RSS

Hati hati dalam memilih pemimpin baru

09 Agu

mikir loyoDalam perjalanan hidup, suatu saat, akan merasa tiba pada rasa tercapai. Merasa semuanya sudah selesai. Merasa sudah tak ada lagi yg harus dilakukan. Semua sudah pada tempat dan tujuannya. Sudah pada titik, dimana angan angan dahulu telah terwujud. Ibaratnya, dengan sambil tidur saja, semua pekerjaan sudah bisa berjalan dan selesai sesuai dengan aturan yang telah dibuat. Kondisi seperti itu memicu seseorang jatuh pada keresahan yang tak disadari. Gersang…! Seperti pekerja seni yang buntuh inspirasi. Tak tahu lagi, apa yang harus diciptakan.

Seorang profesional yang sudah buntu seperti itu, tandanya semua hal yg direncanakan sudah berjalan sesuai dengan yang dia gariskan. Saatnya berkeliling mengawasi dan mengamati. Tinggal menerima laporan, mengoreksi dan menandatanganinya. Semua hal pekerjaan sudah ada di luar kepalanya. Segala kendala sudah tahu permasalahanya, dimana dan bagaimana menyelesaikannya. Tidak ada yang tidak dapat dia selesaikan. Tidak ada yang tidak diketahuinya. Sebab semua rangkaiannya sudah ada di dalam otaknya. Sedikit saja ada keanehan dalam satu proses, dia sudah tahu. Dan dimana permasalahannya.

Dalam kondisi seperti ini, perusahaan harus segera memberikan apresiasi. Bukan malah menunggu orang tersebut bertanya atau dengan kata lain “meminta”. Tidak semua orang pintar mengajukan diri untuk ditingkatkan jabatannya. Setahu saya, orang orang semacam itu justru kompentensinya “semu”. Tapi justru pimpinan perusahaan kebanyakan malah meng apresiasi orang orang yang cenderung “meminta”.

Perusahaan harus hati hati dengan orang orang yang sering bertanya, “ ….. apalagi yg harus saya lakuka supaya karier saya diperusahaan ini meningkat… “. Orang ini dengan tekun akan melakukan apa yang dikatakan pimpinannya. Dan pada saatnya dia akan menagih janji. Senjatanya adalah “… saya sudah lakukan semua yang bapak anjurkan, kok belum ada perubahan….? “. Senjata yang paling ampuh untuk menodong pemimpin perusahaan. Sulit mengelak dengan orang yang pinter bicara macam ini. Karena pimpinan perusahaan sudah terjebak dengan kata katanya sendiri. Orang jenis ini sebenarnya bukan memperbaiki diri atau memperbaiki perusahaan. Tapi sekedar mencari peluang untuk naik jabatan dengan cara cara yang menjebak. Apabila terjadi kemerosotan perusahaan atas pimpinannya. Jawabannya sangat mudah, “ semua yang saya lakukan adalah atas anjuran Bapak….. “.

Dan kerusakan organisasi dibawah tanggung jawabnya, terus akan berlanjut. Produktifitas terus menurun, kinerja karyawan terus menurun, biaya operasional terus meroket. Yang paling parah, banyak kerusakan pada mesin mesin produksi. Sebab sebenarnya dia tidak melakukan apa apa. Cuma meng utak utik data semata. Sedang secara riil, dia tidak tahu apa apa. Orang orang berpotensi dilapangan berubah apatis semua. Kreatifitas dan kinerja mereka jatuh menurun akibat ulah pemimpin baru, pilihan pimpinan lama.

Bisa ditebak hasil akhirnya. Semua yg sudah dibangun pimpinan perusahaan yang lama, yang telah dilimpahkan padanya, pelan tapi pasti …. bergerak menuju kehancuran. Itu bisa dilihat dari pembiayaan yang terus menerus meningkat.

Tapi orang tersebut tetap akan selalu berkilah dengan data data. Inilah yang saya katakan “ jebakan speak with data “.

Oleh. Didik Suwitohadi
09 Agustus 2016

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Agustus 2016 in Manajemen

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: