang diributkan itu masalah kualitasnya apa tunjangannya ?. Apa benar, sertifikasi tersebut dilaksanakan dengan sebaik baiknya untuk menjaring pendidik berkualitas. Bagaimana dengan guru guru yang memang tidak berkualitas. Mau diajari bagaimanapun tetap saja tidak berkualitas. Apa benar makalah makalah mereka, ditulis sendiri. He …he…he …. makalah makalah itu ada yang dituliskan oleh orang lain. Ini nyata… bukan fitnah….! Apa petugas ada waktu untuk membuktikan makalah itu dituliskan orang lain…?! Penulisan makalah atau skripsi, dituliskan orang lain, itu sudah menjadi rahasia umum. Semua guru sekarang lagi berebut sertifikasi. Dan saya tidak yakin, ada guru yang tidak lulus sertifikasi. Pasti semuanya lulus sertifikasi. Lalu untuk apa gunanya kalau semua lulus sertifikasi….? Sedang kenyataannya, kualitasnya bisa dilihat dengan nyata….!

Seperti pagi ini, saya lihat di NET TV. Semua sopir KOPAJA dan sejenisnya akan di lakukan sertifikasi. Saya tertawa…! apa memang perlu…? Apa hanya karena gara gara nabrak orang sampai mati, baru ribut ribut sertifikasi. Sopir bus… sertifikasi…? Lah SIM nya itu untuk apa…? Pengurus koperasinya bagaimana menindak sopir sopir itu, yang cara berpakaian saja sudah bisa dilihat bagaiamana sopir itu mengendarai busnya di jalan raya. Ada yang pakai celana pendek, pakai sandal jepit. Kondisi bus yang acak acakan. Ini saya lihat di TV juga.

Apakah semua yang sekolah di Perguruan Tinggi “ Harus Lulus “. Lah kalau memang tidak memenuhi sarat untuk lulus…? Bagaiama..? Dipaksa lulus dengan kualitas seadanya…?

Saya kira ada jalan lain yg lebih bijak, dan memberika efek yang baik bagi yang belajar di perguruan tinggi, agar tidak seenaknya, agar sungguh sungguh, bahwa kegagalan pendidikan adalah sesuatu yg mahal harganya. Bagi yang tidak lulus ujian, dikasih saja “ surat keterangan, pernah menempuh Pedidikan di Perguruan Tingggi tsb ”, misalnya begitu. Yang lulus, yang di kasih ijasah lulus. Itu akan lebih mengangkat derajat pendidikan, daripada tidak masuk katagori lulus, tapi diluluskan. Derajat pendidikan harus diangkat se tinngi tingginya, dengan kualitas lulusannya, bukan karena megah gedungnya dan mahal biaya belajarnya.

Oleh. Didik Suwitohadi
18-September-2015

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 September 2015 in Essei

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: